Satu bulan telah berlalu, Devan telah bertahan di Kampung Hurip demi membantu juga melindungi perkampungan itu dari ancaman kubu mafia yang mungkin akan kembali. Namun, selama ini tidak ada tanda-tanda dari mereka. Mungkin sekarang waktunya sudah tepat, ia ingin menemui Raya.
Ibu Kian dan anak-anaknya pun akhirnya mengerti dan melepas Devan untuk pulang ke Kotanya. Lagipula, Devan sudah memiliki keluarga. Tidak sepantasnya ia terus-terusan ada di sana dan meninggalkan istrinya, pikir Ibu Kian.
Walaupun dia sudah tidak punya suami, tapi Ibu Kian mencoba untuk berjuang sendirian demi anak-anaknya.
"Selamat jalan, Nak Devan. Hati-hati di sana dan kalau Nak Devan sempat, mainlah lagi ke sini. Pintu terbuka lebar untuk Nak Devan," ucap Ibu Kian untuk yang terakhir kalinya.
"Terimakasih, Bu. Ibu sudah mau menerimaku seperti saudara ibu sendiri. Faris dan Fares akan selalu kuingat, dan mereka adalah kedua adikku yang baik. Semoga kalian baik-baik saja."
Devan pamit dan mulai melangkah untuk pergi. Warga kampung dan Desa itu melambaikan tangan memberi penghormatan kepada lelaki yang telah menyelamatkan semuanya.
Devan mengenakan jas panjang selutut dan sebuah tas yang ia gendong di punggung kirinya, tak lupa dengan topi bundar untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin orang Kota mengenalinya, sebab, yang mereka tahu bahwa dirinya sudah tiada. Devan tak mau orang kota mengiranya sebagai mayat hidup.
***
Raya tengah berdiri di depan jendela kamarnya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Tristan. Bisa dibilang jika hari ini adalah hari bahagianya. Namun, Raya masih mengingat Devan, karena bagaimanapun kematian Devan melibatkan dirinya juga.
Hanya karena mendapat rayuan dari Tristan, saat itulah Raya memilih untuk hidup dengan Tristan dan melupakan Devan, suaminya.
Semakin hari, Raya semakin tak nyaman dengan hubungannya dengan Tristan. Karena semakin hari sikap Tristan berubah-ubah. Kadang baik, terkadang juga kasar. Akan tetapi menikah dengan Tristan akan mengangkat derajat keluarganya termasuk ayahnya, Raymon.
"Sayang, apa kau sudah siap?"
Tristan membuka pintu kamar Raya dengan mudah. Ia tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu, karena Raya akan menjadi miliknya ya fine aja.
Raya menengok melihat Tristan dengan kesal, ia menghentakkan kaki. "Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu? Kalo aku lagi gak pake apa-apa gimana?" gerutu Raya.
Tristan hanya terkekeh, ia suka melihat Raya marah seperti itu, "Tak apa, kalau kamu bugil, aku suka. Kita akan main saat itu juga!"
Raya menggigit bibirnya dan berkata, "Kamu itu selalu bikin aku kesal, Tristan."
"Sebaiknya kita keluar dan mulai pernikahan kita, aku sudah tak sabar ingin memilikimu seutuhnya, sayang."
Tristan menyibak rambut Raya dengan lembut, dirinya memang selalu bikin Raya menjadi merah putih. Terkadang ingin marah, terkadang juga merasa dirinya paling diperlakukan sangat baik. Ah ... Tristan.
Tristan membawa Raya untuk turun dari kamarnya dan memulai pernikahan itu dengan sempurna.
Sementara dari arah luar nampak Devan tengah berdiri dan melihat semua kenyataan pahit ini. Apakah Raya benar-benar sudah melupakannya? Bahkan saat ia kembali pun Raya sudah menjadi milik orang lain, yaitu orang yang telah membunuhnya.
Devan mengepalkan tangannya kuat, saat itu juga amarahnya berkobar. Ia berjalan ke arah pengantin dan ingin melenyapkan Tristan saat ini juga. Namun, sayang. Telinganya malah berdengung sangat hebat sehingga dia kembali keluar dan menutup telinga itu dengan kedua tangannya.
"Devan ..."
Suara mengerikan itu terdengar menggema. Devan melihat sekitar yang memang tidak ada yang memanggilnya di situ. Siapa orang ini?
Terdengar seperti suara seorang perempuan memanggilnya, sepertinya suara itu tidak asing.
"Devan ..."
Kembali suara itu datang lagi. Devan memutuskan untuk pergi dari sana dan mencari tempat paling aman. Ia yakin jika itu panggilan dari Ratu ular. Dan dia memanggilnya di waktu yang tidak tepat.
"Akkhh ..."
Telinganya terus berdengung sampai merah seperti terbakar. Ini sangat menyakitkan.
Setelah dirasanya aman, Devan duduk dan bersila, dia mulai mengatur napasnya dan menutup kedua mata. Ia tak pernah melakukan itu tapi mudah-mudahan dengan cara ini akan berhasil.
Wus
Devan merasakan tubuhnya terangkat dan saat ia membuka matanya, kini ia berada di tengah hutan. Itu artinya benar, jika panggilan itu adalah panggilan untuknya segera menemui Ratu.
"Devan ..."
Devan mengikuti arah suara itu hingga ia menemukan sebuah istana mewah di tengah hutan itu. Mengapa bisa?
"Devan ..."
Suara itu semakin dekat dan itu berasal dari dalam sana. Apa dia harus memasuki istana itu?
"Masuk, Devan ..."
Karena mendapat perintah, Devan masuk tanpa ragu. Rupanya benar, ini istana. Banyak orang yang menjaganya dan itu manusia. Apa? Manusia?
Devan melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang berjalan ke arahnya. Di kepalanya ada sebuah riasan cantik, tapi tidak ada mahkota. Apa itu Ratu yang ia ambil mahkotanya?
Wanita itu nampak sangat mulus, bahkan Devan terkesima saat melihatnya.
"Kau ..."
Devan bahkan tak percaya apa yang ia lihat. Sungguh ini adalah rejeki tak terduga. Bisa melihat wanita secantik dan seseksi ini. Apalagi d**a dan sebagian bawahnya terlihat sangat jelas.
"Devan, kau harus membantuku!"
Ratu itu tepat ada di depannya, hingga Devan meneguk salivanya sangat susah. Jangan terlalu dekat, batinnya.
"A-aku ha-harus membantumu a-apa?" Devan bahkan gelagapan. "Si-siapa kau? Apa kau Ratu yang memberiku mahkota itu?"
Ratu itu malah tertawa melihat tingkah Devan. Sepertinya dia sangat gemas akan Devan yang seperti ketakutan melihatnya.
"Haha, tentu saja ini aku. Dan sesuai perjanjian kita, kau akan membantuku kapan saja, bukan?"
"Oh, haha, tentu saja. Tapi bagaimana bisa kau berubah wujud seperti manusia?" ucapnya polos.
Ratu kembali tertawa, "Devan, Devan, kau itu memang tak tau apapun tentang kami. Tentu saja ular sebangsa kami bisa berubah wujudnya. Rupanya aku salah, aku tidak menampakkan diriku saat kita bertemu hari itu. Maaf karena telah membuatmu takut, Devan."
Devan hanya tersenyum, "Lalu, kenapa kau memanggilku kemari? Apa yang sudah terjadi?" tanyanya.
"Ayo ikut saya."
Ratu itu berjalan terlebih dahulu dan Devan mengikutinya dari belakang. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Devan melihat sungai indah di sana dan sebuah tanaman cantik yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sungguh menakjubkan.
Di sana juga ada batu yang berkilauan, seperti perak dan emas, atau memang berlian? Entahlah, tapi Devan sangat menyukai tempat itu.
Devan berhenti di depan pintu masuk ke sebuah ruangan, dirinya tak yakin jika harus memasuki ruangan itu.
"Kemarilah, jangan takut."
Devan mengangguk dan menuruti perintah sang Ratu. Dia memasuki ruangan itu.
Banyak wanita cantik di sana bahkan ini terlalu cantik untuk dilihat, Devan hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut akan tergiur. Oh, tidak. Ini ujian. Kau harus menahannya, Devan.
"Saudaraku terluka, mahkotanya diambil oleh orang biadab dan mereka telah hampir membunuh saudaraku, Devan." Ratu memperlihatkan keadaan saudaranya yang terbaring lemah.
Sebenarnya mereka ada tujuh Ratu. Namun Ratu yang paling utama adalah Ratu yang Devan ambil mahkotanya.
Devan terkejut dengan keadaan saudara Ratu itu. Dia sangat terluka, benar-benar terluka. Banyak tanda lebam di sekujur tubuhnya dan saat ini dia sedang diberikan obat oleh pelayan di sana.
Perempuan itu sudah tak sadarkan diri dan dia terlihat sangat mengerikan. Itu seperti luka bekas benturan. Apa mungkin dia dibenturkan oleh sang pelaku? Benar-benar kejam.
"Siapa pelakunya?" tanya Devan.
"Aku juga belum tau karena aku menemukan dia di pinggir danau dan melihatnya sudah tak sadarkan diri."
Devan mendekat dan melihat luka itu dari jarak yang sangat dekat. Akan tetapi dia tak berani memegangnya.
"Sepertinya saudaramu berusaha untuk melawan penjahat itu tapi sepertinya penjahat itu sangat kejam hingga membuatnya luka seperti ini," ucap Devan menerawang.
"Ya, tentu saja dia kejam. Ular seperti kami memang banyak yang menginginkannya. Mereka hanya ingin mahkota kami untuk kekuatannya naim level. Untung saja saudaraku tidak dipotong-potong seperti anak-anakku yang lainnya."
"Anak-anakmu? Itu artinya penjahat itu telah lama mengincar kalian!!"
"Tentu saja. Sejak dulu, mereka mengincar kami. Bahkan kedua orang tua kami mereka ambil, sampai sekarang aku bahkan tidak bisa menemukan ayah dan ibuku. Mereka dibawa oleh orang jahat dan awalnya aku juga takut kamu akan membawaku. Tapi sepertinya kamu tidak tahu apa-apa tentang kami. Maka dari itu aku percaya jika kamu bisa menolong kami," jelas Ratu itu.
Devan paham. Bagaimana Ratu itu sangat menginginkan dirinya. Tapi, apakah dia sanggup untuk membantunya?