Dhafin sudah mempersiapkan hatinya sebelum datang ke rumah ini tapi rupanya hal itu sama sekali tidak berguna. Ia masih merasa kesakitan atas pengabaian yang Kela lakukan. Bahkan luka pada wajahnya sama sekali tidak sebanding dengan luka pada hatinya. Ia tidak ingin membiarkan Kela pergi menjauh tapi apa daya, dirinya tak sanggup untuk menahan Kela. "Klana cukup!" bentakan dari sang Mama berhasil membuat Klana menghentikan pukulannya. Dilihatnya Dhafin bagai tak bernyawa. "Pergi lo sekarang juga!" bentaknya. Entah ia memukul Dhafin atas dasar apa. Sebagai kakak tiri Kela atau sebagai seorang laki-laki yang tidak rela melihat wanita yang ia cintai terluka. Dhafin menggeleng dengan lemah. "Lo nggak ngerti apa-apa! Jangan ikut campur, dan jangan sesekali lo racuni pikiran calon istri gue."

