4. Bangun Dari Mimpi

1466 Kata
“800 ribu. Haduh,” keluh Adrian pelan. Adrian melepas napas berat dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur kerasnya. Matanya terpejam, sedikit mengistirahatkan pikirannya agar bisa sedikit tenang. Tinggal dengan Maya selama dua minggu itu sudah membuatnya kesal. Kini harus ditambah lagi dengan simpanan uangnya yang semakin menipis. Adrian melihat dompetnya lagi. Ini adalah sisa uang terakhir yang dia miliki. Kini dia jadi menyesal kenapa kemarin dia tidak menuruti saran Maya saja untuk memasak. Kini dia merasakan uang itu cepat sekali menguap, tidak jelas untuk apa saja. “Gak bisa, gak bisa gini terus. Aku harus segera cari uang. Aku gak mau kalah dari papa.” “Aku anak Surya Aditama, pasti kemampuan papa mengalir di darahku juga!” ucap Adrian yang bertekad akan mencari pekerjaan. Maya masuk ke dalam apartemen. Sepi, seperti tidak ada kehidupan. Padahal biasanya kalau dia datang, Adrian sudah bersantai di depan TV sambil makan. Tapi kali ini tidak, sepertinya pria itu sedang tidak ada di rumah. Maya meletakkan barang belanjaannya di atas meja dapur. Dia kemudian ke kamarnya, untuk meletakkan baran-barangnya. Saat Maya sedang menata barang belanjaannya, pintu apartemen terbuka. Adrian masuk dengan kantong plastik besar di tangannya. Adrian berjalan ke dapur. Di sana Maya sedang memotong sayuran yang akan dia masak malam ini. Setelah meletakkan belanjaannya di meja dapur, Adrian berdiri di depan Maya. Tentu saja hal ini menarik perhatian Maya. “Ada apa?” tanya Maya. “Kalo butuh wadah, cari aja di lemari,” lanjut Maya sambil melihat kantong belanjaan Adrian. “May, aku mau minta tolong,” ucap Adrian memberanikan diri. “Minta tolong apa?” tanya Maya yang masih sibuk memotong sayur bayam yang akan dia tumis malam ini. “Tolong masakin aku.” Mata Maya mendadak terbuka lebar. Dia langsung melihat ke teman sewanya yang masih berdiri di depannya. “Masak? Ck! Dipikir aku pembantu umum apa. Gak mau!” tolak Maya mentah-mentah. “Aku gak bisa masak. Aku udah beli bahan-bahannya, tapi aku gak tau caranya masak.” “Ya udah sih masak aja sendiri. Aku juga gak bisa masak kok.” Adrian melihat ke sayuran yang dipotong Maya. “Itu kamu masak.” “Ya iya, tapi kan cuma masakan sederhana. Aku gak bisa masak yang aneh-aneh.” “Gak papa. Aku bakalan makan kok.” Adrian membuka kantong belanjanya. “Nih, aku udah beli beras, telor, ayam, sama sayuran.” Adrian menunjukkan isi belanjaannya itu ke Maya. “Aku beneran gak bisa masak. Kalo aku keracunan masakan aku sendiri dan aku sakit, ntar siapa yang mau bersihin rumah ini?” cerocos Adrian berusaha membujuk Maya campur sedikit mengancam. Maya memiringkan bibirnya. “Ngancem nih ceritanya?!” sindir Maya. “Terserah kamu mau bilang apa, tapi beneran aku minta tolong.” “Lagian kan kamu sendiri yang bilang kalo di rumah ini kita harus akur dan saling tolong. Aku bersihin rumah, kamu yang masak,” imbuh Adrian meyakinkan Maya agar mau mengabulkan permintaannya. Maya diam sejenak. Dia melihat lagi ke isi kantong belanjaan Adrian yang ada di dekatnya. “Ya udah, tapi gak boleh protes soal rasanya! Nikmati aja apa yang ada. Kalo bawel, masak aja sendiri!” Maya memberikan peringatan. Adrian tersenyum, karena akhirnya dia bisa menghemat pengeluaran. “Asal makanannya layak di makan, aku gak bakalan protes. Aku mandi dulu.” Adrian segera berlalu dari dapur. Kini dia bisa tidur tenang, karena masalah perutnya sampai akhir bulan sudah aman. Sekarang dia hanya tinggal mencari pekerjaan untuk membayar sewa bulan depan. Kalau dia tidak bayar tepat waktu, pasti Maya bakal teriak-teriak gak jelas lagi nanti. Maya melihat Adrian yang pergi ke kamarnya. Dia kemudian mengambil ayam mentah dari dalam kantong belanja Adrian. “Pinter juga dia beli ayam. Lumayanlah, akhir bulan masih bisa makan enak,” ucap Maya pelan. Padahal tadinya Maya hanya akan makan malam dengan tumis bayam dan telur dadar saja. “Kenapa dia tiba-tiba mau masak. Padahal biasanya dia jajan terus. Apa duitnya udah tipis?” gumam Maya sambil merapikan belanjaan Adrian. “Lagian gak kerja kok makan yang mahal-mahal mulu. Awas aja kalo bulan depan gak bisa bayar sewa. Bakalan aku tendang dia dari sini!” Maya meneruskan pekerjaannya. Perutnya sudah lapar dan dia juga harus lembur malam ini. Akhir-akhir ini pekerjaan Maya banyak sekali, sayangnya gajinya tidak ikut naik banyak. Adrian keluar kamar dengan badan segar. Dia duduk di meja makan dan melihat ada berkas-berkas milik Maya. Perhatian Adrian tertuju pada logo kecil di sudut berkas. Dia mengambil berkas itu dan membacanya. “Aditama. Ltd. Kamu kerja di sini?” tanya Adrian tanpa melihat ke Maya. Maya yang baru saja mematikan kompor setelah masakannya matang, menoleh ke Adrian. “Iya,” jawab Maya singkat sambil menata hasil masakannya. “Gak nyangka kamu kerja di sini. Perusahaan keluargaku.” Maya menoleh lalu mendengus. Sepertinya kelaparan kembali membawa Adrian berhalusinasi. “Kalo itu perusahaan keluargamu, kamu gak di sini, Mas,” jawab Maya santai, tidak mau menuruti kegilaan Adrian. Adrian melihat ke Maya. “Ini beneran perusahaan papaku. Pimpinannya Surya Aditama kan. Namaku Adrian Aditama. Sama kan?” Adrian menjelaskan dengan nada berapi-api. Maya membawa hasil masakannya ke dapur. “Ya udah, terserah kamu. Ayo makan, abis ini aku masih ada kerjaan! Gak usah banyak omong kamu!” “Kamu ini gak percaya mulu sama aku,” gerutu kesal Adrian. Maya memilih menyudahi pembicaraan dengan tidak menjawab lagi. Dia duduk di kursi yang ada di depan Adrian dan mengambil nasi dari dalam magic com. Adrian melihat makanan yang disajikan oleh Maya. “Kayaknya tadi aku beli ayam banyak deh. Kenapa cuma ada dua di sini?” tanya Adrian. Maya melihat ke pria tampan di depannya. “Hemat! Berhemat. Tau gak berhemat! Sisanya bisa buat besok. Gak usah serakah!” tegas Maya si ratu hemat di rumah ini. Adrian mendengus kesal. Dia akhirnya ikut mengambil nasi, karena perutnya sudag kelaparan sejak sore. Ternyata rasa masakan Maya tidak terlalu buruk. Masih bisa dimakan dan enak, tak jauh beda dengan masakan bibi di rumahnya dulu. Maya melihat ke Adrian. Pria itu makan dengan sangat lahap, meski tadi sempat protes kalau rasa makanannya sedikit asin. “Mas, bulan depan kamu masih berencana tinggal di sini gak?” tanya Maya. “Masih lah? Kenapa, kamu mau ngusir aku?” jawab Adrian sambil melirik tajam ke Maya. “Tapi duitnya ada kan? Jangan dicicil lagi.” Mendengar kaya duit, tangan Adrian yang tadi aktif menyendok makanan, jadi berhenti. Ingatan tentang uangnya yang tinggal beberapa lembar lagi itu kembali membuatnya terhimpit. Adrian meletakkan sendoknya dan mengambil gelas minumnya. Dia ingin membersihkan mulutnya dari sisa makanan di mulutnya. “May, kamu bisa carikan aku kerjaan di sana gak?” tanya Adrian. “Bisa aja sih. Emang Mas Adrian ijazah terakhirnya apa?” “Aku S2 di Amerika.” “Wow! Keren banget, Mas. Trus punya pengalaman kerja kan?” “Gak perlu itu. Ntar mereka juga tau sendiri siapa aku.” Maya mengangguk. “Ya udah, kalo gitu siapin aja besok berkasnya. Resume dan ijazahnya ya.” “Ijazah?” Adrian teringat kalau ijazahnya tertinggal di rumah. “Kalo gak pake ijazah gak papa kan?” Pandangan Maya kembali serius. “Mana bisa, Mas. Gak usah aneh-aneh deh!” “Alaah ... bilang aja yang mau kerja itu Adrian Aditama. Pasti mereka tau dan langsung kasih aku posisi bagus. Minimal manajer!” tegas Adrian penuh percaya diri. Maya melihat Adrian. Pria di depannya itu terlihat sangat percaya diri dengan nama belakangnya yang sama dengan nama perusahaan tempat dia bekerja. Adrian melihat ke arah Maya. Wanita itu menatapnya dengan sorot yang berbeda dari biasanya. “Ck! Kaget kan sekarang lu. Liat aja kalo besok aku tiba-tiba dah jadi atasan lu,” ucap Adrian dan menertawakan Maya dalam hati sambil menyeringai. ** “Pak Adrian melamar di perusahaan, Pak,” lapor Beni, asisten pribadi Surya Aditama. Badan Surya terdiam sejenak. Sedetik kemudian dia melihat ke asistennya yang masih berdiri di depan meja kerjanya. “Siapa yang bawa dia masuk?” tanya Surya ingin tahu. “Seorang staf administrasi perusahaan bernama Maya, Pak.” Kening Surya mengerut baru kali ini dia mendengar nama itu. “Maya? Siapa dia? Apa hubungan dia dengan Adrian?” “Saya kurang tahu, Pak.” “Cari tau dan laporkan!” “Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan lamaran Pak Adrian, Pak?” “Mana berkas lamarannya?” Beni menyodorkan berkas lamaran pekerjaan milik putra dari pemilik perusahaan itu sendiri. Bahkan seharusnya Adrian bisa langsung bekerja di tempat ini tanpa mengajukan lamaran kerja. Surya melihat dan membaca resume milik putranya. Dia sedikit menyeringai karena resume di tangannya itu terbilang sangat percaya diri. Tanpa pengalaman kerja dan tanpa dokumen pendukung. Surya memberikan lagi berkas itu ke Beni. “Berikan dia posisi yang layak buat dia,” titah Surya. Surya menyandarkan punggung tuanya di sandaran singgasananya. “Mari kita lihat, seberapa kental dari Aditama mengalir di tubuhnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN