12

929 Kata
Mereka segera turun ke bawah untuk sarapan bersama Shirley. "Mama," sapa Eleina dengan wajah ceria dan mengecup pipi Shirley. "Ma," panggil Darrius. "Kalian duduklah dan mulai makanlah." Saat selesai sarapan Shirley mengajak mereka ke ruang duduk sebelum mereka harus pulang. Sebab Darrius harus kembali bekerja. "Apa kalian tidak akan bulan madu?" Eleina menatap Darrius bertanya karena bagaimanapun mereka baru saja berbaikan dan tak memikirkan hal itu sebelumnya. "Darrius masih sibuk Mama, mungkin suatu hari kami akan pergi berlibur," ujar Eleina saat Darrius tak menjawabnya. "Baiklah, Mama hanya ingin segera dapat cucu saja," ujar Shirley tersenyum. "Dan kamu Darrius, sejak kamu menikah dengan Eleina kamu harus menganggapku sebagai mamamu dan jangan memandangku sebagai klienmu lagi, aku tahu kamu masih merasa tidak nyaman." Darrius hanya meringis mendengarnya karena apa yang dikatakan oleh Shirley benar adanya. "Ya, Mama." "Tolong bahagiakan Eleina, jangan sakiti dia dan cintai dia." "Ya," jawab Darrius dan sedikit gelisah mendengarnya. "Kami pulang dulu, Mama, karena Darrius harus bekerja," ujar Eleina dan mengecup pipi Shirley lagi. "Kapan-kapan aku akan datang lagi." "Ya." Mereka kemudian pulang dalam diam dan Eleina tak tahu apa yang Darrius pikirkan saat ini. Saat masuk ke dalam apartemen dengan cepat laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya dan Eleina menyusulnya ke sana. "Apa Mamaku salah bicara Darrius? Hingga kamu seakan tidak nyaman?" "Tidak, aku hanya sedang memikirkan kasusku," kilah Darrius. "Aku pergi kerja dulu," ujarnya dan mengecup pelan bibir Eleina. Eleina hanya bisa menatap kepergian laki-laki itu dengan tatapan sedih, sebab ia tahu jika Darrius kembali menarik diri darinya. Eleina kemudian juga berangkat ke kampus sebab karena begitu ingin menjauh darinya, dia bahkan lupa jika istrinya harus pergi ke kampus, jadi ia hanya bisa pergi ke sana sendirian. *** Darrius tak bisa konsentrasi saat di kantornya, ia sebenarnya tak memiliki kasus tapi ingin menjauh dari Eleina, ia takut mencintainya karena tak ingin merasakan kehilangan. Saat kedua orang tua yang dia cintai meninggalkannya dirinya merasa begitu pahit, hanya karena kedatangan Sara saja dia tak terlalu merasa sebatang kara lagi tapi dia juga tak berani terlalu dekat dengan Sara apalagi mengingat betapa nekat kelakuan Sara selama ini, dia takut Sara juga akan meninggalkannya. Darrius memikirkan jika sampai dia jatuh cinta pada Eleina dan gadis itu pergi dari hidupnya, entah apa yang akan dirasakannya. "Aku tidak boleh jatuh cinta padanya!" tekad Darrius. Siang tiba dan Darrius memutuskan untuk pulang karena begitu menginginkan Eleina tapi saat ia sampai, dirinya tak menemukan Eleina di aparteman dan saat ingin di mana Eleina mungkin berada, dia menyesal karena lupa jika Eleina juga masih kuliah. Dengan cepat dia menuju ke kampus Eleina dan menunggunya di luar. *** Eleina berjalan keluar dengan langkah perlahan. "Bagaimana?" tanya Adelia dan merangkul bahu Eleina. "Apa?" "Apa kamu masih perawan?" "Adelia!" sergah Eleina sebab beberapa orang jadi melihat mereka. "Maaf," kikiknya pelan. "Tidak lagi." "Maksudmu kamu berhasil?" "Ya," ujar Eleina tersenyum. "Tapi aku juga tak sanggup menolaknya, aku terbakar hanya karena sentuhannya." "Aku tahu rasa itu, selamat bergabung," ujar Adelia. "Jadi apa kamu akan membuatnya jatuh cinta lalu mencampakkannya?" "Sepertinya tidak sebab aku sudah jatuh cinta padanya." "Secepat itu?" "Aku rasa aku sudah jatuh cinta sejak dulu padanya, sejak kami pertama bertemu dan karena dia tidak menyukaiku, hal itu membuatku marah dan berusaha memusuhinya." "Lihatlah sepertinya ada artis tampan yang datang hingga para gadis itu berkumpul di sana, ayo kita lihat," ujar Adelia. "Tidak, aku mau pulang saja." "Ayo," paksa Adelia menarik tangan Eleina. Saat mereka tiba di sana mereka bisa melihat jika ternyata para gadis itu mengelilingi Darrius yang tampak tak peduli gadis-gadis menatapnya. Eleina tahu kenapa mereka terpesona sebab dengan tubuh bersandar pada mobil Ferrarinya dan memakai jas, dia sungguh sangat tampan dan Eleina merasa bangga menjadi istrinya. Tiba-tiba seseorang mendorongnya ke depan dan ia tahu itu pasti Adelia hingga mata Darrius berpindah menatapnya. Dia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Eleina yang merasa gugup karena semua orang memperhatikannya. "Apa kamu sudah selesai?" "Ya," ujar Eleina tak berani menatap Darrius. "Ayo, kita pulang, aku merindukanmu," ujar Darrius di telinganya dan menariknya ke dalam pelukan serta mencium bibir Eleina perlahan hingga semua gadis-gadis itu berteriak histeris merasa begitu iri. Darrius sengaja melakukan itu agar mereka tahu jika dia sudah ada yang punya dan jika Eleina juga sudah ada yang punya. Saat sampai di apartemen kembali dengan tergesa-gesa mereka saling membuka pakaian hingga polos dan Eleina membelai perlahan d**a Darrius serta mengecupnya perlahan terus turun menyusuri perutnya yang berotot menuju milik laki-laki itu dan memuaskan rasanya di sana karena ia sungguh penasaran setelah sering mendengar Adelia menceritakan jika kekasihnya sangat suka hal itu. "Eleina, di mana kamu mempelajari ini jika bahkan kamu masih perawan!" geram Darrius tersiksa. Kemudian dia mengangkat tubuh Eleina dan membaringkannya di ranjang. "Sekarang giliranku," ujar Darrius dan menikmati tubuh Eleina sepuasnya serta melakukan hal yang sama dengan memuaskan rasa lidahnya di antara kedua paha Eleina. Dengan panik Eleina mencengkeram kepala Darrius saat badai itu akan menghampirinya tapi Darrius tak berhenti hingga Eleina berteriak nikmat. Setelah itu dia memasukkan dirinya dengan cepat ke kehangatan Eleina dan ia merintih karena hal itu dan merasakan gairahnya kembali bangkit. Eleina memeluk erat tubuh Darrius, mencakar punggungnya saat laki-laki itu menindihnya dan terus bergerak di dalam tubuhnya hingga mereka menggapai kenikmatan bersama-sama. Darrius mengecup kepala Eleina perlahan dan memeluknya dengan erat. Saat Eleina tertidur dia memikirkan semuanya kembali, tak menyangka jika Eleina akan jadi istrinya padahal dia merasa hal itu mustahil. Ia tahu setiap mereka bertemu maka akan terasa gairah mereka tersulut satu sama lain dan Darrius sengaja menyatakan permusuhan dengan gadis itu agar mereka saling menjauh. Sekarang dia tak perlu melakukan hal itu lagi dan dia merasa begitu bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN