bc

ABELIA NARAYA

book_age18+
55
IKUTI
1K
BACA
dark
second chance
curse
bxg
bold
magical world
secrets
musclebear
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Abelia terbangun dan mendapati dirinya berada disuatu desa terpencil. Di sebuah rumah sederhana milik nenek Aminah. Wanita lansia yang terkadang bersikap misterius namun juga sangat perhatian. Disana nek Minah tak sendiri, ia bersama seorang gadis remaja bernama Nora yang merupakan cucu semata wayangnya.

Berbagai kejadian aneh pun ia alami. Mulai dari sikap penduduk desa yang terlihat tak terlalu menyukainya, sampai kebaikan yang menurutnya berlebihan dan membuat Abelia semakin dilanda rasa penasaran. Lalu sosok Arman yang cukup mengusik perhatian Abelia.

Apakah desa tersebut merupakan desa ghaib? Bagaimanakah kisah Abelia hingga berakhir di desa kecil tersebut? Siapakah sosok Arman sebenarnya? Kisah Abelia dimulai dari sebuah perjalanan reuni bersama para sahabatnya. Yuk simak kisahnya!!

Buku ber-genre horor mistis pertama yang author rilis. Semoga Berkenan di hati para pembaca.

Cover by Al

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Membawamu pulang
Note↪️🆕⤵️ Pentingnya untuk menyimpan buku ini di rak baca kalian untuk tetap terhubung setiap saat ketika bab baru di perbaharui. Novel ber-genre Horor mistis pertama, semoga bisa menghibur kalian semua. Selamat membaca Abel melirik Abraham dengan tatapan dalam, pria itu sedang memandang cakrawala dengan tatapan cemas. Kedua nya memikirkan hal yang sama, namun dengan cara pandang yang berbeda. "Ayo, pulang." Ajak Abel memecahkan keheningan. Abraham melirik sekilas kemudian kembali fokus pada apa yang lebih mengambil alih perhatian nya. "Kita harus tiba di perbatasan desa atau minimal bisa menemukan pos jaga sebelum fajar menyingsing." Kata Abel lagi mengingatkan. Abraham lagi lagi hanya melirik malas, seolah keluar dari hutan tersebut tak lagi menarik minat nya. "Apa menurutmu Alesha bahagia sekarang?" Tanya Abraham sambil menyorot langit malam yang di tutupi awan gelap tanpa satupun sinar bintang. Dari atas tebing bebatuan, ia dapat melihat jelas pemandangan mencekam di bawah sana. Rimbun nya pepohonan membuat apa yang tersembunyi di dalam belantara sana, menjadi sebuah misteri alam dan sang pencipta. "Aku tidak tahu, Bram. Tapi kita akan segera mengetahui nya nanti saat kita sudah bisa melangkah keluar dari dalam hutan ini, dan menemukan ujung desa terdekat" Jawab Abel tersirat makna ambigu. Pancaran redup dari kedua sorot matanya tak lagi sebening beberapa hari yang lalu. Abel tampak seperti manusia tanpa jiwa. Namun di balik itu, ada perhatian besar terhadap sang sahabat. Di raih nya tas ransel yang tadi teronggok di tanah dengan sekali tarikan. Ransel tersebut milik Andrean. "Mau aku bantu berdiri?" Tawar Abel mengulurkan tangan nya sembari tersenyum manis. Abraham dapat melihat jelas bekas tali yang mengikat kedua tangan Abel mulai membiru. Rasanya pasti menyakitkan. Abraham yakin itu. Tetapi semangat Abel untuk membawa mereka keluar dari lebat nya hutan, tak surut oleh rasa sakit dan lelah di tubuh nya yang ringkih menahan lapar juga haus. "Aku bisa melakukan nya Bel," tolak Abraham yang akhirnya beranjak dari tempat duduk nya. Abraham menilik barang yang Abel bawa lebih berat dari bawaan nya sendiri. Rasanya tak adil dan memalukan bagi nya sebagai seorang pria, membiarkan seorang wanita membawa beban lebih berat. "Berikan tas ransel milik Andrean padaku Bel," pinta Abraham menawarkan bantuan. Abel tersenyum simpul lalu menyerahkan Tas ransel milik Andrean. Salah satu teman seperjalanan mereka yang juga turut menjadi korban keganasan alam semesta. "Sayang tas milik Alesha tak sempat kita temukan. Padahal aku sangat ingin menyimpan beberapa barang barangnya sebagai kenang kenangan." Sesal Abraham membuat hati Abel mencelos perih. "Masih ada kenangan lain, bukan? Cintamu pada nya lebih dari cukup sebagai kenangan terindah dalam hidupmu. Jaga semua itu dalam hatimu untuk mengenang nya setiap saat." Komentar Abel menanggapi dengan kata kata yang bijak nan menyejukkan jiwa. Abraham mengangguk setuju. Cinta nya pada Alesha tetap akan ia jaga tak hanya sebagai kenangan terindah, namun juga untuk tetap menjadi abadi sampai selama nya. Perjalanan mereka masih panjang untuk mencapai perbatasan hutan yang entah berada di ujung mana. Abraham beberapa kali mengeluh akan medan perjalanan yang curam. Berbeda dengan Abelia yang terlihat lebih tenang meski diri nya sendiri sudah hampir tak sanggup untuk melangkah. ************ "Yakin rute ini benar?" "Aku tidak terlalu yakin, namun menilik dari barang terakhir yang kita temukan kemarin, aku yakin kita sudah berada di jalur yang tepat." "Aku harap juga demikian Har. Medan menuju ke jalur pencarian benar benar jalur terparah. Entah mengapa anak anak muda itu malah memilih jalur yang tidak ada dalam peta pendakian. Apa yang mereka pikirkan ketika melakukan kekonyolan mengancam jiwa mereka sendiri? Anak anak kota memang sulit untuk di atur. Padahal di pos sudah kami arahkan sedemikian rupa jalur mana saja yang boleh di lewati." Keluh seorang ranger tak habis pikir. "Sesuatu pasti terjadi, seperti yang sudah sudah bukan? Selalu ada hal mistis ikut andil dalam setiap pendakian. Tergantung dari iman masing masing." Komentar Anhar menanggapi. "Tingkah laku juga berpotensi menjadi penyebab kutukan alam semesta ikut bekerja. Anak anak itu pasti sudah melakukan hal hal yang tak seno noh di dalam hutan." Komentar Bagas menduga. Diskusi mereka di tutup oleh karena rasa lelah para ranger, juga beberapa tim SAR yang ikut melakukan pencarian. Salah satu dari anak muda yang mereka cari adalahv putra dari orang paling berkuasa di tanah air. Bukan putra seorang pre siden, tetapi kekuasaan keluarga nya mampu membeli satu negara. ********** "Aku capek Bel, istirahat sebentar ya..." keluh Abraham merengek seperti seorang wanita, padahal Abel tak mengeluhkan apapun sejak mereka mulai menuruni gunung. "Tas nya biar aku saja yang bawa Bram, kamu topangan sama aku saja. Sebentar lagi subuh, kita tidak akan sempat keluar dari sini bila beristirahat." Abraham mengesah panjang. Rasa lapar dan haus menjadi salah satu pemicu yang membuat Abraham kehilangan seluruh tenaga nya. "Sebentar saja Bel, aku sudah gak sanggup lagi melangkah." Mohon Abraham memelas. Mata nya sayu menahan kantuk dan lelah, tetapi Abel terus memaksa diri nya untuk tetap berjalan di dalam kegelapan malam. Alih alih menuruti, Abelia malah berjongkok di hadapan sang sahabat setelah memindahkan tas ransel ke depan. "Naik," "What? Gak Bel! Gi la saja, masa kamu yang gendong aku!" Tolak Abraham marah. Entah mengapa pria itu begitu marah padahal Abelia tak mengatakan apapun, yang membuat Abraham merasa tak berdaya sebagai seorang pria. "Aku hanya ingin membantu Bram, sebentar lagi subuh. Aku tak yakin bisa mengantar mu keluar hidup hidup dari sini bila kamu terus merengek seperti bayi!" Teriak Abelia putus asa. Frustasi akan sikap Abraham yang menyebalkan di tambah pria itu mengalami luka di kaki nya. Namun di balik semua kekhawatiran nya, Abelia lebih mencemaskan waktu yang terus berjalan tanpa memahami kondisi mereka yang sudah kelelahan. Tubuh wanita itu berguncang menahan tangis putus asa yang mendera diri nya. Abraham menatap nanar wanita yang telah bersusah payah untuk membawa nya pulang, namun diri nya malah sibuk mengeluh sepanjang perjalanan. "Aku bisa sendiri!" Ucap Abraham dingin. Tanpa mempedulikan Abelia yang masih terisak, Abraham melewati tubuh sang sahabat begitu saja. Terasa hawa dingin menyapu pipi nya, kala kulit mereka tak sengaja bersentuhan. Abraham meraba pipi nya yang juga terasa dingin, namun tak sebanding dengan suhu kulit Abelia yang sedingin es. Tak ingin ambil pusing, Abraham kembali melanjutkan langkah. Abelia memindahkan tas nya ke belakang lalu menyusul langkah Abraham perlahan. "Maaf Bram, aku tak ingin kamu berakhir di tempat ini seperti teman teman kita yang lain." Bisik Abelia berbicara pada diri nya sendiri. Di tatap nya punggung lebar Abraham dengan tatapan tak terbaca. ***************** Sedangkan di pos para ranger juga beberapa orang yang tergabung dalam tim SAR sudah bersiap. Beberapa orang adalah para petugas polisi hutan yang di kerahkan untuk membantu pencarian Abraham dan kawan kawan. "Apa gak terlalu pagi Gas? Ini baru pukul 4 subuh loh." Bisik Anhar sambil merapatkan jaketnya untuk menghalau rasa dingin yang menusuk tulang. "Para polisi hutan juga tim SAR mendapatkan perintah untuk melakukan pencarian sekarang sebelum fajar menyingsing. Aku juga keberatan tapi kita bisa apa Har. Manut aja, toh kita juga sudah di bayar mahal untuk melakukan pencarian menantang maut ini tanpa keluhan." Balas Bagas berbicara sepelan mungkin. Ia khawatir seseorang akan mendengar nya dan membuat mereka mengalami masalah. "Kalian ikut tim SAR sebagian, kita mencar jadi dua kelompok di dua rute pendakian. Nanti ketemu di jalur shelter untuk beristirahat sejenak. Pemuda pemudi itu harus di temukan sebelum matahari terbit." Perintah seorang polisi hutan dengan nada tegas. Tak lupa sang kepala polisi mengingatkan untuk mengingat kembali wajah Abraham, yang fotonya telah ia bagikan kepada seluruh tim penyelamat. Bagas melirik rekan nya yang juga sedang melirik ke arah nya dengan tatapan penuh kecemasan. Apa yang akan terjadi bila anak kota itu tak di temukan sebelum matahari terbit? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak kedua nya. Sepenting itu kah menemukan para anak kota itu sebelum fajar? siapa sebenar nya para pemuda-pemudi yang sedang mereka cari saat ini. Mendadak Anhar merasakan keganjilan yang mengusik pikiran nya. Jika kalian terhibur yuk kepoin bab 1-3 dengan pendapat terbaik kalian di kolom komentar. Semoga terhibur To be continued

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook