Tarra menatap lesu area pelataran kantor. Kantor mulai sepi. Hanya ada beberapa petugas cleaning service dan satpam yang tadi dia temui ketika melintasi lobi. Tarra melihat sepintas ke jam tangannya. Sudah jam setengah enam. Pantas saja udara dingin mulai menyerang kulitnya. Angin sore yang bertiup menerbangkan beberapa anak rambutnya, membuat poninya berantakan dan Tarra tidak peduli. Masih tetap berdiri diam memandang jalanan berharap mobil Kania segera datang. Dipejamkan matanya sejenak. Serangan kata-kata Tian memborbardir otaknya. “Ah! Ah! Pusing pala Annabelle,” keluh Tarra memegangi kepalanya seakan habis ditembaki berkali-kali. Tarra mendengus kesal. “Nggak peduli apa yang gue lakuin?! Yakin?! Amazing banget sih tuh orang.” Tarra menghentak-hentakkan kakinya ke lantai berkal

