13

1063 Kata
Tak terasa sudah 3 bulan mereka menikah dan sejak itu Eleina merasa sangat bahagia karena ternyata Darrius menginginkannya. Hari ini dia akan merayakan kelulusannya dan ia berencana setelah menyelesaikan pendidikannya mungkin setelah itu dia akan menjadi istri yang baik, yang menunggu suaminya pulang kerja setiap hari. Setiap hari Darrius juga mengantar dan menjemputnya di kampus hingga banyak yang menatap iri padanya. Ia tadi sudah meminta izin untuk merayakan bersama teman-temannya dan Darrius mengizinkannya. Setelah pulang dari perayaan ia memutuskan untuk pergi ke rumah Shirley sebab merasa sangat ingin bermanja-manjaan dengan mamanya. Mereka sering menginap beberapa kali dan ia sedikit sedih karena Shirley tampak kesepian tapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa akan hal itu. "Mama!" seru Eleina saat masuk ke dalam rumah. "Halo, Sayang, ada apa kamu datang? Mana Darrius?" "Aku baru pulang merayakan kelulusanku dan tiba-tiba merasa sangat merindukan Mama jadi aku lupa memberitahu Darrius." "Oh, sebaiknya beritahu dia dan bagaimana jika kalian menginap saja?" "Baiklah." Eleina mengambil ponselnya dan menghubungi Darrius. "Ada apa, Eleina? Apa kamu sudah selesai merayakannya bersama teman-temanmu?" "Ya, saat ini aku di rumah Mama, bolehkah kita menginap di rumah Mama hari ini? Tiba-tiba aku sangat merindukannya." "Ya, Tentu." "Tolong ambilkan bajuku dan juga ambilkan peralatan make up ku di laci meja rias di kamar tamu." "Tentu, aku akan langsung ke sana saat sudah tiba di rumah dan membawa keperluan kita, aku merindukanmu." "Aku juga." Tapi hingga pukul 10 malam Eleina menunggu dan suaminya tak muncul juga. Saat ia meneleponnya, ponselnya tak aktif hingga ia merasa begitu cemas. "Ma, aku pulang dulu ya, aku merasa cemas sebab aku tak bisa menghubunginya." "Baiklah, Mama akan meminta sopir mengantarkanmu." "Baik, Ma." Saat sampai di sana dengan perlahan Eleina membuka pintu dan menemukan Darrius sedang duduk di sofa dan tampak sedikit mabuk. "Darrius!" panggilnya sambil menyentuh tangan Darrius. "Sudah pulang istriku Sayang." "Darrius apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak datang? Aku mencemaskanmu." "Jangan pura-pura peduli padaku!" bentak Darrius marah hingga Eleina melangkah mundur karena terkejut. "Katakan!" "Apa?" cicit Eleina. "Katakan! Kapan kamu berencana akan mencampakkan aku setelah membuatku jatuh cinta padamu? Saat aku tak bisa hidup tanpamu hingga mungkin kamu berharap aku bunuh diri? Atau saat kamu menemukan laki-laki lain seperti para mantan kekasihmu?" "Apa maksudmu? Kamu tahu jika kamu adalah laki-laki pertama untukku." "Memang tubuhmu aku yang memilikinya pertama kali tapi tidak dengan hatimu. Ada Rick atau mungkin John di sana." "Darrius kamu sedang mabuk!" "Aku sangat sadar saat menemukan ini!" bentak Darriusa dan melemparkan sebuah kertas yang sudah di remas menjadi bola. Eleina mengambilnya dan membukanya, ia sudah tahu apa isinya sebelum membukanya sepenuhnya. "Saat kamu tidak bisa menolak sentuhanku karena begitu nikmat, kamu berpindah pada rencana kedua bukan? Mencampakkan aku saat aku sudah jatuh cinta padamu." "Darrius dengarkan__" "Aku tidak ingin dengar apa-apa lagi dan kamu tidak akan berhasil dengan rencanamu itu Eleina. Aku akui kamu berhasil merayuku dan berhasil membuatku bercinta denganmu tapi kamu tak akan berhasil dengan rencanamu untuk membuatku jatuh cinta karena aku tak akan pernah jatuh cinta padamu, bagiku kamu hanyalah istri yang harus aku jaga serta cukupi kebutuhannya dan istri yang melayani kebutuhanku di ranjang saja." Eleina begitu terluka mendengarnya padahal dia menuliskan semua itu saat belum menyadari perasaannya pada Darrius. Tapi jika dia mengatakannya sekarang maka laki-laki itu pasti akan menertawakannya dan untuk apa dia mengatakannya jika Darrius tak akan pernah kembali mencintainya. Lebih baik dia bawa sampai mati rasa cinta ini. "Kembalilah ke rumah Mamamu dan sebaiknya kita bercerai, saat aku keluar dari kamar, aku tak ingin melihat dirimu masih ada di sini," ujar Darrius dan kemudian beranjak ke kamarnya. Air mata perlahan mengalir dari matanya dan ia kemudian memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas dan beranjak pergi dari apartemen Darrius. "Ma," panggil Eleina di telepon saat dirinya sudah naik ke sebuah taksi. "Eleina, apakah semuanya baik-baik saja?" "Ya, aku menelepon hanya agar Mama tidak khawatir, Darrius harus lembur tadi dan ponselnya low bat jadi maaf kami tidak bisa menginap hari ini dan dia mengajakku berlibur untuk bulan madu, jadi aku akan jarang menghubungi Mama, aku harap Mama tidak cemas." "Ya, Sayang, bersenang-senanglah," ucap Shirley. Eleina membekap mulutnya agar isakannya tidak lolos dan ia kembali berusaha menenangkan diri. "Ya, Ma," jawabnya dan kemudian mematikan ponselnya. Maafkan aku Mama karena terpaksa berbohong padamu, aku hanya tak ingin Mama khawatir padaku. Eleina memutuskan dia akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri dan tak ingin kembali ke rumah Shirley. Saat sudah tenang dia akan memikirkan langkah selanjutnya. Tapi entah kenapa dirinya merasa jika dia tak akan pernah tenang jika tak memberitahu Darrius tentang perasaannya. Saat itulah layar ponselnya menyala dan sebuah pesan dari Adelia masuk tapi yang menjadi fokusnya adalah wajah Darrius yang ia pasang sebagai wallpapernya. Akhirnya ia memutuskan mengirim sebuah pesan teks pada Darrius. Mata Eleina berkaca-kaca setelah menuliskan itu semua sesaat dia ragu apa akan mengirimkannya tapi kemudian ia memberanikan diri dan menekan tombol kirim. Setelah itu ia mengirimkan pesan balasan pada Adelia dan menceritakan secara singkat jika dia dan Darrius akan bercerai dan penyebabnya, setelah itu dia memberitahu Adelia jika dia akan menenangkan diri selama beberapa lama dan agar tidak mencemaskannya nanti serta mengatakan dia akan baik-baik saja. Eleina kemudian mematikan ponsel dan membiarkan air matanya mengalir. Ia menyadari jika sopir terus menatap penasaran padanya. "Apa Anda baik-baik saja, Nona?" "Ya, antarkan aku ke sini, Pak," ujar Eleina dan memberikan sebuah alamat padanya. *** Darrius berusaha meredakan kemarahannya dengan menguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Akhirnya ia mengetahui rencana Eleina yang sebenarnya dan perasaannya begitu sakit karena ternyata Eleina hanya mempermainkannya saja. Setelah itu dia kemudian keluar dari kamar mandi saat tetap tak bisa meredakan perasaannya. Dirinya kemudian mencoba tidur tapi hingga malam hal itu tak bisa ia lakukan. Dia mengambil ponselnya dan menemukan sebuah chat dari Eleina. Haruskah aku membacanya? Apa dia mengirimkan kata-kata untuk menertawakan aku? Mungkin sebaiknya aku hapus saja. Tapi dirinya tak sanggup menghapusnya dan dia hanya mengabaikannya saja. Dengan marah dia membuang ponsel itu ke ranjang dan bergegas keluar dari apartemennya agar tak terus memikirkan Eleina. Darrius pergi ke club malam yang tak disukainya kemudian mabuk-mabukkan di sana. 3 hari kemudian perasaannya tak menjadi lebih baik, tak ada pekerjaan yang bisa dia selesaikan hingga dia memilih untuk pergi keluar negeri selama dua bulan untuk melaksanakan tugas dari firmanya yang sempat ia tolak karena tidak ingin meninggalkan Eleina. Dia mengganti ponsel dan nomornya agar Eleina tak mencoba menghubunginya lagi serta menyimpan ponsel yang lama di laci kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN