"Devan ..." "Rendi?" Rendi datang dengan napas ngos-ngosan. Dia berlari secepat mungkin hanya untuk mengejar Devan dari tempat yang sempat ia jadikan sebagai latihan Devan. Hari ini dia mendapat berita dari bos nya, Rully. "Gawat!!" "Gawat? Memangnya ada apa?" tanya Devan. "Coba bicara pelan dan berhenti ngos-ngosan seperti itu." "Hah, bentar, hah ..." Rendi mulai menegakkan tubuhnya, ia berusaha untuk mengatur napasnya pelan. "Gadis yang kau selamatkan hari itu sudah meninggal," kata Rendi. "Apa?" Devan juga Kinan bersamaan. "Kenapa bisa? Apa Desi dibunuh sama Tuan itu?" sambung Kinan tak percaya. "Hooh." Rendi mengangguk. Devan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kayu yang berada di sebuah cafe itu. Dirinya begitu lemas saat mendengar berita kematian keluarga gadis it

