Episode 8

1239 Kata
Pukul 5:30, Ryan sudah memarkir mobilnya dan melangkah menuju unitnya. Cklek !!! Dia tak perlu menekan bel atau mengetik pintu karena dia hafal paswordnya, Ryan dengan malas duduk tasnya ke sofa dan mengambil air minum di dapur. Tunggu !!! Langkahnya terhenti mendengar suara meringis kesakitan dari kamar istrinya, mau tak mau ia harus mengeceknya karena itu bisa saja jadi masalah untuk nya nanti .. Ryan membuka pintu kamar Anisa dan menemukan istrinya tengah berbaring di tempat tidur,mendekap sebuah benda persegi yang Ryan yakini itu figura foto seseorang . Rasa penasaran nya Ryan membuatnya melangkah dan mendekati Anisa yang masih meringis, dia mengigau !! Semakin dekat Ryan memastikan bahwa itu foto seorang pria yang ia tak kenal namun wajahnya tak asing untuk Ryan. "Ternyata begini kelakuan wanita yang selama ini orang tua ku anggap baik heh !! tidur peluk foto pria lain? Kenapa ga sekalian aja nikah sama dia!!" celanya sinis, menyadari itu Anisa membuka matanya secara perlahan. "Kak ?? Kaka ngapain di sini!" tanyanya kaget karena untuk pertama kalinya Ryan masuk ke kamar. "Tadinya gue kasihan sama lo karena seperti nya lo kesakitan, tapi ternyata gue salah! Istriku yang baik ini sedang memikirkan pria lain !! Haha murahan sekali" Adrian menampilkan seringai nya dan tersenyum mengejek pada gadis itu. "Kak ...." Baru saja Anisa berniat menjelaskan siapa pria yang di foto itu suara ketukan pintu membuat nya mengurungkan niatnya dan suaminya sudah ngacir keluar membukakan pintu untuk tamu itu. "Elo..ada perlu apa lo kesini, bukanya urusan di kantor udah kelar?" Ryan mengernyitkan dahinya melihat sahabatnya, Baim sudah berdiri disana. "Baru dateng bukan nya di ajak masuk malah di serbu pertanyaan, ga asik lu jadi sodara!" Baim nyelonong saja masuk ke apartemen sahabatnya membuat Ryan berdecak kesal. "Ini tuh waktunya istirahat bro! Lo ngapain sih ke sini" gerutu nya membuat Baim terkekeh. "Gue ada perlu sama istrinya lo, dia udah pulang kan?" "Urusan apa?" Ryan memicingkan matanya penasaranm “Urusan pribadi, lo ga perlu tau” Baim mengejek. "Sialan !!!" "Cha..Icha ...." Teriaknya pelan tanpa menghiraukan raut wajah sahabatnya yang geram. Mendengar namanya di panggil Anisa bersusah payah bangun dari tempat tidurnya, kepalanya terasa berat. Prak !!!! Suara benda jatuh dan pecah terdengar dari kamar Anisa membuat kedua orang diluar kilat menuju sumber suara. "Astagfirullahall'azim ca..kamu kenapa ..." Baim dengan sigapnya mengangkat tubuh Anisa yang sudah tergeletak lemas di lantai sementara Adrian melongo melihat kesigapan sahabatnya terhadap istri nya. "Ya ampun badan kamu panas banget ....," rutuknya menempelkan badan di dekat Anisa, "lo ngapain diem aja, ambil es batu sama kopresan cepet!!" Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menemukan dirinya nurut saja ketika Baim memerintahkan nya. "Dasar menyusahkan" gerutunya sembari persiapkan es batu dalam wadah berisi air dan kain bersih. "Kamu kenapa bisa kaya gini sih..Baim terus memijit pelipis Anisa dan memberikan kompresan yang di bawa Ryan tadi. "Lo kok ga bawa istri lo kerumah sakit sih,badannya udah panas banget gini Yan!! kelewatan lo ya." "Eh gue mana tau,lu kan tau gue juga baru pulang kerja,gimana sih lagian dia kan dokter masa ga bisa ngobatin dirinya sendiri!" "Jangan lupakan dia sekarang udah jadi istri sah lo Yan! dan ini tanggung jawab lo sebagai suami." Ryan hanya mencebikkan bibir nya kesal karena percuma saja ia berdebat dengan pria di depannya itu dia tak akan memiliki kesempatan untuk membela diri dalam urusan Anisa.. . "Mau kemana lo?" Baim bertanya dengan sinis melihat Ryan keluar dari kamarnya. "Mau telpon dokter!" "Ga perlu, bentar lagi juga panasnya turun,harusnya elo sebagai suami harus lebih siaga untuk istri lo." "Salah lagi kan gue!!!" Ryan mendengus kesal dan balik duduk di ranjang gadis itu melihat Baim mengompres kening istrinya berkali-kali. 'kenapa bukan dia aja yang papa jodohin sama gadis ini?? Kenapa mesti gue...' rutuknya dalam hati. "Kak??" Anisa membuka matanya perlahan dan menemukan dua orang pria berada di sisinya serta kepalanya yang di hiasi kain basah. "Ica kenapa?" Mencoba bangun dari tidur nya. "Jangan! Kamu jangan gerak-gerak dulu ya,tadi tu kamu pingsan dan Kaka ga tau harus ngapain jadi Kaka cuma kompresin aja biar panas nya turun.." "Astaga..." Ica memijit perlahan pelipis nya menghilangkan rasa sakit di kepala nya. Ponsel di atas nakas berdering sebentar memberi tahu tuannya ada pesan masuk,Ica mencoba mengambil nya namun lagi-lagi Baim yang sigap memberikan nya pada Anisa. "Makasi kak.." "Sama-sama" Ia sejenak membuka ponsel nya dan membulatkan mata melihat berapa banyak pesan masuk dari Dika dan Zahra,satu pesan yang jadi pusat perhatiannya. *Pasien dikamar melati ga mau minum obatnya kalo ga ada elo.* Pesan yang dikirim Zahra membuatnya menghela napas panjang dan mencoba bangun lagi meskipun Baim melarang nya. "Ica baik-baik aja kak,kalo Ica tidur terus yang ada Ica makin sakit,kalo Ica sakit pasien manja temen Kaka ga bakal mau minum obat" dengusnya kesal membuat Baim dan Adrian heran. "Siapa?" Baim belum mengerti. "Ka Dika.." lirihnya parau. 'ohh jadi namanya Dika' batin Ryan mencebikkan bibirnya berasumsi bahwa foto yang di lihatnya tadi namanya Dika. "Dika kenapa emanganya?" "Masuk rumah sakit abis kecelakaan kemarin pas balapan.." "Astaga itu anak ada-ada aja! Ya udah kamu istirahat aja biar Kaka yang suruh dia minum obat sekarang!" "Kaka ga lagi sibuk." "Enggak." Adrian meninggalkan keduanya setelah beberapa saat lalu ponselnya berdering,kini tinggal Baim dan Ica disana. "Kamu kenapa si sebenernya hmm? Kaka liat kek banyak pikiran banget." "Ica abis jenguk ibu." "Ica kesana sendiri? ibuk ga ngapa-ngapain kamu kan,ibu ga nyakitin kamu lagi kan?" terlihat kepanikan diwajah pria di depannya ini begitu jelas dimata Ica membuat nya menggeleng cepat dan membuat pria itu sedikit lega. "Kamu kenapa ga telpon Kaka aja buat temenin,Kaka takut ibu ga ngenalin kamu dan nyakitin kamu kaya kemarin." "Ica ga pa-pa kak,cuma kata petugas yang rawat ibuk..kecil kemungkinan ibuk bisa sembuh lagi seperti dulu karena dia sering banget ngamuk-ngamuk, kecuali kalau..." tak sanggup melanjutkan kata-katanya dan malah menunduk. "Kecuali kalau apa.. ?" Baim menangkup wajah Anisa mengangkatnya agar mata mereka bertemu,dilihat gadis di depannya sudah berkaca-kaca. "Kecuali ibu bisa ketemu, kakakku" lirihnya parau dan butiran bening itu mengalir begitu saja di pipinya. "Ica tenang ya, Kaka kesini sebenernya bawa berita baik untuk Ica." "Berita baik,berita baik apa maksud kakak?" Ica menghapus air matanya. "Kaka udah dapet laporan dari orang yang Kaka suruh selidiki kak Rey,dan hasilnya menunjukkan bahwa kak Rey waktu itu memang selamat dan di bawa kerumah sakit oleh seseorang ,cuma, sumber informasi masih menyelidiki siapa orang yang menolong nya itu,yang jelas Kak Rayhan masih hidup." Mata Ica terbuka lebar,sepercik harapan nyata di depan matanya,harapan bahwa kakaknya masih hidup bukan hanya mimipi lagi. "Kita harus bisa temuin Kaka aku kak,kak Rey masih hidup,aku sudah yakin itu" senyum manis mengambang di bibirnya kala baik mengangguk mengiyakan nya. "Apapun akan Kaka lakukan buat Ica bahagia, termasuk jaga kamu dari suami kamu sendiri,jadi jangan sembunyikan masalah apapun dari kakak,Kaka ga mau kamu jadi korban seperti kak Reyhan." Baim mengelus rambut coklat Anisa dengan lembut,Ica bisa merasakan ketulusan kasih sayang sahabat nya ini. Seseorang memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari luar,dia berniat masuk tapi di urungnya setelah melihat wajah serius keduanya dalam membahas Sesuatu membuat nya kepo dan tak ingin mengganggu. "Rayhan...aku baru ingat Ica punya Kaka juga,tapi dimana dia??" Ryan buru-buru sembunyi saat Baim keluar dari kamar istrinya,bisa di ketawain habis-habisan dia kalau ketauan nguping pembicaraan mereka. "Gue pulang ya, jaf istri istri lo baik-baik, obatnya udah ada di nakas lo ingetin dia minum!" titahnya panjang lebar membuat Adrian memutar bola matanya jengah. "Lagak lo kek dokter beneran, bawel bener, gue pasti ingetin" rutuk Ryan mengantarkan Baim keluar dari apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN