“Syarat? Papa mau apa dari aku?” tanya Adrian ingin tahu.
Surya melemaskan punggungnya. Dia bersandar di singgasananya dan tersenyum tipis pada putra tunggalnya itu. Tampaknya, membuat kesepakatan dengan putranya akan sangat menarik.
“Syaratnya gampang. Cukup berdiri dengan kakimu sendiri dan naik jabatan dalam 3 bulan,” jawab Surya sambil mengangkat sebelah alisnya.
Adrian terdiam sesaat. Dia mencoba mencerna sendiri apa yang dikatakan papanya.
Sudah jelas papanya tidak ingin semua orang tahu hubungan darah di antara mereka. Surya menyuruhnya berdiri di atas kakinya sendiri. Tapi bagaimana dengan pekerjaan?
“Naik jabatan dalam 3 bulan. Apa Papa mau bilang aku kalah sejak awal?” sungut Adrian yang tahu akal licik papanya.
“Papa yang akan mengawasimu langsung. Setiap perubahan positifmu, akan Papa nilai dan setiap kau melakukan kesalahan, maka poinmu akan berkurang.”
Surya mengangkat dagunya. “Standart Papa sangat tinggi, Adrian.”
Adrian berpikir sejenak. “Ok! Deal!” ucap Adrian setuju dengan syarat yang diberikan papanya.
“Eh tapi bentar dulu!” interupsi Adrian.
“Apa lagi?”
“Gaji Adrian naik kan, Pa?”
Surya mengangguk pelan. “Sesuai dengan posisi pekerjaanmu.”
Senyum mengembang di bibir Adrian. Dia sangat yakin kalau dia akan mendapat posisi lebih baik.
“Ok Pa, Adrian siap bawa perubahan di kantor.”
Adrian menoleh ke Beni. “Oh ya, tolong bawain baju-baju dinas dong, Ben. Bajuku jelek-jelek.”
Beni menoleh ke atasannya dulu sebelum menjawab. Setelah mendapat sinyal dari Surya, Beni kembali melihat ke Adrian. “Baik, Pak. Akan saya siapkan.
“Oh ya, jangan lupa bawa mobilku satu ya. Yang biasa juga gak papa.”
“Adrian,” panggil Surya, tidak suka putranya meminta hal berlebihan.
Melihat wajah papanya berubah masam, Adrian membuang muka dari pria paruh baya itu. Dia sudah tahu pasti jawabannya tidak boleh.
“Tunjukkan dulu hasil kerjamu. Jangan sembaranganminta!” Surya memberi peringatan.
“Iya-iya. Baru minta itu dikit aja gak boleh. Capek tau Pa naik kendaraan umum. Belum lagi baunya. Ngeri banget!”
Surya memilih tidak menanggapi. Dia hanya melihat ke arah putranya, berharap kali ini putranya akan berubah.
Adrian melihat ke papanya. Hanya tatapan tanpa arti yang dia dapatkan.
Adrian mendengus kesal. Dia akhirnya menarik kursi di depannya lalu duduk di depan sang papa.
“Pa, bagi uang dikit dong, Pa. Uang Adrian nipis nih,” rengek Adrian meminta belas kasihan papanya.
“Bukannya kemaren mama udah kasih?”
Adrian menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Habis lah, Pa. Uang segitu seminggu doang, Pa. Uang Adrian tinggal dikit, mana belum buat makan, buat ongkos juga. Ayo lah, Pa,” rengek Adrian seperti anak kecil. Percaya dirinya tadi menghilang di hadapan papanya yang berkuasa.
“Lakukan tugasmu dulu, jangan terbiasa merengek!” tegas Surya, tidak ingin terlihat lemah di depan putranya.
Adrian kesal. Dia langsung berdiri dan menipiskan bibirnya.
“Liat aja, sebelum 3 bulan ... Papa pasti akan mengubah keputusan, Papa!” geram Adrian.
Surya tersenyum. “Selamat bekerja, Adrian.”
Adrian pergi sambil menggerutu dari hadapan papanya. Tak ada gunanya dia membujuk sang papa, yang pendiriannya sangat kuat.
Beni yang masih ada di sana langsung menghadap ke atasannya. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanya Beni meminta petunjuk.
“Selidiki kepala HRD dan juga keuangan. Jangan ragu berikan SP1 kalo ada yang menyalahi aturan,” tegas Surya.
“Baik, Pak.”
Beni segera berpamitan untuk menyelidiki apa yang dilaporkan Adrian tadi pada Surya.
Perusahaan telah menetapkan pemberian gaji sesuai UMR meski pada pegawai magang. Tapi ternyata ada sedikit kesalahan jumlah, yang sampai ke pegawai. Surya harus segera menutup kebocoran kecil uang perusahaan untuk hal yang tidak seharusnya.
**
“Mas, kamu tadi ke mana sih? Main pergi gitu aja dari HRD. Katanya butuh kerjaan, tapi kamu malah pergi seenaknya!” gerutu Maya saat dia sampai di rumah dan melihat Adrian sibuk di dapur.
“Santai aja. Besok aku ngantor kok,” jawab Adrian sambil terus mengeluarkan isi barang kiriman papanya. Alih-alih mengirim uang, papanya malah mengirim stok bahan makanan.
Maya melihat ke meja dapur. Ada banyak sekali bahan makanan di sana, sepertinya Adrian baru belanja besar-besaran.
Maya melihat ke arah Adrian. “Kamu abis belanja? Banyak banget,” tanya Maya mengingat kemarin teman sewanya itu mengeluh kesulitan uang, sedangkan sekarang malah belanja banyak.
“Udah buruan masak. Aku laper!” titah Adrian yang segera pergi dari dapur, kecewa dengan kiriman papanya.
“Goreng ayamnya yang banyak! Jangan pelit!” tegas Adrian sebelum dia menghilang di balik pintu kamarnya.
“Siap!”
Maya tersenyum senang. Setidaknya malam ini dia bisa makan enak, bahkan beberapa hari ke depan.
Dia segera ke kamar untuk berganti pakaian dan segera memasak. Ada banyak sekali lauk yang bisa dia masak, menyambung hidupnya sampai gajian nanti.
Makan malam sudah siap. Mulut dua orang kelaparan itu kini sibuk mengunyah. Sayur, lauk dan buah terhidang manis di meja makan minimalis mereka berdua.
Maya melihat ke Adrian. “Mas, beneran kan kamu besok udah bisa kerja?” tanya Maya kembali ingin meminta kepastian.
Adrian mengangguk lalu menelan makanannya. “Liat aja. Besok jangan kaget kalo kamu harus panggil aku Pak Adrian ya,” jawab Adrian.
Maya memiringkan wajahnya lalu melihat pria di depannya itu dengan sudut matanya.
“Kamu pake koneksi biar dapet posisi bagus ya?”
Adrian melihat Maya. “Iya lah! Kalo ada jalan pintas, ngapain muter-muter. Capek tau!”
“Ish! Dasar kamu tuh. Eh, tapi makasih loh udah belanja banyak. Ini syukuran kamu dapet kerja ya?”
“Hem.” Adrian hanya berdehem karena mulutnya penuh makanan.
Maya tersenyum. “Aku seneng akhirnya kamu bisa kerja lagi, Mas. Pasti stres ya kehilangan kerjaan kamu kemaren.”
Adrian menggeleng. “Gak, aku gak kerja. Aku gak pernah kerja.”
“Gak pernah kerja?” ulang Maya pelan.
Adrian menaikkan pandangannya. “Kenapa? Kaget?” tanya Adrian dengan senyum miring.
Maya terdiam dan terus melihat ke pria tampan di depannya. “Apa dia beneran anak yang punya perusahaan ya? Kalo iya, ngapain dia di sini? Kalo gak di rumah mewahnya, setidaknya dia di apartemen mewah. Apa dia lagi ngambek ama orang tuanya?” banyak pertanyaan datang memenuhi pikiran Maya tentang rekan sekamarnya.
Tapi Maya memilih untuk diam dulu sambil melihat seberapa kekuatan koneksi yang dimiliki Adrian. Kalau semua ucapan Adrian sesuai fakta, dia akan menanyakan semua yang ada di pikirannya.
Keesokan paginya, Adrian dan Maya pergi ke kantor dengan sangat antusias. Maya sangat penasaran posisi Adrian di kantor, sedang Adrian sedang merapikan rambutnya dan penampilannya yang kini dibalut setelan kemeja mahal kiriman Beni.
Meski kemeja itu tak semahal koleksi bajunya di rumah, tapi setidaknya baju itu lebih mahal jika dibandingkan dengan baju lainnya.
Pagi ini Adrian menyuruh Maya memanggil ojek mobil untuk mengantar mereka ke kantor. Adrian tidak mau merusak mood kerjanya hanya dengan menghirup aroma ketek tidak sopan para penumpang angkutan umum.
“Mas, kamu ke HRD sendiri gak papa kan? Laporan sama ambil tanda pengenal buat absen,” ucap Maya saat mereka sudah di dalam lobi.
“He em. Santai aja. Kalo ntar kita satu divisi gimana?”
“Ya gak papa lah. Malah bagus kan.”
Adrian sedikit menoleh ke Maya dengan senyum tipis penuh kemenangan di bibirnya. “Yang profesional ya.”
Maya hanya memasang wajah datar. Rasa penasarannya makin besar, tidak sabar ingin tahu posisi Adrian di kantor ini.
Dua orang itu berpisah. Adrian keluar lebih dulu dari lift, karena divisi HRD berada satu lantai di bawah ruang kerja Maya.
Maya melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia menyapa beberapa temannya yang berpapasan dengannya.
Maya langsung menuju ke meja kerjanya. Meja panjang di tengah ruangan yang dipakai oleh beberapa pekerja dan hanya disekat oleh kaca tebal.
Maya menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kerjanya. Dia meletakkan tasnya, siap mengeluarkan laptop dari dalam tas.
Tapi tatapan Maya terhenti di meja depan. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Maya mendekat dan mengambil benda yang menyita perhatiannya itu.
“Ini ... ini kan—“