Shocked

1046 Kata
Hati Cathrine sakit mendengar ucapan Andrew, tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tau mereka sudah menjalin hubungan berapa lama. Tidakkah Adele tau diri? Mereka satu sekolah dan hampir semua orang tau jika Cathrine dan Andrew menjalin hubungan. Tapi diam-diam mereka malah berbuat seperti itu? Cathrine tidak berniat menghampiri mereka berdua. Ia hanya melihat mereka tanpa bergerak menghampiri mereka. Dirinya belum siap untuk mengampiri Andrew dan Adele, padahal merka yang melakukan hubungan terlarang tapi Cathrine yang tidak sanggup menghampiri mereka. Setelah hampir satu jam Andrew dan Adele disana, akhirnya mereka berdua meninggalkan kafe itu. Setelah mereka pergi, air mata Cathrine yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Cathrine menatap jendela sambil menangis dalam diam. Tidak ada isakan, jeritan, bahkan bersuarapun tidak. Ia hanya bisa diam membisu tapi air matanya tetap mengalir. Semuanya masih terasa seperti mimpi, padahal Andrew terlihat sangat menyayanginya. Tapi nyatanya semua itu hanya ilusi semata, atau jangan-jangan selama ini Andrew tidak pernah benar-benar menyayanginya? Entahlah, pikirannya sedang kacau. Ia tidak percaya denga napa yang dilihatnya hari ini. “Bisa-bisnya Andrew jalan sama yang lain. Pantesan aja dia yang biasanya gak bisa jauh dari gue tiba-tiba langsung ngerasa baik-baik aja gak hubungin gue berhari-hari. Berarti yang gue liat tadi tuh beneran mereka, ternyata mereka bohongin gue. Gak heran sih, mereka kan satu komplotan.” Cathrine tersenyum masam dengan air mata yang masih mengalir. Cathrine menghela nafasnya, “So, buat apa gue harus jalanin hubungan sama orang yang bahkan gak mau pertahanin hubungan ini? Yuk-yuk Cath, semangat!” Cathrine akhirnya pulang dengan lesu, memang ia ingin melupakan kejadian hari ini tapi rasanya sangat sulit. Terlebih Andrewlah yang selama ini selalu bersama Cathrine dan memberi support saat ia sedang down. Tapi saat ini orang yang paling dibutuhkannya sudah tidak ada lagi. Disentuhnya foto-foto polaroid bersama Andrew yang tergantung lucu di tali serta dihiasi dengan lampu-lampu kecil. Banyak foto mereka berdua dan juga bersama teman-teman mereka. Diambilnya foto-foto Cathrine dan Andrew lalu dibuang ke tempat sampah yang ada di sebelahnya. Cathrine menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Kenangan manis yang dialaminya bersama Andrew terlintas, dan seketika dihancurkan denga napa yang terjadi hari ini. Apa Cathrine masih kurang baik di mata Andrew? Apa Andrew selama ini hanya berpura-pura menyayanginya? Cathrine berdiri di depan meja riasnya. Ia mengambil gunting yang ada di dalam laci lalu memotong pendek rambutnya. Cathrine berharap masalahnya bisa ia lupakan seperti rambutnya yang telah dipotong, dan membuka lembaran baru di hidupnya. Disentuhnya rambut yang telah dipotong lalu bergumam, “Selamat tinggal, Andrew.” ***** Jam sudah menjukkan pukul 6.30 pagi, Cathrine sudah terbangun dan akan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Pikirannya masih melayang ke kejadian kemarin, mau sekuat apapun mencoba melupakannya, tetap saja terasa sulit. Hungan mereka juga berjalan sudah cukup lama, hampir empat tahun dan itu bukan waktu yang sebentar untuk dilupakan. Setelah bersiap-siap, akhirnya Cathrine berangkat mengendarai mini cooper kesayangannya. Ia berkendara dengan kecepatan sedang sampai sekolah. Sekolah Cathrine bisa dibilang sekolah elit, karena mengizinkan muridnya membawa mobil asal sudah memiliki SIM. Saat sudah sampai, Cathrine turun dari mobilnya dengan penampilan baru rambut pendeknya. Beberapa murid heran melihat Cathrine, karena sekalipun Cathrine tidak pernah berambut pendek, yah walaupun tidak bisa disangkal jika Cathrine terlihat manis dengan rambut barunya. Cathrine sudah sampai kelas dan menemukan Gaby yang sudah datang, dengan mulutnya yang terus mengunyah roti. Gaby terkejut melihat perubahan Cathrine yang bisa dibilang drastis menurutnya. Gaby menyentuh rambut pendek Cathrine, “Loh Cath, kok potong rambut sih? Tumben banget, lo kan gak pernah potong rambut sependek ini dari SMP.” “Iya Gab, Cuma pengen suasana baru aja. Sekalian buang sial.” Cathrine mengedikkan bahunya tak acuh. Gaby menghela nafasnya, “Yaudah suka-suka lo aja, cocok kok model rambutnya di lo walaupun agak berantakan potongannya. Ya maklum sih kalo model mah mau diapain juga tetep cantik.” Cathrine hanya tertawa mendengar ucapan Gaby. Sudahkah author menceritakan bahwa sebenarnya Cathrine adalah seorang model? Jika belum, maka author akan menceritakannya. Jadi sebenarnya Cathrine itu adalah seorang model yang bisa dibilang cukup terkenal. Berawal dari Cathrine yang mengunggah foto dirinya di sosial media karena iseng ikut give away. Cathrine mengunggah foto sambil memegang produk minuman, dan foto itu di repost oleh brand tersebut di sosial media. Jadilah banyak yang melihat Cathrine yang terlihat tidak kaku di depan kamera. Dan setelah itu Cathrine banyak mendapatkan endorse serta sudah menjadi model untuk beberapa brand ternama. “Ya mau gimana lagi coba, gue kan udah terlahir cantik gini. Susah Gab, mau diapain juga tetep aja cantik.” Gaby memutar bola matanya malas mendengar ucapan Cathrine yang sangat percaya diri itu. Yah, walaupun Gaby tidak bisa menyangkalnya karena itu adalah kenyataan. “LOH KOK KEKET GUE RAMBUTNYA ILANG? KENAWHY INI HEE?!” Teriakan cempreng ini milik Mega yang baru datang dengan Audry yang mengekor dibelakangnya sambil menenteng semangkuk seblak yang pastinya ia beli di depan sekolah. Cathrine meringis dan mengusap telinganya, “Suaranya bisa dikecilin gak sih, Meg? And Dry, lo makan gituan pagi-pagi? Seriously? Itu perut lo apa kabarnya coba?” “Gak papa sih Cath, kalo mules kan nanti gue jadi bisa buat alesan bolos. Sesimple itu loh.” Tuk Gaby melempar Audry dengan pulpen, untung saja pulpen itu tidak masuk di seblak milik Audry yang pastinya akan membuat perempuan itu histeris. “GABY KMVREDH! SEBLAK BERHARGA GUE NANTI TUMPAH!” See? Belum sempat tumpah saja sudah berisik, apalagi jika benar-benar tumpah? Mungkin Audry akan menghancurkan kelas itu. “Tumpah tinggal bersihin sih, gitu aja kok repot.” Gaby memutar bola matanya malas. Cathrine memanggil Mega untuk duduk di belakangnya, “Seru emang kalo dua manusia kadal ini berantem, tapi sayang banget kurang cola sama popcorn,” ucap Cathrine yang pastinya diiyakan oleh Mega karena setuju dengan hal itu. Fyi, dua orang ini adalah pecinta segala jenis keributan. Akhirnya Audry dan Gaby adu mulut sampai bel masuk dan berakhir dengan Audry yang tidak bisa memakan seblaknya. Tapi tidak, Audry pasti akan memakannya diam-diam saat jam pelajaran seperti yang biasanya dia lakukan. Sejenak Cathrine terdiam dan berterimakasih karena dirinya masih dikelilingi oleh sahabat yang selalu mendukungnya apapun jalan yang dirinya ambil. Akhirnya ia sedikit bisa melupakan kejadian kemarin jika sudah bersama teman-temannya ini, walaupun nantinya pasti akan teringat kembali. ‘Bener. Gue masih punya orang-orang yang sayang sama gue. Gue bersyukur punya kalian semua. Terimakasih.’ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN