Tanda di tubuhnya

1224 Kata
Devan merasakan tubuhnya seakan terbakar, ia bahkan tak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga dia tak sadarkan diri. Ratu ular itu hanya menggelengkan kepalanya, rupanya orang ini terlalu lemah untuk menerima semua kekuatan yang ada di dalam mahkota miliknya. Benar-benar payah. "Ratu, apa dia akan baik-baik saja?" tanya ular yang lain. "Kalian tenang saja, dia akan baik-baik saja selama tubuhnya masih menyerap darah dari mahkota yang kuberikan." Mahkota itu melambangkan sebuah aliran darah yang akan diserap oleh tubuh orang yang mengambilnya, yaitu Devan. Ya ... hanya dia sendiri yang bisa mengambilnya. Hanya saja keadaan tubuhnya masih kurang stabil. "Akkhh ..." Devan membuka matanya setelah tubuhnya menyerap darah yang diberikan lewat mahkota itu. Tubuhnya masih terasa sakit juga panas, terutama di bagian punggung. Urat nadinya seakan menonjol hingga membentuk seperti akar pohon yang merambat ke bagian punggung. Itu sangat menyakitkan. "Sakit ... aakkhh ..." Devan merangkak dan terbangun dengan perlahan. Kedua tangannya mengepal kuat. Tubuhnya seakan menampakkan cahaya dari belakang tubuhnya. Itu artinya Devan sudah mampu menyerap kekuatan yang diberikan oleh Ratu ular. "Sss ... sekarang kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu, manusia." Devan berkeringat sangat deras, ia masih mengatur napasnya yang berat karena menahan rasa sakit itu. "Devan. Namaku Devan." "Devan? Namamu bagus juga. Pulanglah dan ingat dengan perjanjian kita." Setelah dilihatnya Devan merasa lebih baik, Ratu ular dan pengikutnya kembali ke tempat asalnya. Devan masih terlihat lemah. Namun, tubuhnya seakan ada yang berbeda. Devan meraba perutnya yang terasa lebih keras. Apa itu otot? Ia kemudian memegang kedua lengannya yang tak kalah keras, benar-benar menakjubkan. Apakah ini yang dinamakan berubah secara drastis? "Aku harus segera pulang." Devan merasa bersemangat, ia ingin segera melihat ke arah pantulan cermin akan tubuhnya yang baru. Bukan hanya ia bisa iakembali hidup, namun ia memiliki kekuatan seumur hidupnya. Sungguh luar biasa. Setibanya di rumah, Devan langsung mencari cermin dan membuka seluruh kain yang melekat di tubuhnya terkecuali bagian anu. Hanya itu yang ia sisakan. "Apa ini benar diriku? Apa ini benar tubuhku? Waaww!?" Bahkan Devan sendiri tak percaya akan perubahan dirinya yang sekarang. Devan kemudian teringat dengan bahan yang ia bawa dari hutan tadi, ia lalu mengambilnya dan mulai meraciknya. Tak banyak yang ia tahu akan meracik suatu obat. Maka dari itu Devan pergi menemui Pak Ruslan di kediamannya. Ia kembali memakai pakaian lengkap untuk segera menemui Pak Ruslan. Namun, kediaman Pak Ruslan sepertinya sedang ramai. Ada apa? "Maaf, ada apa ya, Pak? Kenapa rumah Pak Ruslan ramai begini?" tanya Devan kepada salah satu warga. "Pak Ruslan telah dibunuh oleh sekelompok orang dari Kota. Sepertinya mereka berasal dari kubu mafia," jawab salah satu warga. Apa? Devan bahkan tak percaya, ada apa sehingga mereka berani membunuh orang yang tidak ada urusan dengannya? Devan memasuki rumah Pak Ruslan, ia melihat istri dan kedua anaknya sedang menangis di depan jenazah itu. Devan lalu mendekat dan membuka kain yang menutupi wajah Pak Ruslan. Ada bekas sayatan di sana. Dan sepertinya tulang leher Pak Ruslan patah. Benar-benar perbuatan kejam. "Nak Devan, sejak Nak Devan pergi pake sepeda bapak, saat itulah orang jahat menyerang bapak. Mereka memperlakukan bapak seperti binatang saja. Ibu harus berbuat apa? Bapak sudah meninggal, ibu harus mengurus anak-anak sendirian, Nak Devan." Ibu Kian seperti tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa suaminya telah meninggal. "Ibu jangan khawatir, aku akan membantu ibu mengurus semuanya. Akan aku beri pelajaran sama orang biadab itu!!" Devan mengepalkan kedua tangannya hingga mengeluarkan benang biru. Ibu Kian mencoba untuk meredamkan amarah Devan, karena bagaimana pun, Devan adalah anak yang selalu membantu suaminya bekerja. "Jangan, Nak. Mereka terlalu bahaya untukmu. Ibu takut kamu akan seperti bapak!" ucap Kian. "Apa ibu bisa meracik obat?" tanya Devan tiba-tiba. Ibu Kian mengangguk, "Bisa, memangnya kenapa?" "Bisakah ibu membantu saya meraciknya? Tapi setelah pemakaman bapak selesai." "Baiklah." Para warga membantu pemakaman itu hingga selesai. Di kampung itu memang solidaritasnya begitu tinggi. Mereka melakukannya tanpa pamrih. Kembali ke Devan. Devan mengeluarkan beberapa bahan untuk diracik. Ibu Kian sangat heran dengan daun yang Devan keluarkan dari kantung itu. Daun apa ini? "Darimana kamu dapat daun seperti ini? Ibu baru liat ada daun dan biji seperti ini!! Apa ini cocok untuk dijadikan obat?" Kian terus memperhatikan semua bahan itu. "Entahlah, kita coba saja. Aku baru mendapatkan semua bahan ini dari temanku. Dia bilang kalau semua bahan ini akan menambah tenagaku," jelas Devan. Ibu Kian mengerutkan kening, "Bagaimana mungkin?" Karena tak sabar, Devan memberikan semua bahan itu untuk segera diracik. Ibu Kian mulai memanaskan air dalam wadah dan memasukkan semua bahan itu tanpa sisa. Air berubah menjadi hitam, semua bahan itu telah mengeluarkan warna sesungguhnya dan bau nya yang menyengat membuat Devan juga Ibu Kian menutup hidungnya rapat. "Baunya seperti kotoran sapi, apa kau yakin mau meminumnya?" tanya Ibu Kian ragu. Tak kalah ragu dengan Devan, "Entahlah, tapi aku memang harus meminumnya." Ibu Kian seakan ingin muntah saja. Mencium baunya saja sudah tidak kuat apalagi melihat Devan meminum ramuan yang mereka buat itu? Sungguh menjijikan. Lebih anehnya, ramuan itu menyusut hingga berbentuk sebuah pil bulat kecil. Mereka berdua tak percaya dengan perubahan dari ramuan tersebut. Apa ini sihir? "Devan? Bagaimana mungkin?" Ibu Kian seakan terperanjat melihat perubahan itu. Devan hanya melotot masih terkesiap, "Aku juga gak tau, Bu. Ini ajaib, benar-benar ajaib." "Hei, sebenarnya bahan apa yang kau bawa itu?" tanya Ibu Kian masih penasaran. "Aku gak tau, Bu." "Kau ini bagaimana, kau yang bawa tapi kau sendiri pun gak tau itu bahan apa namanya dan apa saja kegunaannya. Ibu takut itu racun yang sengaja temanmu berikan untuk membunuhmu. Sebaiknya kamu jangan meminumnya." "Tapi aku penasaran, Bu." "Terserah kau saja, yang mati kau juga, bukan ibu." Ibu Kian memberikan satu gelas air putih kepada Devan dan Devan memasukkan pil itu dan meminumnya hingga masuk ke dalam perutnya. "Aargghh ..." "Devan, kau kenapa? Sudah kubilang, jangan meminumnya. Itu racun." Devan kembali merasakan panas di tubuhnya dan kini punggungnya kembali mengeluarkan cahaya. Ibu Kian menjauh dan menganga tak percaya. Apa yang sudah terjadi dengan anak itu? Apa dia akan baik-baik saja? Atau dia akan mati di depan matanya? "Devan ... k-kamu ... Devan ..." Ibu Kian berteriak. Sementara Devan sudah tak sadarkan diri. Ibu Kian menolong Devan, membantunya berbaring di atas tempat tidur. Ibu Kian mendengar detak jantungnya yang masih berdenyut. Itu artinya Devan masih hidup. Syukurlah. "Huff, semoga dia baik-baik saja," gumam Kian. Setelah beberapa jam, Devan mulai sadarkan diri. Ia terbangun sambil memegang kepalanya yang sangat berat. Ibu Kian masih ada di sana, ia membantu Devan bangkit. "Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Ibu Kian. "Kepalaku sakit, punggungku terasa panas dan seperti ada ganjalan." "Coba kulihat!!" Devan membuka bajunya dan menampakkan punggung itu di depan Ibu Kian. Ibu Kian semakin tak percaya. Ada tanda di bagian punggungnya. Apakah Devan sengaja mentato punggung itu? "Tato mu bagus juga!" ucapnya polos. "Tato? Aku gak punya tato." "Jangan berbohong, ada gambar keris di punggungmu dan ini sepertinya sangat susah dihilangkan. Apalagi kalau bukan tato." "Keris?" Devan kemudian bangkit dan kembali melihat ke arah pantulan cermin. Ia meraba punggungnya yang masih terasa panas. Apa benar ia memiliki tanda sekarang? "Kamu hebat, Nak Devan. Rupanya obat itu bisa membuat tubuhmu bercahaya, seperti sinar lampu, hihi." Ibu Kian terkekeh. "Apaan sih, Bu. Aku juga gak tau kalau hasilnya akan seperti itu. Tapi sepertinya tubuhku sangat ringan, gak terasa pegal ataupun lemas lagi." "Benarkah?" Devan mengangguk. Rupanya ramuan itu benar juga. Tubuhnya seakan ringan dan bertenaga. Lalu, bagaimana dengan tanda itu? Apakah itu pemberian dari Ratu ular tadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN