Eleina duduk di atas ranjang memikirkan semuanya dan menunggu kapan Darrius akan menggedor pintu itu tapi hingga 10 menit berlalu hal itu tak terdengar dan ia merasa begitu lelah. Seluruh emosinya sungguh terkuras karena Darrius.
Eleina membuka mantelnya dan masuk ke dalam selimut. Dirinya mencoba berbaring tapi tak bisa tidur karena takut memikirkan apa yang akan Darrius lakukan padanya jika sampai mereka bertemu kembali.
"Kenapa aku harus takut padanya?" gerutu Eleina kesal. "Ini karena kata-kata bodohmu sendiri, Eleina," sambungnya lagi.
Eleina kembali berbaring di ranjang dan membiarkan air matanya mengalir hingga tanpa ia sadari dirinya tertidur pulas di sana.
Ia kembali bermimpi Darrius mengajaknya bercinta. Ya memang menyedihkan hidupnya sebab hanya bisa bercinta dalam mimpi saja dengan laki-laki itu. Ia tahu mimpi itu akan berhenti saat laki-laki itu akan memasukkan miliknya ke dalam kehangatannya.
Eleina merintih dan mendesah saat Darrius mencium lehernya kemudian turun menyusuri payudaranya. Dia bermain di sana dan memuaskan mulutnya akan p****g Eleina. Menghisap, memagut dan menciumnya perlahan sedang tangan lain meremas yang satunya lagi.
Ia semakin merintih saat merasakan jari Darrius memasuki perlahan miliknya dan bermain di sana hingga dirinya mengelinjang menginginkan hal yang lebih.
Sampai laki-laki itu bersiap memasukinya dan ia bisa merasakan milik Darrius menyentuh mulut kewanitaannya dan mulai memasuki perlahan miliknya.
Kenapa mimpi ini tak berhenti?
Dengan cepat Eleina membuka matanya dan terbelalak saat menemukan jika ia tidak bermimpi, jika Darrius memang benar-benar nyata dan sedang berusaha memasukinya.
"Darrius!" jerit Eleina tapi laki-laki itu membekap mulutnya.
"Halo, istriku apakah terasa nikmat saat aku menyentuhmu dan memasukkan milikku yang mencoba menerobos kehangatanmu? Apa aku berhasil memuaskanmu? Oh, aku lupa aku belum berhasil membuatmu berteriak nikmat dan akan aku pastikan kamu memohon dan berteriak menginginkan kepuasan itu. Setelah itu kita lihat apa aku masih mengalami disfungsi seksual seperti katamu dan aku yakin kamu tidak akan mau lagi bercinta dengan laki-laki lain setelah merasakan kenikmatan bercinta denganku."
Eleina semakin terbelalak takut mendengar ucapan Darrius. Ia berusaha menggeser tubuhnya yang saat ini sudah tanpa pakaian sehelai pun. Bagaimana mungkin ia tidak terbangun saat laki-laki itu menelanjanginya atau masuk ke kamarnya. Eleina menyadari jika itu karena rasa lelahnya.
Dengan sekali hentakan, pinggul Darrius berhasil memasuki milik Eleina sepenuhnya dan berdiam di sana tak menyadari gadis itu yang meneteskan air mata karena rasa sakit yang dirasakannya tapi tak bisa berteriak karena tangan Darrius yang membekapnya.
Setelah merasa jika penyatuan mereka mulai membuat mereka terbiasa, Darrius mulai bergerak perlahan dan dengan irama yang tetap saat Eleina bergerak-gerak gelisah ia melepaskan bekapannya.
"Ya, kamu merasakan bukan rasa panas dan nikmat itu mulai mendatangimu. Apa kamu menginginkannya?" bisik Darrius di telinga Eleina dan ia bisa merasakan air mata gadis itu. Sesaat dia merasa marah karena mengira Eleina menangis karena tidak mau bercinta dengannya dan masih memikirkan laki-laki lain.
"Katakan jika kamu menginginkannya!"
"Tidak!" lirih Eleina merasa begitu terhina dengan apa yang Darrius lakukan padanya. Merasa terhina dengan balas dendam laki-laki itu padanya.
"Baiklah, aku akan membuatmu mengucapkannya."
Darrius kemudian berdiam di sana dan tak bergerak. Dia kembali mencumbu bibir Eleina yang menolak ciumannya tapi ia memaksakan ciumannya pada Eleina hingga gadis itu hanya bisa pasrah. Kemudian dia mencumbu p******a Eleina kembali hingga ia mengelinjang di bawah tubuh Darrius, sangat ingin laki-laki itu kembali bergerak.
"Katakan! Aku tahu jika kamu menyukai sentuhanku dan menginginkannya," geram Darrius karena ia sungguh tak sanggup menahannya lagi.
"Ya, aku menginginkanmu, please, Darrius," rintih Eleina tak tahu ada apa dengan tubuhnya yang seolah terbakar oleh sentuhan Darrius.
Darrius begitu lega mendengarnya dan ia mulai bergerak cepat mengejar kenikmatan mereka. Dirinya merasa puas saat mendengar jeritan kenikmatan yang Eleina dapatkan. Darrius kemudian berbaring lemas di samping Eleina yang kelelahan dan tanpa sadar mereka tertidur berpelukan.
***
Eleina membuka matanya perlahan dan saat sadar di mana ia berada dengan cepat ia berbalik dan merasa lega saat tak menemukan Darrius lagi di sebelahnya. Ia tahu jika semalam ia tidak bermimpi jika ia sudah menjadi istri Darrius yang sesungguhnya sebab ia merasakan rasa nyeri di area intimnya.
"Sudah bangun istriku? Apa aku mengalami disfungsi seksual menurutmu? Apa aku memuaskanmu semalam? Ya, aku yakin kamu sangat terpuaskan mengingat teriakan nikmatmu masih bergema di telingaku."
Eleina terbelalak saat mendengar suara Darrius dan ia menemukan laki-laki itu sudah berpakaian kembali dan sedang duduk di sofa memandanginya. Rona merah menjalar di pipi Eleina dan menyadari jika Darrius masih ingin membalasnya karena kata-katanya kemarin.
"Ya, kamu sudah berhasil mempermalukan aku, Mr. Warren, dan selamat karena sudah menang tapi aku juga tidak kalah sebab ternyata kamu mau menyentuh tubuh anak kecilku, sekarang tolong pergilah dari hadapanku karena melihat wajahmu membuatku mual," lirih Eleina dan membalikkan tubuhnya membelakangi Darrius.
Air mata perlahan mengalir di pipinya merasa begitu sakit hati karena Darrius bercinta pertama kali dengannya hanya untuk balas dendam. Tanpa sadar tubuhnya bergetar dan membuat ia mengoyangkan badannya ke depan dan belakang.
"Aku ingin kita bercerai!"
"Kenapa? Karena kamu ingin kembali bersama kekasih-kekasihmu? Atau kamu ingin bebas menggoda laki-laki lain?"
Air mata Eleina semakin deras karena bahkan laki-laki itu tak menyadari jika ia masih perawan.
"Aku membencimu!" ujarnya datar.
"Aku membenci sentuhanmu!" ucapnya marah dan berusaha menggosok tubuhnya dengan kesal berusaha menghilangkan bekas sentuhan laki-laki itu padanya.
"Hentikan!"
Tapi Eleina terus berusaha menggosok tubuhnya dengan marah hingga Darrius bisa melihat kulitnya yang mulai memerah.
Darrius menghampiri Eleina dan membalikkan tubuhnya menghadap padanya dengan kasar.
"Apalagi yang kamu inginkan?!" tanya Eleina dengan marah berusaha menahan air matanya tapi tetap bergulir laksana ombak pasang tanpa bisa dibendungnya.
Darrius meraih Eleina ke dalam pelukannya dan mendekapnya perlahan.
"Lepaskan aku!" berontak Eleina memukul d**a Darrius. "Lepaskan, b******n! Aku benci sentuhanmu!" isaknya kesal.
"Aku tahu kamu tak pernah peduli padaku dan aku tahu hampir setiap saat kamu menganggapku tak ada. Aku bahkan tahu kalau kamu membenciku selama ini. Tapi aku tak tahu di mana kesalahanku," isak Eleina kembali.
"Tolong pergilah Darrius! Tolong ceraikan aku, aku tidak mengandung anak siapa-siapa dan aku tidak pernah menjebakmu, jadi lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku, aku akan pulang kembali pada Mama hingga kamu tak perlu lagi melihat wajahku dan aku juga tak perlu melihat wajahmu," ujar Eleina terisak semakin parah.
Darrius membelai kepala Eleina perlahan untuk menenangkannya. Entah kenapa hatinya tak merasa puas melihat gadis itu kalah darinya.
Dengan sekuat tenaga Eleina mendorong Darrius dan bergegas turun dari ranjang. Kakinya tiba-tiba melemah saat rasa sakit terasa di area intimnya dan ia hanya pasrah saat merasakan tubuhnya terjatuh di atas lantai.
Darrius begitu terkejut saat melihat sebercak noda darah di sprei putih itu dan dengan cepat ia menghampiri Eleina.
"Pergilah! Aku bisa sendiri!" ketus Eleina.
"Kamu boleh menertawakan aku jika mau," sambung Eleina kembali.
"Kamu masih perawan?"
"Kenapa? Apa hal itu terlalu mengejutkanmu, Mr. Warren? Wanita yang kamu cap sebagai gadis binal, liar, murahan dan yang kamu anggap menggoda semua laki-laki ternyata masih perawan dan tidak mengandung anak laki-laki lain," sindir Eleina dan berusaha bangun dari atas lantai.
Ia kembali memberontak marah saat Darrius membopongnya dan membawanya ke kamar mandi.
Dia membantu Eleina membersihkan tubuhnya dan ia memandikan Eleina dengan lembut.
Eleina membiarkan air matanya mengalir perlahan dan hal itu tertutupi oleh air yang mengalir di kepalanya hingga tangis perlahannya mulai berkembang menjadi isakan sedu sedan menyayat hati.
Darrius menangkup dagu Eleina dan memagutnya dengan pelan.
"Maafkan aku, aku tahu jika aku sudah sangat jahat padamu."
"Aku lelah, Darrius, aku mohon kembalikan saja aku pada, Mama," ujar Eleina pedih.
Darrius diam dan tak mengatakan apa-apa. Ia mengeringkan tubuh Eleina dan membawanya kembali ke kamar.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^