Masih teramat jelas dalam ingatan Dhafin bagaimana ia begitu merasa bersalah karena mengabaikan panggilan telpon dari Kela. Atau betapa takutnya ia pada kesalah pahaman yang akan terjadi saat Kela melihatnya berdua dengan Anin. Bahkan Dhafin juga takut menceritakan tentang Anin yang telah kembali meskipun Dhafin menganggapnya sebagai teman. Ia takut Kela salah paham. Lalu saat hari hingga malam di mana ia tidak memberi satu kabarpun pada Kela karena menjaga Anin di rumah sakit, betapa penyesalan menghantuinya, menyesal kenapa keadaan kembali membuatnya harus bersama dengan Anin. Saat ia berniat meminta izin pada Kela, pikirannya melarang, hatinya berkata bahwa itu bukanlah keputusan yang baik, maka dengan berat hati ia harus mendiamkan Kela seperti itu. Kemudian janji yang telah ia buat

