Berhasilkah?

1429 Kata
Tiba di sebuah hutan, Devan masih tak tahu dimana dan bagaimana dia memasuki hutan itu, apa ada larangan untuk masuk ke sana? Tak perduli. Yang dia pikirkan hanyalah daun yang dia maksud. Dia akan terus mencarinya sampai dapat. Hutan itu nampak menyeramkan, sepertinya dia akan mati di sini. Tapi dia percaya, jika orang yang ada dalam mimpinya tidak mungkin membuatnya terbunuh dan bukankah ini adalah perintah darinya? Hari sudah mulai gelap, hanya ada penerangan dari sang bulan purnama. Devan menghentikan perjalanan di tengah hutan rimba yang tidak terlihat apa-apa. Gelap. Sebisa mungkin dia mencari sebuah ranting dan menggosoknya sampai panas. Dengan begitu ranting itu akan mengeluarkan api. Pikirnya. Tanpa menyerah, Devan terus menggosok kedua ranting yang ada di tangannya. Hingga keluarlah asap dan ... api. "Huh ... berhasil juga." Devan mulai mengumpulkan ranting yang lain. Dan api pun mulai membesar. Saat itulah dia merasakan kehangatan hingga terlelap dalam malam di tengah hutan. *** "Siapa yang melakukan ini sama kalian? Apa kalian tidak mampu melawannya?" Kedua orang itu telah kembali ke rumah Tuannya setelah tersadar dari pingsan saat menghajar Devan hari itu. Dua hari, mereka bahkan tidak ada yang menolong. Sepertinya orang sekitar pun takut akan mereka yang berasal dari kubu sang mafia. "De-Devan, Bos." Kedua orang itu menundukkan kepala. "Apa?" Tristan membuka matanya lebar, napasnya kian memanas. "Rupanya dia masih hidup." Tristan mengepalkan kedua tangannya kuat. Bugh. Tristan menumpahkan semua emosinya kepada kedua orang itu hingga keduanya terkapar. "Tak guna. Kalian kalah dengan orang lemah seperti dia!!" Sret, sret. Arrggh ... Tristan menyayat lengan kedua orang anak buahnya hingga menembus sampai ke tulang. Sudah bisa dibayangkan betapa tajam pisau yang ia pegang. "Pergi! Jangan berani menampakkan wajah kalian di depanku sebelum kalian semua membunuh orang itu. Jika tidak, aku akan membunuh kalian sebelum aku turun untuknya." Kedua orang dan anak buahnya yang lain berlari keluar dan segera mencari Devan. Mereka tak mau menjadi bahan emosi Tuannya. Sementara Tristan kembali untuk menemui Raya di hari pesta ulang tahunnya malam ini. Dia membenarkan penampilannya terlebih dahulu sebelum pergi. *** Pagi hari, matahari mulai masuk ke celah dedaunan di tengah hutan, Devan membuka matanya perlahan dan melihat sekitar. Ternyata semalaman dia tertidur di bawah pohon besar dan tinggi. Maklum saja, semalam hanya api lah sebagai penerang sekitar. Devan berdiri dan melanjutkan misinya yaitu mencari daun konyol yang dimaksud oleh orang di dalam mimpinya itu. Tidak ada arah jalan, semua tertutup oleh dedaunan kering hingga menutup tanah. Sepertinya hutan ini sangat jarang di datangi manusia sepertinya. Namun, Devan tak akan menyerah. Walaupun dia tersesat sekalipun, pasti akan ada jalan keluarnya. Pikir Devan. "Ah, kemana lagi harus kucari? Bahkan aku tidak tau apa ini tengah hutan atau masih awal? Ah, merepotkan." Devan terus berjalan, hingga ia berdiri di sebuah pohon tinggi. Ia terus memperhatikan daun yang tumbuh di pohon itu. "Ahh, sepertinya ini bahan yang aku cari." Perlahan Devan mencabut daun itu dengan hati-hati. Sebab, daun itu terhalang oleh duri. Devan tak ingin tangannya kena luka oleh duri tersebut. Misi pertama berhasil ia lakukan. Sekarang tinggal misi selanjutnya, yaitu mencari bahan yang lain seperti yang ada dalam mimpinya. "Ini dia. Udah ini selesai kan? Perutku lapar sekali, aku ingin pulang dengan cepat." Setelah ia berhasil menemukan bahan yang lain, Devan pun memutuskan untuk kembali dan mencari sepeda yang ia gunakan sebagai alat transportasi. Namun, saat di pertengahan jalan, telinganya mendengar sesuatu yang berdesis. Devan tak tau suara itu berasal dari mana. Tapi sepertinya suara itu seperti suara hewan berbisa. Oh, tidak. Dia harus berbuat apa? Apa dia harus berlari? "S-siapa itu?" Suara desis itu semakin kuat, Devan memutuskan untuk berlari karena takut. Dalam pikirannya, dia takut mati oleh hewan tersebut. Namun, sayang. Seekor ular besar sudah ada di depannya. Devan mendadak berhenti dan terjatuh. Dia berangsut, menggusur tubuhnya untuk mundur. 'Sial, sepertinya hari ini adalah ajal ku telah tiba.' Ular besar itu berdiri mengikuti Devan dan kepalanya mulai melebar. Devan melihat ada cahaya dari atas kepalanya. Cahaya itu bersinar hingga Devan menyipitkan kedua matanya silau. Ia mencoba menutup matanya dengan lengan. 'Arrgghh, itu adalah ratu ular. Aku pernah membaca sebuah buku tentangnya. Apa dia benar-benar ratu ular?' batin Devan. Telinganya berdengung seakan ada orang yang berbicara di sisi telinganya yang lain. Dia mengenali suara itu dan Devan harus menuruti keinginannya yang konyol untuk ke sekian kali. Benar-benar gila. Dengan cara apa dia mencabut mahkota yang ada di atas kepala ular itu? Dengan memberanikan diri, Devan berdiri mengangkat tangannya untuk menghentikan sang ular. "Tolong jangan mengigit ku!" pintanya dengan tubuh bergetar ketakutan. "Aku tidak akan menggigit mu, melainkan akan membunuhmu dengan racunku, manusia. Manusia sepertimu hanya ingin membuat masalah saja. Kau pasti ingin membasmi hewan sepertiku." Devan tercengang. Ular itu bisa bicara? Bagaimana mungkin? "K-kau ... bisa bicara?" ucapan Devan semakin bergetar hingga ia gelagapan saat mengatakan itu. "Ya ... itu artinya hanya kau yang bisa mendengar suaraku. Rupanya kau bukan manusia biasa melainkan pawang untuk ular seperti kami." "Ka-kami? Mak-maksudmu apa?" Tak lama dari sana, datang sekelompok ular yang lainnya. Mereka adalah ular yang sama. "Ka-kalian ... a-apakah kalian merupakan ratu dari semua ular?" "Bagaimana kau tahu?" ular itu menjalarkan lidahnya dan mulai mendekat ke arah Devan. "Aku hanya menebaknya saja. Ada mahkota yang cantik di kepala kalian." Beberapa ular pun turut mengikuti ular di depannya. Mereka kini mengelilingi Devan. Devan sedikit memperhatikan gerak-gerik mereka, takutnya jika mereka hendak menggigitnya dengan bisa yang mereka punya. Gawat. Ini bukan perkara mudah untukku. Sreet, Ular itu bahkan menyerang Devan. Namun dengan sigap, Devan menangkap badan ular itu dan menghempaskan nya dengan cepat. Bruk, "Sial, kau ... berani malawan ku?" cakap ular itu. Dia menjalarkan lidahnya. "T-tidak, bukan begitu. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku takut jika kalian mau membunuhku." "Kami ingin membunuh manusia sepertimu. Pawang sepertimu harus musnah." "Kalian salah, aku bukan pawang yang kalian maksud. Aku hanya seorang manusia biasa dan niatku kemari hanya sekadar mencari bahan untuk sebuah obat, bukan untuk mencari gara-gara dengan kalian. Tolong percayalah." "Sss ... apa kami harus percaya dengan ucapan mu?" "Tentu saja. Aku berkata apa adanya." Ratu ular itu tidak mendengar, dia bersikukuh untuk membunuh Devan dengan bisanya. Sekuat tenaga yang ia mampu, Devan mencoba melawan ratu ular itu. Devan memegang kepala ular itu dengan kedua tangannya, ia mencengkram nya kuat dan melemparnya tepat mengenai sebuah pohon besar. Beberapa ular telah kalah di tangan Devan. Sekarang yang tersisa hanya seekor ular besar yang pertama. Dialah ratu sesungguhnya. Devan masih mengatur napasnya yang lelah akibat melawan ular-ular itu. Kelemahannya kembali kambuh, tubuhnya seakan tak bertenaga. Oh, tidak. Jangan lagi. "Apa kau mau menyerang ku juga dengan kekuatan pawang mu itu?" Ha ha. Devan tertawa nyaring. Rupanya ratu ular ini takut terhadapnya dan masih menganggapnya sebagai seorang pawang. "Kalian masih menganggap ku seperti seorang pawang. Benar-benar tak percaya dengan omonganku." "Kalian tenang saja, aku tidak akan melakukan itu, aku tahu jika mahkota yang kalian pakai itu sangat berarti untuk hidup kalian. Jika aku mengambilnya, maka salah satu dari kalian akan mati," sambung Devan. "Kau memang manusia yang tahu segalanya tentang kami. Kalau begitu, kami akan melakukannya untukmu wahai manusia," ucap ular itu sambil menjulurkan lidahnya. "Bagaimana bisa? Aku tidak mau salah satu dari kalian akan mati nantinya." Devan masih mempunyai hati. Tidak merasa takut lagi, semua ular itu malah menertawainya. "Rupanya kau memang manusia biasa. Mahkota ini akan tumbuh dengan sendirinya dalam waktu satu tahun. Aku tidak keberatan jika kau menjadi pelindung kami selama satu tahun sampai mahkotaku kembali." "Benarkah?" Devan tersenyum gembira. "Ambilah, dengan syarat, jika aku memanggilmu, maka kau harus secepatnya kemari." "Itu mustahil." Ular itu kembali mengelilingi Devan. "Kenapa demikian?" "Aku tidak akan bisa secepatnya ke hutan ini. Bahkan jika aku menggunakan mobil sekalipun. Sebab, jarak hutan ini dengan kediamanku sangatlah jauh, bahkan aku menempuh perjalanan semalaman ke sini," jawab Devan. Ha, ha. Kembali. Ular itu malah kembali menertawainya. "Kau bisa bersemedi di tempatmu dan kau akan kemari dengan tubuhmu yang lain, dan itu merupakan kekuatan dari mahkota ini." Devan seakan terperanjat akan perkataan itu. Tubuh yang lain? Itu artinya dia akan mempunyai dua tubuh sekaligus? Itu menakjubkan. Devan mengangguk dengan senang. "Baiklah, jika itu yang harus aku lakukan. Kalian bebas memanggilku kapan saja, lagipula aku hanya lelaki pengangguran. Aku tidak punya pekerjaan lain selain tidur dan makan." Ular itu tersenyum. Akhirnya, mereka menemukan orang yang tepat sebagai penolongnya. Penolong dari orang yang ingin membasmi mereka selama ini. Melalui Devan, maka mereka akan terlindungi. "Ambilah." Ular itu mencondongkan tubuhnya dan membiarkan kepalanya tertunduk agar Devan lebih mudah mengambil mahkotanya. "Wah, keren". Devan mengambil mahkota itu dengan mudah. Sang ular merasa heran. Mengapa manusia ini sangat mudah mengambil mahkotaku? "Aarrgghh..." Tubuh Devan seakan terasa panas. Ia berteriak hingga kesakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN