Episode 9

1227 Kata
Ryan bangun dari tidurnya setelah alarm berbunyi, dengan setengah kesadarannya berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya. Setelah berpakaian rapi dan keluar dari kamar dan bertepatan dengan itu seorang gadis juga keluar dari kamar lainya dengan berpakaian rapi ala ibu dokter. "Mau kerja?" tanya Ryan menatapnya dengan tatapan menyelidik membuat Anisa mengangguk pelan. Ryan berjalan menghampiri istrinya dan ragu tanpa meletakkan punggung tangan di atas dahi gadisnya, Anisa melongo mendapatkan perhatian lebih dari Ryan untuk pertama kalinya. "Masih panas, mending ga usaha kerja dulu!" lirihnya "Ica udah ga pa-pa kok, lagian kalo dirumah terus Ica ga tenang." Anisa menjawab tanpa berani menatap wajah Ryan yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan. "Mau ketemu Dika?" Ryan menyilangkan tanganya di d**a, Ica langsung mengangguk mendengar suara Ryan barusan. "H'm, ka Dika lagi sakit dan pastinya ga bakal mau minum obat kalo bukan Ica yang paksa." Ryan menghela napas berat entah kenapa dia mendadak tak suka dengan orang yang bernama Dika. "Pulangnya, jangan telat lagi, nanti mama nanyain terus kaya kemarin!" "Iya!" Anisa memberi senyuman manis pada Ryan meskipun pria itu menatapnya datar dan tidak menyalahkan dia tapi tak ada salahnya, dia merasa bahagia karena mendapatkan perhatian pertama dari pria yang sudah menjadi suaminya sekarang. ** Ica menghela nafas panjang setelah berada di sebuah ruangan yang ditempati seorang pasien yang begitu manja menurutnya. "Dasar manja ... masa iya harus Ica terus yang urusin!" "Kaka kan ga punya siapa-siapa disini, apa adanya cuma kamu yang udah kek adik kandung kaka, lagian kamu ngapain si suruh si Baim kesini kemarin? Bukannya cepet sembuh malah makin parah Kaka dibuat nya." "Alesan..minum dulu obatnya nih! Masih mending di jengukin dari pada gada yang inget !!" Sungutnya membuat pria itu memanyunkan bibirnya kesal.. "O iya kak, kemarin kau Baim udah dapat perkembangan karena Rey." "Seriusan ??" Dika meletakkan gelasnya setelah minum obat. "Iya, kaka masih hidup cuma sekarang orang kepercayaan ka Baim masih selidiki di mana dia." "Syukurlah, kaka seneng denger nya, pokonya Kaka janji deh keluar dari sini langsung bantu Baim cari Reyhan." Dia begitu senang mendengar kabar tentang sahabatnya masih hidup. "Ica mau ke ruangan Ica dulu ya, kaka istirahat dan jangan manja." "Iya iya ibu dokter galak." Ica berlalu meninggalkan ruangan Dika yang selalu manja saat sakit, apa-apa harus Anisa yang bantu dan ga mau yang lain, kadang Ica kesel sendiri dibuatnya tapi mau gimana lagi mau tak mau dia harus merawat pasien nya satu ini seolah-olah dirinya adalah perawat pribadi untuk seorang Ardika Maulana. *** "Pagi pak!" "Pagi..sudah ku bilang jangan panggil bapak kalau kita cuma berdua!" Ryan menyentil kening sekertarisnya, dan kemudian terkekeh. "Maaf, aku lupa, kamu kenapa mukanya suntuk gitu, lagi perang dunia ya ??" Ryan menaikkan sebelah alisnya heran, "Perang dunia apaan?" "Lagi berantem sama istri kamu maksudnya, hadeh..udah jadi CEO masih aja kudet." "Hahaha lagian kamu ih ada-ada aja! Nggak aku ga lagi berantem sama Anisa kok cuma lagi ga mood aja." "Oh jadi istri kamu namanya Anisa." "H'm, sudahlah jangan bahas dia!" "Oke .." "Nanti siang kamu ada waktu ga?" Kenapa emangnya?" "Aku mau ajak kamu makan siang di luar, gimana?" "Boleh, apa si yang nggak kalau pak bos yang minta." "Tapi nanti ada yang marah ga nih?" "Marah? Siapa juga yang bakal marahin aku makan sama kamu, apa ga kebalik ya, harusnya aku yang nanya gitu" Elma terkekeh. "Ya ..pacar kamu misalnya." "Aku masih singgel pak bos !!" Elma memberikan senyuman termanis pada bosnya membuat Ryan memberi ciuman di bibir tipisnya. "Ryan !!!" dia membulatkan matanya kaget dengan perlakuan bosnya. "Maaf, kamu terlalu manis, jangan senyum seperti itu lagi atau aku bisa melakukan yang lebih parah." ancamnya sembari mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya membuat gadis itu melongo dan langsung keluar dari ruangan Adriyan wijaya. Ryan memijit pelipisnya pelan dia sendiri reflek mencium bibir seksi sekertaris nya, ini ciuman pertama nya lagi dengan gadis itu setelah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah. ** Senyum manis mengambang di bibir Elma, dia mengusap bibirnya yang tadi mendapatkan hadiah indah dari bosnya, ini memang bukan ciuman yang baru dengan Ryan tapi entah kenapa rasanya indah sekali setelah bertahun-tahun mereka tak melakukan nya, meskipun hanya kecupan singkat di bibirnya tapi mampu membuat darahnya berdesir, dia Adrian Wijaya, orang yang pernah dicintainya setengah mati, ketua osis yang jadi idola siswi di SMA nya berhasil mencuri ciuman pertama di bibirnya. Elma menghela naoas berat mengingat perpisahan nya dulu dengan Ryan dalam kondisi yang kurang baik, dia harus meninggalkan Ryan karena harus pindah ke luar kota dan ada hal lain yang harus benar-benar jauh dari Ryan. "Mba El, tolong berikan file ini ke pak Ryan dan di tanda tangani segera" Seorang wanita datang membawa file berisi file-file penting Perusahaan. "Baik, terimakasih mba" menerima berkas dan langsung merapikannya. Elma memeriksa file tersebut setelah staf perempuan tadi pergi. Dirapikan nya berkas dalam map dan kembali masuk ke ruangan Ryan. "Ada berkas yang harus di tanda tangani pak Ryan Wijaya." kembali mengoda dengan panggilan bapak yang pastinya membuat Ryan tak suka di panggil seperti itu olehnya. "Sudah ku katakan jangan panggil pak, kamu ini ihh ... bikin gemes aja!" Ryan mencubit pipi tembem Elma "Mau di cium lagi heh?" Mendekatkan wajah pada wajah gadis itu yang langsung mundur. "Dasar m***m! Ini berkasnya tanda tangan dulu!" Ryan terkekeh dan melepaskan pinggang Elma yang sedari tadi di rengkuhnya setelah ketukan pintu tiba-tiba saja mengagetkan mereka. "Pagi pak" sapa Elma saat membukakan pintu untuk pria yang ketampanannya sebelas dua belas dengan Ryan. "Pagi." jawabnya membalas sapaan dan senyum sekertaris baru bos nya. Ryan buru-buru tanda tangani berkas yang di berikan Elma dan kembali menyerahkannya pada gadis itu. "Saya permisi dulu pak." lirihnya saat melewati Baim yang masih diam saja dari tadi, sepertinya ada hal penting yang memang ingin dia bicarakan 4 mata dengan Ryan. "Ada apa?" tanya Ryan setelah kepergian Elma. "Ica gimana?" Ryan mendengus kesal tak ada topik lain jika berhubungan dengan Baim, "udah sembuh, lagian hari ini dia juga udah masuk kerja kok." "Syukurlah." "Sebenernya sih tadi masih agak panas badannya, dan gue udah larang, cuman dia pakasain katanya Dika atau siapalah namanya itu butuh dia .." "Terus lo diemin gitu aja dia pergi?" "Terus mau lo gue mesti gimana, ngunciin dia di apartemen ga kemana-mana, gitu?" "Kelewatan lo ya, istri sakit gada perhatian-perhatian nya, kalau sampe terjadi sesuatu yang sama Ica, gue ga akan maafin elo!" "Iya-iya gue telpon dia sekarang nih!" Klik !! "Halo,kak." "Ca lo baik-baik aja kan?" tanyanya langsung ke intinya. "Iya, Ica baik-baik aja, emangnya ada apa kak!!" Baim merebut ponsel dari tangan Ryan membuat nya melongo. "Ca, ko Ica udah masuk kerja si? Emang udah udah sehat?" Brondong nya dengan pertanyaan. "Kaka..iya Ica udah enakan ko, lagian Ica ga tenang diem di apartemen kalo temen Kaka masih di rumah sakit nih! Kaka kan tau dia gimana!" "Astaga..kamu lebih mentingin orang lain dari pada diri sendiri!" "Ica baik-baik aja ko, Kaka tenang aja!" "Ya, udah jangan lupa istirahat!" "Siap .., ya udah Ica lanjut kerja dulu ya" "Oke" Klik !!! Ponsel dimatikan setelah ucapan salam, Baim menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya yang ambil dengan malas oleh Ryan. "Lo se care itu ke Ica, kenapa bukan lo aja si yang papa jodohin sama dia!" Tadinya Baim mau keluar, pendengar itu langkahnya harus terhenti. "Kalau gue bisa atur semuanya mungkin gue bisa carikan jodoh yang lebih baik dari lo buat Ica" kembali melangkah meninggalkan Ryan yang mendengus kesal dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN