Kopi Pahit di Pagi Hari
Dunia ini sepertinya memang punya dendam pribadi padaku.
Kalau bukan karena tagihan kartu kredit yang menumpuk akibat biaya pengobatan Ibu dan fakta bahwa gajiku sebagai staf junior di The Vulture Group lebih menyedihkan daripada harga satu piring steak di kantin direksi, aku tidak akan berakhir di sini. Di sebuah apartemen lantai empat yang liftnya selalu berbau apek, berdiri di depan seorang pria yang terlihat seolah baru saja didepak dari sebuah band grunge tahun 90-an yang gagal.
"Anita?" tanyanya. Suaranya serak, berat, dan terdengar seolah dia jarang menggunakannya untuk bicara dengan manusia.
"Iya. Kamu... Aan, kan?" aku bertanya balik, memastikan bahwa pria di depanku ini adalah orang yang sama dengan akun Aan302 di aplikasi teman sekamar anonim yang kugunakan kemarin.
Pria itu mengangguk pelan. Dia hanya memakai piyama flanel kotak-kotak berwarna biru kusam dan kaus dalam putih yang sudah sedikit melar di bagian leher. Rambutnya hitam, acak-acakan, berantakan, dan mencuat ke segala arah, menutupi sebagian matanya yang terlihat mengantuk. Dia tidak terlihat seperti predator, dia lebih terlihat seperti beruang malas yang dipaksa bangun sebelum musim dingin berakhir.
"Masuklah," katanya singkat, sambil berbalik dan berjalan masuk tanpa menungguku.
Apartemennya lumayan. Kecil, tapi bersih secara mengejutkan, meski ada banyak tumpukan buku dan kabel-kabel berserakan di sudut ruangan. "Kamar kamu yang di sana," dia menunjuk sebuah pintu kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas. "Kamar mandi cuma ada satu, jadi digunakan secara bergantian. Aku nggak suka berisik. Jangan bawa orang asing masuk tanpa izin. Sisanya, kita bagi dua."
Aku menghela napas lega. Syarat yang cukup mudah. "Oke. Oh, dan Aan? Aku kerja di kantor pemasaran, jadi aku mungkin akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut. Aku janji nggak akan ganggu waktu tidurmu."
Aan hanya bergumam tidak jelas sambil menuangkan air ke dalam mesin kopi manual. Dia bahkan tidak melihatku saat aku menyeret koperku masuk ke kamar.
Enam bulan kemudian, hidupku berubah menjadi rutinitas yang aneh namun nyaman.
Aan ternyata adalah teman sekamar yang sangat... fungsional. Dia jarang keluar rumah, aku berasumsi dia pengangguran atau mungkin pekerja lepas yang gajinya pas-pasan. Tapi dia ahli dalam segala hal yang berbau domestik. Saat keran wastafelku macet, dia memperbaikinya hanya dengan sekali putaran kunci inggris sambil tetap memakai piyamanya. Saat paket kirimanku datang dan aku sedang di kantor, dia yang mengambilkannya. Bahkan, kadang-kadang, ada sepiring roti bakar selai kacang yang menungguku di meja makan saat aku pulang dalam keadaan hancur lebur.
Dan aku selalu dalam keadaan hancur lebur.
"Dia itu bukan manusia, Aan. Dia itu mesin penghancur harga diri yang dibungkus jas Armani," gerutuku malam itu. Aku duduk di lantai dapur, menyandarkan punggung ke pintu kulkas sementara Aan duduk di kursi meja makan, sibuk mengotak-atik sebuah radio tua yang rusak.
"Siapa?" tanya Aan tanpa menoleh.
"Bosku. Andrean Vulture. Namanya saja sudah Vulture, burung bangkai! Dia membuang laporanku ke tempat sampah di depan klien hari ini hanya karena aku salah meletakkan tanda koma di grafik pertumbuhan. Dia bilang, “Anita, jika otakmu tidak bisa membedakan tanda baca, mungkin kamu lebih cocok bekerja di bagian penghancur kertas." Aku menirukan suara berat dan dingin Andre dengan nada mengejek. "Aku benci dia. Aku ingin sekali menumpahkan kopi panas ke celana mahalnya itu."
Aan berhenti mengutak-atik radionya selama satu detik. Hanya satu detik. "Mungkin dia cuma ingin kamu lebih teliti," ucapnya pelan.
"Jadi, kamu membelanya? Kamu serius? Kamu nggak tahu rasanya berdiri di bawah tatapannya yang sedingin es kutub utara itu. Dia itu tiran. Aku berani taruhan dia nggak punya teman di dunia ini."
Aan akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, dia menatapku lama. Matanya yang biasanya sayu terlihat sedikit lebih... tajam. "Mungkin dia cuma butuh seseorang yang nggak takut padanya."
Aku tertawa sinis. "Semua orang takut padanya, Aan. Kecuali mungkin setan itu sendiri."
Aan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang kulihat, lalu kembali fokus pada radionya. "Tidur sana. Besok kamu ada rapat besar, kan?"
"Iya. Rapat penentuan nasibku. Kalau aku gagal lagi, burung bangkai itu pasti akan memakanku hidup-hidup."
Senin pagi adalah bencana.
Alarmku tidak berbunyi karena aku lupa mengisi daya ponsel. Aku bangun dengan sisa waktu tiga puluh menit sebelum rapat besar dimulai. Aku berlari keluar kamar dengan rambut basah, menyambar apa pun yang ada di jemuran kecil dekat jendela ruang tamu dalam keadaan gelap karena lampu ruang tengah mati.
Aku menemukan kemeja putih yang terasa kaku dan bersih. Ah, syukurlah, aku pasti sudah mencuci kemeja kerjaku kemarin, pikirku kacau. Aku langsung memakainya, memadukannya dengan rok pensil hitam, dan berlari keluar apartemen tanpa sempat berpamitan pada Aan yang masih meringkuk di bawah selimut di sofa.
Aku sampai di kantor The Vulture Group dengan napas tersengal-sengal. Aku masuk ke ruang rapat tepat saat pintu hampir ditutup. Seluruh direksi sudah duduk di sana. Atmosfer di dalam ruangan itu terasa sangat kaku, seolah-olah oksigen baru saja ditarik keluar.
Di ujung meja, duduklah sang tiran. Andrean Vulture.
Dia memakai jas hitam sempurna, rambutnya tersisir rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Wajahnya datar, angkuh, dan sangat mematikan. Dia sedang membaca dokumen saat aku masuk dan duduk di kursi paling ujung dengan canggung.
Aku merasa ada yang aneh. Kemeja ini... kemeja ini terasa sedikit terlalu besar di bagian bahu. Dan baunya. Baunya bukan bau detergen bungaku yang biasa. Ini bau kayu cendana, kopi, dan... bau Aan?
Aku menunduk sedikit, memeriksa kerah kemejaku. Jantungku hampir melompat keluar dari d**a. Di bagian dalam kerah, ada inisial kecil yang dibordir dengan benang emas.
A.V.
Kepalaku mendadak pening. A.V? Bukankah itu inisial untuk Andrean Vulture? Tidak, tidak mungkin. Mungkin ini merk baju. Ya, pasti merk baju.
Andrean tiba-tiba berhenti membaca. Dia mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di wajahku. Tidak, bukan di wajahku. Matanya tertuju pada kemeja yang kupakai.
Keheningan di ruangan itu menjadi sangat mencekam. Andre meletakkan pulpennya di atas meja dengan bunyi klak yang pelan namun terdengar seperti ledakan di telingaku.
Dia berdiri. Pelan dan perlahan.
Langkah kakinya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. Dia berjalan mengitari meja panjang itu, melewati para direktur yang menahan napas, dan berhenti tepat di depanku.
Aku menatap sepatunya yang mengkilap, tidak berani mengangkat muka. Aku bisa merasakan kehadirannya yang mendominasi, bau parfumnya yang kini identik dengan kemeja yang kupakai.
Tangan Andre yang besar dan hangat tiba-tiba terjulur. Dia memegang kerah kemejaku, memperbaikinya sedikit dengan gerakan yang sangat intim untuk ukuran seorang bos kepada bawahannya. Dia merunduk, mendekatkan bibirnya ke telingaku.
Tapi dia tidak berbisik. Dia justru menekan tombol mikrofon di depanku, memastikan suaranya terdengar ke seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara.
"Anita," suaranya yang berat dan serak, suara yang sangat kukenal sebagai suara Aan, begitu menggetarkan udara. "Aku sudah bilang tadi malam, kemeja yang itu belum kusetrika. Kamu benar-benar tidak sabaran, ya?"
Seluruh ruangan mendadak seperti kuburan. Dan aku? Aku merasa nyawaku baru saja meninggalkan raga saat menyadari bahwa pria yang kucaci maki setiap malam sebagai burung bangkai adalah pria yang tadi pagi tidur satu atap denganku.
Andre melepaskan kerah kemejaku, tapi sebelum dia menjauh, dia menatapku dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya, binar kemenangan seorang predator yang baru saja mengunci mangsanya.
"Rapatnya ditunda," kata Andre dengan suara lantang kepada semua orang, matanya tidak lepas dariku. "Sekarang, staf pemasaran ini harus ikut saya ke kantor pribadi untuk menjelaskan... prosedur operasional rumah tangga kami."