episode 3

1179 Kata
"Kamu seriusan terima perjodohan itu?" tanya Baim antusias setelah mencari waktu untuk bertemu sahabatnya. "Mau gimana lagi kak, Ica bener-bener ga punya pilihan lain. Ica memang sayang sama kak Ryan tapi untuk jadi kek gini rasanya Ica bener-bener jadi orang yang paling jahat sama kak Ryan, dia pasti tersiksa karena harus menikah dengan Ica." ia menghela nafas berat. "Om Parhan ngancem kamu apa?" Baim sangat tau siapa gadis didepannya, gadis yang mudah luluh dan takut sakiti orang lain . "Maksud kakak ??" Ica mengerutkan keningnya heran. "Kakak kenal kamu udah lama, jangan sampai ada yang kamu sembunyikan lagi!" dengusnya kesal. Ica kemudian terdiam "Ibu..." Ica akhirnya bersuara setelah beberapa saat berpikir memang tak ada gunanya menutupi segalanya dari sahabat yang sudah seperti kakaknya ini, yang selalu ada dalam segala keadaan. "Ayah akan kirim Ibu ke luar negeri, dan Ica ga mau itu, sudah cukup penderitaan ibuk kak ... hiks.hiks" Baim mendengkus kesal lalu mencoba menenangkan gadis cantik itu. Ia tau Ica sedang rapuh saat ini. "Tapi kakak takut Ryan nyakitin kamu ca .. untuk dengar tentang kamu dari kakak aja dia ga mau!" Baim terus mengelus rambut panjang gadis dipelukannya. "Ica tau kak, Ica siap. Ga ada hal yang lebih menyakitkan bagi Ica selain jauh dari ibuk ." pungkas nya tegar. Di balas dengan helaan napas panjang Baim yang pasrah atas keputusan ica. "Kakak janji apapun yang terjadi akan selalu ada buat ica." lirihnya. *** Ica merebahkan tubuhnya ke kasur ingatannya tentang perkataan Adrian Saat pertemuan mereka 3 hari lalu semakin membuat nya pening. Sebenarnya dia ingin menjenguk ibunya tapi ayahnya melarangnya dan dia membatalkan keinginannya sampai pernikahannya selesai ai. Dan besok, ahh besok adalah hari di mana dia akan menjadi menantu Wijaya dan menjadi bagian dari keluarga Wijaya group pemilik perusahaan raksasa di Jakarta. "Maafin Ica buk..Ica pasti cari ibu setelah semuanya selesai." lirihnya parau dan mendekap pigura yang membingkai wajah wanita paruh baya yang cantik disana. "Ica akan melakukan apapun demi ibuk, Cukup sudah Ica Kehilangan orang-orang yang Ica sayang Ica ga mau ibu jadi korban selanjutnya." Anisa mencium pigura itu sembari memejamkan matanya lelah hingga ia tak sadarkan diri lagi. **** Langit seolah mendukung acara mereka hari ini,cerah tak berawan. Sepasang kekasih sudah menjadi pusat perhatian orang dalam gedung di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Gaun cantik dengan rambut sanggul rapi dan hiasan mahkota diatasnya menambah kecantikan wanita berkulit putih itu dan membuatnya menjadi the real princess. Di sampingnya berdiri seorang pria dengan kemeja rapi yang di balut dengan jas hitam dan bunga mawar di salah satu sakunya. Mereka berdua menjadi pusat perhatian mata dis ana. "Selamat ya pak Ryan, istri anda cantik sekali." "Makasih pak." Tamu-tamu yang datang dari berbagai kalangan termasuk orang-orang penting perusahaan Wijaya dan segenap koleganya. Ryan dengan malas mau tak mau harus profesional didepan mereka. Dia memberikan senyum manis kala satu-persatu tamu menyalami dan memberi ucapan selamat padanya. "Selamat untuk kehidupan barunya bapak Adrian Wijaya." goda Baim menyalami sahabat nya. "Ini kan yang selama ini lo mau." sungut Adrian kesal. . "Oo anda salah,saya tidak pernah menginginkan anda menikah tanpa cinta dengan nya." kali ini mereka bicara sambil berbisik karena baim merangkul adrian layak nya sahabat pada umumnya. "Jika anda berani sakiti dia,saya orang pertama yang akan memberikan pelajaran pada anda." tegasnya dan Adrian meninju perut Baim hingga rangkulan mereka terlepas. Ica yang saat itu sedang di ajak foto salah satu tamu jadi tidak memperhatikan mereka. "Ca selamet ya." “Makasih kak.” Ica mengalami Baim layaknya kakak kandung sendiri. "Ingat kata-kata kakak kemarin” ujarnya sembari menepuk pundak Ica pelan dan bergabung dengan tamu undangan lainnya. "Ada urusan apa lo sama dia." bisik Ryan yang hanya di dengar mereka berdua. "Bukan apa-apa, ka Baim cuma becanda" jawab ica. Dan kembali pandangannya pada tamu-tamu. Ryan hanya memutar bola matanya,lagi pula apa urusannya dengan mereka. ** Tubuh Ica seketika menengang saat tangan kokoh Adrian meraih nya mesra Memeluk nya bagai pasangan kekasih yang sangat bahagia dihari pernikahannya. Tingkah Adrian berubah 180 derajat dari saat sesi pemotretan berlangsung. "Balas pelukan gue! lo mau liat keluarga gue malu hah??" bisiknya tepat di telinga Anisa. Ica refleks ingin melepaskan pelukan mereka tapi Adrian malah semakin mengeratkan pelukannya. "Lo ga liat tamu undangan bokap gue orang terhormat semua,jangan malu-maluin. Balas pelukan gue cepet!" bentaknya masih dalam keadaan berbisik. Perkataan Adrian benar juga Dia ga mungkin mempermalukan keluarga besar Wijaya dengan melepas pelukan suaminya. Dengan tangan bergetar Adrian semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di leher Anisa sesuai permintaan photografer. Anisa bisa merasakan hembusan nafas suaminya di lehernya sampai sang fotografer meminta maaf untuk mencium Anisa. Cup!! Ya tepat di bibir gadis nya. Hanya kecupan tak ada yang lebih tapi lumayan lama karena fotografer yang memintanya. Anisa menahan salivanya dengan susah payah darahnya berdesir hebat dan masih belum percaya apa yang Adrian lakukan. Perfect! Didepan semua tamu undangan mereka memamerkan kebahagiaan mereka meski hanya profesionalisme. Tanpa mereka sadari pasangan mata menatap dengan sendu tanpa senyuman bahagia. Sepasang mata yang terus memperhatikan mereka, Sepasang mata yang hatinya remuk melihat orang yang ia cintai sudah bersanding dengan pria lain di atas pelaminan. "Dokter udah kasi selamat ke mereka?" "Eh, belum sus." "Ayo sama saya aja saya juga belum." "Hah kok belum?" "Iya tadi saya telat jadi sekarang aja mumpung sesi pemotretan nya udah selesai." Zahra menarik tangan dokter tampan itu ke depan namun segera mencegahnya . "Jangan sekarang suster, nanti aja sekalian kita pamit pulang." "Oh oke!" Zahra tersenyum manis padanya meskipun ia tau perasaan dokter tampan di dalam. Tamu-tamu sudah mulai sepi, hanya pihak wo dan beberapa kerabat dekat, serta rekan bisnis yang datang dari luar kota saja yang masih disana karena pak Wijaya sudah menyewa kamar hotel untuk tamu-tamu terhormat nya. "Hei princess." panggil Zahra saat Adrian dan Anisa menuju lift,membuat mereka harus berhenti. "Ra." Ica tersenyum senang melihat sahabatnya. "Aelah ibu dokter kalo udah kek gini lupa ya sama sahabatnya." Zahra mencebikan bibirnya membuat mereka terkekeh kecuali Adrian. "Ga gitu baby, lo tau kan disini banyak banget orang jadi ga perhatiin elo." Ia menghampiri sahabatnya. "Eh dok, kalian barengan?" Ica baru menyadari dokter ganteng yang berdiri samping Zahra. "Ah ,, eh i..iya." jawabnya kikuk. "Selamat ya ca sudah bertemu pangeran nya" sambung nya cepat. "Iya dok makasih, semoga dokter Alif juga segera bertemu dengan bidadari nya." Anisa begitu tulus ikhlasnya mengatakan itu tanpa melihat ekspresi wajah dokter. "Eh Rahma ko ga dateng Ra?" "Oo iya gue sampe lupa sampain salam dari Rahma dia sebenarnya tadi mau kesini cuma neneknya tiba-tiba pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit, makanya Rahma nyuruh gue kesini." "Astaga, terus gimana keadaan neneknya sekarang?" "Udah baikan kok, ini balik dari sini gue mau langsung kesana." "Gue titip salam sama Rahma ya." "Pasti gue sampein,ya udah,kaya nya suami lo capek banget tuh sana gih istirahat." ujarnya mengarahkan pandangan pada Adrian yang masih berdiri dekat lift dibalas anggukan anisa. "Kita pulang dulu ya ca, bersenang-senang." goda Alif menyembunyikan perasaannya dan melenggang pergi bersama Zahra. "Lama banget sih, gue capek." Adrian mendengkus kesal dan Anisa hanya menahan sedihnya dengan menggenggam erat gaun yang di gunakan, sebelah tangan nya lagi,di tarik pria itu memasuki lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN