MEGGY POV
Aku akhirnya memutuskan untuk kembali percaya pada kak Willy, meski semua yang di sekitarku terus mengingatkanku untuk berpikir dengan baik-baik, terutama Ryan. Ryan sungguh merasa kesal dan bahkan sampai mendiamkan aku, karena dia beranggapan bahwa aku tak pernah bisa berpikir baik jika mengenai Kak Willy.
Kak Willy sungguh memanjakan aku, sekarang status kami sebagai sepasang kekasih sudah diumumkan oleh kak Willy dimanapun kami berada, sekarang kami berdua nyata terlihat sebagai sepasang kekasih.
Bahagia? tentu saja! Aku sungguh tidak pernah berani membayangkan semua ini di waktu dulu, diperlakukan sangat spesial oleh kak Willy hingga sering membuatku mendapat tatapan sengit dan sinis dari hampir semua gadis di sekolah ini. Termasuk kak Rose.
"Kak, sudah.... lepas.." pintaku karena merasa risih dengan tangan Willy yang selalu melingkar di pundakku ataupun di pinggangku.
Aku sebenarnya tidak masalah dengan rangkulan kak Willy, tapi jari-jarinya tidak pernah diam bermain dan mengusap lembut dadaku bagian atas atau perutku, dimanapun dia merangkul ku selalu saja jari-jarinya terus bergerilya. Kak Willy hanya akan terkekeh atau tertawa terbahak saat berhasil membuatku risih.
"Kak, maaf ya aku terlalu kampungan dan kuno." Ucapku lagi yang merasa bersalah karena tidak bisa menjadi seperti gadis kak Willy lainnya yang dengan gampang mau disentuh dan diraba bahkan lebih dari itu.
"Kau tahu Meg? Aku selalu suka menggodamu karena kamu selalu menolakku, aku jadi semakin sayang sama kamu. Kamu sangat berharga Meg, kamu nggak kuno." Sahut kak Willy dan aku tersenyum bahagia.
"Meg, aku ingin melamarmu secara resmi. Apa kamu mau?" Tanya kak Willy.
Bahagiaku semakin membuncah ke langit.
"Memangnya kak Willy nggak merasa terikat dengan pertunangan?" Tanyaku balik.
"Aku justru sangat bersemangat mengikatkan diriku padamu. Kita bertunangan sekarang, dua tahun lagi saat kita lulus dari tempat ini, aku ingin segera menikahimu." Sahut kak Willy.
Aku menatap dalam ke mata kak Willy.
"Kak, bercanda itu ada batasnya, hal serius seperti ini jangan dibuat bercanda kak." Ucapku.
"Siapa yang bercanda? Aku serius Meg, apa kamu tidak percaya?" Sahut kak Willy dengan serius.
"Tapi kita kan baru menjalani pacaran ini kak. Aku takut kak Willy akan berubah pikiran saat tahu semua tentang aku. Aku ini pikirannya kuno, aku ini nggak cantik, aku ini kutubuku yang nggak bergaul luas seperti kakak, aku ini nggak bisa keluar sampai tengah malam, aku ini nggak bakal bisa nemenin kak Willy ke club atau ke cafe, aku ini gadis membosankan, aku ini..."
"Aku ini cinta kamu sampai mati." Sela kak Willy pada ucapanku.
"Kak...." Protes ku karena kak Willy justru menyela ucapanku.
"Aku sudah tahu semua itu, aku daritadi cuma mau dengar bagian aku ini cinta kak Willy sampai mati. Tapi nggak keluar-keluar dari mulutmu, aku nggak sabar nunggu kalimat itu tau!" Sahut kak Willy.
"Kamu pikir selama bertahun-tahun aku bergaul sama Robin dan juga main ke rumahmu setiap hari itu, memangnya aku nggak bisa lihat semua itu? Aku malah sudah tahu semua kebusukanmu. Robin sering mengeluh punya adik sepertimu." Ucap kak Willy lagi.
"Tuh kan! Kak Robin aja sering mengeluh punya adik seperti aku! Tapi karena kandung mau tidak mau dia harus terima aku! Kalau kak Willy kan bisa nolak aku kalau sudah bosen atau jenuh!" Sahutku.
"Beneran deh! Pantes aja Robin sering mengeluh kalau ngomong sama kamu! Sudahlah! Kalau nggak mau diajak tunangan ya sudah! Nggak usah banyak alasan! Paling juga aku bentar lagi mati, buat apa juga tunangan apalagi sampai nikah sama kamu! ya kan?!" Ucap kak Willy dengan kesal berjalan meninggalkan aku yang masih bengong.
"Aku kan nggak ada ngomong kalau nggak mau! Kenapa sampai ngomong mati sih?!"
Batinku dalam hati sambil tetap diam menatap kepergian kak Willy menuju kelas.
Aku sadar saat aku lihat kak Willy menghilang belok masuk ke kelas, akupun langsung menyusulnya masuk ke kelas.
"Kak..." Panggilanku pun hanya direspon oleh kak Willy dengan menoleh sesaat, lalu sibuk dengan ponselnya lagi.
Aku melangkah ke kursiku dengan lesu, lalu meletakkan kepalaku bersandar ke meja sambil tetap menatap kak Willy yang kebetulan sekarang sudah sejajar bangkunya denganku hanya terhalang satu teman kami yang lain.
Aku melihat kak Willy tersenyum sendiri menatap ponselnya lalu mengetik sesuatu, tersenyum lagi dan mengetik lagi, tanpa peduli padaku.
"Iiiissssshhh...!!! siapa sih yang masih chat sama kak Willy?! Awas aja kalau dia chat sama cewek!"
Batinku kesal lalu tanpa sengaja mendorong mejaku ke depan dan berbunyi tabrakan keras dengan bangku depan.
"Meggy! Apaan sih?!" Seru temanku di bangku depanku.
"Maaf, maaf, maaf, aku ngantuk, nggak sengaja dorong meja. Maaf ya." Ucapku menyesal dan kulihat kak Willy tetap acuh padaku, tapi masih senyum-senyum dengan ponselnya.
Dadaku terasa panas mendidih, marah, cemburu, apapun itu rasanya kesal sekali, ingin aku rebut ponselnya dan baca chatnya, atau bahkan aku buang ponsel itu keluar jendela kalau memang chat sama cewek lain.
Aku benar-benar kesal hingga jam terakhir pelajaran, bahkan hingga jam pulang pun kak Willy masih saja senyum-senyum dengan chat ponselnya dan mengacuhkan aku, seolah aku tidak ada di dekatnya.
"Oke! Fine! Aku kembali tidak terlihat olehnya! Aku juga tidak akan melihatnya lagi! Dan sungguh-sungguh menjadi sangat tidak terlihat olehnya!"
Tekadku dalam hati karena sangat kesal padanya.
Aku pulang ke rumah bersama kak Robin dan Olin, sungguh iri dan menyebalkan melihat mereka berdua sepertinya tidak pernah bermasalah dalam hubungan mereka.
Aku langsung masuk ke dalam kamar dan seperti biasa, menyendiri. Itulah yang biasa kulakukan saat masih transparan di hadapan kak Willy, terlebih lagi sekarang Olin sahabatku selalu bersama kak Robin saat di rumahku. Ryan??? Tuh sahabat sekarang ini baru akan muncul saat tahu aku ada masalah aja! tapi kalau belum ada yang ngasih tau dia, pasti deh belum muncul! Jadilah aku sering seorang diri kalau masih berantem dengan kak Willy.
"Apa yang sedang kak Willy lakukan saat ini ya?"
Tanyaku dalam batinku sambil memejamkan mata berbaring di tempat tidurku.
"AAAARRRGGGHHHH...!!! Menyebalkan!!! Awas saja kalau ternyata dia malah pergi dengan cewek lain!"
Rutukku kesal sendiri dengan sikap kak Willy.
Aku menatap ponselku dan memainkannya, akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan chat padanya.
"Kak"
Tak ada balasan apapun hanya dibaca saja olehnya. Sungguh menyebalkan!
Aku menghela napas panjang
"Baiklah, aku harus sungguh menguatkan hatiku seperti kata mommy."
Batinku
******