Rahasia Ayah

1053 Kata
Sebagian orang memilih tinggal dan tanggal dalam satu pemaknaan. Entah, bagaimana menebak yang dirasakannya. Rasa dan rahasianya. Tapi katanya, jangan pernah menebak isi kepala seseorang. Apalagi perempuan. Meski tetap saja, ada yang coba menebak-nebak. Orang lain itu bilang dan mengumbarnya sebagai perayaan kesedihan yang memilukan. Tapi diam-diam, ternyata yang dialami justru pemaafan dari lupa mencintai diri sendiri—menyedihkan. Apakah begitu rahasia bekerja? *** Pertemuannya dengan Genta kemarin seakan membuat Naya semakin menyembunyikan suara. Ia menutup pandangannya. Melihat berbagai cuaca di luar yang tak dijangkaunya. Diam-diam, hobinya mengumpulkan awan. Untuk kemudian ditanamnya di halaman wajahnya. Memandangi dan berbuat apa adanya. Naya tak merindukan Genta. Naya tak merindukannya. Begitu kalimat itu diulang; rahasia perempuan makin terang. Ia pungut sedih dari tiap sudut mata. Tak ada kesedihan yang patut lahir di hari yang cerah. Rok warna navy dan atasan motif bunga matahari—kesukaannya. Bersama senyum bahagia. Atau yang dibahagiakan. Entahlah. Bukankah menebak isi kepala perempuan, sama saja sia-sia? "Bu, Naya pamit berangkat sekolah, ya. Assalamualaikum," pamit Naya. "Iya. Jangan pulang terlambat. Waalaikumsalam." Tutur Ibunya. Naya menganggukan kepala. Tersenyum. Segera Ia mengayunkan sepeda kuningnya. Menuju tempat sekolahnya. Perjalanan ke sekolah dua puluh menit, ia mengayuh sepeda setiap hari. Terkadang, kekawatiran tergurat di wajahnya—bagaimana kalau ada apa-apa nanti di perjalanan? Tapi demi senyum keluarganya di rumah, itu bukan apa-apa baginya. "Yaaah .... kok berhenti, ya?" Naya menghentikan laju sepedanya. Rantainya lepas. Jam masuk sekolah, tinggal beberapa menit lagi. Cemas mulai tergambar dari wajahnya. Keringat mulai bosan tinggal di dalam pori-pori kulitnya. Berdesakan keluar dari wajahnya. "Astaghfirulloh ... gimana yah? Bentar lagi masuk." Naya kian cemas. Seorang laki-laki mengehentikan laju sepeda motornya. Tepat di hadapan Naya yang sedang kebingungan. "Permisi, ada apa, Mba? Sepedanya rusak, yah?" Naya hanya fokus melihat rantai sepeda, tak melihat sumber suara. Lalu mengangguk begitu saja. "Boleh saya lihat?" Laki-laki berdagu tegas itu mencoba membetulkan rantai sepeda Naya. Saat Naya melihat wajahnya, Naya terkejut. Ternyata Genta. Sahabat kecilnya. Setelah beberapa menit, akhirnya selesai. Tapi raut cemas masih tergambar di wajah Naya. "Alhamdulillah sudah benar. Silakan, Nay." "Terima kasih, Ta." "Mau berangkat sekolah kan?" "Iya." "Kalau masih kawatir sepedanya kenapa-kenapa, mau bareng saya berangkatnya? Kan kita satu sekolah." "Tak usah, Ta." "Ok, saya temenin dari belakang. Biar kalau ada apa-apa dengan sepedanya, saya bisa bantu kamu, Nay." Naya cuek. Ia memutuskan segera melajukan sepedanya. *** "Naya! Kamu kenapa? Kok keliatan capek gitu mukanya? Laki-laki itu, siapa? Dia gak ngapa-ngapain kamu 'kan?" cecar Niken yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. "Heuh, bawel." Singkat saja Naya menjawabnya. "Ih, kamu mah Naya. Ditanyain juga. Aku kan kawatir." "Aku gak kenapa-napa. Bentar, mau ganti lepas hoodie dulu. Udah telat 'kan? Daaaah." "Eh, Nay!! Tunggu, itu bukannya Genta? Dia nggak ngapa-ngapain kamu 'kan? Kenapa masih nungguin di luar? Nay? Naya!!" Niken masih saja penasaran. Ia melihat laki-laki itu di kejauhan. Laki-laki berkulit putih dengan dagu tegas itu tersenyum dari kejauhan. Di balik pintu kaca toko. Tak berapa menit, laki-laki itu pun masuk dengan senyum ramahnya. *** Kata Ibu, tak perlu menanyakan kabar ayah. Dimana. Dimanapun ayah. Kata kicau burung di pagi hari, ia berada di ranting-ranting pohon yang sedih. Tapi kata embun, ia berada di rumah yang anggun. Sempat terpikir untuk menanyakan kabar ayah—namun melihat wajah Ibunya saat disebut kata ayah—sudah cukup jawaban paling tegas untuk tak melanjutkannya. Naya alihkan rasa rindunya pada kabar ayah, dengan menanyakan tentang rumah. "Bu, Ibu suka sekali sama rumah ini ndak?" celetuk Naya yang duduk di sebelah Ibunya. "Bukan sekadar suka. Kamu kenapa? Keinget sikap Ibu dulu? Maafin Ibu ya." gurat penyesalan tergambar dari wajahnya. "Tidak, Bu. Naya sudah lupa, ko. Cuma pengin nanya. Seberapa berharga rumah ini bagi Ibu." "Rumah ini kalau dilihat mata kepala, ya cuma benda. Tak akan lebih. Cerita di dalamnya yang membuatnya berharga. Namun, ada rumah paling indah." "Hum?" "Ya. Rumah yang tak pernah terukur luasnya. Tapi di sana kita bisa rasain kedalamannya. Mana rumah yang penuh ramah. Dan mana rumah yang penuh jengah." "Maksudnya, Bu?" "Itulah rumah hati. Hati yang penuh kasih, seperti perabotan paling ramah untuk segala rumah. Megahnya bangunan rumah, tak menjamin ia tak jengah, kalau tak disertai itu, Nak. Mungkin, kamu dulu merasakannya." Naya melihat mata Ibunya mulai gerimis. Menitikkan air sedih dan bahagia. Bahagia dan sedih. Namun, tak kan ia biarkan menjadi hujan deras. "Ibu, jangan sedih, ya." "Ibu bahagia, Nak." Ia mulai melebarkan senyum. "Ibu bahagia masih punya kalian. Anak-anak Ibu." "Ibu pengin apa dari Naya?" "Ibu tak punya keinginan ... ." "Harapan? Setidaknya apa yang harus Naya lakukan biar Ibu bahagia?" "Ibu hanya berharap bisa memesan awan untuk menjagamu, kala Ibu tak lagi bisa bersamamu, Nak." "Awan?" "Ibu ada sesuatu untukmu. Mungkin, ini bisa jadi jawaban dari pertanyaanmu kelak, Nak. Kamu juga boleh memperlihatkannya pada adikmu kalau ia bertanya tentang ayahnya." Ibunya masuk ke kamarnya, dan memberikan sebuah kotak pada Naya. "Ayah?" *** Naya membuka sebuah kotak pemberian Ibunya. Tepat di kamarnya sendiri, yang berdindingkan kesunyian dan beratapkan kesabaran. Sebuah kotak persegi berlapiskan warna hitam. Dan bermotifkan matahari yang di atasnya ada awan. Ia buka pelan sepotong surat di dalamnya. Digulung manis, berpita suci. Untuk anakku, Nayanika Maafkan Ibu yang selalu tak membolehkan bertanya tentang Ayahmu. Bahkan sekedar menceritakannnya. "Ia sedang melukis senyuman di awan" Begitu kataku padamu, selalu. Entah, bagaimana kamu memahaminya, Nak. Ibu hanya takut, kamu membenci Ayah. Atau mengandung luka dengan payah. Saat kau mengenal kata Ayah. Tapi mungkin ada saatnya kau pun akan mengetahuinya, Nak. Pun kelak saat dewasa dan layaknya remaja puteri yang tumbuh dewasa—wajar menanyakan ayahnya. Maka Ibu menuliskannya. Dengan tinta segala kepasrahan diri. "Ayahmu bersama bunga yang lain. Meninggalkanmu saat batu-batu rindu rumah: berdiri gagah." Tapi jangan kawatir, Nak. Ibu akan selalu memesan awan untuk menjagamu. Di saat mata terbuka. Maupun terlelapku. Dari Ibumu yang semoga selalu ingin jadi ramah sepanjang rumah; untuk kalian anakku. Maafkan Ibu. Kinanthi. *** Begitulah, sedikit rahasia tentang ayah. Meski itu hanya sedikit, Naya lega. Setidaknya hari itu ia makin paham. Untuk tak sekalipun terbesit, menanyakan kabar ayah. Walaupun rasa penasarannya kian membuncah. Apakah ayah terlahir hanya untuk menjadi rahasia-rahasia? Naya membacanya seperti air yang jatuh ke bumi. Dan entah bagaimana ia akan mencari caranya sendiri kembali ke langit. Lalu turun lagi ke bumi. Biarlah menjadi rahasia-rahasia serupa do'a-do'a tak kasat mata. Namun kita yakin kehadirannya. "Apa lagi rahasiamu, ayah?" Lirihnya saat melipat surat itu. Dan menaruhnya di kotak pemberian Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN