11

1550 Kata
Eleina hanya diam pasrah saat Darrius mengeringkan rambutnya kemudian memakaikan pakaian padanya. Lalu dia keluar dari kamar dan Eleina tak peduli apa yang dilakukannya. "Ayo, makan," ujar Darrius saat kembali masuk ke kamar Eleina sambil membawa sepiring makanan. "Aku tidak lapar!" ujar Eleina dan kembali berpaling tak ingin menatap Darrius. Darrius meletakkan makanan di meja dan kembali menghampiri Eleina yang bergegas beringsut pergi saat dia semakin dekat. "Maukah kamu menemukan seseorang yang akan mengantarkan aku ke bandara? Jika kamu tidak mau aku bisa meminta pada Kak Leon." "Tidak!" "Kenapa? Bukankah kamu sudah berhasil mengalahkan aku. Apalagi yang kamu inginkan?" "Kita sudah menikah dan sekarang kamu sudah menjadi istriku dan selamanya akan tetap seperti itu." "Kenapa? Apa karena tahu aku masih perawan? Sebelumnya bahkan kamu tidak sudi menyentuhku dan aku sering menemukan tatapan jijik di kedua matamu. Aku juga menyadari betapa besar keinginan balas dendammu hingga kamu sudi menyentuhku." Darrius mendekat pada Eleina dan menariknya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku! Aku tahu jika mungkin aku kekanak-kanakan tapi kamu sangat salah. Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah sangat menginginkanmu karena itulah aku bersikap kejam padamu untuk menjauhkanmu. Hari-hari bersamamu di apartemenku saat mamamu menitipkanmu adalah saat-saat paling menyiksa dalam hidupku. Mengetahui kamu telah menjadi istriku dan bisa ku sentuh sesukaku membuat aku semakin menginginkanmu, godaan-godaanmu hampir membuatku bertekuk lutut. Betapa ingin aku langsung membawamu ke ranjangku bahkan tanpa kamu harus menggodaku. Aku kehilangan kendali semalam sejujurnya karena cemburu hingga berniat menyakitimu, aku cemburu karena melihatmu tertawa bersama Matthew padahal yang aku inginkan adalah kamu yang hanya menjadi milikku saja. Tapi usia kita yang terpaut jauh membuatku berusaha menjauhimu, ternyata hal itu sia-sia belaka. Kamu berhasil menjeratku." Eleina menatap Darrius dan tak percaya apa yang sudah didengarnya. "Gara-gara dirimu aku bahkan hampir setiap hari harus memuaskan diriku sendiri," ujar Darrius tersenyum menatap Eleina. "Sepertinya hal itu tak menghentikanmu untuk menemui wanita-wanita di majalah itu," sindir Eleina. Darrius tertawa mendengarnya. "Tidak ada apa-apa di antara aku dan mereka. Aku bahkan enggan menyentuh mereka karena yang aku ingat hanyalah dirimu, kami hanya mengobrol bersama yang lainnya dan dengan licik media memutar balikkan semuanya. Aku tak pernah bercinta dengan siapapun sejak kamu memasuki apartemenku." Eleina kembali menatap Darrius tak percaya apa yang ia dengar tapi dia bisa melihat jika Darrius memang berkata jujur padanya. "Sekarang, makanlah. Aku akan menyuapimu." Eleina akhirnya mengalah dan menerima suapan Darrius padanya. Sisa waktu mereka di resort itu berlalu menjadi hari paling membahagiakan untuk Eleina. Darrius bersikap lembut padanya dan tak pernah menyakiti perasaannya lagi. Mereka akan tidur berpelukan dan ia sungguh merasa bahagia bisa tidur di dalam dekapan Darrius. Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di sini dan besok pagi mereka akan segera kembali ke Los Angeles. "Darrius." "Hmmm." Eleina melingkarkan jarinya di d**a Darrius, merasa ragu untuk memberitahu Darrius. "Ada apa?" tanya Darrius mengangkat kepalanya. Eleina hanya memasukkan tangannya di balik kaos Darrius dan meraba d**a laki-laki itu hingga ia bisa mendengar geraman dari telinga Darrius. Ia merasa senang saat Darrius tak bisa menahan diri dan bangun menindihnya serta mencumbu bibirnya dengan perlahan. Dirinya semakin senang saat Darrius mengambil alih semuanya dan mulai bercinta dengannya secara perlahan. "Kamu sudah berubah menjadi canduku, Eleina." Eleina hanya tersenyum mendengarnya dan mereka kembali melanjutkan semuanya hingga menggapai kepuasan bersama. *** Mereka tiba di Los Angeles saat siang hari dan begitu sampai apartemen ponsel Eleina berbunyi dan ia mengangkatnya. "Halo, Mama." "Eleina, apa kalian sudah pulang?" "Ya, Ma." "Kapan kalian akan datang menginap di sini? Rumah ini begitu besar dan Mama kesepian sendirian di sini." "Aku akan bertanya pada Darrius ya, Mama." "Tentu, sampaikan salam Mama padanya." "Baik, Ma." Eleina kemudian menatap Darrius setelah Shirley selesai menelepon. "Mama ingin kita menginap di sana, apa kamu bisa?" "Nanti malam kita akan ke sana sekarang. Saat ini aku harus pergi ke kantor dulu. Apa tidak apa-apa aku meninggalkanmu sendirian?" "Ya, tidak apa-apa. Terima kasih, Darrius, aku akan istirahat dulu," ujar Eleina tersenyum bahagia. "Ya," timpal Darrius dan mengecup kepala Eleina sebelum berangkat. Setelah kepergian Darrius, ia bergegas ke kamarnya menyiapkan semua barang-barangnya, lalu ia beristirahat. Saat malam mereka bergegas menuju rumah Shirley dan tak memberitahunya karena ingin ini jadi kejutan. Saat sampai Eleina menekan bel dengan tidak sabar dan sewaktu pelayan membuka pintu bergegas ia masuk sambil menarik Darrius bersamanya. "Mama!" "Eleina! Kamu datang!" "Ya, Ma, maaf sudah lama tidak mengunjungi Mama." "Ma," panggil Darrius masih sedikit risi sebab belum terbiasa. Shirley hanya memberikan seulas senyum yang tulus pada Darrius. Dirinya tahu jika Darrius sudah yatim piatu sejak berumur 22 tahun karena kedua orangtuanya meninggal disebabkan oleh kecelakaan dan hanya Sara saja yang merupakan keluarganya yang tersisa. "Apa kalian sudah makan?" "Ya, Ma. Mama sedang apa tanya Eleina." "Nonton! Apa kalian mau ikut? Lagi seru," ujar Shirley. "Film apa, Ma?" tanya Eleina dan ikut ke ruang nonton bersama Darrius di belakangnya. "Kamu sangat menyukainya," ujar Shirley tersenyum kecil. Saat sampai di sana mata Eleina terbelalak takut dan seketika ia menjerit bahkan dengan refleks memeluk Darrius erat. Mau tidak mau Darrius merangkul pinggang Eleina yang bahkan sudah bergelantungan di lehernya. "Mama tega sekali padaku!" pekik Eleina yang menutup wajahnya di leher Darrius. Tanpa menyadari jika laki-laki itu berusaha menahan diri dengan susah payah saat merasakan tubuh Eleina yang terus menerus menggesek tubuhnya sejak tadi. "Mama, matikan!" pinta Eleina. Shirley hanya tertawa mendengarnya dan mengabulkan keinginan putrinya. Mematikan film horor yang sedang ditontonnya. Baru setelah itu Eleina melepaskan rangkulannya pada Darrius dan berani turun dari tubuhnya. "Tega sekali Mama padaku." "Mama hanya kesal karena tak tahu kenapa kamu bisa takut menonton film horor bahkan Papamu saja tidak takut. Entah kamu menuruni siapa," ujar Shirley tertawa. Sejak setahun yang lalu setelah menjalani pengobatan di psikiater, Shirley bisa menyebutkan dan mengingat Bill suaminya tanpa perasaan takut lagi. Apalagi ia tahu jika laki-laki itu sudah meninggal dan tak akan bisa menyakitinya lagi. Setahun setelah di penjara, Bill bunuh diri dengan menggantung dirinya karena tidak mau di penjara seumur hidupnya yang saat itu berusia 50 tahun. "Kalian tidurlah, hari sudah malam." "Baik, Ma, di mana kami akan tidur? Karena ranjangku tidak cukup besar untuk kami berdua." "Di kamar utama saja." "Tapi, Ma__" Sejak kembali ke rumah ini Shirley memang tidak pernah mau lagi tidur di situ bahkan ia berencana menjual rumah ini setelah Eleina menikah sebab kenangannya akan tempat ini tidaklah indah. "Tidak apa-apa, Mama tiap hari meminta pelayan membersihkannya." "Baiklah." Eleina menarik lengan Darrius ke kamar dan dia senang menginap di sini karena itu artinya mereka akan tidur bersama. Saat masuk ke kamar itu Darrius menatap kamar tempat di mana Shirley sering di siksa dan di kamar itu terdapat ranjang bertiang empat dan memikirkan betapa sakit jiwa laki-laki itu karena tega menyiksa istri yang mencintainya. Dengan tak nyaman ia duduk di ranjang sedangkan Eleina sibuk membuka pakaiannya dan berganti pakaian di hadapan Darrius. "Ayo, kita tidur." "Aku akan tidur di sofa saja." "Kenapa? Apa kamu tak ingin tidur bersamaku lagi, Darrius setelah kita kembali ke sini?" "Aku tak pernah tak menginginkanmu, bahkan saat aku mengatakan tak menginginkan dirimu pun sejujurnya aku hampir lepas kendali. Aku mengatakan hal itu hanya agar kamu menjauh dariku dan aku tak perlu berusaha menahan diri lagi." "Jika begitu aku mohon tidurlah di sini bersamaku, aku ingin tidur di dalam pelukanmu." "Aku hanya tak nyaman tidur di ranjang orang tuamu." "Dan mengira jika Mama sering disiksa di sini?" "Ya, begitulah." "Tidak, dia sengaja menyediakan ruang khusus untuk menyiksa Mama." "Tapi kenapa Mama menolak tidur di sini?" "Karena saat di awal pernikahan mereka di sini Papa tak pernah menyiksanya dan hanya bersikap tak peduli pada istri yang dijodohkan dengannya tapi entah karena apa Papa berubah menjadi kejam." Darrius kemudian menyerah dan menuruti keinginan Eleina. Sebelum masuk ke ranjang di sebelah Eleina, ia membuka atasannya. Eleina mengusap perlahan d**a itu dan bermain di sana. Ia mendekat dan menghirup aroma Darrius. Tak bisa menahan diri, dia menjilati d**a Darrius perlahan. "Eleina! Apa kamu tidak mau tidur?" "Aku tak bisa tidur," timpalnya. "Darrius," panggilnya pelan. "Hmmm," geram Darrius saat Eleina terus mengusap-usap dadanya. "Kapan kamu baru akan menyentuhku lagi?" tanya Eleina memberanikan diri. "Saat kita di rumah, aku tak bisa bercinta di atas ranjang orangtuamu." "Jika aku menggodamu apa kamu akan bisa terus menahan diri?" ujar Eleina masih mengusap-usap d**a Darrius. "Aku tak mau Mama datang ke sini mengira aku menyiksamu karena jeritan-jeritanmu, besok kita akan pulang dan aku akan menyekapmu seharian di kamar." Eleina tersenyum mendengarnya, "Aku tak sabar lagi," ujarnya. Tak lama kemudian ia akhirnya tertidur di dalam dekapan Darrius. Sedangkan laki-laki itu tak mampu menutup matanya sedikitpun karena begitu menginginkan Eleina saat ini. Saat jam 3 pagi akhirnya dia bisa tertidur juga. Darrius terbangun mendadak saat menyentuh ranjang di sampingnya tapi tak menemukan Eleina di sana. Dengan cepat dia mengedarkan pandangan mencarinya tapi tetap wanita itu tak ditemukannya. Saat itulah dia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dan dia bersandar di ranjang menunggu Eleina keluar. Seketika bukti gairahnya bangkit saat Eleina keluar dari sana tanpa busana dan bagaimana air menetes di tubuhnya. "Oh, kamu sudah bangun? Aku lupa membawa handuk," ujar Eleina merasakan sesuatu dari tatapan Darrius. Kemudian ia memberanikan diri dan memindahkan rambut panjangnya ke belakang hingga kedua payudaranya tampak. "Apa kamu berusaha menggodaku?" "Apa berhasil?" tanya Eleina tersenyum pada Darrius. "Ya, sangat berhasil." Eleina kemudian mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya di bawah tatapan mata Darrius yang beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai ia naik ke atas ranjang dan menunggu Darrius keluar dari kamar mandi. Saat laki-laki itu keluar, ia sengaja mengeliatkan tubuhnya dengan sensual untuk menggoda laki-laki itu. Darrius terpaku di tempatnya saat melihat betapa tubuh telanjang Eleina menggodanya. Beberapa saat kemudian ia menyerah kalah dan naik ke atas ranjang. "Dasar penyihir kecil! Kamu berhasil menyihirku," ujar Darrius dan mulai mencumbu bibir Eleina yang tersenyum menggodanya. Pagi itu mereka kembali bercinta dan saat Eleina mencapai puncak, Darrius membungkam bibirnya dengan ciuman karena tak ingin orang serumah mendengarnya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN