Mereka makan malam bersama saat makanan yang Darrius pesan sudah tiba. Selesai makan dia duduk di sofa dan menonton saat melihat Eleina masuk ke kamarnya. Jika gadis itu di sini maka dia lebih baik ke kamarnya saja.
Di dalam kamarnya Eleina sedang memikirkan langkah selanjutnya apa yang harus dilakukannya untuk menggoda Darrius. Akhirnya ia memutuskan akan memakai lingerie lagi yang terdiri dari gaun terusan tanpa belahan hanya transparan saja yang dilengkapi dengan bra langsung di gaunnya dan g-string. Setelah itu ia berjalan keluar dan duduk di sofa menonton bersama Darrius.
Ia pura-pura tidak tahu jika Darrius menatapnya dengan tatapan membunuhnya saat ini. Ia kemudian mengeluarkan desahan dan rintihan sambil membelai tubuhnya pelan dan dari sudut matanya ia bisa melihat tangan Darrius yang tergenggam erat.
Saat Darrius beranjak bangun ia bersuara.
"Jangan katakan kamu tergoda padaku hingga kamu melarikan diri," ujar Eleina tersenyum pada Darrius.
Dia kembali ke tempat duduknya lagi dan melanjutkan menonton televisi. Hingga akhirnya sebuah tayangan film horor muncul dan Eleina sudah lupa akan niatnya untuk menggoda Darrius. Dia bahkan saat ini memeluk lututnya dengan erat dan menatap layar televisi tanpa bisa berpaling. Dirinya memang paling takut menonton film horor. Ia bahkan tak menyadari lagi tali bahunya yang merosot turun hingga memperlihatkan bahu telanjangnya atau gaunnya yang terangkat hingga paha sewaktu ia memeluk lututnya takut.
Darrius tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, dia merasa sebentar lagi mungkin dia akan meledak di sana. Dirinya terpaku menatap paha Eleina yang tampak begitu mulus dan seolah memanggilnya untuk menyentuhnya atau bahu telanjangnya yang meminta dia mengecupnya. Selama ini dia sudah berhasil menyangkal rasa tertariknya pada Eleina karena perbedaan usia mereka dan setelah gadis itu menjadi istrinya, otaknya terus mengatakan jika dia berhak bercinta dengannya tapi dia menahan diri karena tak mau membuat gadis itu berhasil menjeratnya sepenuhnya.
"Akh!" jerit Eleina kaget dan tentu saja membuat Darrius juga terkejut hingga mengalihkan tatapannya.
"Akh!" teriak Eleina kembali ketakutan dan kali ini berhamburan bangun dari tempat duduknya. Darrius menghembuskan napas lega karena gadis itu akan kembali berlari ke kamarnya tapi ternyata dugaannya salah sebab saat ini dia merasakan sesuatu yang empuk menimpanya.
Dengan pasrah ia memiringkan kepalanya ke atas.
Oh, Tuhan, cobaan apa yang engkau berikan padaku.
"Aku takut," rintih Eleina memeluk leher Darrius erat dan menyembunyikan wajahnya di lehernya.
Dia bisa merasakan jika miliknya semakin mengeras apalagi saat gadis itu bergerak-gerak gelisah di atas pangkuannya.
"Kamu pasti dikirim Tuhan untuk menyiksaku," ratap Darrius tapi dia tahu Eleina tak mendengar ucapannya sebab gadis itu tidak mengeluarkan suara apa-apa. Darrius kemudian mematikan televisi agar gadis itu bisa segera pergi dari pangkuannya.
"Aku sudah mematikannya jadi sekarang menyingkirlah dari atas pangkuanku dan kembalilah ke kamarmu!"
"Aku tidak mau, aku akan tidur denganmu saja, aku takut tidur sendirian, salahmu sendiri kenapa menonton film horor," ujar Eleina masih tak mau melepaskan leher Darrius.
"Percayalah, Eleina, jika kamu tidur denganku maka hal itu akan lebih menyeramkan daripada film tadi."
"Kenapa? Apa saat tengah malam kamu akan berubah menjadi drakula dan menyantapku?" tanya Eleina mengangkat kepalanya dan menatap wajah Darrius yang begitu dekat dengannya, menunggu jawabannya.
"Mungkin, bahkan saat ini aku ingin menyantapmu," geram Darrius.
Padahal mereka hanya menonton film drakula saja tapi seolah-olah bagi Eleina mereka menonton hantu yang keluar dari kuburan saja.
"Mana? Aku ingin melihat apa taringmu sudah keluar," ujar Eleina dan menyentuh pelan dan lembut bibir Darrius.
Dengan kesal Darrius menepisnya dan jika tidak ingat akan usia Eleina mungkin saat ini dia sudah membawa Eleina ke kamarnya dan tak peduli lagi akan rentang usia mereka.
"Kembalilah ke kamarmu!"
"Aku tidak mau, jika kamu tidak mengizinkan aku tidur bersamamu di kamar, maka aku akan tidur di dadamu saja," ujar Eleina dan merebahkan tubuhnya di d**a bidang Darrius.
Eleina menghirup dalam-dalam aroma Darrius dan meletakkan tangannya di d**a laki-laki itu. Perlahan rasa kantuk menghampirinya dan kemudian ia tertidur.
Darrius merasa lega saat gadis itu sudah tertidur dan dengan cepat dia membopongnya ke kamar dan menyelimuti tubuhnya.
"Sepertinya aku harus kembali memuaskan diriku sendiri lagi karenamu," ujar Darrius dan bergegas keluar dari sana sebab sejak gadis itu memasuki apartemennya hal itulah yang hampir setiap hari harus dilakukannya.
***
Eleina mengeliatkan tubuhnya merasa tidurnya begitu nyenyak. Ia langsung terduduk saat ingat apa yang sudah terjadi semalam.
"Sial! Bukannya merayunya aku malah ketakutan karena film." Kesal Eleina saat ingat semuanya. Dirinya melihat jam dan menemukan jika jam baru menunjukkan pukul 2 pagi, ia langsung merasa ketakutan lagi dan membuatnya membayangkan suara atau gerakan di kamarnya.
Samar-samar dia ingat aroma Darrius yang dihirupnya tadi membuatnya merasa begitu tenang dan aman di dalam dekapan laki-laki itu dan ia sungguh-sungguh menyukai aroma laki-laki itu.
Aku akan ke kamar Darrius saja, aku sungguh takut tidur sendirian.
Dengan perlahan Eleina turun dari ranjangnya sambil menatap sekelilingnya, takut apa yang dia tonton tadi mungkin akan mendatanginya dan menghisap darahnya. Eleina segera berlari ke kamar Darrius saat berhasil membuka pintu. Sampai di sana dengan pelan dia membuka pintu Darrius dan merasa lega saat pintu itu tidak di kunci. Dia masuk ke dalam dan menutupnya perlahan. Kemudian dia mengendap-ngendap menuju ranjang Darrius dan menemukan laki-laki itu sudah tidur bertelanjang d**a.
Dengan pelan Eleina menyusup ke dalam selimut dan tidur di samping Darrius. Ia begitu lega saat Darrius tidak terbangun karena jika laki-laki itu terbangun maka dia pasti akan langsung mengusirnya. Tidak lama kemudian Eleina bisa rileks dan terlelap kembali.
***
Darrius terbangun dengan perasaan begitu damai. Dia saat ini merasakan seseorang berada didekapannya dan dirinya tersenyum karena pasti semalam dia bercinta penuh gairah dengan seorang wanita hingga dia bisa tidur dengan nyenyak. Sudah lama dia tidak bersama wanita dan dirinya sungguh tersiksa.
Darrius menarik tubuh wanita tersebut semakin merapat padanya.
"Pagi!" sapanya dan memagut bibir lembut itu dengan perlahan dan penuh gairah. Dia merasakan bukti gairahnya langsung menegang seketika dan dia terus turun menyusuri leher jenjang wanita itu. Dengan perlahan dia menghisapnya hingga dirinya mendengar rintihan dan desahan dari bibir wanita itu.
"Ahhh!" desah wanita itu dan kembali mencium bibir Darrius dengan rakus. Perlahan kesadaran menghampiri Darrius karena merasa familiar dengan suara itu dan seketika dia menjauhkan tubuh wanita itu dan membuka mata menatapnya.
"s**t!" maki Darrius dan langsung melompat bangun dari atas ranjang.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?!"
"Tentu saja tidur."
"Tadi kamu sama sekali tidak tidur."
"Kamu sendiri yang mulai menciumku."
"s**t!" maki Darrius kembali dan menyandarkan kepalanya di tembok dengan frustrasi. Sepertinya hari ini dia harus kembali memuaskan dirinya sendiri lagi.
"Keluar!"
"Kenapa? Apa kamu tergoda pada tubuh anak kecilku?"
"Tentu saja tidak, aku mengira jika dirimu adalah___"
"Simpananmu?" tanya Eleina marah.
Dengan kesal Eleina turun dari ranjang dan menghampiri Darrius. Ia tahu jika Darrius b*******h padanya saat ini karena tadi dia bisa merasakan bukti gairah laki-laki itu yang menekannya. Ia akan membuat laki-laki itu menyerah dan kemudian dia akan menolaknya.
Eleina menyentuh Darrius hingga dengan cepat laki-laki itu berbalik menghadapnya. Seketika Eleina langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan Darrius dan mau tidak mau dia menangkap tubuh Eleina.
"Aku menyukai bau tubuhmu, Darrius," rintih Eleina dengan suara penuh gairah dan ia tahu hal itu bukan aktingnya sama sekali karena dia memang merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia tak tahu bagaimana meredakan rasa nyeri itu saat ini.
Eleina kemudian membelai perlahan dan lembut d**a Darrius, lalu dia menelusuri bibirnya di sana dengan perlahan. Dirinya bisa mendengar geraman bergemuruh dari d**a laki-laki itu hingga dia memegang kedua lengan Eleina dan mengangkatnya hingga ia sejajar dengan mata Darrius. Dengan penuh gairah Darrius mencium bibirnya dan ia merangkulkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.
Darrius mendorong Eleina saat mendengarkan suara ponselnya yang berbunyi dan hal itu menyadarkan kelakuannya yang lepas kendali. Dia menyeret Eleina keluar dan berbicara dengan si penelepon.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^