Bab 5. Mencari Kerja

1776 Kata
Adrian menatap bangunan perkantoran yang tinggi menjulang. Bangunan yang seharusnya sudah menjadi miliknya, tapi karena kecerobohannya sendiri, dia kehilangan haknya. “Mas, ayo. Ngapain di situ?” panggil Maya yang sudah berdiri di depan pintu samping lobi. “Ngapain kamu di situ? Itu pintu masuknya,” jawab Adrian sambil menunjuk ke pintu utama. Maya menipiskan bibirnya, kesal pada Adrian yang masih saja banyak protes. Maya mendatangi Adrian. Dia kemudian melihat ke arah pintu utama lobi. “Kalo pagi, para karyawan gak boleh lewat situ, Mas. Apa lagi orang kayak kita. Bentar lagi pimpinan perusahaan dateng. Jadi pintu harus disterilkan,” terang Maya menjelaskan tentang peraturan perusahaan. “Pimpinan perusahaan?” “Iya. Kenapa ... kamu mau bilang itu bapakmu?” tebak Maya yang sudah sangat hafal dengan semua ucapan Adrian. “Ya emang. Kalo gak percaya, ayo aku buk—“ Maya mencengkeram pergelangan tangan Adrian kuat-kuat. “Ayo buruan! Jangan kumat sekarang!” omel Maya yang kemudian segera membawa Adrian masuk ke dalam lobi perusahaan. “May, apaan sih. May!” Adrian berusaha melepaskan diri dari Maya. Tapi ternyata cengkeraman wanita itu sangat kuat sampai dia terpaksa mengikuti langkah pendek Maya. Saat Adrian melintas di depan jalanan utama di depan perusahaan, sebuah sedan mewah berhenti di depan lobi utama. Itu mobil Surya Aditama, mobil yang sangat di kenal Adrian. “Papa,” ucap Adrian pelan. “Papa jam segini udah di kantor?” lanjutnya lagi. Adrian teringat dulu waktu dia masih di rumah mewahnya, saat dia bangun pagi, sudah tidak mendapati papanya ada di rumah lagi. Ya maklumlah, jam bangun pagi Adrian pasti di atas jam 11 siang. Adrian terus melihat ke lobi utama. Papanya masuk bersama dengan Beni, yang dulu kerap dia lihat datang ke rumahnya. Bahkan pria itu lah yang melemparkan kopernya di lounge malam itu. Surya berjalan masuk ke dalam perusahaannya. Dia melihat ada Adrian berdiri di dekat pintu samping lobi dan melihat ke arahnya. Surya memilih untuk mengabaikan putranya. Pelajaran mendewasakan penerusnya itu baru saja dimulai, dia tidak boleh terlihat lemah. “Dia masih sehat, berarti dia sudah bisa bertahan hidup dengan baik selama ini,” gumam Surya pelan. “Apa saya perlu mengawasi Pak Adrian, Pak?” tanya Beni. “Gak usah. Biarkan saja dia. Kita liat dia dari jauh.” “Baik, Pak.” Pintu lift tertutup. Lift yang akan membawa Surya ke ruang kerjanya. “Mas, ayo ikut aku. Pak Bambang udah nungguin,” ucap Maya memberi kode pada Adrian setelah dia melapor pada resepsionis. Adrian berjalan bersama Maya menuju ke lift. Dia menurunkan topinya sampai menutupi sebagian matanya. Tentu saja dia berusaha agar tidak dikenali orang. Akan sangat malu kalau sampai ada yang mengenali dia dalam keadaan seperti ini. Di dalam lift yang penuh sesak itu, Adrian berdiri paling depan, bersebelahan dengan Maya. “Eh, aku denger si bos gak jadi dateng ya? Katanya dia dikirim lagi ke Amerika.” “Iya. Ih padahal aku udah penasaran banget ama Pak Adrian. Katanya orangnya ganteng banget.” “Iya. Dan lagi, katanya dia suka perempuan. Ini kan kesempatan buat aku.” Adrian mendengus kesal sambil melihat ke arah wanita berambut coklat dengan d**a membusung yang berdiri di belakangnya lewat pantulan pintu lift. “Dih! Siapa juga yang mau sama penampakan kayak gitu. Gak level!” umpat Adrian dalam hati sambil cemberut melihat wanita di belakangnya. Risih juga ternyata mendengar obrolan tidak sopan para pegawai tentang dirinya. Ingin rasanya Adrian berbalik dan memarahi mereka karena berani membicarakannya. Untungnya dia tidak lama di dalam lift itu. Maya mengajaknya keluar dan segera membawanya ke ruang HRD. “Mas, bisa wawancara sendiri kan? Ntar kamu bilang aja kalo kamu bisa kerja apa aja,” pesan Maya. “Kerja apa aja? Heh! Aku di sini mau jadi manajer tau!” “Ist! Bisa gak sih nurut dulu! Ini namanya strategi tau!” “Strategi?” “Iya. Biar kita itu terkesan siap ditempatkan di mana aja. Itu membuktikan kalo kita siap kerja!” Adrian memicingkan matanya. Dia curiga dengan ucapan Maya yang sepertinya mengandung maksud tertentu. Tahu kalau Adrian melihatnya penuh selidik, Maya segera mengajak rekan sewanya itu segera masuk ke ruang pimpinan HRD. Dia tidak mau Adrian akan merusak semua usahanya, setelah kemarin berusaha membujuk Bambang agar mau wawancara dengan Adrian. Adrian memilih mengikuti Maya meski perasaannya tidak enak. Dia ingin tahu, pekerjaan apa yang akan diberikan perusahaan ini kepadanya dengan kekuatan nama belakangnya. Adrian dan Maya masuk ke ruangan Bambang. Pria paruh baya berbadan gemuk dan botak itu membaca resume milik Adrian yang ada di tangannya. “Columbia University,” ucap Bambang membaca jenjang pendidikan Adrian. “Iya, saya S2 di sana. Predikat c*m laude!” jawab Adrian dengan bangga. Bambang melihat ke Maya yang duduk di samping Adrian. Maya menggeleng pelan, karena dia juga tidak yakin dengan resume itu. Tentu saja karena tidak ada berkas penguat di sana. Untungnya kemarin Maya sudah menghadap ke Bambang lebih dulu. Dia mengatakan kalau Adrian sedang butuh pekerjaan, meski orangnya agak sedikit stres setelah perusahaannya bangkrut. Bambang yang awalnya menolak menerima Adrian, akhirnya memutuskan untuk mencoba menerima Adrian dengan masa uji coba. “Ok Mas Adrian, kebetulan ada posisi kosong, Mas besok sudah bisa masuk. Tapi ini untuk masa training 3 bulan dulu ya,” ucap Bambang memberikan keputusannya. Adrian menaikkan dagunya. Dia menoleh ke Maya sambil menunjukkan senyum arogannya. “Liat tuh! Sekarang kamu tau kan kalo namaku masih berpengaruh di perusahaan ini,” gumam Adrian dalam hati, merasa senang berhasil mengalahkan Maya. “Ok! Berapa gaji yang akan saya terima?” tanya Adrian tidak sopan karena dia tidak tahan ingin memamerkan pada Maya, kalau status tukang bersih rumah di apartemen mereka akan segera berakhir. Maya menoleh ke Adrian. “Mas! Gak sopan tau nanya begitu,” bisik Maya tegas, protes atas tindakan pria di sampingnya itu. “Ya emang kenapa? Emang gak boleh nanyain gajinya? Ini kan hak kita juga mau terima pekerjaan ini ato enggak. Bener gak, Pak?” Adrian meminta pendapat Bambang. “Iya, gak papa. Ini juga bisa dijadikan pertimbangan akan mengambil pekerjaan ini atau tidak.” “Betul itu. Lalu berapa gaji yang akan saya terima?” tanya Adrian sambil senyum cerah, bersiap memamerkan pada Maya. Bambang menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sambil menatap Adrian. “Karena ini masih magang, maka kisaran gajinya di angka 4 sampai 5 juta.” “Apa?!” pekik Adrian sambil menggebrak meja. Wajah Adrian mendadak masam. Dia menatap Bambang dengan tatapan tajam, karena telah merendahkannya. Maya yang duduk di samping Adrian bingung dan takut Adrian akan kehilangan pekerjaannya. Dia beberapa kali melihat ke arah Bambang, berharap pria itu tidak lupa kalau Adrian sedang stres. “Heh! Jangan kurang ajar kamu ya. Apa kamu gak tau siapa aku!” bentak Adrian pada Bambang. “Emang kamu siapa, hah? Udah bagus saya bisa terima kamu di sini meski tanpa pengalaman dan berkas yang jelas. Kamu pikir resume satu lembar kayak gini aja bisa membuat kamu dapet pekerjaan yang kamu inginkan!” Bambang menjelaskan. “Tapi di situ saya tulis kalo saya lulusan dari Am—“ “Semua orang juga bisa kalo cuma nulis! Tapi mana buktinya? Apa kamu bisa buktikan sekarang juga kalo kamu emang lulusan dari sana?!” tantang Bambang. “Ya itu ... itu karena ijazahnya ada di rumah.” “Ambillah!” Adrian terdiam. Dia sudah tahu jawabannya kalau dia tidak akan bisa mendapatkan ijazah itu sekarang. Tapi tentang 5 juta yang ditawarkan Bambang, itu sangat kurang. Dia tidak akan makan kalau hanya mendapatkan gaji yang hanya cukup untuk bayar uang sewa saja. Maya melihat Adrian terdiam lama tanpa tahu apa yang ada di pikiran pria itu. “Mas, udah terima aja dulu kerjaannya,” bisik Maya. Adrian menoleh ke arah Maya. “Terima apanya? 5 juta gak akan cukup buat hidup! Mana ada perusahaan segede ini ngasih gaji segitu, hah!” bentak Adrian tidak terima. “Kamu ini ya, udah di kasih kesempatan malah sombong! Saya jugagak but—“ “Pak! Tahan, Pak. Bentar ya, Pak.” Maya memotong ucapan Bambang, agar Adrian tidak kehilangan kesempatannya. Maya menoleh ke Adrian dengan raut wajah kesal. “Mas, coba ter—“ Adrian tidak memedulikan ucapan Maya. Dia memilih berdiri dan keluar dari ruangan. Adrian harus membuat perhitungan dulu dengan papanya. “Loh Mas ... mau ke mana?” tanya Maya yang langsung membujuk Bambang agar tidak marah dan dia berjanji akan membawa Adrian lagi besok. Maya langsung mengejar Adrian yang berjalan cepat keluar dari ruang HRD. Sayangnya langkahnya terlambat, saat pintu lift menelan Adrian dan membawa pria itu pergi. “Duh! Gimana sih ni orang. Udah tau nyari kerja susah, malah ditolak gitu aja! Tau ah!” gerutu Maya bermonolog sendiri. Adrian yang sudah marah, langsung menuju ke ruang kerja papanya. Meski dia sempat di tahan oleh sekretaris Surya karena masuk tanpa izin, Adrian tetap tidak peduli. Adrian menerobos masuk ke ruangan papanya. Dia langsung berdiri di depan meja kerja papanya, yang sedang menerima laporan dari Beni. “Ma-maaf, Pak. Dia tad—“ Beni melihat ke arah Adrian yang berdiri di depannya. “Biarkan aja. Kamu keluar aja,” ucap Beni datar, menyuruh sekretaris atasannya keluar. “Baik, Pak.” Sebelum keluar, wanita itu melihat ke Adrian yang berdiri tegap sambil melihat ke arah Surya. Tidak biasanya atasannya itu menerima orang sembarangan, apa lagi tanpa janji terlebih dahulu. “Siapa sih dia? Kok kayak orang marah gitu liat Pak Surya,” gumam sang sekretaris di dalam hatinya. Surya menatap sekilas ke arah putranya lalu kembali pada berkas yang ada di depannya. Merasa diabaikan oleh papanya, Adrian langsung duduk di depan papanya. “Pa, Papa bilang kalo Papa mau liat Adrian kerja kan? Sekarang Adrian di sini, Adrian siap kerja, Pa,” ucap Adrian, berharap papanya akan memberikan posisi lebih baik. “Bukannya kamu udah dapet kerjaan,” jawab Surya datar. “Kerjaan? Kerjaan apa itu? Gaji 4 juta ... itu aja gak cukup buat bayar sewa apartemen Adrian, Pa. Apa Papa mau bunuh Adrian pelan-pelan!” Mendengar keluhan putranya yang sedikit masuk akal, Surya menaikkan pandangannya. Dia juga tidak menyangka kalau HRD akan memberinya gaji sekecil itu untuk ukuran tinggal di Jakarta. “Trus apa mau kamu?” tanya Surya. “Kembalikan ijazah Adrian. Adrian akan buktikan kalau Adrian bisa dapet pekerjaan lebih baik!” Surya kembali melihat berkasnya. “Itu pake uang papa. Pake kemampuan kamu sendiri, buat cari kerja.” “Tapi gajinya kecil, Pa! Gak ada sisa buat makan, bahkan kurang banyak!” pekik Adrian berharap papanya akan sedikit berbelas kasih kepadanya. Surya menarik napas dalam. Dia menatap putranya lagi yang sedang panik. “Ok, akan Papa tambahi gaji kamu. Tapi ada syaratnya.” “Syarat?” Adrian mencium aroma tidak enak pada ucapan papanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN