Devan tengah membantu pekerjaan Ibu Kian mengurus pertanian di ladangnya. Tak beberapa lama kemudian, ada sekelompok orang dengan memakai pakaian serba hitam mengacau di perkampungan itu. Mereka berjalan dan saat itupun awan berubah menjadi gelap seperti akan turun hujan. Kedatangan mereka telah berdampak pada cuaca di sana.
Salah satu diantara mereka sedang duduk sambil menghisap rokok nya dengan santai. Kaki itu ia angkat ke sebelah kakinya yang lain. Ia memakai topi bundar kecil dan kemeja berwarna hitam. Semua yang ia pakai serba hitam.
Penduduk kampung tidak berani menyapa ataupun mendekati mereka. Tidak ada keberanian bahkan takut dengan aura dari orang-orang itu. Mereka dari kubu Mafia Kota.
"Ketua, sepertinya itu Devan."
Orang itu membuka topinya dan menyipitkan kedua matanya. Dari jarak jauh orang itu benar-benar melihat Devan. Dia sangat mengenali orang yang sudah membuatnya tak sadarkan diri dan sudah membuatnya terluka karena ulah dari Tuan Mafia, Tristan.
"Kita bunuh dia sekarang juga."
Orang itu berdiri sambil kembali memakai topinya sebagai penghalang wajahnya yang sangar.
"Akhirnya aku menemukanmu, Devan. Kau akan mati saat ini juga di tanganku sendiri."
Orang itu berjalan dan diikuti oleh anaknya yang lain. Sebut saja dia sebagai ketua dari anak buahnya yang ikut bersamanya sekarang.
Awan pun turut berjalan mengikuti langkah mereka dengan cepat. Aura yang dipancarkan sangatlah menakutkan.
Devan sedang menancapkan sehelai demi sehelai, gundukan demi gundukan tanaman padi di tangannya. Ia melihat bayangan gelap yang terpantul dari air sawah. Devan lalu berdiri tegak, melihat banyaknya orang yang sudah ada di belakangnya saat ini.
"Devan ..." Orang itu memanggil nama Devan dengan seringai.
Kreek!! Semua jarinya ia tekan satu persatu hingga terdengar suara tulangnya yang seakan patah. Kepalanya ia goyangkan ke kanan dan ke kiri sampai berbunyi persis seperti bunyi jarinya. Sang Ketua dengan bekas sayatan di pipi kirinya sudah bersiap untuk menyentuh Devan.
"Nak Devan, dia yang sudah membunuh Bapak hari itu," bisik Ibu Kian pelan. Ia tak berani mengeluarkan suara keras sebab dirinya pun takut akan orang jahat seperti orang itu.
"Ibu tenang saja, sebaiknya ibu pulang dan jaga anak-anak ibu di rumah," perintah Devan.
Ibu Kian mengangguk dan segera pergi dari sana. Tak ada satu orang pun yang berani menampakkan dirinya. Mereka telah bersembunyi. Kini hanya tinggal Devan dan mereka para Mafia kejam.
"Haha, bahkan sekarang pun tidak ada yang membantumu, Devan. Di sini sudah ada sekitar sepuluh orang. Kau tidak akan mungkin mengalahkan kami, hari itu sepertinya hanya kebetulan saja."
Haha
Semua orang itu tertawa dengan keras, seakan mereka merendahkan Devan. Devan tak terima, tangannya mengepal kuat sampai benang biru itu keluar, merambat ke arah punggungnya.
Awan berubah menjadi terang, geng Mafia itu terkejut. Mereka menatap langit mereka yang sepertinya hilang dengan sendirinya. Mengapa bisa?
"Woo ... kau sudah berani mengusir awan kami, apa yang kau punya kali ini, Devan? Menantu pengangguran!!"
Haha
Semua kembali tertawa dengan keras, saat itulah Devan maju menghadap tepat di depan mereka semua.
"Kenapa hanya berdiri saja? Ayo kita bertarung!!"
"Kalian telah membunuh seorang ayah dari anak-anaknya, kalian hanya berani berbuat kepada orang yang tidak bersalah, bukankah kalian mengincar ku? Kalau begitu bunuh aku, bukan orang lain sebagai sasarannya," kata Devan dengan tegas.
"Woo ... bagus juga perkataan mu. Bagi kami, orang yang ada di dekatmu harus mati termasuk orang kampung ini. Bahkan jika kami tidak menemukanmu, dengan senang hati kami akan membunuh semua orang yang tinggal di sini. Apa itu cukup? Jadi, jangan pernah lari dari kami. Kau pasti akan menyesal, Devan."
"Bukan aku yang menyesal, tapi kalian lah."
Bukk!! Devan menonjok dagu itu hingga memuncratkan setetes darah segar. Giginya bahkan patah dan ada beberapa yang goyang. Sial.
Ketua geng itu menelapakkan tangan untuk memungut giginya yang patas juga ... darah.
"Ketua, kau tidak apa-apa?"
Ketua itu menggeleng dan membuang benda menjijikan di tangannya. Kini amarahnya telah memuncak hingga ke ubun-ubun. Ketua itu sangat marah.
"Sialan, kau. Berani kau melepas gigiku?"
Hhiiaatt ...
Ketua itu mengeluarkan jurusnya, ia merentangkan tangan dengan gaya dan ... bukkkk!!!
Devan melihat pukulan minim itu dan dia hanya tertawa geli.
"Hihi, itu sangat menggelikan. Apa segini kekuatan pukulan sang Ketua? Payah!!!" ejeknya.
Ketua termasuk anaknya tak terima. Mereka menyerang secara bersamaan. Devan telah siap dengan tangannya yang keras bagaikan hulk. Rahangnya begitu kuat dan dia memperlihatkan kembali urat nadinya yang seperti tambang.
Semua orang bahkan tak percaya akan perubahan tubuh Devan. Apa dia sudah melakukan latihan? Atau dia sengaja berguru pada yang ahli?
Orang itu bahkan melihat satu sama lain. Mereka terkesiap antara maju atau mundur. Tapi bagaimana dengan Tuannya?
"Serang!!" Ketua sudah memerintah.
Satu persatu maju dan menyerang Devan. Tapi hebatnya, Devan mampu menahan serangan dari sembilan orang itu.
Keringat seakan deras, Devan sudah tidak merasa lelah lagi. Bahkan semakin berkeringat, maka tenaganya semakin bertambah.
"Aarrrhhh ..."
Devan mematahkan tangan penyerang dan penyerang lainnya sudah siap menggempurnya. Namun, kaki Devan telah siap menendang penyerang yang lain.
Criing!! Punggungnya kembali mengeluarkan cahaya. Semua orang bahkan mundur melihat cahaya itu. Kenapa bisa?
Sang Ketua terkejut, apakah itu? Apa ada lampu di belakang punggungnya?
Oh, tidak. Bahkan Devan makin bersemangat dan mampu menumbangkan semua orang itu. Dan kini hanya tinggal sang Ketua.
"Bagaimana? Apa kau ingin menyerang ku juga?" tanya Devan masih penuh semangat.
"Oh, jadi kau menantang ku, menantu pengangguran?" ucap Ketua.
"Aku bukan menantu pengangguran. Namaku Devan dan aku kembali hidup untuk membalas kalian yang hendak membunuhku."
Hiiaat ...
Tangannya mengepal kuat dan kali ini berhasil membuat Ketua itu terkapar.
"Masih ingin lagi?" tanya Devan memberi ajakan.
Ketua berangsur menggapai kaki Devan, memohon agar Devan tidak meneruskan semua itu.
"Jangan. Jangan lagi kau menyerang ku. Aku janji tidak akan mengganggu kampung ini lagi dan kampung ini aman dari kubu kami."
Ada harapan untuk semua penduduk Desa. Rupanya Devan telah menyelamatkan kampungnya dengan memberantas semua geng Mafia yang kejam itu.
Dulu, sebelum ada Devan masuk ke perkampungan itu, kelompok Mafia itu selalu bikin rusuh. Bukan hanya selalu membuat onar, tapi juga mereka sudah menguasai hampir pelosok kampung.
Orang-orang yang bersembunyi pun mulai berdatangan dan memberi ucapan terimakasih kepada Devan. Sementara Ketua dan anaknya berusaha untuk pergi dengan keadaan patah tulang hingga tak bisa berjalan. Tapi mereka tetap mencoba untuk melarikan diri.
"Terimakasih, Nak Devan. Anda telah menyelamatkan Desa kami."
"Sama-sama. Tapi ada satu hal yang harus saya lakukan, sepertinya saya harus kembali ke Kota untuk menemui istri saya di sana," ucap Devan.
"Anda sudah punya istri rupanya?"
Devan hanya tersenyum malu. Ia sudah menyembunyikan identitasnya selama di sana. Tapi untuk saat ini sudah waktunya mereka tahu jika dirinya sudah berkeluarga.
Devan melihat ke arah Ibu Kian seperti tak rela jika ia pergi. Secara, Devan sudah seperti saudaranya sendiri.
"Bu, apa ibu tidak apa-apa?" tanya Devan.
Anak laki-laki berusia 17 tahun dan yang satunya lagi berusia 10 tahun itu memeluk Devan dengan tak rela. Bukan hanya Ibu Kian yang tak ingin Devan pergi, tetapi kedua anaknya pun tak mau Devan meninggalkan Desanya.
"Jangan pergi, Kak. Kalau Kakak pergi, kami sama siapa? Bapak sudah tidak ada dan pekerjaan kami hanya seorang buruh tani. Ibu sudah tidak bisa lama dalam air."
Devan merasa kasihan akan anak-anak itu. Tapi juga dia harus kembali untuk menemui Raya di sana. Apa yang harus ia lakukan sekarang?