Almost

1304 Kata
AUTHOR POV Meggy merasakan kakinya mulai kesemutan karena sudah 2 jam Willy tidur di pangkuannya. Saat Meggy bergerak sedikit untuk membenahi kakinya, Willy mulai terbangun dan bukannya menyingkir dari pangkuan Meggy tapi Willy justru semakin mengeratkan pelukannya di kaki Meggy. Rok Meggy yang hanya sebatas lutut sedikit tersingkap di bagian sampingnya, Meggy merasakan ibu jari Willy mengusap di pahanya perlahan, menimbulkan sensasi baru di diri Meggy, jantungnya pun semakin cepat berdegup. "Kak, sudah bangun?" Tanya Meggy lirih. "hm.. biarkan seperti ini dulu sebentar lagi. Aku sungguh merasa nyaman." Jawab Willy. "Ouw.. hhhh...huuft..." ucap Meggy membuang nafas. Willy mulai sadar bahwa kaki Meggy pasti sudah sangat pegal. Willy segera berbalik berguling ke sisi tempat tidur di samping Meggy. "Maaf, kakimu pasti pegal ya?" Ucap Willy tersenyum menatap ke atas ke arah Meggy. "Iya, kakak tidur nyenyak sekali sampai 2 jam, bahkan tadi ada yang mengetuk pintu kamar tapi tak berani kubuka, aku juga tidak menyahut karena takut kak Willy terganggu." Sahut Meggy. "Biarkan saja, paling juga mommy hanya ingin melihat keadaanku." Ucap Willy. "Kak, sudah gelap nih, sana mandi dulu." Ucap Meggy. "Meggy, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Ucap Willy sambil memposisikan dirinya duduk disamping Meggy dan ikut bersandar pada kepala tempat tidur. Willy menatap intens pada Meggy. Meggy menjadi bingung dan salah tingkah, merasa was-was. "Sejak kapan kamu mencintai aku?" tanya kak Willy serius. "Sejak.... sejak... kak Willy membelaku, saat aku di bully di kelas 5 SD. Kakak pasti sudah lupa." Sahutku menunduk malu. "Waktu kamu di bully gara-gara tubuhmu yang tambun dan pipimu yang merah gempil itu?" Tanya Willy dengan sedikit terkekeh. "Kakak masih ingat? kenapa kakak ketawa sih?!" Ucap Meggy manyun memukul manja lengan Willy, melihat Willy yang masih terkekeh geli teringat bentuk Meggy saat SD dulu. "Maaf, maaf.. waduch kalau cemberut jadi mau cium deh.." sahut Willy menggoda Meggy. "Ah!!! Apaan sih kak?!" Protes Meggy merona sambil memukul Willy dengan guling yang ada didekatnya. Willy segera meraih pinggang Meggy dan menariknya ke bawah, sehingga tubuhnya kini juga ikut terlentang di samping Willy, bahkan rok pendeknya juga terangkat ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah dengan tiba-tiba. Willy menurunkan rok Meggy lalu memeluk pinggang Meggy dan kepalanya bersandar dibahu Meggy. "Maaf ya, andai saja kamu menyatakan dari dulu, pasti aku bisa buat kamu bahagia lebih lama. Maaf ya, kamu sekarang dapat jatah hidupku yang seperti ini." Ucap Willy. "Aku tetap bahagia kok sekarang, aku bersyukur kak Willy mau menerima perasaan aku. Awalnya aku sudah hopeless, pasrah, seandainya kak Willy nolak juga nggak apa, asal kak Willy masih tetap mau main ke rumah meski cuma untuk cari Kak Robin." Sahut Meggy bermain rambut Willy. Willy tersenyum dengan mendongak ke atas memberikan tatapan lembut. "Apa aku first love kamu?" Tanya Willy, Meggy hanya mengangguk. "Terima kasih Meg, aku bahagia bisa menjadi first love kamu. Tapi kamu jangan pernah jadikan aku cinta terakhirmu ya, aku nggak mau kamu menutup hatimu untuk cowok lain seandainya aku sudah nggak di dunia ini lagi." Ucap Willy, tubuhnya sedikit naik untuk mengecup kening Meggy. "Kakak pasti sembuh total! percaya kak! kakak harus percaya bahwa kakak bisa sembuh total!!" Sahut Meggy tanpa permisi menangis di depan wajah Willy. "Meg, aku leukimia stadium 3, nggak akan mungkin aku bisa sembuh. Aku terlihat sehat, tapi Meg masih ada sel kanker yang hidup dalam tubuhku, dan sewaktu-waktu bisa bergerilya dalam tubuhku ini, bahkan mencabut nyawaku." Ucap Willy dan Meggy semakin deras menangis. "Aku mohon kak, kakak minumlah obatnya dengan teratur, aku nggak mau kehilangan kak Willy. Kak Willy sangat berharga buat aku kak." Sahut Meggy terisak. Willy tersenyum, mengusap air mata yang mengalir diwajah Meggy. "Jangan menangis Meg, aku jadi merasa bersalah, setiap kamu baru tersenyum, aku selalu membuatmu menangis lagi. Maaf ya, aku buat kamu nangis terus." Ucap Willy lembut. "Kak, kakak mau kan sembuh total demi aku?" Tanya Meggy. "Iya aku mau, semua demi kamu Meggy. Aku juga mencintai kamu Meggy. Sekarang mandi yuk! mommy aku pasti sudah masak enak buat kita, selesai makan malam baru aku antar kamu pulang." Ucap Willy tersenyum. Meggy segera mengusap airmatanya dan mendelik. "Haisshhh!!! m***m banget sih kak! Belum jadi istri, belum boleh mandi bareng!" Sahut Meggy protes. Willy segera menjauh dari Meggy dan duduk di tepi tempat tidur. "Astaga Meggy! Ya ampun nih anak! Siapa yang mau mandi bareng kamu?! Kamu mandi di kamar mandi dalam kamarku, aku akan mandi di kamar mandi yang ada di luar kamar. Lagian aku nggak nafsu sama body kamu yang......" Ucapan Willy terhenti menggantung karena kini menatap seluruh tubuh Meggy dari atas ke bawah. Susah payah Willy menelan salivanya, tubuh bawahnya berkedut, lekuk tubuh Meggy terlalu sempurna dan ideal, tidak terlalu menonjol berlebihan, namun juga tidak rata. Sexy menggiurkan, setiap lekukannya melekuk sempurna, setiap tonjolannya menonjol sempurna, tidak berlebihan, benar-benar tubuh seorang gadis yang sempurna. "Kak, lihat apa? Katanya nggak nafsu! Kok dilihatin terus sampai lupa mandi?!" Goda Meggy sambil merubah posisi tidurnya menjadi duduk, Willy hanya tersenyum sambil menggosok tengkuknya yang tidak gatal. "Sudahlah! Ayo mandi!" Ucap Willy berdiri dan berjalan ke arah pintu. Willy membuka kuncinya dengan tombol yang ada di dekat saklar lampu. Meggy hanya tersenyum lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Meggy terpaksa harus memakai lagi pakaiannya, karena dia tidak membawa pakaian ganti. "Pakailah ini, sebenarnya ini oleh-oleh yang kubeli untukmu saat pulang dari Tiongkok, tapi ya.. begitulah, jadi baru bisa aku kasih sekarang." Ucap Willy menyodorkan sebuah paper bag. "Terima kasih kak." Sahut Meggy lalu meraih paper bag dari tangan Willy. "Nggak usah ganti di kamar mandi, nanti basah pakaiannya." Ucap Willy. "KAK WILLY!!!! haiish!!! m***m aja otaknya!" Seru Meggy protes lagi. "Apaan sih?! Gantinya sana di ruang ganti pakaian, tuh di pintu samping kamar mandi, supaya pakaianmu tidak basah, disana juga ada cermin besar jadi kamu bisa sekalian berdandan disana." Sahut Willy menghela napas kesal. "Ouw! Maaf!" Ucap Meggy lalu masuk ke ruang ganti. "Dasar cewek polos!" Rutuk Willy tersenyum lebar. Meggy memang telah sembrono memberikan first kissnya, tapi dia tak ingin menyodorkan tubuhnya dengan sembarangan pada Willy, meski kalimat-kalimat Willy sengaja menggodanya. Meggy sangat berbeda dengan gadis lain yang selalu mudah digoda bahkan sengaja menyodorkan tubuh mereka untuk dinikmati Willy. "Waow! so beautifull!" Puji Willy terpesona saat melihat Meggy dengan cantiknya menggunakan simple dress selututnya. Meggy tersenyum merona, dan menunduk malu melihat dirinya sendiri. Willy berdiri dan melangkah mendekati Meggy terus menatapnya, jantung Meggy langsung berdetak tak karuan. Willy berdiri sangat dekat di hadapan Meggy, menyentuh pipi Meggy dengan lembut. "Kamu cantik, sudah kuduga pakaian ini sangat cocok untukmu." Ucap Willy berbisik di telinga Meggy. "Terima kasih kak..." Sahut Meggy menatap Willy. Willy meraih tengkuk Meggy dan mendekatkan wajah mereka, saat bibir Willy menyentuh bibir Meggy, Meggy pun memejamkan matanya. "Mmmpphh.. aku.. tidak.. mmpphhh... salah... mencintai... mmmpphh.. kamu." ucap Willy ditengah ciuman mereka. Tangan Willy mulai bergerak melingkar ke belakang pinggang Meggy, merapatkan lagi tubuh mereka. Meggy sempat tersentak saat perut bawahnya merasakan ada sesuatu menonjol dari tubuh Willy. Tangan Willy mulai semakin turun, dan mendadak mengangkat satu paha Meggy ke pinggangya. "mmpphhh... kak... ja..jangan.. mmpphh.." ucap Meggy tak ingin lebih jauh lagi. Willy pun segera melepaskan kaki Meggy dengan perlahan, ciuman mereka berakhir tapi kening dan hidung mereka masih tetap melekat. Tatapan yang bertemu dan nafas yang saling memburu. "Maafin aku ya, aku benar-benar tergoda dengan pemandangan dihadapanku ini. Kamu cantik banget." Bisik Willy. "Maaf kak, aku belum siap." Sahut Meggy merasa bersalah. "Kamu nggak salah dear..., aku seneng kamu ingetin aku, kalau kamu nggak nolak, mungkin mommy yang akan serangan jantung saat melihat aku justru menyantap kamu, bukannya masakan mommy." Ucap Willy terkekeh. Meggy sedikit lega mendengarnya, lalu ikut tersenyum dengan candaan Willy. Willy lalu menggenggam tangan Meggy dan mengajaknya keluar kamar untuk makan malam bersama kedua orang tuanya dibawah. ******** Cinta / gairah ??? Mana yang akan menang???? Baca terus ya, ingat tekan Love ya... Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN