Devan membiarkan gadis tomboy itu berada di atas punggungnya. Ia berlari karena takut luka Raina lebih dalam dari sebelumnya. Yang lebih parah lagi, luka itu berdarah semakin banyak. "Bertahanlah, Raina. Sebentar lagi kita sampai," ucap Devan dengan suara bergetar karena sedang berlari. Raina semakin merintih kesakitan, ia hanya pasrah dengan luka itu. Sepertinya ia tahu belati itu menancap ke arah mana. Jika saja terkena uratnya hingga putus, maka dia akan tidak sadarkan diri. Namun sepertinya ia masih beruntung. Belati itu tidak memutuskan urat nadinya sehingga dia masih sadar jika dirinya sekarang sedang berada di atas punggung Devan. Tubuh Devan rupanya begitu hangat. Raina menyukainya. Ingin sekali dia seperti ini, tapi sayang, Devan sudah mempunyai istri. Pikir Raina. "Kita m

