Menikah Muda?

1010 Kata
Bagaimana kekuatan patuh dan keinginan bebas bergelut di kepala seorang perempuan? "Kamu tau kan, Nak? Sekarang kondisi kita berbeda," tutur Kinanthi Ibunya Naya. Gadis delapan belas tahun berkulit kuning langsat itu mengangguk perlahan. Matanya yang bulat bersinar seketika menunjukkan sayunya. "Kamu tahu maksud Ibu sekarang?" Naya menggelengkan kepala. Ia duduk tepat di samping Ibunya. Mendengarkan seksama nada-nada khas suara Ibunya yang halus dan tegas dalam satu waktu. "Maafkan Ibu, kamu harus menikah, Nak." Degg!! Seketika runtuh segala cita. Mendengat tutur permintaan Ibunya itu, Naya seperti ditumbuh benda tajam berkali-kali. Tak ada keinginan menikah dini dalam hidupnya. Apalagi ia baru saja lulus masa putih abu-abunya. Sama seperti remaja pada umumnya—ia pun ingin melanjutkan pendidikannya. "Ibu... tapi....," lirih suara Naya. "Nak... Ibu sudah ndak punya pilihan lagi. Hutang kita makin menumpuk. Bapakmu juga kamu lihat kan? Dia pergi begitu saja," tutur Ibunya makin menggebu bercerita tentang Bapak Naya. Bukan menggebu semangat, melainkan dendam kesumat. "Ibu yakin anak ini akan menjagamu. Ibu juga sudah tua, Nak. Ibu gak sanggup lagi membiayaimu," lanjutnya putus asa. "Bu... " Naya tak mampu meminta lebih. Ia bukan tipe anak perempuan yang bisa membangkang seketika. Meskipun pikiran dan hatinya sangat menolak, ia tak punya atau belum terbiasa melakukan keberanian semacam itu. Apalagi keberanian atas nama kebebasannya sendiri. "Nak... Ibu minta maaf." Perempuan bermata sayu itu memeluk anaknya. Naya berusaha tetap memasang seulas senyum di bibirnya. Entah, senyum seperti apa itu. "Ibu yakin dengan keputusan ini Naya akan bahagia?" "Sebenarnya... tak ada Ibu manapun yang rela melepas putrinya. Tapi Ibu harus merelakannya," ucapnya perlahan. "Kehidupan ini, Nak. Bukankah hakikatnya adalah kumpulan kehilangan?" "Saat kecil, Ibu sudah kehilangan orangtua Ibu. Ibu berjuang sendirian sejak lama. Sampai akhirnya Ibu merasa berharga saat laki-laki itu mau meminang Ibu," tuturnya membayang sesuatu hal pedih di matanya. "Ya, laki-laki itu adalah bapakmu. Sebagaimana gadis manapun yang akan diolok-olok karena belum menikah, saat itu Ibu merasa bebas dari gunjingan itu." "Ibu akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang bisa dibilang mapan saat itu." Sebenarnya, Naya sudah ingat jalan cerita itu. Saat letih dan duka, Ibunya sering menuturkan kisah masa lalunya. Entah, apakah seorang Ibu manapun melakukan hal yang sama? "Baru diketahui Bapakmu itu... ya begitulah. Dia terlena." Naya mendekap lembut Ibunya. Bagaimanapun ia seorang anak yang ingin berbakti pada Ibunya. Dalam bayangnya, hanya kepatuhan tunduk sempurna pada apapun perintah Ibunya. Hanya Ibu, satu-satunya orangtua yang kini dimilikinya. Hanya Ibu pula yang mampu ia dengar segala petuah dan tutur nasihatnya. Memang, sejak kapan permintaan menikah muda itu suatu nasihat? Sejak kapan seorang gadis harus senantiasa patuh pada segala permintaan Ibunya? Naya bukan atau belum mengenal apa itu kebebasan? Ia masih gadis polos nan ayu yang hanya tak tega melihat tangis di mata Ibu. "Kalau Ibu yakin dengan pilihan Ibu, Naya akan coba patuh, Bu," ucap lirih dari bibir Naya itu. "Kamu setuju, Nak?" Entah, apa yang dirasakan Naya malam itu. Ia tetap berusaha mengulas senyum di wajahnya. Sebuah senyum macam apa itu? "Ibu yakin laki-laki ini akan menjamin kebahagiaanmu. Dia punya harta berlimpah dan yang terpenting dia baik. Ibu yakin sekali kamu tak akan kecewa dalam hidup," tuturnya kembali menasihati Naya. Naya menganggukkan kepalanya perlahan. "Bu... Naya agak ngantuk. Boleh pergi ke kamar sekarang?" "Iya, Nak. Sudah malam juga. Terima kasih ya, Nak. Sudah jadi anak yang berbakti," ucapnya sembari mengusap rambut anaknya yang hitam panjang itu. Naya hanya tersenyum menanggapi. Tak lama kemudian, ia pun pergi. Ia tutup pintu perlahan. Dan... seketika tangis pun pecah. Naya menahan segala tangis dan duka. Namun, ia tak mampu mengungkapkan kejujurannya di depan Ibunya. Hanya dengan ini ia bisa berbakti pada Ibu. Hanya dengan menuruti permintaan Ibunya itulah, ia merasa akan jadi anak yang berbakti. Apalagi, tak ada yang diharapkan lagi selain dirinya. Bapaknya yang semestinya jadi pelindung, kini menghilang bak ditelan bumi. Rumornya, ia pergi dengan perempuan lain. Namun, Naya lebih yakin bapaknya itu menghilang karena tak tahan dengan penderitaan yang dibuatnya sendiri. Sejak memiliki kebiasaan berjudi, ia menumpuk hutang di sana-sini. Ibu yang tak tahu apa-apa, harus menanggung segala hutangnya. Apakah itu laki-laki baik yang dulu Ibu merasa bangga memilikinya? Kenapa di dunia ini baik selalu diistilahkan dengan impian-impian semu? Bukan realita dan analisa tentang apa-apa yang tersurat dan tersirat dari keyakinan dan segala tingkah laku? "Apa yang harus Naya lakukan sekarang?" gumamnya duduk memeluk lutut. Seketika, bayangan sosok Genta muncul di ingatannya. Laki-laki itu, bukankah menempati ruang istimewa dalam hatinya? Bukankah lewat Genta ia merasa setidaknya berharga? Bukankah lewat Genta ia diajarkan untuk senantiasa jujur dengan dirinya sendiri? Kejadian di kedai kopi itu? Naya seolah melenyapkan begitu saja. Nyatanya, dalam kehidupan, ia tak bisa mudah begitu saja jujur dengan perasaannya sendiri. Apalagi kalau sudah menyangkut hubungan seorang anak dan ibunya. Kata berbakti lekat dengan segala kepatuhan diri seorang anak kepada Ibunya. "Ta.... maafkan aku. Aku tak bisa jujur dengan diriku sendiri," lirih Naya sembari menahan isak tangisnya. "Apakah kau akan mendengarkanku jika kukabari tentang ini? Kenapa kamu juga menghilang akhir-akhir ini?" "Apakah semua ini adalah pertanda untukku?" Deretan pertanyaan sendu menyatu dalam benak Naya. Ia raih ponsel untuk mencoba menghubungi Genta. Namun, tak ada jawaban. Nomornya tidak aktif. Memang, waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. "Ta... please, aku mau cerita. Angkat teleponnya," gumamnya cemas. Matanya bersembab duka. Sesekali giginya gemeretak menahan cemas dan luka. Apa yang akan dilakukannya kini? Apa yang akan dilakukan sebagai jalan berbakti selain patuh pada permintaan Ibunya kali ini? Malam kian meninabobokan segala impian. Dentingnya makin menikam segala cemas dan duka. Naya masih terjaga dalam gelap malam itu. Itu malam terpanjang dalam hidupnya. Malam dengan berbagai duka dan luka yang harus ia tahan sedemikian rupa. Tangannya melepaskan ponsel itu dari genggaman. Matanya yang sayu dan sembab, kini seperti tak ada pandangan pasti. Perlahan, ia merobohkan diri. Mencoba menidurkan segala kawatir. Ia lupa tidur tidak terbuat dari bahan bakar kekawatiran dan kecemasan. Ia sepertinya lupa, tidur yang baik bukanlah terbuat darinya. Ia seperti sudah lupa. Apa efek buruk terlalu menahan segala emosi yang terus ia lakukan? Akankah ia tetap baik-baik saja dengan kesehatan mentalnya? "Apa yang harus kulakukan sekarang, Tuhan?" Gumamnya sembari berusahan menutup mata. Menutup segala cemas dan duka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN