Bab 7. Tak Sesuai Ekspektasi

1067 Kata
“May,” panggil Adrian dengan senyum dan wajah cerah saat dia melihat Maya berdiri di depannya. Maya langsung berbalik. Matanya membulat melihat Adrian datang. “Mas Adrian,” panggil Maya kaget melihat teman sewanya ada di depan mata. Maya melihat tangannya yang masih memegang papan nama yang sejak tadi menyimpan perhatiannya. Dia segera meletakkan papan nama itu kembali di mejanya, tanpa berbalik. Adrian mendatangi Maya. Dia berdiri di depan Maya dan melihat ke sekitar. “Meja kamu di mana?” tanya Adrian santai. “Ini, di sini,” jawab Maya santai sambil menunjukkan meja kerjanya. Adrian melihat meja tempat Maya bekerja. Sudah ada barang Maya yang sangat dia kenali. Adrian melihat meja panjang itu dan melihat beberapa pegawai sudah duduk di meja panjang itu. Dagu Adrian terangkat, memandang rendah pada calon bawahannya. “Mas udah ke HRD?” tanya Maya. “Udah. Nih, aku udah pegang tanda pengenalku. Tapi ruanganku yang mana ya?” tanya Adrian sambil memamerkan tanda pengenalnya. Maya menatap Adrian. Dia kembali mengambil papan nama yang tadi sempat dia letakkan kembali di tempatnya. “Di sini, Mas,” jawab Maya pelan sambil menunjukkan papan nama yang dia pegang. Adrian menatap lagi ke Maya. Wajahnya kian mengetat, saat dia melihat namanya di sana. Nama lengkapnya, tanpa ada nama keluarga di belakangnya. “Adrian Danendra. A,” ucap Adrian pelan, membaca nama yang tertulis di sana. “Ini nama kamu kan, Mas? Ato bukan?” tanya Maya sedikit ragu karena dia tidak tahu nama tengah Adrian. Wajah penuh senyum Adrian seketika menghilang. Kini wajahnya mengetat dan penuh amarah. “Dapet dari mana kamu papan nama ini?!” tanya Adrian kesal. Maya melangkah ke samping sedikit, lalu dia menunjukkan di mana dia tadi menemukan papan nama itu. “Di sini. Kayaknya ini meja kerja kamu deh, Mas.” “b******k! Gak mungkin! Gak gini yang aku mau! Ini pasti salah!” Adrian mulai tantrum, tidak terima dengan kejutan dari papanya. Dua alis mata Maya mengerut. “Ya tapi emang ini kenyataannya. Meja kamu di sini. Posisi kita sama!” Maya melengos, “Kirain beneran koneksinya kuat. Ternyata sama aja,” gumam Maya pelan sambil terkikik. Adrian yang mendengar ucapan Maya langsung menoleh. “Heh! Gak usah kurang ajar ya. Terima aja, Mas. Gak usah kebanyakan ngimpi lagi, gak baik buat kesehatan.” “b******k! Aku gak mau di sini!” Adrian meletakkan tas kerja mahalnya di atas meja. Dia harus menekan papanya lagi, agar dia diberi posisi yang lebih masuk akal. Tapi saat Adrian berbalik dan akan melangkah, tiba-tiba dia melihat seorang OB dengan setumpuk berkas di tangannya berjalan ke arahnya. OB itu berdiri di depan Adrian. “Maaf Pak, Bapak yang namanya Pak Adrian Danendra?” tanya OB itu karena baru pertama kali melihat wajah pria di depannya. “Iya Mas, dia Adrian. Ada apa gitu?” tanya Maya yang masih berdiri di dekat Adrian. “Iya, aku Adrian. Mau ngapain?!” tanya Adrian ketus. OB menyodorkan berkas di tangannya. “Ini ada titipan, Pak. Katanya disuruh segera menyelesaikan secepatnya.” Maya dan Adrian sama-sama melihat ke arah berkas itu. Dengan sangat terpaksa Adrian menerima tumpukan berkas itu, karena dia tahu dari mana asal berkas itu dikirim. Setelah tugasnya selesai, OB itu pun pergi. Hanya tinggal Maya yang masih di sana sambil melihat Adrian yang masih sangat kesal. “Berkas dari mana, Mas?” tanya Maya ingin tahu, karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan kiriman berkas seperti itu. Adrian tidak menjawab. Dia memilih duduk dan melihat isi berkas yang menumpuk di hadapannya. Adrian membuka satu berkas. Dia menemukan kertas kecil di atasnya dan langsung mengambilnya untuk dia baca. “Kerjakan ini dengan baik. Waktumu 3 hari. Anggap saja ini untuk bayaran tambahan gaji yang kamu minta. Semoga tetap konsisten atau lupakan soal apa yang pernah kamu punya,” ucap Surya lewat tulisan tangannya. “b******k!” geram Adrian sambil meremas kertas yang ada di tangannya. Maya melihat Adrian semakin tidak baik-baik saja. Dia duduk sambil tetap melihat ke arah pria tampan di depannya. “Mas, kamu gak papa?” tanya Maya ingin tahu. Adrian menaikkan pandangannya lengkap dengan tatapan tajamnya. “Buruan kerja sana! Gak usah urusin orang lain!” sembur Adrian meluapkan kekesalannya pada Maya. Tubuh Maya spontan mundur. “Yee ... malah nyolot. Lagian siapa juga yang mau ngurusin!” gerutu Maya yang kesal kena semburan maut Adrian. Maya ikut menggerutu setelah dia kena semur Adrian. Pria menyebalkan di depannya itu kerap kali bergonta-ganti karakter. Padahal sejak semalam, bahkan sampai tadi pagi, mood Adrian masih sangat bagus. Tapi hanya karena tahu posisinya tidak seperti yang diharapkan, Adrian kembali pada setelan tukang marah-marah. Dari pada ikut kesal yang nantinya akan mempengaruhi kinerjanya, Maya lebih memilih mengabaikan Adrian dan mengerjakan tugasnya sendiri. Adrian mendengus kesal melihat kenyataan yang dia hadapi. Kenyataan dia dibuang ke dasar ternyata masih berlaku di tempat dia bekerja. Kalau seperti ini, dia tidak akan mungkin mengatakan kalau dia anak pemilik perusahaan pada teman-teman kerjanya nanti. Bisa dianggap gila malahan. Cukup Maya saja yang menganggapnya gila. “Ok, kalo emang begini maunya papa. Adrian bakalan kerjakan dan ikuti. Tapi nanti kalo sampe Adrian naik tinggi, awas aja kalo sampe papa ingkar janji!” gerutu geram Adrian, membulatkan tekad untuk mendapatkan kembali apa yang pernah dia miliki. Adrian sudah gerah hidup miskin. Dia tidak mau terus-terusan miskin, padahal dia memiliki segalanya. Sedangkan itu di lantai atas gedung bertingkat ini, Surya sedang menerima laporan dan pengaturan jadwalnya siang ini dari Beni. Dia juga sudah mendengar kalau berkas pilihannya sudah dikirim Beni ke putranya. “Pak, apa tidak sebaiknya Pak Adrian diberikan ruangan tersendiri, Pak. Mengingat berkas yang sedang beliau kerjakan itu, bukan berkas sembarangan,” ucap Beni memberikan usul. “Biarkan aja. Kita liat dulu apa kira-kira dia bisa membedakan kualitas berkas itu,” jawab Surya santai. “Baik, Pak.” Beni berusaha mengerti keinginan atasannya. Sejak beberapa bulan ini, Surya ingin menguji kemampuan putranya. Dia sudah ingin pensiun lebih cepat. Kadar gulanya sering naik kalau dia kelelahan bekerja. Apalagi semua pekrjaan datang bersamaan. Oleh sebab itu, dia ingin menyerahkan hak Adrian lebih cepat. Tapi menyerahkan perusahaan seorang pemalas seperti Adrian, itu sangat tidak mungkin. Surya melihat ke Beni. “Lalu bagaimana dengan wanita itu?” tanya Surya. “Dia hanya pegawai biasa, Pak. Dan saya tidak menemukan kedekatan apapun antara Pak Adrian dengan Maya sebelumnya.” Beni melaporkan apa yang dia dapatkan. “Terus awasi Adrian. Laporkan semua yang berhubungan dengannya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN