bc

Behind The Wedding

book_age12+
827
IKUTI
3.6K
BACA
family
friends to lovers
goodgirl
drama
bxg
others
friends
like
intro-logo
Uraian

Naya adalah seorang gadis dengan latar belakang keluarga broken home dan kurang mampu. Meskipun Naya pintar, cantik, dan patuh, namun Ayah dan Ibunya hampir selalu membuatnya jenuh. Bahkan, hutang ayahnya pun menumpuk. Mirisnya, malah pergi— melarikan diri begitu saja.

Karena terlilit hutang yang banyak, Naya dipaksa menikah oleh Ibunya dengan seorang pemuda kaya. Nata Najendra, namanya. Ia ingin melawan, tapi tak punya cukup keberanian. Hanya ada satu kalimat dalam benaknya; berbakti pada Ibunya.

Sebenarnya, Naya juga memiliki kekasih bernama Genta. Seorang pemuda desa dengan profesi petani yang dianggap tak berarti. Ibunya tak pernah sudi. Satu hal lagi yang miris; kenyataan bahwa mimpi Naya melanjutkan pendidikan harus terkikis. Pernikahan tetap terjadi, meskipun penuh tangis.

Sebuah cerita tentang pergolakan batin perempuan, perlawanan, menemukan jati diri, perjalanan meraih mimpi, serta apa yang kita sebut kekuatan percaya dan cinta sejati.

Ig author: @anaoshibana

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 - Dimana Telinga yang Baik?
Senja mulai tenggelam. Tinggallah Naya bersama ruangan paling gelap di muka bumi. Pekat. Sunyi. Sepi. Naya seolah banyak bertanya pada dirinya sendiri. Kian bertanya pada dirinya sendiri. Naya tetap diam dengan mematung begitu saja. Seolah tak berdaya. Sesekali memeluk lutut. Memandangi mata mereka. Hampa. Lalu menunduk, dan menjatuhkannya di mana saja. Terdiam. Dan terdiam lagi. Kenapa sebenarnya ia? Naya begitu diam. Berharap masih ada yang mengendap, setelah jeda. Pertengkaran orangtuanya hampir setiap hari disaksikannya. Berbagai ucapan kasar, hinaan, tak habis-habisnya dikutuk Ayah ke Ibu. Riuh suara terdengar dimana-mana. Mangkok, piring, sampai ke telinga Naya. Dari Ayahnya sendiri yang seharusnya menyayanginya. Saat ia capek, dia marah. Memukul apa saja untuk meluapkannya. Apalagi saat bertemu Ibu dalam kondisi marah. Suasana rumah menjadi sangat jengah. *** Ayah tak bisa melihat Ibu diam. Dia mengira Ibu hanya berdoa. Saat kecewa, matanya terlihat memunculkan api. Tiada tara membaranya. Begitu menyala. Siapa saja yang melihatnya, pasti akan menoleh. Menutup mata, membalikkan wajahnya. Dan lari sekencang-kencangnya. Ibu sering ketakutakan—mencari karung goni basah—untuk meredam api di mata Ayah. Namun alpa. Mata Ayah kian membara. Mencengkram apa saja di hadapannya. Termasuk mengeluarkan kata-kata tak sepantasnya. Naya tidak. Naya tak berlari dari mata ayah yang membara seram. Juga tak memaki dari air mata ibu yang terus mengalir di matanya. "Sana kamu saja yang bekerja di sawah!" "Ibu hanya coba kasih saran," sambil merintih menahan tangis. "Capek kerja di sawah! Nyangkul! Emang kamu kerjaannya hanya berdoa di rumah?" "Jangan sok ngatur!!" Bentak Ayah. Naya mendengarnya dari bilik kamarnya. Kejadian itu hanya satu dari sekian yang tak pernah alpa dari telinganya. Ada satu kerinduan darinya. Yakni mencari seseorang pendengar yang baik. Di usianya yang remaja--ia sangat ingin menceritakan segala masalahnya. Namun, keadaan—memaksanya lebih banyak mendengar gemuruh api dari mata Ayah dengan keseramannya. Dan tangis dari mata Ibu. *** Naya baru saja pulang dari sekolah. Kegiatannya yang bertambah--hanya membuat bebannya kian payah. Ia makin memimpikan kehadiran seseorang pendengar yang baik. Tapi tak tahu, dimana harus mencarinya?? "Bu,... Naya mau cerita sama Ibu." "Cerita apa? Mau keluar sekolah lagi? Hah? Jangan bikin Ibu tambah susah!" "Gak, Bu. Gajadi." Ia segera menyusuri bibir pintu kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang lelah—mendengarkan pewarta dirinya yang makin cerewet parah. "Apa susahnya mendengar dulu?" "Kenapa rumah ini penuh jengah?" "Kenapa sulit sekali mencari pendengar yang baik itu, Tuhan?" "Naya gak capek?" "Kalau capek, hilang aja dari dunia!" Setan-setan seolah mulai membisikinya. Tapi ia tak sebodoh itu untuk bunuh diri. *** Remaja memang wajar membutuhkan orang lain yang tepat untuk mendengarkannya. Entah itu sedih, keluh, atau segala hal-hal kecil yang menurutnya seru diceritakan. Tapi Naya tak mengenal itu. Jangankan hal-hal kecil yang ia temui untuk diceritakan. Seperti kucing yang tiba-tiba muncul saat ia sedang mengendarai sepeda motornya, capung yang tiba-tiba masuk ke helmnya, sekarat lalu mati seketika saat mengendarai sepeda motornya, atau bentuk awan yang amat indah pada hari itu. Itu terlalu terlihat tidak penting di mata Ayah dan Ibunya. Entah, apa yang penting dari mereka. Ia terus mempertanyakan hal-hal itu. Sesekali terus mencari seseorang pendengar yang baik. Mencari dan mencari meski yang dicari seringkali berkebalikan. Ia sendiri yang dicari. *** "Naya, Aku main yah!" Salah seorang teman sekolahnya ingin menemuinya. Curhat. Entah bagaimana rupanya, Naya merindukan seseorang pendengar yang baik —tapi bersamaan diminta jadi pendengar yang baik. Naya seakan makin sendiri. Lagi dan lagi. "Aku lagi kesel banget, Nay. Gimana enggak? Masa aku curhat ke temen, tapi ia tega banget bilang ke yang lain!" "Sssttt, tenang dulu. Ini minum," Naya menyodorkan jus stroberi—meski itu minuman kesukaannya sendiri. "Terimakasih, Nay. Kamu emang sahabat yang baik!" "Ah, kamu bilang gitu pas lagi butuh aja kan?" Candanya. "Beneran deh, Nay. Padahal pas aku curhat ke dia tuh, udah janji gabakal cerita ke orang lain. Tapi malah tega ngegosipin lagi. Nambah parah deh. Aku capek banget." Keluhnya. "Kamu udah tau gitu. Kenapa masih curhat sama dia?" "Ya aku baru tau dia kegitu, Nay. Kirain baik. Bisa dipercaya. Nyatanya, tukang gosip!" "Kata psikolog favoritku—mereka yang benar-benar sahabatmu itu adalah ia yang bisa menjadi seorang pendengar yang baik." "Kamu sok tau aja, Nay. Emang seperti apa?" "Ya seperti psikolog. Mereka akan berusaha mendengar dengan baik dulu. Sebelum mengatakan saran." *** Naya masih mencari-cari. Seorang pendengar yang baik di muka bumi ini. Bagaimana mendeteksinya, tanpa harus bercerita terlebih dahulu? Apakah dari matanya? Senyumnya? tapi kembali ia melihat. Mata yang tampak teduh—bukan berarti tempat teduh yang baik. Tak menjadi satu ciri utama—bahwa ia seorang pendengar yang baik. Mereka akan pura-pura mendengar—tapi di belakang mata­ itu, menyimpan ranjau penuh jebakan. Ternyata matanya hampir menyerupai mata Ayah. Penuh amarah. Senyum. Senyum pun tak dapat dijadikan patokan utama—ia adalah sosok pendengar yang baik. Kita jumpai—mereka yang tersenyum manis—tak jarang lebih berpura-pura menjadi pendengar yang baik. Namun tujuannya hanya agar dilihat senyumnya. Mereka penuh keinginan untuk dipuji. Dikagumi. Dikagumi bahwa mereka bisa menjadi pendengar yang baik. Mungkin satu kali mereka bisa, tapi selanjutnya? Segala hal yang bukan dari ketulusan hati—akan mati seiring tujuan semunya dimiliki. Mereka bukanlah sosok pendengar yang baik sejati. "Naya, jangan melamun! Aku masih mau cerita," rengek Anindya—temannya. Hati Naya seperti ingin meledak. Tapi bersamanya diredam kembali segala duka. Melihat cerita temannya yang dikecewakan—barangkali memang pelipurnya. Barangkali memang lebih enak didengar—daripada ia bercerita tentang masalah orangtuanya. Padahal, cerita temannya itu—terlalu remeh daripada apa yang dihadapi Naya. Tapi Naya tak peduli. Naya masih bisa mendengarkan suara curhatan teman di sore hari, itu jauh lebih baik dari mendengar kemarahan Ayah. Ia tak peduli. Sungguh, tak terhitung berapa kali—ia meredam dirinya sendiri. Sambil matanya terus mencari. Manusia mana yang bisa jadi pendengar yang baik itu, Tuhan? *** Keesokan harinya, ia masih belum menemui seseorang pendengar yang baik itu. Naya hanya menyaksikan hal sama. Melihat kemarahan Ayahnya dan melihat tangis Ibunya. "Sana kamu saja yang bekerja di sawah!" "Ibu hanya coba kasih saran," sambil merintih menahan tangis. "Capek kerja di sawah! Nyangkul! Emang kamu kerjaannya hanya berdoa di rumah?" "Jangan sok ngatur!!" Bentak Ayah. Naya mendengarnya dari bilik kamarnya. Kejadian itu hanya satu dari sekian yang tak pernah alpa dari telinganya. Ada satu kerinduan darinya. Yakni mencari sosok pendengar yang baik. Seseorang yang bisa mendengarkan masalahnya. Naya mencoba terus mencari. Berharap yang dicari bukan kebalikannya lagi. Tapi benar-benar yang diimpikannya saat ini. Apakah kamu seorang pendengar yang baik itu? Naya terus bertanya pada dirinya sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Skylove

read
115.1K
bc

Pengantin Pengganti

read
85.9K
bc

Suddenly in Love (Bahasa Indonesia)

read
77.9K
bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

CRAZY OF YOU UNCLE [INDONESIA][COMPLETE]

read
3.2M
bc

Sekretarisku Canduku

read
6.6M
bc

Aksara untuk Elea (21+)

read
843.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook