bc

CUEK CUEK CINTA

book_age18+
277
IKUTI
1.8K
BACA
HE
heir/heiress
blue collar
kicking
like
intro-logo
Uraian

Khansa biasa dipanggil Cacha adalah seorang pengangguran yang baru saja dipecat dari pekerjaannya di stasiun tv swasta. Dia cantik tetapi memiliki tabiat jelek. Dia tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Suatu hari tanpa sengaja dia bertemu dengan Zayyan di klub malam dan menyaksikan sebuah kejadian yang seharusnya tidak ia lihat.

Zayyan merupakan Presdir Brave TV yang tersohor karena merupakan pria muda yang tampan dan putra tunggal dari mantan pejabat pemerintahan. Mereka berdua terpaksa membuat skenario one night stand untuk alibi mereka dari tuduhan pada mereka berdua.

“Jadimu maksudmu untuk kekasih palsu kamu tidak masalah harus gadis seperti aku?” tanya Cacha merasa minder.

“Tentu saja! Aku tidak mempermasalahkannya. Aku tidak butuh wanita yang sesuai dengan tipeku. Toh ini hanya pura-pura. Jadi tidak perlu melibatkan perasaan dan hati.”

Cacha terpaku dengan ucapan Zayyan barusan. Harusnya dia lega karena Zayyan memang hanya sepenuhnya ingin mengajaknya bekerja sama bukan untuk menjalankan hubungan asmara yang sesungguhnya.

“Baiklah!” jawab Cacha memutuskan.

“Bagus! Kalau begitu, ayo kita lakukan one night stand!”

Cacha melongo karena mendengar ucapan Zayyan yang membuatnya jantungan. Kenapa Zayyan bicara terang-terangan seperti itu.

Apa kamu gila???” teriak Cacha. Dia merasa dilecehkan oleh Zayyan. Setelah memintanya menjadi pacar palsu. Dia meminta untuk melakukan hal yang jelas-jelas di batas norma. Apa dia menilainya terlalu gampangan dan murah.

Desain cover : Rainygraphic

chap-preview
Pratinjau gratis
Dipecat
“Sumpah ya Bim, gue gak terima jika gue harus minta maaf sama orang yang jelas-jelas salah dan seorang koruptor!” seru Khansa Hansen alias Cacha mengadu pada Bimo. Dia adalah sahabat dekatnya yang juga seorang anggota polisi. Suaranya terdengar ricuh di balik pintu toilet. Saat ini dia sedang berada di gedung stasiun TV, tempatnya bekerja sebagai seorang pembawa acara berita. “Tapi Cha, daripada kamu nanti dapat masalah. Sebaiknya kamu minta maaf saja!” saran Bimo yang terdengar khawatir padanya. Bukan tanpa alasan, orang yang sedang dihadapi Cacha, bukan seorang biasa. Dia adalah seorang anggota dewan di gedung parlemen. “Enak aja, dia kok yang salah. Lagian nih ya, kalau dia gak siap diwawancarai. Seharusnya dia tidak menghina gue dengan kata-kata yang kasar!” Cacha tambah emosi karena Bima menyarankan sesuatu yang menurutnya tidak tepat. “Siapa juga yang tidak kesal kalau diberi pertanyaan yang menyudutkan dan memprovokasi? Bima terdengar menyalakan Cacha. “Emangnya pertanyaan gue ada yang salah? Secara kode etik jurnalis, aku sudah memenuhi semuanya. Tapi cara dia menyikapi pertanyaan gue, dia sangat arogan dan merendahkan gue. Gue gak maulah disebut jurnalis bodoh!” sahut Cacha makin kesal. Dia sampai lupa kalau saat ini dia sedang berada di toilet. Tentu saja suaranya akan menarik perhatian siapa saja yang kebetulan berada di situ. “Ya udah kalau memang lu rasa semuanya bener dan lu gak salah, Gue cuma nggak mau lu dapat masalah lebih rumit lagi.” “Selama gue tidak melakukan kesalahan. Gue gak akan minta maaf. Kalau pertanyaan gue itu menyinggung hatinya dan dia tidak suka, bagaimana letak kebebasan pers dan jurnalis kalau semuanya harus menjaga sikap untuk menggali informasi dan fakta!” Cacha tidak mau kalah berdebat. “Ya sudah, lagipula jika bos lu ingin lu minta maaf sama dia. Artinya bos lu juga takut sama dia!” Cacha menarik napas dalam-dalam jika sudah membahas bosnya. Lukman Bara, adalah pimpinan redaksi acara berita di Roar TV. Dia terkenal tegas dan dihormati seluruh tim redaksi. Nyali Cacha sedikit ciut ketika dia teringat kembali teguran Lukman padanya. Selama ini, Cacha tidak pernah melihat Lukman menegur dan memberikan peringatan keras pada anak buahnya secara berlebihan. Tapi beberapa jam sebelumnya, Lukman memanggilnya ke ruangannya. Dengan tatapan marah dan tegas, Lukman memintanya untuk segera minta maaf pada Arya Liupani. Bahkan Lukman tak segan melempar barang ke depannya. Sebelumnya Roar TV mengundang Arya Liupani untuk acara talk show mengenai isu yang tengah menjadi diperbincangkan di masyarakat. Cacha memang bertanya mengenai tentang hal yang bersifat pribadi. Cacha bertanya kenapa Arya sering jalan-jalan keluar negeri di saat semua sedang sibuk bekerja di gedung parlemen. Entah kenapa pertanyaan Cacha membuat Arya terlihat tidak senang. Arya malah membuat statement kalau Cacha adalah seorang jurnalis yang bodoh dan tidak memiliki kompeten di bidang penyiaran berita. Salahnya Cacha, waktu itu Cacha langsung menyerang balik dengan pernyataan lebih baik bodoh daripada memakan uang rakyat untuk berjalan-jalan keluar negeri. Tentu saja itu membuat Arya naik pitam dan meninggalkan tempat shooting yang sedang disiarkan secara langsung. “Cha!” Suara Bella tiba-tiba mengagetkannya. “Iya Bell!” “Kamu dipanggil sama Pak Dani sekarang juga!” Cacha langsung pucat ketika mendengar kalau dia dipanggil Pak Dani. Itu artinya kejadian tadi dengan Arya Liupani sudah sampai ke telinga Pak Dani. Pak Dani adalah CEO Roar TV. Kalau sudah sampai dipanggil Pak Dani, itu artinya masalah sudah menjadi serius. [Bim, gue dipanggil Pak Dani. Sial! Kayaknya gue bakal di SP3] Cacha mengirimkan pesan teks pada Bimo. Dia tahu kalau dia akan mendapat kabar buruk. Dan Cacha harus memberi tahu Bimo. Hanya Bimo, satu-satunya orang tempat dia berkeluh kesah. Cacha segera merapikan penampilan dan wajahnya agar tidak terlihat berantakan. Setelah dirasa oke, dia pun segera melenggang keluar toilet. Keluar toilet dia mendapatkan semua orang menatapnya dengan tatapan yang beragam. “Tenang! Gue gak takut. Meski gue bakal dipecat. Gue gak akan patah semangat. Memangnya stasiun TV cuma ini aja!” gumam Cacha sambil berjalan melewati beberapa tatapan iba padanya. Benar saja. Ternyata dia dipanggil ke ruangan CEO Roar TV hanya untuk menerima surat pemecatannya. Begitu surat itu dipegangnya, Cacha tersenyum kecut. Dia tahu kalau dia cuma korban dari orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Roar TV mungkin bukan stasiun TV berita yang netral. Buktinya, dia lebih mengutamakan martabat sang koruptor dibandingkan dengan martabat jurnalis yang menjungjung nilai kebenaran. Cacha hanya mengucapkan terima kasih dengan tatapan sinis. Entah berapa imbalan dari Arya untuk TV ini agar memecat dirinya. Cacha memang belum lama menekuni bidang ini. Dia baru tiga tahun bekerja di Roar TV sejak dia lulus dari kuliah broadcasting. Sebenarnya banyak sekali yang ingin Cacha katakan pada Dani. Tetapi dia pikir itu tidak akan berguna. Cacha melepas ID jurnalisnya dan meletakkannya dia atas meja Dani. “Sampaikan salam saya untuk Pak Arya. Katakan pada beliau. Meski beliau sudah mematahkan tangan dan kaki saya. Tapi saya masih punya mulut untuk menyuarakan kebenaran!” Setelah mengatakan itu. Cacha pun meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang sesak. Tetapi, dia tidak ingin menunjukkan di depan orang. Dia tidak ingin orang lain mengetahui kelemahannya. “Cha, yang tegar ya! Semoga lu segera dapat tempat yang baru dan sukses!” “Yoi, tenang saja. Selama tempat baru itu bukan kuburan. Gue akan sukses!” timpal Cacha penuh percaya diri. “Cha! Nanti di tempat lain, lu harus bisa bedain ya , mana yang boleh mana yang gak boleh!” Masih terdengar pesan-pesan rekan kerjanya yang sedang melepas kepergiannya. “Lu gak usah khawatir. Tentu saja gue masih bisa membedakan mana yang laki orang mana yang masih bujang!” jawab Cacha dengan nada bercanda. “Si Cacha kayaknya gak ada sedih-sedihnya dipecat!” celetuk salah satu dari mereka. Sikap Cacha yang terlihat tanpa beban padahal baru saja dipecat tentu saja membuat mereka heran. “Ngapain juga disedihin. Dunia masih luas dan lapangan pekerjaan banyak!” Cacha masih begitu percaya diri. “Good luck ya Cha!” Cacha tersenyum tipis dan datar. Dia segera merapikan mejanya dan membawa barang-barangnya di sana. Meski dia menunjukkan sikap biasa saja, tetapi sebenarnya dia punya sebuah kekhawatiran. Bagaimana dia mencari pekerjaan lain setelah dia berhenti di sini. Cacha menghentikan sebuah taksi sambil membawa kotak barang bawaannya. Hari ini mungkin bukan hari keberuntungannya. Dia sama sekali tidak punya bayangan harus bagaimana menjelaskan pemecatan dirinya kepada ibunya. Nada dering ponselnya menghentikan lamunannya. Cacha melihat nama Bimbim di layar ponselnya. Segera ia angkat. “Bim!” “Gue dipecaaatt! Huuuuuu!” Cacha mengadu pada Bimo sambil menangis. Entahlah, kenapa di depan Bimo Cacha tidak bisa tegar seperti tadi. “Lu di mana?” “Di jalan pulang. Gue naik taksi!” “Kalau begitu, bisa gak lu ke sini. Gue kebetulan baru beres kerja. Kita ketemuan di tempat biasa!” Cacha mengiyakan. Dia memang pintar menyembunyikan semuanya di depan orang lain. Tetapi, di depan Bimo, dia tidak bisa berpura-pura.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook