Cathrine pergi sendirian ke rooftop sekolah untuk menenangkan dirinya. Ia tidak mau diajak ke kantin karena malas jika harus bertemu dengan Andrew. Dirinya belum bisa untuk bertemu, karena mungkin saja pertahanan Cathrine runtuh dan bisa menangis sejadi-jadinya. Cathrine langsung menjadi lemah jika sudah dihadapan Andrew, dan itu kenyataan.
Dibukanya pintu rooftop dan semilir angin langsung menerpa wajahnya. Ia sangat suka tempat ini, rooftop disini ada beberapa sekat dinding dan Cathrine berjalan ke tempat paling pojok, karena disana ada sofa yang biasa ia diduduki jika datang kesana.
Cathrine memasang earphone yang dibawanya dan mendengarkan lagu dari ponselnya dengan volume sangat keras. Ini adalah kebiasaannya jika sedang penat, ia akan mendengarkan music rock dengan volume full. Menurutnya itu akan membawanya nyaman. Memang aneh dan dapat membuat telinga rusak, tapi mau bagaimana lagi? Kenyamanan setai orang itu berbeda, bukan?
Saat sedang mendengarkan music sambil melamun, Cathrine melihat dua buah bayangan yang ada di sebelahnya. Posisi Cathrine cukup tertutup dengan sekat tembok, jadi dua orang itu tidak akan bisa melihat dan menyadari keberadaan Cathrine kecuali Cathrine sendiri yang memunculkan dirinya.
Cathrine mengernyitkan keningnya karena heran sejak kapan ada orang lain yang datang ke tempat ini. Setaunya, rooftop disini cukup terpencil dan tidak banyak siswa maupun siswi yang tau. Karena penasaran dengan siapa yang datang akhirnya Cathrine membuka earphonennya dan mendengarkan percakapan dua orang itu.
“Dele, kali ini kamu masa kapa lagi? Aku selalu suka sama masakan kamu, padahal kamu baru belajar tapi masakannya udah enak.”
Deg
Suara ini ….
Suara ini adalah suara yang sangat tidak ingin di dengarnya saat ini. Suara ini sangat dikenalinya, ii milik Andrew. Bagaimana bisa mereka berdua tau tempat ini? Cathrine yang awalnya pergi kesini untuk menghindari Andrew, malah tidak sengaja satu tempat dengan dua orang itu. Jika tau akan seperti ini, lebih baik ia ikut ke kantin bersama ketiga temannya daripada melihat dua orang itu bermesraan.
Cathrine hanya diam mendengarkan percakapan mereka yang penuh kasih sayang. Ia tidak berani keluar karena belum mampu bertemu dengan Andrew. Cathrine pasti akan langsung menangis dihadapannya, dan dirinya tidak mau terlihat lemah di depan dua orang itu. Tidak pernah, sekalipun tidak akan pernah. Itu menghancurkan harga diri Cathrine tentunya.
Yang bisa dilakukan Cathrine saat ini adalah diam sambil menahan tangisnya, berat memang, tapi ia harus bisa. Toh cepat atau lambat Andrew juga pasti akan meninggalkannya, jadi Cathrine harus mulai belajar terbiasa dengan hal ini dan mencoba untuk tidak sakit hati lalu melupakan Andrew sedikit demi sedikit.
Selagi dua orang itu bemesraan sambil suap-suapan, Cathrine hanya bisa diam dan mendengarkan kemesraan mereka yang tentu saja menyesakkan hatinya. Orang lain mana yang tahan melihat seseorang yang disayanginya itu bermesraan di depan mata kepalanya sendiri, begitupun juga dengan Cathrine. sebisa mungkin dirinya tahan, walaupun dari dalam hatinya sangat ingin berlari lalu menjambak dua orang yang ada di depannya sambil menangis tentunya.
Cathrine sendiri sebenarnya sakit, bahkan saat ini yang sangat ingin ia lakukan adalah keluar dari sana lalu melabrak serta memberi pelajaran pada dua orang itu. Tapi untuk apa? Itu hanya akan membuat harga dirinya jatuh, dan Cathrine sangat tidak ingin hal itu terjadi. Harga dirinya masih lebih tinggi daripada kelakuan busuk mereka berdua.
Setelah cukup lama Cathrine menunggu, akhirnya bel masuk akhirnya berbunyi. Kedua orang itu membereskan peralatan mereka lalu kembali ke kelas dengan terpisah agar para murid lain tidak mengetahui hubungan mereka. Karena jika para murid tau, mereka pasti akan lebih menyalahkan Adele karena merebut Andrew dari Cathrine. Dan Andrew tidak mau Adele disalahkan sehingga nantinya pasti Adele akan sedih.
Setelah memastikan Andrew dan Adele pergi, Cathrine akhirnya keluar dari tempatnya bersembunyi tadi. Lama-lama penat juga disana, apalagi hatinya panas melihat kedua orang itu bermesraan. Lengkap sudah kesialan serta pederitaan Cathrine hari ini.
“Dua kali aja gue nge-gab mereka berdua selingkuh tanpa ketahuan, kalo misalnya gue gab mereka lagi kayaknya gue bakal dapet piring cantik deh,” gerutu Cathrine lebih ke pada dirinya sendiri.
Cathrine menghela nafasnya, “Abis liat dua dedemit berasa pengen bolos aja rasanya,” ucap Cathrine lesu tapi tetap berjalan ke kelasnya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, waktunya sekolah Cathrine pulang. Seperti biasa Cathrine akan pergi ke kedai kopi yang ada di dekat sekolahnya. Kepalanya sedang penat, mungkin segelas vanilla latte dingin akan mengurangi kepenatannya. Yah, walaupun sebenarnya itu tidak terlalu berefek.
Cathrine duduk di salah satu meja dan menghadap jendela, kembali melamun lagi untuk yang ke sekian kalinya.
Tes
Air matanya menetes lagi disaat ia tengah melamun, “Demi kerang ajaib, lemah banget sih lo Cath, lo kan cuma diselingkuhin. Masih ada kok kisah yang lebih miris dari lo.” Cathrine menepuk pelan pipinya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Setelah kopinya habis, Cathrine segera pulang ke rumahnya. Ia langsung pergi ke kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di kasur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Ia benar-benar lelah hari ini. Akhirnya Cathrine memejamkan matanya lalu terlelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, Cathrine terbangun dengan masih mengenakan seragamnya. Ia bergegas bangun lalu membersihkan dirinya karena tubuhnya sudah tidak enak dan merasa kotor habis sekolah.
Cathrine mandi selama satu jam lebih karena melamun sambil berendam di bathup. Jari-jarinya bahkan sampai berkeriput karena terlalu lama terkena air dan sabun. Setelah mandi dan berpakaian, Cathrine menatap kosong pantulan dirinya di cermin. Tidak lupa air matanya yang menetes kembali saat mengingat kenangannya bersama Andrew.
Ayolah, tidak ada orang yang ingin hubungannya berakhir karena orang ketiga bukan? Sekuat apapun Cathrine, ia tetap rapuh jika sudah menyangkut masalah Andrew. Cathrine benar-benar sangat menyayangi Andrew. Andrew adalah semangat bagi Cathrine.
Berapa kalipun Cathrine menyemangati dirinya sendiri untuk melupakan Andrew, ia tetap tidak bisa, lebih tepatnya belum bisa. Hubungannya dan Andrew bukan waktu yang sebentar. Dan itu pasti sulit untuk melupakannya.
Cathrine berjalan menuju meja belajarnya lalu membuka lacinya. Ia mengambil sebuah berkas, “Kayaknya gue gak ada pilihan lain. Gue harus ambil keputusan ini.”
Cathrine bertekad untuk mengambil keputusan yang sangat besar. Ia berharap dengan keputusannya yang mendadak ini ia bisa melupakan Andrew, dan semoga ada kebahagiaan yang bisa didapatkannya. Tidak seperti sekarang ini, yang hanya membuatnya sakit. Bahkan yang membuatnya sakit adalah orang yang sangat disayaynginya.
“Semoga gue gak nyesel dengan jalan yang akan gue ambil ini.”