Eleina bangun dengan gembira dan tak sabar lagi untuk memulai, dia memutuskan akan memamerkan tali bra dan bahunya terlebih dahulu. Dirinya mandi dan gosok gigi kemudian mencari pakaian yang longgar di bagian bahunya. Hingga 10 menit ia mencari dan akhirnya ia berhasil memutuskan bra dan baju mana yang akan ia pakai. Ia juga memutuskan mengenakan celana pendek rumahan untuk melengkapi kostumnya.
Setelah itu ia keluar tepat sebelum waktu di saat Darrius mungkin akan keluar dari kamarnya. Laki-laki itu selalu tepat waktu dan ia sudah hapal jika dia akan keluar pada jam 8 pagi. Jadi saat jam menunjukkan jam 07.55, Eleina sudah berada di dapur memasak sarapan. Dia sengaja berlama-lama sampai ia mendengar pintu kamar Darrius menutup baru kemudian ia beraksi. Dengan sengaja dia berjalan ke sana kemari memamerkan bahunya dan kemudian dia akan merunduk untuk melihat ke dalam kulkas mencari bahan masakan dan ia yakin b****g seksinya akan terlihat sempurna di hadapan laki-laki itu. Setelah itu ia kembali melanjutkan masakannya dan dengan sengaja dia menyanggul rambutnya ke atas hingga leher dan bahunya terekspos sempurna.
Darrius menghentikan langkahnya saat melihat Eleina yang sibuk di dapur tak menyadari kehadirannya. Dengan lincah ia bergerak ke sana kemarin dan memamerkan b****g seksinya. Hingga kemudian gadis itu mengikat rambutnya dan Darrius terpaku di leher dan bahu gadis itu. Tubuhnya sangat ingin bergerak menghampirinya dan mengecup leher Eleina dari belakang kemudian turun menyusuri bahu gadis itu dan ia membayangkan mereka akan bercinta setelah itu.
Hentikan pikiran liarmu itu! Jangan tergoda!
Dia kemudian berjalan ke meja dapur dan menyiapkan kopi untuknya sambil menunggu Eleina selesai memasak. Setelah kopinya siap, dia berjalan ke arah jendela dan memandang keluar melihat pemandangan, dirinya tak berani menatap Eleina karena takut dia tak sanggup menahan diri jika terus memiliki pikiran liar tentang gadis itu.
Setelah kopinya habis, dia berbalik dan menemukan Eleina sedang membelai mulut botol perlahan dengan jarinya dan kemudian mengarahkan botol itu ke bibirnya yang tampak merekah dan meneguk minuman itu langsung dari botol. Dia tak bisa mengalihkan matanya dari bibir gadis itu yang menghisap botol tersebut dan bagaimana lehernya bergerak saat menelan cairan itu. Bahkan setetes minuman jatuh dari bibirnya dan mengalir di lehernya terus turun menuju payudaranya. Darrius tak bisa mencegah matanya untuk mengikuti aliran air itu yang kemudian menghilang dari balik kaos Eleina. Pikirannya pun tak bisa dia cegah sebab dia tahu ke mana cairin itu akan terus mengalir.
Dia bisa merasakan gairahnya seketika kembali bergejolak dan dengan susah payah dia menelan salivanya.
"Oh, ya ampun!" pekik Eleina saat tanpa sengaja minuman itu tumpah di dadanya hingga Darrius bisa melihat kain yang basah itu menempel ketat di p******a Eleina yang tidak memakai bra. Dia bahkan bisa melihat p****g pink Eleina yang mencuat dari sana. Ingin dia mengusap p****g itu dengan tangannya dan memasukkannya ke mulutnya.
"Sudahlah aku akan berganti pakaian setelah makan saja," ujar Eleina hingga Darrius kembali mencoba menyadarkan dirinya. Dia mengenggam gelas dengan erat mencoba menahan diri agar tidak meraih gadis itu.
"Ayo, kita makan," ujar Eleina.
Mereka kemudian makan dalam diam dan Eleina menatap Darrius diam-diam, ia bisa melihat jika Darrius tampak tegang dan tak nyaman.
Apa aku berhasil? Aku lupa bertanya pada Adelia ciri-cirinya jika aku mungkin mulai berhasil.
Selesai makan Darrius bergegas bangun dan melangkah ke kamarnya.
"Tunggu!" Dengan kesal Darrius menghentikan langkahnya dan menunggu apa yang gadis itu inginkan darinya.
Eleina berpindah ke hadapan Darrius tak sadar jika dia mengepalkan tangannya erat.
"Bolehkah aku pergi ke rumah Adelia?" tanya Eleina sebab hari ini sabtu dan dia tidak ada jadwal kuliah hingga senin jadi mau tidak mau dia harus meminta izin Darrius jika ingin pergi.
"Tidak!"
"Kamu bukan, Papaku!"
"Memang bukan! Aku suamimu!" ujar Darrius dan kembali melangkah.
"Om!"
Dengan kesal Darrius berbalik dan meraih kedua lengan Eleina saat sampai di hadapannya.
"Aku bukan Ommu!" bentak Darrius kesal.
Eleina hanya terbelalak saat melihat ledakan kemarahan Darrius hanya karena ia memanggilnya Om. Dengan gugup ia menjilati bibirnya saat Darrius hanya terdiam sambil memandang bibirnya.
"Maaf," ujar Eleina.
"Kamu sengaja menggodaku bukan?!"
"Aku__"
"Jangan mencobanya lagi!" ujar Darrius dan melepaskan Eleina dengan mendadak. Eleina menghembuskan napas lega saat Darrius melepaskannya, sesaat ia mengira jika Darrius mungkin akan menciumnya.
"Aku pasti sedang bermimpi jika hal itu sampai terjadi," gumam Eleina pelan dan kembali ke kamarnya untuk menghubungi Adelia.
"Halo."
"Adelia."
"Eleina! Bagaimana? Apa berhasil?"
"Aku tidak tahu, dari mana aku tahu jika itu berhasil?"
"Apa dia menciummu?"
"Tidak, dia bahkan jadi marah padaku."
Eleina kemudian menceritakan apa saja yang sudah ia praktekkan dan apa yang sudah Darrius lakukan dan katakan padanya.
Adelia tertawa saat mendengar semuanya.
"Dia sudah mulai tergoda."
"Benarkah? Kenapa tidak tampak seperti itu?"
"Kamu bisa melihat bagian bawah tubuhnya apakah tampak mengeras atau tidak?"
"Kenapa aku harus melihat kakinya?"
"Eleina!"
"Ya, ya aku tahu, aku hanya ingin menggodamu," ujar Eleina dan tertawa mendengar ledakkan kemarahan Adelia.
"Dasar!" ucap Adelia kesal.
"Maaf," balas Eleina.
"Agar jurus lainnya berhasil sebaiknya jangan panggil dia Om lagi, bagaimana dia akan menginginkanmu kalau belum apa-apa dia jadi merasa menginginkan keponakannya bukan seorang wanita."
"Aku hanya merasa senang membuatnya kesal."
"Tunda saat kamu sudah berhasil mendapatkan keinginanmu."
"Baiklah."
Mereka terus mengobrol selama beberapa jam kemudian hingga bahkan tak menyadari waktu lagi. Setelah itu Eleina menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas dan sisanya ia pakai untuk menonton kembali hingga tak terasa hari sudah sore dan ia mulai merasa lapar. Dirinya baru menyadari Darrius yang tidak memintanya untuk makan siang padahal laki-laki itu juga tidak bekerja.
"Apa dia lupa keberadaanku?"
Eleina memutuskan untuk mandi dan baru kemudian mencari Darrius. Saat keluar dari kamarnya ia melihat di ruangan duduk tapi tak menemukannya.
"Apa dia keluar?"
Eleina kemudian menuju kamar Darrius dan membukanya perlahan. Ia kemudian masuk ke dalam dan menemukan Darrius sedang tertidur bertelanjang d**a di sana. Ia mendekat dan menatap laki-laki itu dan sesuatu di dalam dirinya terusik.
Ia memberanikan diri menyentuh d**a Darrius dan menelusurinya dengan ujung telunjuknya. Melingkar-lingkarkan jarinya di d**a laki-laki itu. Ia terkesiap saat Darrius menangkap tangannya dan menghentikan apa yang dilakukannya.
"Akh!" teriak Eleina saat Darrius menarik lengannya dan membantingnya di atas ranjang kemudian menindihnya.
Darrius tersentak saat menemukan Eleina di bawah tubuhnya, dalam keadaan setengah sadar tadi dia menarik lengan seseorang tak menyadari siapa itu.
"Mau apa kamu di kamarku?" tanya Darrius yang saat ini begitu dekat dengan wajah Eleina.
Eleina terlalu gugup untuk menjawab karena kedekatan itu. Napasnya memburu dan tanpa bisa ia tahan dirinya menyentuh lembut d**a Darrius dengan tangannya.
Darrius segera bangun dari atas tubuh Eleina dan menatapnya tajam.
"Katakan apa maumu?"
Eleina kemudian duduk di atas ranjang dan menatap Darrius. Perlahan matanya turun menjelajahi pusat gairah laki-laki itu dan ia tahu jika saat ini bukti gairah Darrius sedang terbangun dan itu berarti laki-laki itu tergoda olehnya. Ia merasa senang mengetahuinya.
"Aku lapar dan saat tidak menemukanmu di luar aku mencarimu ke sini dan menemukanmu sedang tidur, aku tidak bisa memasak sebab semua bahan habis."
"Baiklah, keluarlah! Aku akan memesan makanan," ujar Darrius menatap Eleina waspada. Sebab jika gadis itu menggodanya lagi maka dia akan meledak.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^