Sejak kejadian kemarin, Meida memutuskan untuk membawa Key kembali ke rumah.
Kejadian kemarin, membuat Meida yakin, jika Key sebenarnya baik-baik saja. Hasil MRI menunjukkan otaknya berfungsi dengan sempurna. Lalu, mengapa ia belum membuka mata sampai sekarang? Tentu saja itu, hal itu membuat Dena serta Aland bertanya-tanya. Tapi, tidak dengan Meida. Dia mengetahui penyebab— kenapa Key belum juga sadarkan diri.
Rumah yang terletak di pinggiran kota Birmingham tersebut, yang sebelumnya sepi, kini menjadi lebih sepi. Meskipun Aland serta Meida berada di rumah itu. Tapi, itu tak merubah situasi. Bahkan mampu membuat Dena yang energik menjadi murung.
Sejak semalam, Dena tak berhenti memikirkan apa yang telah terjadi kemarin. Matanya nyaris tak terpejam, sehingga lingkaran hitam menghiasi matanya. Untuk makan semangkuk bubur nasi yang dibuat oleh Razita sejak subuh saja, dia enggan. Hanya bermain dengan sendok peraknya. Setali tiga uang dengan Dena—Aland yang duduk di taman, tepat di bawah kamar Key pun, hanya memandang tangan kanannya yang halus sedari tadi. Aland berpikir, kejadian kemarin sangat tidak masuk akal. Pasti ada penjelasan logis, tentang tangannya yang seakan-akan bernyawa jahat dan berusaha untuk membunuh Tuannya sendiri. Ketidak percayaannya dengan makhluk lain, berawal dari dia berumur enam tahun.
**
Pada dasarnya, semua anak kecil bisa melihat makhluk tak kasat mata. Karena jiwa mereka masih sangat murni dan terbebas dari dosa dunia. Saat itu, Aland kecil sedang bermain di halaman rumahnya. Halaman rumahnya sangat kecil. Hanya di tumbuhi satu pohon lumayan besar. Seutas tali besar berwarna coklat muda yang melilit sebuah ban hitam besar dan tergantung di pohon, menjadi satu-satunya hiasan di halaman rumah itu. Dan, satu-satunya hiburan bagi Aland, jika telah mencapai titik jenuh dalam belajar.
Aland duduk di tengah-tengah lubang ban. Kedua tangannya menjaga keseimbangan dengan menggenggam masing-masing sisi dari ban. Dia mengayunkannya ke depan serta ke belakang. Dengan menikmati senja yang datang menghampiri. Udara yang sejuk, membuat hidung serta matanya mengkerut, merasakan angin yang menabrakkan diri padanya. Hal yang sesederhana itu, cukup membuat bibirnya melengkung bahagia. Namun saat ia mendongak, lengkungan di bibirnya hilang. Disertai dengan alis yang menjadi satu. Sosok Pyx yang menggantungkan diri, tepat di atasnya, berhasil membuat tubuh Aland gemetar.
Pyx itu memiliki wajah yang menyeramkan. Bagaimana tidak? Seluruh wajahnya hancur karena luka bakar. Mata yang tak memiliki kelopak pun memelototi Aland. Rambutnya tergerai panjang serta lusuh. Juga gaun putihnya yang sangat kotor. Bibir mungil Aland bergetar, seakan ingin berteriak, namun terlalu sulit. Dia terus menatap sosok pyx itu. Sampai pada akhirnya, ketakutannya pun memuncak. Saat Pyx membuka mulutnya lebar-lebar dan menjatuhkan diri ke arah Aland.
Aland segera berteriak sekencang mungkin. Cukup kencang untuk membuat ibunya, yang berada di halaman belakang bergegas berlari menghampiri Aland. Sementara Aland, telah berdiri menjauh dari pohon. Wajahnya memucat pasi. Tetap menatap pohon yang berdiri di depannya.
"Ada apa?" ibunya bertanya, dengan meremas bahu Aland.
"Ha-hantu.." ucapnya, menunjuk kearah pohon.
Ibu Aland menoleh ke arah pohon, lalu memejam serta mendesah kesal.
"Sudah ibu katakan! Tidak ada hantu atau iblis dan semacamnya! Kau hanya berhalusinasi! Otakmu tak bekerja sepenuhnya! Dan mengirimkan gambaran aneh pada penglihatan mu!" seru ibunya.
"Ta-tapi-"
"Bukankah kau seharusnya berada di kamarmu untuk belajar?"
"Aku hanya ingin menikmati sedikit udara."
"Tidak ada waktu untuk itu! Sebentar lagi akan mendekati kelulusan mu! Kau harus belajar!"
"Baik bu," jawabnya dengan nada murung.
Setiap dia melihat sosok pyx, ibunya selalu menjawab secara rasional dan ilmiah. Oleh karena itu, Aland tumbuh dengan memiliki pikiran yang rasional juga. Bagi ibunya, tidak ada waktu untuk bermain. Memang itu membuat dampak baik untuk hidup Aland. Dia menjadi cerdas serta dengan mudah untuk masuk ke Universitas manapun.Dan juga mendapatkan pekerjaan. Namun di sisi lain, dia menjadi penyendiri dan tidak memiliki teman.
Pyx sendiri adalah sebutan untuk kaum roh yang tersesat di dunia. Dan, tidak di terima keberadaannya di surga. Ada dua alasan mengapa pyx dapat berkeliaran di dunia manusia. Pertama, karena dia mati secara tidak wajar. Dan, kedua karena ia memiliki suatu tugas yang belum terselesaikan di masa hidupnya. Tak semua pyx memiliki wujud yang buruk. Jika ia mati karena telah membantu manusia lain, maka wujudnya tidak akan seburuk pyx yang matinya dengan cara terbunuh.
**
Meida sedang menaburkan garam di sekitar ranjang Key. Serta di jendela. Runcingan bawang putih tergantung di beberapa sudut kamar. Salib kecil serta kitab di letakkan tepat di atas kepala Key.
Meida duduk di kursi kecil samping ranjang, setelah melakukan semua hal itu. Menatap wajah Key yang cerah. Key, memang tak seperti orang yang sedang sakit. Wajahnya tak pucat. Dan juga bibirnya masih berwarna merah muda. Sekilas, jika orang melihat, dia tampak seperti orang yang sedang tertidur. Meida mengambil waslap kecil di sebuah mangkuk perak besar, yang terletak di meja sampingnya. Memeras airnya dan menggosokkannya perlahan di tangan Key. Setidaknya dengan cara seperti itu, dapat menjaga kebersihan kulitnya. Setelah selesai dengan itu, Meida sejenak terdiam dan mendesah lirih. Gelang Durvos yang melingkar di pergelangan tangannya pun ia lepaskan dan, di pakaikan nya pada cucu semata wayangnya itu.
Gelang itu, telah menemani dirinya selama lebih dari tujuh puluh tahun. Dia tak pernah melepaskannya, sekalipun saat ia mandi. Namun hari ini, dengan berbesar hati, ia memberikannya kepada Key. Gelang Durvos, bukan hanya sekadar gelang biasa pada umumnya. Gelang itu menyimpan kekuatan yang sangat besar dan dapat melindungi manusia dari serangan kaum morten. Dengan komposisi yang sangat unik. Sedikit air liur naga merah di campurkan dengan satu buah gigi elf yang telah dijadikan serbuk dan disempurnakan dengan potongan kayu dari pohon di hutan kematian.
Gelang Durvos hanya ada dua di dunia. Milik Meida, dan juga Dena. Dan itulah satu dari dua alasan, kenapa Dena selalu lolos dari amukan kaum morten.
Hingga buburnya menjadi ketat pun, Dena masih tak menyentuhnya sama sekali. Di detik selanjutnya, terdengar suara wanita berbisik, tak jauh dari tempatnya, saat ia masih merenungkan keadaan Key. Dena segera berdiri dan mencari dari manakah suara tersebut berasal. Dia menoleh ke kiri serta ke kanan, begitu tiba di ruang tengah. Lalu melihat sosok seperti manusia, sedang berjongkok di sudut ruang dan menghadap ke dinding. Perlahan dia melangkahkan kaki, ke arah sosok itu sembari memanggilnya. Namun, sosok itu, tak menoleh sedikit pun, serta terus bicara lirih secara cepat dan tidak jelas.
"Siapa kau.." panggil Dena seraya menepuk bahunya pelan.
Sosok itu menengok dengan cepat. Kedua matanya berwarna hitam legam. Bibirnya pucat seperti debu putih. Dena segera membelalakkan matanya, menatap sosok itu. Dan, berjalan mundur dengan gugup tapi cepat. Sosok itu bernafas dengan cepat. Dia menggeram.
"Quod Mulier Debet Mori!" ( Wanita itu harus mati!)" teriak sosok itu.
Kemudian ia merayap, menuju tembok paling atas. Dengan gerakan yang sangat cepat. Dan menoleh ke arah Dena, begitu tiba di dinding paling atas. Sosok itu berteriak sekencang mungkin, hingga terdengar melengking. Meida serta Aland yang terkejut mendengar itu, bergegas menuju ruang tengah.
"Dena! Apa yang terjadi?" teriak Meida dari lantai atas.
Tapi Dena tetap terperangah, menatap sosok tersebut, tengah menempel di tembok. Meida mengerutkan kening dan melihat ke arah kirinya.
"Tuhanku!" ucapnya, melebarkan mata.
Aland yang baru saja tiba, menunjukkan reaksi yang sama dengan Meida.
"Oh, s**t! Apa itu?" umpatnya, meremas kepala serta mendongak, menatap sosok itu.
"Dena! Dena! Makhluk apa itu? Iblis?" teriak Meida, yang akhirnya membuat Dena lepas dari ketegangan.
Dena menoleh ke arah Meida dengan gugup. "I-itu bukan iblis. Itu Razita."
Jawaban Dena tentu saja membuat mereka yang berada di tempat masing-masing, terkejut. Razita terus mengerang dan berteriak. Seperti anjing gila. Meida segera mengumpulkan kembali kesadarannya, dan bergegas ke kamar Key lalu mengambil kitab yang sebelumnya ia letakkan di atas kepala Key. Meida kembali ke ruang tengah dan mendekat di tempat Razita berada. Dia membolak-balikkan halaman kitab, mencari satu ayat yang akan di baca-nya. Melepaskan kalung salibnya dan mengarahkannya kepada Razita.
"Atas nama Bapa! Putra dan Roh Kudus! Atas nama penguasa seluruh bumi!" serunya. Kemudian menutup kitab.
"Cuius anime sine exceptionibus. (Jiwa tak bertuan, jiwa tak terkekang.)"
"Tabellarius de corporis malitiam.(Keluarlah dari raga pembawa kedengkian)"
"Frustra peribit de medio caliginis dominum.(Musnah dari kegelapan hati pemilik kesombongan)"
"Non possumus, ut non possit tangi.(Tak bisa menyentuh, tak bisa disentuh)"
"Dem ferro vinctus.(Kuberikan rantai besi panas)"
"Dedi domino capitali catena tenebrarum.(Kuberikan rantai maut sang pemilik kegelapan)"
Sejenak Meida terdiam. Lalu,
"SCRAM!! (Enyahlah!)"
Razita semakin berteriak kencang dan melompat ke arah Meida. Membuat Meida jatuh ke belakang, dengan Razita di atas tubuhnya. Meida memelototi-nya.
"Kau makhluk lemah! Kau terkutuk! Pergilah ke neraka!!" teriak Meida, menempelkan salib pada dahi Razita.
Membuat tubuh Razita bergetar hebat. Dan mulutnya terbuka lebar. Razita kembali berteriak. Dahinya mengeluarkan asap kecil, seakan kulitnya terbakar. Namun tidak, iblis di dalamnya yang justru terbakar. Setelah sepersekian detik Razita berteriak, dari punggungnya keluar asap hitam yang mengepul lalu memudar, menghilang.
Razita jatuh tepat di atas tubuh Meida, dengan mata tertutup. Dena dan Aland yang berdiri tak jauh dari situ, kemudian mendekat. Sementara suara terkesiap terdengar di dalam kamar Key. Cukup lirih, sehingga membuat mereka bertiga yang saat ini telah berada di kamar Razita—yang berada di bangunan lain, namun, tetap pada lingkungan rumah itu, tidak mendengarnya. Key terbangun. Dengan nafas tersengal, duduk di atas ranjang. Dia melihat sekitar, sesekali matanya mengedip.
"Dena! Dena! Dena!" dia berteriak memanggilnya.
Tentu saja Key tidak mengetahui, jika neneknya juga berada di sini. Kepalanya masih terasa sakit, sehingga ia harus sedikit menekannya dengan jemari tangan kanannya. Dahinya berkerut ke tengah, ketika melihat sebuah gelang berwarna coklat hitam kayu, melingkar di tangannya.
"Durvos? Kenapa ada di tanganku? Ini milik nenek," katanya.
"Apa nenek ada di sini?"
Kemudian, ia beringsut turun dari ranjang. Lantas, berjalan keluar dari kamar. Rumahnya terlihat sangat sepi.
"Kemana mereka?" gumamnya.
Key terus berteriak memanggil Dena serta Aland. Tetap berjalan hingga ke halaman depan rumahnya, dengan bertelanjang kaki. Angin dingin menyapu gaun tidurnya yang berwarna putih tulang. Dia merinding, mengusap kedua lengannya berulang.
"Kenapa cuacanya menjadi sedingin ini?" katanya, menapaki jalan dengan bercetak batu kecil yang bersemen, berukuran tidak teratur, namun rapi, terbentang cukup panjang ke depan.
Saat ini, cuaca memang sedang tidak bersahabat. Langit yang seharusnya cerah pada siang itu, berwarna abu-abu. Petir menggelegar, mengejutkan Key. Seakan badai akan datang menghampiri kota Birmingham. Di ujung lain, seorang pria mengenakan jubah hitam, juga menapaki jalan yang sama dengan Key. Dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di punggung. Rambut emas panjang milik Key, tersebar ke segala arah. Dan itu mengganggu pandangannya. Dia pun mengutuk dalam hati, mengapa tak mengikat rambutnya. Key merapikan rambutnya dengan cara menautkan-nya di belakang telinga. Sehingga, ia dapat melihat seorang pria yang sedang berdiri beberapa meter di hadapannya. Key mengerutkan kening, menatap kedua mata pria itu yang berbeda warna. Sama halnya dengan Key, pria itu mengerutkan kening, tertegun melihat gadis cantik berdiri di hadapannya. Untuk sepersekian menit, mereka hanya membisu dan saling menatap.
Dengan tiba-tiba, mata biru samudra milik Key mengeluarkan sesuatu yang tak pernah muncul selama bertahun-tahun. Air mata. Jatuh lurus di pipi kanan key. Begitu juga dengan pria itu, satu tetes air mata keluar dari mata kanannya yang berwarna biru samudra. Dengan terheran-heran, pria itu mengusap air matanya menggunakan satu jari.
"Air mata?" kata pria itu dengan nada heran, menatap jari telunjuknya yang ujungnya sedikit basah.
"Apa ini?" kata Key, mengusap air matanya.
"Inikah─ air mata?"