Chapter 5

2487 Kata
Dia pun teringat perkataan Alder. "Air mata akan keluar dengan sendirinya, jika kau sedang merasakan kesedihan atau terluka parah. Bahkan ketika kau bahagia, air mata kan meluncur tanpa kita sadari." Hal itu membuat keduanya menjadi bingung dan bertanya-tanya. Pria berjubah hitam itu pun, perlahan mengayunkan kakinya mendekati Key. Key hanya diam, memperhatikannya. Tentu saja beberapa pertanyaan terbentuk di benaknya. Siapa dia? Kenapa dia berada di halamanku? Dan.. matanya sungguh aneh. Bagaimana bisa kedua matanya memiliki warna berbeda? Biru dan—hijau? "Key Addison.." ucap pria itu, tersenyum penuh misteri. "Kau mengenalku?" tanya Key, dengan dahi berkerut. "Tentu saja. Siapa yang tidak mengenalmu?" jawab pria itu. "Key Addison. Seorang gadis cantik yang tinggal di kota Birmingham. Hanya ditemani dengan pelayan." "Aku tidak terkejut. Itu sudah menjadi rahasia umum," jawab Key seraya mengangguk berulang. "Tapi—siapa kau? Kenapa kau berada di halaman rumahku?" "Alardo," kata pria itu, mengulurkan tangan. "Namaku Alardo." Dengan ragu, Key mengulurkan tangannya. Saat kulit putih mereka bersentuhan, tubuh Key terasa hangat dan otaknya memutar kembali beberapa potongan memori ketika ia masih kecil. "Nenek!" "Apa yang kau lakukan disini? Key! Cepat pergi!" "Tidak! Tidak!" "Kyaaaa!" Teriak Key. Key menutup mata erat. Mengerang dalam diam. Menahan rasa sakit pada kepalanya yang menyiksa. Dahi serta sudut matanya berkerut. Sementara, mata kanan Alardo yang berwarna sama dengan Key mengeluarkan cahaya biru yang berpendar terang. Dengan cepat ia melepaskan genggaman Alardo. "Apa itu?" kata Key. "Kau baik-baik saja?" tanya Alardo. "Tidak. Aku sedikit pusing," jawab Key seraya menggeleng. "Aku ingin kembali ke kamar." Key pun segera memutar badannya dan berjalan dengan perlahan, saat Alardo meniupkan udara dingin dari mulutnya ke arah Key. Sehingga, membuat Key tak sadarkan diri. ** Perlahan Key membuka mata. Sesekali berkedip. Key mengedarkan pandangan. Selimut emas yang tebal, menghangatkan tubuhnya. Dia mencoba bangkit, menekan-nekan kepalanya. Gaya kamar ini sungguh klasik. Ranjang yang sangat mewah.  tiang yang memiliki ukiran kuno dan dilapisi oleh emas. Serta kain putih tipis yang menjuntai indah di setiap tiangnya. Luas kamar ini hampir sama dengan ruang makan milik Key yang mampu menampung lebih dari 5 orang. Beberapa meter dari ranjang, terdapat sofa berwarna coklat kehitaman, di bagian sayap kanan ruangan. Cukup membuat Key tercengang serta mengerutkan dahi, melihat kamar ini. Dimana aku? pikirnya. "Kau sedang berada di dalam kamarku," jawab Alardo, seakan dapat membaca isi pikiran Key. Key menoleh ke arah suara yang terdengar di sebelah kiri tempat tidur. Alardo sedang duduk di kursi ayun, favoritnya. Di depan perapian yang lumayan besar. "Kenapa aku bisa di sini?" tanya Key, menginjakkan kakinya ke lantai, yang dimanjakan oleh sebuah karpet bludru yang sangat lembut. Key memutari ranjang, lalu berjalan ke arah Alardo. Alih-alih menjawab pertanyaan Key, justru Alardo lebih memilih memainkan gelas kaca yang berisi sedikit wine merah, lalu meneguknya. Dia terlihat seksi saat melakukan itu, melihat jakunnya bergerak ke atas dan ke bawah akan menciptakan pikiran e****s untuk siapapun yang melihatnya. Tentunya, itu tidak berpengaruh pada Key. Dengan tatapan sendu, dia melihat ke arah perapian. "Kau suka berburu?" katanya, menunjuk kepala rusa dengan tanduk yang sangat panjang dan bercabang, tertempel di atas perapian. "Iya." Jawaban singkat dari Alardo, membuat mata indah Key menatap Alardo dengan penuh rasa ingin tahu. Dan, membuat dahi Alardo mengerut ke atas. "Kau.. manusia?" Sejenak Alardo diam. Menatap Key. Dia berdiri dan meletakkan gelas pada meja kecil, di samping kursi ayun-nya. Kemudian, ia terkekeh dengan perlahan mengitari Key. Sesekali menyibakkan jubah hitamnya. "Jika aku bukan manusia?" "Sudah di pastikan kau mengajakku kemari untuk membunuhku, jika kau bukan manusia," jawab Key, dengan melirik Alardo, yang berjalan di belakangnya. Jawaban Key membuat tawa Alardo menggema. "Tidak mungkin aku akan membunuh gadis cantik sepertimu," bisik Alardo, mendekat pada Key. Menutup jarak di antara mereka. "Ehm. Jika seperti itu, untuk apa kau membawaku kemari Tuan Alardo yang tampan?" Key memutar tubuhnya. Mata mereka bertemu. "Tentu saja ingin lebih dekat denganmu puella decora (nona cantik)" "Kau.. bukan warga Inggris?" tnya Key. "Tapi.. namamu— memperjelas jika kau adalah warga Inggris. Yang meragukan adalah logat Italia-mu, yang sangat kental." Alardo terkekeh. Berjalan menjauh dari Key. "Selama aku berkelana sepanjang hidupku, aku sering berkunjung ke berbagai Negara. Namun, ada satu Negara yang membuat mataku berbinar-binar, menikmati setiap arsitektur bangunan di Negara Italia. Khususnya Roma. Bangunan Colloseum yang masih berdiri kokoh di antara reruntuhannya, membuat jantungku berdebar saat memandangnya. Kau tahu? Seperti sensasi sedang berciuman dengan kekasih kita hingga lemas. Aku suka mencium aroma darah-darah segar di pasirnya. Membuat gairahku bangkit. Dan juga Air mancur Trevi. Sungguh membuat mataku tak mampu berkedip melihat pesonanya." Setelah berbicara panjang lebar, Alardo kembali menghadap Key. Lalu, Alardo mendengus kecil. "Kau tak mengerti apa yang aku katakan, bukan?" Key menggeleng kencang, dan mengedipkan mata lucu. Membuat Alardo menyunggingkan senyum. "Tapi, sepertinya─aku pernah bermimpi tentang bangunan itu. Bangunan yang berbentuk Elips dengan setengah agak menjulang. Bangunan yang sangat indah memang, jika dilihat dari luar. Tapi—aku benci tempat itu. Banyak makhluk immortal di sana." "Bagaimana kau tahu?" tanya Alardo, seraya mengerutkan kening. "Sudah aku katakan─aku pernah memimpikannya." "Mustahil jika kau hanya bermimpi. Kau bisa merasakan aura di sana. Kau pasti pernah ke sana?" "Mana mungkin. Keluar rumah saja tidak pernah. Dan, ini pertama kalinya aku mengunjungi rumah seseorang," jelas Key. "Aku ingin pulang." "Ups.. Aku rasa, kau tidak bisa." "Kenapa? Kau menculik ku?" Alardo kembali tertawa. "Tidak adakah pemilihan kata yang lebih bagus? Bagaimana jika dikatakan─ aku telah menyelamatkanmu." "Menyelamatkanku? Dari apa?" "Belum saatnya kau tahu. Lebih baik kau membersihkan diri. Badanmu sangat bau. Aku akan mempersiapkan makan malam kita," jelas Alardo, membuka pintu yang gagangnya lagi-lagi berlapiskan emas, dan berjalan keluar. "Ah satu lagi, jika kau membutuhkan air, pakaian dan yang lain─meminta lah pada lemari yang berada di sudut ruangan," tambah Alardo, menyelusupkan kepalanya di antara pintu yang setengah terbuka. Key memiringkan kepala, alisnya bertemu. Sudah di pastikan dengan ekspresi seperti itu, Key tidak mengerti ucapan Alardo. Dia pun memutar kepala, melihat sekitar. Mencari lemari yang dimaksud oleh Alardo. Dua kelereng biru samudra-nya pun pun tertuju pada tirai tipis hitam yang berkibar indah. Tepat di samping ranjang, yang hanya terpisahkan oleh nakas panjang. Key bergerak perlahan menghampirinya. Saat tiba di depan tirai, ia segera menyibakkan-nya. Lemari cokelat kayu biasa, terlihat jelas di depannya. Dengan ukiran zaman kerajaan Romawi di dekat handle yang berbentuk cincin sedang berwarna emas. Dengan ragu, Key menggenggam handle dan sedikit menariknya. Pintu lemari perlahan terbuka disertai suara decitan. Saat pintu telah terbuka sebelah, Key hanya diam terperangah melihatnya. "Apa ini? Hanya beberapa pakaian yang tergantung. Lalu, dimana airnya?" ucapnya dengan nada heran. Dia pun membuka sebelah pintu yang masih tertutup. Dan tetap—hanya menemukan pakaian saja. Key pun mulai berpikir dan berusaha mengingat kata-kata Alardo tadi. "Jika kau membutuhkan air, pakaian dan yang lain─meminta lah pada lemari yang berada di sudut ruangan." Kata-kata Alardo menggema di benaknya. "Meminta?" kata Key, memiringkan kepala. Pintu lemari kembali ditutup olehnya. Sejenak ia terdiam, kemudian berdehem. "Berikan aku air!" Setelah mengucapkan kata itu dengan lantang, Key membuka pintu lemari. Namun tetap, yang dilihatnya hanya beberapa pakaian. Dia terlihat bodoh saat melakukan hal itu. Dan kembali menutup pintu. Lalu memikirkan mantra apa yang harus di ucapkan. Dua kali mencoba tetap gagal. Tiga kali. Empat kali. Dan untuk yang kelima dia tak ingin gegabah. Sorot matanya tertuju penuh pada ukiran zaman kerajaan Romawi. Sebuah kapal kayu lengkap dengan beberapa dayung yang berada di tengah-tengah padang pasir. Dengan beberapa awak kapal yang bertelanjang d**a dan hanya berbalutkan kain putih yang membentuk celana pendek khas di jamannya. Beberapa sedang beristirahat dengan bersandar pada kapal. Sedangkan beberapa lagi, menengadahkan tangannya serta berlutut. Seakan berdoa, meminta hujan. Key meletakkan telapak tangan tepat pada ukiran itu. Matanya terpejam. Angin lembut menerpa wajahnya, sehingga membuat rambutnya tergerai ke penjuru arah. "Fuoriuscita di gli occhi di vita sulla terra.(Tumpahkan mata kehidupan dimuka bumi)" "Fuoriuscita di gli occhi sul vecchio che lotta la vita di legno. (Tumpahkan mata kehidupan pada kayu tua yang meronta)" "Vecchi occhi non possono vedere. (Mata tua tak dapat melihatnya)" "I vecchi occhi possono sentire. (Mata tua bisa merasakannya)" "Fuoriuscita di.. Fuoriuscita di.. Fuoriuscita di.(tumpah... tumpah...tumpah..)" Dia mengucapkan mantra dengan berbisik. Lebih terdengar seperti desisan. Ukiran tersebut seakan hidup. Padang pasir itu tiba-tiba berubah menjadi lautan yang kaya akan air. Para awak telah berada di atas kapal, menggelayut indah mengikuti gerak kapal yang seakan menari di atas deburan ombak. Cahaya putih memancar dari sela-sela pintu lemari. Key membuka mata lalu perlahan membuka pintu. Cahaya-nya berpendar sangat terang. Sehingga menyilaukan matanya. Dia memalingkan wajah dan menyembunyikannya di balik telapak tangan. Melirik secara perlahan lalu melangkahkan kaki masuk. "Accoglienza, signorina. (Selamat datang, Nona)" Seorang gadis berkulit putih serta halus memberi sapaan hangat, begitu Key berada di dalam. Key yang sedikit terkejut, hanya menatap gadis itu seraya mengangguk. Tanpa berkata apapun, Key mengikuti langkah gadis itu. Sementara dua gadis lain sedang mempersiapkan perlengkapan Key untuk berendam. Para gadis itu sangat cantik layaknya bidadari. Hanya mengenakan kain putih yang dibalutkan pada tubuh mereka. Kau tahu? Seperti pakaian gadis romawi kuno. Gadis berambut pendek ikal sedang menaburkan bunga mawar merah di dalam bathup yang hampir mirip kolam berbentuk persegi serta terbuat dari bebatuan alami telah terisi oleh air. Sementara gadis berambut panjang sedang menata beberapa botol parfum berbentuk elegan di tepi bathup. Dan, gadis yang menyambut Key, membantu Key untuk menanggalkan bajunya. Berbeda dengan yang lain, gadis satu ini lebih memilih menggulung rambutnya sehingga leher panjang kurusnya terlihat jelas. Lekuk tubuh indah milik Key terlihat jelas. Membuat bunga mekar indah. Kupu-Kupu berwarna-warni menari indah di udara. Kumbang pun bernyanyi merdu. Kagum dengan keindahan lukisan nyata yang tersaji di hadapan mereka. Saat Key masuk ke dalam bathup dan mulai berendam, pancuran yang melekat di sisi kanan serta kiri dinding bathup berbentuk kepala singa yang menganga, menyemburkan air sehingga menimbulkan sedikit gelombang kecil. Key mengedarkan pandangan seraya menenggelamkan perlahan tubuhnya. Gaya bangunan yang sangat tua sekali untuk kamar mandi di jaman sekarang, pikirnya. Dinding yang mengelilingi ruangan tersebut, hampir seluruhnya dipenuhi dengan ukiran jaman romawi. Seperti mengajak kita melihat keindahan Negara Italia dengan visual nyata. Gadis berambut panjang pun menuangkan sedikit demi sedikit cairan berwarna merah dari botol parfum ke dalam bathup. Bau wangi yang lembut pun menyeruak, memenuhi ruangan. Key semakin menenggelamkan diri, hingga tak terlihat di permukaan. Selama sepersekian detik dia dalam posisi itu. Lalu dia berdiri dengan anggun, dan menyentakkan kepalanya ke belakang sehingga rambut emas yang telah basah tergerai indah di udara. ** Alardo sedang menunggu Key di ruang makan. Duduk di kursi berwarna hitam dengan tangan bertumpu pada meja makan yang berbentuk persegi panjang, yang memang sangat panjang. Kalkun, salad, anggur serta hidangan yang lain telah tertata rapi di atas piring perak. Tempat lilin yang berlapis emas serta bercabang lima pun menghiasi meja. Sepersekian menit kemudian, Key datang dengan mengenakan gaun berwarna merah tua yang memiliki lengan panjang dan bagian bawah yang mengembang. Kedua kaki Key pun dapat bersembunyi di balik gaun tersebut. Saat berjalan ia harus mengangkat sedikit gaunnya. Rambutnya dibiarkan terurai. Membuat dirinya semakin terlihat cantik dan anggun. Bahkan Alardo tertegun memandang Key. Nyaris tak berkedip. "Sampai kapan aku akan berdiri?" tanya key, berdiri di samping meja. Alardo membuyarkan lamunannya lalu tersenyum samar. "Apa harus menunggu perintahku—hanya untuk duduk?" "Aku hanya ingin menunjukkan etika-ku saat bertamu." "Kau pandai sekali memilih kata," jawab Alardo, diselingi tawa renyah. Tapi meskipun Alardo tersenyum atau bahkan tertawa, dia tetap terlihat dingin dan sedikit menyeramkan. Mereka berdua pun menikmati makan malam dalam keheningan. Hanya dentingan sendok ketika bersentuhan dengan piring yang menggema di ruangan tersebut. Seorang pelayan pria menuangkan wine merah pada gelas Key, lalu mengambil piring Key yang telah kosong. Sejenak Key menatap gelas yang setengah telah terisi wine, lalu beralih pada Alardo yang berada di ujung lain. "Aku tak minum alkohol. Nenekku akan marah besar, jika mengetahuinya." "Kau sudah 21 tahun." "Tapi tetap saja, aku tak ingin minum ini." Alardo menyunggingkan senyum. "Rasakan setetes dulu." Selama beberapa menit, Key diliputi keraguan. Menatap gelas tersebut. Warna merah yang cerah pada wine memang sangat terlihat segar, membuat Key menelan ludah sejak tadi. Seakan wine tersebut berbisik padanya agar mencicipi rasanya. Dia pun perlahan mengangkat gelas tersebut, menggoyangkannya sedikit lalu mencium baunya. Menjulurkan lidahnya, dan seketika mengerutkan hidung. "Pahit!" desahnya. "Tapi-" Bola matanya berputar, mengecap lidahnya berulang kali. Seperti bayi yang baru merasakan bubur instan. "Kenapa aku merasakan manis setelah pahit?" tanya Key dengan nada heran, menatap Alardo. "Itulah nikmatnya wine. Berbeda dari minuman alkohol yang lain. Dari anggur pilihan yang di fermentasi. Lalu disimpan dalam gudang bawah tanah selama bertahun-tahun. Memang pahit. Namun sensasi nikmatnya ada di akhir rasa," jelas Alardo seraya berjalan mendekati Key. Anggukan Key menjawab penjelasan Alardo, sebelum akhirnya ia meneguk habis Wine miliknya. "Aku telah menghabiskan makanan dan minumanku. Izinkan aku pulang sekarang." "Hmm.. bagaimana jika kita bermain?" "Bermain? Permainan apa?" "Monopoli." "Kau masih anak-anak? Itu permainan anak kecil." "Kau akan menarik kata-katamu setelah melihat permainan ini," pungkas Alardo dengan menarik sudut bibirnya ke atas. Tanpa basa-basi lagi, mereka berjalan pergi dari ruang makan. Key mengikuti Alardo dari belakang. Hanya terus berjalan, selama beberapa menit, di lorong yang hanya diterangi lilin yang terpasang di tembok pada sisi kanan serta kiri. Key menatap tangan Alardo yang saling bertautan di belakang punggung. "Berapa umurmu?" "Mengapa?" ucap Alardo, terus berjalan. "Gaya berjalan mu seperti orang tua. Membosankan." Alardo mendengus. "Kau akan terkejut jika tahu berapa umurku." Key hanya diam mendengar jawaban dari Alardo. Dia terlihat lelah, hingga sering sekali mendesah kesal. Mungkin sudah hampir dua puluh menit mereka terus berjalan. Tak ada suara apapun, kecuali suara langkah kaki mereka yang menggema. Tidak ada siapapun, kecuali mereka berdua. Saat Key mendesah sangat panjang, Alardo pun menghentikan langkah. "Kali ini perhatikan langkahku," ucap Alardo, sedikit menengok pada Key. Tentu kata-katanya membuat kerutan di dahi Key terlihat jelas. Dan Alardo kembali berjalan. Saat kaki kanannya melangkah, sebuah cahaya berpendar terang dari lantai. Dan membentuk sebuah anak tangga. Key yang melihatnya terbelalak. Rasa tak percaya bercampur kagum saat melihat hal itu. "Kau harus cepat mengikuti langkahku. Jika tidak— kau akan tersesat." Key tak berkomentar. Terus memandangi kaki Alardo. Saat Alardo melangkah, dia segera menapakkan kakinya pada anak tangga tersebut. Cahaya kembali berpendar dan anak tangga pun terbentuk di langkah kedua Alardo. Lagi. Dia melangkah kembali dan hal itu terjadi kembali. Key pun dengan langkah cepat menginjak anak tangga kedua. Sejenak ia menengok ke belakang. Anak tangga yang sebelumnya pun menghilang saat Key tak menginjaknya. Itulah alasan Alardo, memperingatkan ia untuk mengikuti langkah kakinya. Begitu seterusnya, hingga berjumlah dua belas anak tangga yang mereka pijak. Saat anak tangga terakhir, tepat di depan mereka, kembali sebuah cahaya putih berpendar hebat sehingga menerangi sekeliling. Cahaya tersebut pun membentuk sebuah pintu berwarna hitam dengan handle bulat emas. Alardo segera memutar handle dan masuk ke dalam. Key mengikutinya. Dan lagi, sebuah ruangan yang sangat gelap, tanpa adanya penerangan sedikit pun. Pintu pun menghilang, saat Alardo menutupnya. "Dimana kita? Kenapa sangat gelap disini? Bukankah kau mengatakan jika kita akan bermain monopoli?" "Kita akan bermain disini." "Apa? Mana mungkin kita dapat bermain di tempat gelap seperti ini?" Alardo melirik Key seraya tersenyum miring. "Game—start."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN