Ruangan yang sebelumnya gelap—sekejap terang. Menyilaukan mata. Key mengerutkan matanya. Tembok-tembok batu bata yang terlihat lembab, muncul seketika.
Key dan Alardo berdiri di petak awal. Di mana pion di letakkan sebelum bergerak. Petak-petak lainnya juga terbentuk secara bergantian. Biasanya, tiap petak akan tertulis nama-nama Negaranya. Namun, berbeda dengan monopoli milik Alardo. Petak-petak itu menunjukkan sebuah ikon yang terkenal di setiap Negara.
Seperti halnya, ikon gunung Fuji untuk Negara Jepang—yang ada di petak nomor 4. Ikon Merlion ( sebuah patung gabungan ikan dan singa) untuk Negara Singapura. Ikon gedung opera untuk Australia. Dan, masih banyak lagi.
Mulut Key ternganga. Berdecak kagum, melihat itu semua.
"Wah, itu semua terlihat nyata."
Alardo mendengus. Dengan kedua tangan ada di belakang punggung.
"Memang, itu semua nyata."
Key menatap Alardo sekarang.
"Jadi, kita akan pergi ke Negara itu?"
"Yap. Jika, kau berhenti di petak Monumen Nasional ( Monas) maka, kau akan pergi ke Indonesia."
"Wow. Itu sangat keren. Menjelajah dunia, hanya dengan bermain seperti ini."
"Tapi, ini tidak semudah yang kau bayangkan, puella decora ( nona cantik )."
"Oh, percayalah—lebih sulit menjalani hidupku. Daripada permainan ini."
"Hmm.. aku tidak bisa membandingkannya. Karena, aku tidak tahu bagaimana hidupmu."
"Membosankan. Dan, mengerikan tentunya."
"Jadi, bagaimana cara kita bermain? Mana dadunya?" lanjut Key.
"Kau, tidak penasaran? Dengan petak hitam, yang ada di sudut itu?"
"Apa itu?"
"Itu petak tanda tanya."
"Maksudnya?"
"Karena, kita tidak tahu—akan pergi kemana, jika kita masuk ke dalam petak itu. Bisa saja, ke tempat yang sangat indah. Atau—tempat yang sangat mengerikan."
"Jadi, kita harus menghindari petak itu?"
"Sebisa mungkin."
"Baiklah."
"Kau sudah siap?"
Key menjawab dengan anggukan.
"Aku akan jalan lebih dulu," kata Alardo.
"Hei, kau tidak tahu istilah ladies first?"
Alardo menyunggingkan senyum. Di sertai dengusan.
"Kau, juga tahu istilah itu?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Kau main terlebih dulu."
"Okay."
Key menghembuskan nafas. Dan—
"Bagaimana cara mainnya?"
"Haha. Karena itu, biarkan aku yang bermain terlebih dulu."
"Baiklah."
"Sungguh wanita yang unik."
"Gadis."
"Huh?"
"Aku masih gadis. Bukan wanita."
"Ya.. Ya.. Sama saja."
"Tidak sama. Sebutan wanita hanya untuk yang sudah menikah."
"Jadi, kau ingin berdebat? Tidak ingin main?"
Key hanya berdeham.
"PUTAR!" pekik Alardo.
Lubang hitam di tengah-tengah—tiba-tiba menjadi terang. Sebuah dadu biasa muncul, namun ukurannya separuh dari ukuran pintu pada umumnya. Berwarna emas. Dadu tersebut berputar. Hingga Alardo, mengucapkan kata,
"Prohibere ( Berhenti)"
Seketika dadu berhenti, di angka 5. Alardo menatap Key, dengan senyuman.
"Sampai bertemu nanti."
Tubuh Alardo bergeser. Tanpa, dia bergerak. Berhenti di petak nomor 5. Di mana ikon sebuah kuil atau candi yang di sebut Angkor Wat, menyala terang. Berwarna biru. Ikon Negara Kamboja.
Alardo segera tenggelam di dalamnya.
"Mmm.. apa sekarang giliran ku?" gumamnya.
Kemudian, menghadap dadu yang melayang, beberapa langkah di depannya.
"PUTAR!" pekik Key. Meniru Alardo tadi.
Tapi, dadu tidak bergerak. Key mengerutkan dahinya.
"Kenapa tidak bisa?"
"Kau, harus menungguku selesai bermain dulu," kata Alardo, dari petak nomor 5.
"Kau, sudah kembali?"
"Yeah. Aku sudah mengelilingi Kamboja. Ini oleh-oleh untukmu. Tangkap."
Alardo melemparkan sebuah benda ke arah Key, yang anehnya dapat di tangkap oleh Key dengan sempurna.
Key menatap tangannya yang memegang sebuah miniatur patung budha berwarna emas tua.
"Wah, ini indah sekali."
"Kau, selalu kagum dengan hal-hal sederhana, eh?"
"Karena, pertama kalinya."
"Huh?"
"Pertama kalinya, aku melihat semua ini."
Alardo tak berekspresi. Atau mungkin—ekspresi iba? Entahlah. Sulit di prediksi karena raut wajah dinginnya.
"Sekarang, giliran mu. Putar dadunya."
"Tapi, tunggu sebentar. Kenapa kau cepat sekali kembalinya?"
"Cepat? Tidak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di sana."
"Eh? Tak mungkin. Kau, hanya pergi beberapa detik saja."
"Ah, iya. Memang, ada perbedaan waktu dengan dunia ini."
"Dunia ini? Duniamu? Atau duniaku?"
"Sulit menjelaskannya. Lebih baik, kita bermain saja dulu."
Key mengangguk.
"PUTAR!"
Dadu pun berputar. Menunjukkan angka 4. Ikon gunung fuji pun menyala biru. Tubuh Key bergerak ke arah petak itu. Dan, tenggelam. Sekejap, dia berada di Negara Jepang. Berdiri di salah satu trotoar di sana—yang di padati oleh pejalan kaki.
Matanya berbinar melihat hingar-bingar itu. Gedung-gedung yang berhimpitan dan menjulang tinggi. Langit biru celah, nyaris tidak ada awan.
Key berjalan-jalan di sekitar. Sesekali, mendekati lapak pedagang yang ada di sebelah kanannya.
Seorang pedagang wanita, yang menjual takoyaki ( camilan khas Jepang berbentuk bulat, yang terbuat dari telur dan tepung. Biasanya, di isi oleh cumi atau pun gurita ) memberikan satu takoyaki yang di tusuk oleh tusuk gigi.
Key menggelengkan kepala. Namun, wanita paruh baya dengan mata sipitnya itu memaksanya. Hingga, akhirnya Key memakan takoyaki itu, dengan melebarkan mata. Takjub dengan rasa gurihnya, yang sangat lezat.
Setelahnya, ia kembali berjalan-jalan. Melihat semua yang ada di sekitar. Mengunjungi beberapa toko. Masuk ke dalam gedung bioskop. Menonton satu film. Semuanya di lakukan, tanpa dia harus mengeluarkan uang sepeser pun.
"Saatnya kau kembali," kata seorang nenek, penjual lonceng angin.
Key hanya menatap nenek yang keriput di wajahnya sangat terlihat itu. Punggungnya yang membungkuk. Mata sipit. Kulit putih.
"Ini untukmu."
Nenek itu memberikan lonceng angin berwarna merah. Dengan gambar kelopak bunga berwarna putih. Bentuknya seperti gelas wine yang terbalik, tanpa kaki.
Setelah menerima itu, Key tiba-tiba menghilang. Dan, muncul kembali di atas petak nomor 4.
"Bersenang-senang, eh?" tanya Alardo, yang berdiri di sampingnya.
Wajah sumringah Key, menjelaskan segalanya.
"Kau pasti menunggu lama?" tanya Key.
"Tidak. Kau pergi hanya beberapa detik."
"Ah, iya. Aku lupa."
"Sekarang, giliran ku," kata Alardo.
Kembali menyerukan kata "Putar". Dan, dadu menunjukkan angka 5. Di mana bukan ikon yang ada di situ. Melainkan pilihan kartu.
Alardo harus memilih 1 di antara 2 kartu yang melayang. Bisa jadi, itu akan menjadi kartu keberuntungan. Atau, malah kartu sial.
"KIRI," pekik Alardo.
Kartu dengan simbol tanduk kerbau di belakangnya, kemudian berputar dan terbuka. Kartu di sebelah kanan, menghilang. Sebuah kalimat muncul di atas kartu yang di pilih Alardo.
"Kembali ke awal," gumam Alardo. Membacanya. Lalu, mendesah kesal.
"Tidak beruntung, eh?" sindir Key.
"Jangan senang dulu. Belum tentu, kau tidak sial."
"Aku akan lebih beruntung darimu."
Setelah Alardo bergeser kembali ke petak awal—Key memutar dadu. Angka 6 muncul. Key bergeser. Berhenti di ikon menara CN. Menara tertinggi di dunia. Terletak di Negara Kanada.
Key tenggelam di dalam petak. Sepersekian detik kemudian, kembali muncul. Dengan membawa sebotol sirup mapel, yang bentuk botolnya menyerupai daun pohon mapel itu sendiri. Alardo kembali menyunggingkan senyum melihat kedua tangan Key, penuh dengan oleh-oleh dari beberapa Negara tersebut.
"Lemparkan barang-barang mu ke atas," kata Alardo.
"Huh? Kau ingin aku membuang ini semua? Tidak! Aku ingin membawanya pulang. Ini adalah kenangan terindahku."
"Aku hanya ingin menyimpannya."
"Menyimpan dengan cara melemparkan? Bagaimana caranya?"
"Kau terlalu banyak pertanyaan, Nona."
"Tapi, kata Dena semakin aku banyak mengajukan pertanyaan—itu semakin bagus."
"Yeah. Itu aspek yang berbeda. Turuti saja perkataan ku."
Key mendesah panjang. Melirik ke atas sejenak. Lalu, melemparkan barang-barangnya ke atas. Key tertegun melihatnya.
"Barang-barang ku— kemana?"
"Kau akan mendapatkannya, ketika kita selesai dengan permainan ini. Sekarang, putar lagi dadunya."
"Bukannya giliran mu?"
"Angka terakhirmu 6. Kau, mendapatkan kesempatan memutar dadu sekali lagi."
"Wah, menyenangkan," katanya.
"PUTAR!"
"Prohibere! ( Berhenti!)"
Dadu berhenti di angka 3. Key menatap petak kosong, yang akan menjadi tujuannya kali ini. Alardo lupa memberitahu— jika berpendar cahaya biru, maka Key akan tiba di tempat yang bagus. Namun, kali ini berpendar cahaya merah, dari petak kosong—atau yang di sebut petak tanda tanya. Yang berarti, Key akan masuk ke dalam dunia yang mengerikan. Alardo pun terbelalak.
"Sial!" gerutunya.
"Key! Melompat lah!"
Key menatap Alardo—di saat yang sama tubuh Key sudah terseret ke petak tersebut. Alardo segera menghilang. Dan, muncul di dekat Key, yang tubuhnya sudah tenggelam di dalam petak.
Key tiba di suatu tempat, yang tidak bisa di identifikasi. Aroma lembab bercampur anyir menyeruak seketika. Rasa dingin yang sulit di jelaskan, menyapa bulu-bulu halus di dinding kulit. Gelap. Hanya terdengar tetesan air, yang menggema.
Key mengedarkan pandangan. Kemudian, berjalan lurus.
"Tempat apa ini?"
"SIAPA KAU?! BERANINYA MASUK KE TEMPATKU TANPA PERMISI!"
Suara yang berat dan mampu membuat merinding, menggema seketika. Key menghentikan langkah. Melihat sebuah singgasana, agak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah tanduk besar, yang meliuk terlihat di kepala sang pemilik singgasana.
Saat ia membuka matanya yang merah—Key terbelalak. Wajahnya hampir mirip dengan Alardo. Hanya saja, dia agak tua. Rambut emas panjang. Wajah tirus. Dan, pucat.
Dia menyeringai melihat Key.
"Kau—seorang immora ternyata."
"Kau—makhluk apa kau sebenarnya? Matamu merah. Memiliki tanduk. Jelas, kau bukan manusia."
"Aku? Aku adalah Raja di sini."
"Raja? Di tempat aneh seperti ini?"
Sosok yang menyebut dirinya raja itu tertawa, Seketika meruntuhkan sedikit dinding-dinding yang dilapisi dengan tanah dan bebatuan itu.
Sosok itu menghirup udara dengan perasaan lega.
"Bau tubuhmu.. wangi sekali."
Key segera mengendus lipatan lengannya.
"Tidak sewangi itu."
"Tidak. Benar-benar wangi. Rasanya—aku ingin kau sebagai makan malam mu."
"Oh.. kau makhluk yang jahat rupanya."
"Exsurge immundus pulvis! ( Bangkitlah, para debu haram!)"
Setelah pekikan nya menggema, suara retakan dari dinding-dinding terdengar. Gemerisik dari pasir yang bergesekan juga terdengar. Sebuah makhluk terbentuk seketika. Seluruh tubuhnya adalah debu pasir. Matanya hijau lumut. Jarinya sangat panjang dan runcing. Dan, hanya ada 3. Tidak berambut. Pun, tidak memiliki telinga.
Makhluk itu merayap di dinding. Menengok pada Key. Membuka mulutnya. Sehingga, dagunya meruncing ke bawah. Teriakannya melengking. Memekakkan telinga.
Di detik selanjutnya, makhluk serupa juga terbentuk. Merayap di dinding. Satu. Dua. Tiga. Belasan makhluk yang sama muncul. Memenuhi semua sisi dinding, yang gelap itu.
"IMPETUM!! ( SERANG!!)"
Titah dari sang Raja, membuat para makhluk bergerak. Melompat bersamaan ke arah Key, yang hanya bisa menatap mereka.
Dari arah belakang Key, sebuah gumpalan asap hitam terbang melesat cepat, mendekati Key. Dan, berubah menjadi Alardo.
"Key.. tutup matamu sejenak."
Key segera menutup matanya. Alardo memeluk Key, dari samping. Dan, membungkus tubuh Key dengan jubah hitamnya. Lantas, kembali menjadi gumpalan asap hitam. Dan, melesat pergi.
Sang Raja geram. Rahangnya bergetar menahan amarah.
"VANDEMOOOON!" pekiknya.
Membuat makhluk yang di ciptakan nya tadi, hancur seketika.
**
Key membuka matanya lebar-lebar. Dengan tarikan napas yang sangat dalam. Ia bangun. Dan, duduk. Mengedarkan pandangan. Key kembali di kamar Alardo.
"Kenapa aku di sini lagi?"
"Tidurmu lama sekali," cetus Alardo.
"Apa—yang tadi hanya mimpi?"
"Kau mimpi buruk?" tanya Alardo, yang memutar gelas wine-nya.
Duduk di dekat perapian. Dengan menyilangkan kaki.
"Tidak. Aku yakin, itu bukan mimpi."
"Bukan mimpi?"
Key menyibak selimut beludru hitam. Dan, turun dari ranjang. Mengepalkan tangan. Membukanya lagi. Sembari menatap lamat-lamat, telapak tangannya.
"Tapi.. itu semua terasa nyata."
"Kau yakin? Itu nyata?"
"Kita—sudah melewati makan malam, kan?"
"Yap. Kau mencoba wine untuk pertama kali."
"Lalu, kau mengajakku bermain monopoli?"
Alardo mengangguk. Meletakkan gelasnya, di meja kecil. Sebelah kursi goyangnya. Kemudian, berdiri. Seperti biasanya, kedua tangannya berada di belakang punggung. Melangkah perlahan, mendekati Key.
"Yap. Kau pergi ke Jepang dan Kanada. Buah tanganmu, masih aku simpan. Tenang saja. Sekarang, sudah larut malam. Lebih baik, kau tidur. Besok.. akan aku kembalikan kau ke duniamu."
Alardo berjalan perlahan ke arah pintu.
"Tunggu.. ada satu hal lagi yang belum kau katakan."
Langkah Alardo berhenti. Membalik badan. Menghadap Key, yang berdiri di sebelah ranjang.
"Ada yang kau ingat lagi?"
"Petak tanda tanya. Bukankah, aku tadi masuk ke dalamnya?"
Alardo mengernyitkan dahi.
"Lalu?"
"Aku berada di sebuah tempat yang gelap. Beraroma lembab."
"Lalu?"
"Ada sebuah singgasana hitam. Dengan makhluk bertanduk besar. Wajahnya seperti orang sakit. Tapi, kedua matanya merah."
"Kau.. mengingat kejadian itu?"
Key mengangguk.
"Juga, makhluk pasir itu.."
"Polvera."
"Huh?"
"Sebutan untuk makhluk pasir katamu itu."
"Jadi, kau juga tahu? Kau, benar-benar datang menyelamatkanku?"
Alardo menghela napas singkat.
"Padahal, aku sudah menghapus ingatanmu tentang itu."
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin kau mengingat hal buruk itu."
"Oh, jangan khawatir. Aku sudah biasa melihat seperti itu."
"Lantas, kau juga mengenal makhluk bertanduk itu? Dia menyerukan namamu ketika kita pergi," lanjut Key.
"Kau mendengar itu?"
Key mengangguk. Alardo mendesah berat.
"Dia memanggilmu Vandemon. Itu.. nama aslimu?"
"Sepertinya, kepulangan mu tidak bisa di tunda. Kau harus kembali malam ini."
"Kenapa? Karena, aku mengingat hal itu? Atau—karena makhluk itu ingin memangsa ku?"
"Dia—mengatakan itu?"
"Aroma tubuhku wangi katanya."
"Kau, tahu apa maksud dari itu semua?"
"Aku dalam bahaya?"
Alardo berjalan cepat, mendekati Key.
"Kita harus pergi dari sini."
Pintu terbuka dengan kasar kemudian.
"Gadis itu, tak akan pergi kemana-mana, Vandemon."
Bola mata Alardo membeku, mendengar suara itu. Ia membalik badan.
"Ayah.."