Guncangan itu begitu kuat hingga aku terlempar ke dinding, menabrak ribuan fotoku yang kini mulai berguguran seperti daun kering di musim gugur. Langit-langit beton ruang bawah tanah itu retak, menjatuhkan debu dan kerikil panas. Bau kabel terbakar dan gas sisa tadi menciptakan kombinasi yang memuakkan.
"Anita!" teriakan itu bukan dari Elena, tapi dari Andre.
Aku melihatnya. Di tengah kekacauan, Andre berhasil menyentakkan tangannya dari cengkeraman polisi yang terhuyung akibat ledakan. Dengan borgol yang masih mengikat pergelangan tangannya, dia menerjang ke arahku, bukan ke arah pintu keluar.
"Kakak, jangan jadi pahlawan kesiangan!" Elena berteriak, wajah cantiknya kini tampak bengis. Dia tidak peduli padaku, dia sibuk melindungi tablet kontrolnya seolah itu adalah nyawanya. "Tim dua! Cepat amankan aset dan biarkan gadis itu terbakar!"
"Aset? Aku ini manusia, Elena!" teriakku, berusaha berdiri meski kepalaku berdenyut hebat.
Elena tidak menjawab. Dia berbalik dan lari menuju lorong lift yang kini dipenuhi asap hitam. Para polisi yang tadi bersamanya tampak bingung, antara mengejar Andre atau menyelamatkan diri.
Andre sampai di depanku. Dia mencengkeram bahuku, matanya menyapu tubuhku dengan cemas. "Apa kamu terluka, Anita? Kamu bisa jalan, nggak?"
"Lepaskan aku, Andre!" aku memukul dadanya. "Kalian berdua sama saja! Kamu, adikmu... kalian memperlakukanku seperti barang dagangan!"
"Anita, dengarkan aku dulu!" Andre mengguncang bahuku, suaranya parau karena asap. "Ledakan itu bukan rencana Elena. Itu sistem self-destruct gedung yang diaktifkan dari luar. Ayah... dia nggak pernah membiarkan saksi hidup, bahkan anaknya sendiri jika itu artinya rahasia kotornya terbongkar. Elena hanya pion yang berpikir dia adalah ratu."
Aku menatap matanya. Di tengah api yang mulai menjalar ke foto-foto di dinding, aku melihat ketakutan yang nyata. Bukan takut mati, tapi takut kehilangan aku.
"Ibumu nggak ada di gudang, Anita," bisik Andre cepat sambil menarikku menuju tangga darurat yang tersembunyi di balik lemari replika. "Dia benar-benar ada di Swiss, Anita. Aku memalsukan dokumen untuk Elena agar dia nggak bisa menyentuhnya. Aku satu-satunya yang punya akses ke sana. Jika aku mati di sini, kamu nggak akan pernah melihat ibumu lagi."
Pernyataan itu seperti tamparan. Kebohongan di atas kebohongan. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi saat ini, gedung ini akan runtuh.
Kami berlari menaiki tangga manual yang sempit. Napas kami tersengal. Setiap beberapa detik, gedung itu bergetar hebat. Di lantai dua, aku melihat pemandangan yang mengerikan lewat celah pintu kaca. Kantor yang dulu tempatku bekerja kini hancur berantakan. Meja-meja terbalik, kaca-kaca pecah, dan orang-orang berlarian panik.
"Ke sini, Anita!" Andre menarikku ke sebuah ruangan kecil, ruang server darurat.
Dia merunduk ke sebuah panel kontrol, tangannya yang terborgol mencoba menekan kode akses. "Sial! Elena sudah memutus akses biometrikku."
"Andre, apinya mulai masuk!" aku menunjuk ke arah celah pintu.
Andre menatapku, lalu menatap borgol di tangannya. Dia mengambil sepotong besi tajam dari puing-puing. "Anita, aku butuh kamu melakukan sesuatu. Tolong, ambil besi ini, tekan bagian pengunci borgol ini sekuat tenaga saat aku menariknya. Ini akan menyakitkan, tapi aku butuh tanganku bebas untuk membuka pintu keluar otomatis di ujung lorong."
"Tapi... tanganmu bisa hancur," kataku ngeri.
"Lakukan saja! Atau kita berdua mati jadi abu di sini!"
Aku mengambil besi itu. Dengan tangan gemetar, aku mengikuti instruksinya. Andre mengerang keras, otot-otot lengannya menegang, darah mulai mengucur dari pergelangan tangannya yang tergesek logam tajam. Aku ingin berhenti, tapi tatapan matanya memaksaku untuk terus.
Klek.
Borgol itu terlepas, meninggalkan luka robek yang dalam di tangannya. Andre tidak mengeluh. Dia segera meretas panel pintu, dan pintu baja di ujung lorong terbuka.
Kami keluar ke arah area parkir belakang yang sepi. Udara malam yang dingin terasa begitu nikmat di paru-paruku. Tapi kelegaan itu hanya bertahan sedetik.
Di depan kami, tiga mobil hitam sudah berjajar rapi. Elena berdiri di sana, dikelilingi oleh para pria berpakaian hitam dengan senjata lengkap. Di sampingnya, ayahnya duduk di kursi roda, memakai masker oksigen, namun matanya tetap tajam seperti elang.
"Permainan ini selesai, Andre," suara Ayahnya terdengar parau lewat pengeras suara masker. "Serahkan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu hidup di pengasingan. Dia tahu terlalu banyak. Dia melihat ruangan 00. Dia tidak boleh ada."
Andre melangkah di depanku, menyembunyikan tubuhku dengan badannya yang lebar. Tangannya yang berdarah mengepal kuat. "Kalau Ayah ingin dia, Ayah harus membunuhku dulu. Dan Ayah tahu, semua data korupsi Vulture Group akan terunggah otomatis ke server publik jika jantungku berhenti berdetak."
Ayahnya terkekeh, suara kering yang mengerikan. "Kamu pikir aku tidak tahu soal dead man's switch itu? Elena sudah menemukan servernya, Andre. Kita tidak butuh jantungmu lagi."
Elena mengangkat tabletnya dengan senyum penuh kemenangan. "Klik satu kali, dan kakakku tersayang hanyalah seorang pria biasa tanpa kekuatan apa pun."
Aku merasakan tangan Andre di belakang punggungku meraba-raba sesuatu di saku celananya. Dia menyelipkan sebuah benda kecil ke telapak tanganku, sebuah kunci kontak mobil.
"Anita," bisiknya tanpa menoleh, "mobil perak di ujung sana. Mesinnya sudah aku nyalakan lewat jam tanganku. Kamu lari sekarang dan jangan menoleh."
"Lalu kamu?"
"Aku akan memberimu waktu."
"Tidak! Andre, mereka akan membunuhmu!" tangisku pecah. Emosi yang kupendam selama ini meledak. Aku membencinya, aku takut padanya, tapi melihatnya bersiap mati untukku... itu menghancurkan sisa-sisa kewarasanku.
"Pergi, Anita! Demi ibumu!" Andre mendorongku dengan kasar.
Aku berlari. Aku berlari sekuat tenaga menuju mobil perak itu. Suara tembakan mulai terdengar di belakangku. Aku masuk ke mobil, tanganku gemetar hebat saat memindah gigi. Aku melihat lewat spion, Andre sedang bergumul dengan dua orang pria, sementara Elena berteriak memerintahkan mereka untuk menembak ban mobilku.
Aku menginjak gas sedalam mungkin. Mobil itu melesat keluar dari area parkir, menabrak pagar pembatas.
Aku berhasil keluar. Aku bebas.
Aku menyetir dengan air mata yang memburamkan pandangan. Aku melihat ke kursi penumpang, dan di sana ada sebuah amplop coklat. Aku membukanya dengan satu tangan. Di dalamnya ada paspor baru atas namaku, tiket pesawat ke Swiss yang berangkat dua jam lagi, dan sebuah surat kecil.
Anita, jika kamu membaca surat ini, artinya aku sudah memenuhi janjiku untuk menjagamu. Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Pergilah ke alamat di balik surat ini. Ibumu menunggumu. Jangan pernah kembali ke kota ini.
Aku terisak di balik kemudi. Tapi kemudian, ponsel yang ada di dalam amplop itu berdering. Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya. "Halo?"
"Anita..." suara di seberang sana bukan suara Andre. Itu suara wanita. Suara ibuku. Tapi dia tidak terdengar senang. Dia terdengar ketakutan.
"Ibu? Ibu di mana?"
"Anita, jangan pernah datang kemari! Ini jebakan! Andre tidak pernah—"
Brak!
Suara benturan keras di telepon diikuti oleh suara tembakan. Dan tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar menabrak bagian samping mobilku dari arah persimpangan, membuat mobilku terguling berkali-kali di atas aspal dingin.
Dalam keadaan terbalik, dengan darah mengalir dari pelipisku, aku melihat pintu mobil hitam itu terbuka. Sepatu hak tinggi merah melangkah keluar.
Elena.
Dia berjongkok di depan jendela mobilku yang hancur, tersenyum manis sambil memegang ponsel ibuku.
"Kamu tahu, Anita? Kakakku itu terlalu romantis. Dia pikir cinta bisa menyelamatkanmu. Padahal, cintanya lah yang membawamu ke liang lahat ini."
Elena mengeluarkan sebuah korek api gas, menyalakannya, dan melemparkannya ke arah tumpahan bensin di bawah mobilku.
"Selamat tinggal, Teman Sekamar."