Chapter 7

1981 Kata
Makhluk bertanduk yang dilihat Key tadi tiba-tiba muncul. Dan, di panggil Ayah oleh Alardo. Matanya kini berganti biru cemerlang. Tak lagi merah delima. "Makhluk itu—Ayahmu?" "Untuk apa Ayah kemari?" Alardo menggenggam erat tangan Key. Menariknya perlahan. Agar bersembunyi di balik punggungnya. "Well, karena di sini ada makan malam ku, yang kau sembunyikan," jawab makhluk itu, dengan nada angkuh. Berjalan kesana kemari. Sama dengan gaya Alardo. Kedua tangan di sembunyikan di belakang punggung. "Dia persis sepertimu," bisik Key. "Pakaian kita berbeda. Dia terlalu kuno," jawab Alardo, turut berbisik. "Hanya berbeda warna." Alardo dan Ayahnya mengenakan pakaian tradisional Inggris. Warna baju Alardo adalah serba hitam. Dengan jas yang memiliki banyak kancing di setiap sisinya. Kemeja putih di dalamnya. Dengan pita merah di leher. Celana hitam selutut. Dan, kaus kaki hitam, bersama sepatu brogue. Berwarna cokelat kayu mengkilap. Berbeda dengan Ayahnya, yang memakai jas berwarna merah darah—kerah berdiri. Dengan banyak kancing, di setiap sisinya. Vest rompi dengan banyak kancing di tengahnya. Berwarna hitam. Celana hitam, di selaraskan dengan sepatu wellington hitam. "Jadi, bagaimana bisa kaum immora (Manusia cenayang) datang kemari?" "Kau, yang mengajaknya kemari, Vandemon?" "Apa pertanyaan itu harus di jawab?" "Tentu saja. Kecuali, kau ingin aku bertanya langsung padanya. Bolehkah, aku mendekatinya?" "Aku rasa tidak. Kau, tetap saja di situ." "Tapi, aku rasa—kita butuh perkenalan." "Hai, puella decora ( Nona cantik)." "Lihat, cara menyapanya juga sepertimu," bisik Key. Alardo hanya berdeham. "Siapa namamu?" tanya Ayah Alardo. Key berdeham, sebelum menjawab. Tetap di balik punggung Alardo. "Key. Key Addison." "Key—Addison.. sepertinya, aku pernah mendengar nama itu." "Ah, nama itu banyak di gunakan. Jadi, wajar kau pernah mendengarnya," sahut Alardo. "Hmm. Baiklah. Perkenalkan—Aku adalah Raja Kegelapan—Hevan Duisternis. Panggil saja, aku Raja Duis." "Aku rasa, tidak perlu menyebutkan nama panggilan. Kalian tidak akan sedekat itu," sahut Alardo kembali. Raja Duis menyunggingkan senyum. "Baru pertama kalinya, Vandemon mengajak seorang gadis ke rumahnya. Hidup ratusan tahun—aku kira, dia tertarik dengan kisah percintaan." "Karena, memang aku tidak tertarik pada awalnya. Semua berkatmu, yang sudah mengkhianati Ibu. Dan, menghabisinya." "Itu karena Ibumu tidak menurut padaku." "Itu karena kau terlalu serakah!" "VANDEMON!" "AKU LEBIH SUKA DI PANGGIL ALARDO! ALU BENCI NAMA ITU!" "Kau, berani membentak ku?!" Raja Duis menggeram kesal. "Pergi dari rumahku!" Raja Duis mendesah singkat. "Nona Key, berterima kasihlah pada kekasihmu. Berkatnya, nafsu makan ku menghilang." "Oh—apa itu sesuatu yang baik?" "Tentu saja. Kau masih bisa hidup untuk sementara waktu." "Kalau begitu, aku akan mencari mangsa lain." Raja Duis berbalik badan. Dan, sekejap berubah menjadi asap. Lantas, menembus pintu. Sementara Alardo, melepaskan genggamannya. Menghadap Key. Memegang kedua bahunya. "Kita harus segera keluar dari sini. Sebelum, dia sadar siapa kau sebenarnya." "Memangnya, aku siapa? Ayahmu—tadi menyebutku immora. Apa itu?" "Immora adalah manusia cenayang. Di mana, dia tak hanya sekadar bisa berkomunikasi dengan kaum kami. Tapi—juga bisa menghancurkan dunia kami." "Tapi, bagaimana bisa? Aku tidak memiliki kekuatan apapun." "Kau memilikinya. Hanya saja, kau tidak pernah menggunakannya. Atau lebih tepatnya, kau tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatanmu itu." "Lalu, kenapa kau mengajakku kemari? Jika, kau tahu aku berbahaya untuk kaum mu?" "Aku tidak pernah mengajakmu kemari, Key. Kau sendiri yang masuk ke dalam dunia kami." "Aku? Datang kemari?" "Kau, ingat saat kita bertemu di pasar tradisional?" Key mengangguk. "Kau sempat tertabrak mobil, kan? Saat itulah, jiwamu terjebak di sini." "Bagaimana bisa?" "Pintu ke verden morke saat itu terbuka. Dan, kau berada di ambang kematian. Namun, kekuatanmu menyelamatkanmu. Sehingga, dia mengirim jiwamu kemari." "Aku masih belum paham." "Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya, Key. Kita harus pergi ke pasar tradisional sekarang." "Di sini, juga ada tempat itu?" "Verden Morke sama dengan dunia manusia. Hanya saja, penghuninya yang berbeda." Alardo berjalan mendekati pintu. Menariknya ke dalam. "Ayo cepat," kata Alardo, menghadap Key. Namun, Key bergeming. Menatap lurus pada Alardo. Lebih tepatnya, menatap apa yang ada di belakang Alardo. "Kenapa kau diam? Cepat kemari! Sebelum, Ayahku kembali lagi." Key mengangkat tangannya perlahan. Telunjuknya mengarah pada belakang Alardo. Kernyitan di dahi Alardo menghilang. Ia tertegun. Dengan dua bola mata yang membeku. Menyadari sesuatu yang di lihat oleh Key. Alardo menengok ke belakang. Di mana puluhan pengikut Raja Duis—ada di belakang rajanya. "Kau, pikir bisa mengelabui ku? Aku sudah hidup ribuan tahun, Vandemon." Mata Raja Duis berganti merah. Pun, para pengikutnya—kaum morten. Wajah mereka pucatnya. Jari-jari kurus. Dengan kuku memanjang, jika tengah marah. Seperti saat ini. "QUOD PUELLA OCCIDERE! ( Bunuh gadis itu!)" pekik Raja Duis. Puluhan morten itu mengaum mengerikan. Beberapa ada yang berlari. Beberapa ada yang merubah diri menjadi asap hitam. Alardo segera berlari. Dan, berteleportasi. Muncul di dekat Key. Menggenggam tangannya. Lalu, berubah menjadi asap hitam. Dan, melesat pergi. Sementara para morten terus mengejarnya. Kini mereka berada di langit. Hanya kepalanya saja yang berbentuk. Sisanya, masih menjadi asap. Pun, dengan Alardo. Sesekali, ia menengok ke belakang. Kilatan petir merah dari beberapa morten terus berusaha menyambar Alardo dan Key. Dengan cepat, Alardo berusaha menghindarinya. Namun, sayang—dengan membawa Key, keseimbangannya tidak stabil. Punggung Alardo terkena serangan dari morten, yang membuatnya jatuh menerjang tanah. Dengan memeluk Key, yang jatuh tepat di atas tubuhnya. "Ough!" erang Alardo. Key segera berguling ke samping. Dan, berdiri dengan terhuyung. "Kau, baik-baik saja?" tanya Alardo, yang ikut berdiri. "Lain kali, beritahu aku—jika, kau akan mengajakku terbang. Rasanya, kepalaku berputar." "Sama denganku. Kepalaku terasa pusing, tiap kali terbang," kata Alardo. "Ayo cepat kita cari tempat persembunyian," lanjut Alardo. Keduanya pun segera berlari. Hingga, sampai pada deretan rumah yang berukuran setengah dari kaki mereka. Key mengedarkan pandangan. Melihat bangunan rumah dengan atap berbentuk kerucut. "Tempat apa ini?" tanya Key. "Desa kurcaci." "Kurcaci?" "Iya. Manusia kerdil. Kau, tahu? Seperti gnome pada kebun?" "Patung hiasan kebun itu?" "Iya." "Apa mereka tidak berbahaya?" tanya Key. "Tidak. Mereka ramah. Kecuali-" Seorang kurcaci dengan jenggot hitam lebatnya, memicing tajam pada Alardo. Berdiri agak jauh dari tempat Alardo berdiri. Dengan membawa garpu tanaman. "ADA SEORANG MORTEN DI SINI!" pekiknya, dengan suara yang lucu. Sekejap para kurcaci pun berkumpul. Dengan membawa garpu tanaman. Maupun sekop. Menatap marah pada Alardo. Seorang kurcaci dengan jenggot putih panjangnya berkata, "Beraninya kau datang kemari seorang diri? Kau, ingin menyerahkan nyawamu pada kami?!" Alardo memiringkan kepala, mendekat pada Key. "Kecuali, pada kaum iblis sepertiku," bisik Alardo. "Mereka benci padamu?" tanya Key, yang ikut berbisik. "Ya. Karena, Ayah—Raja Duis memburu mereka, untuk di jadikan santapan." "Oh, itu mengerikan sekali." "Ya. Aku juga merasa begitu." "Jangan berbisik! Bicara saja yang lantang! Ada urusan apa kalian kemari?!" "Kami hanya sekadar lewat. Kami akan pergi ke pasar tradisional," jawab Alardo. "Kalian akan pergi ke dunia manusia? Setelah menghabisi keluarga kami—sekarang, kalian akan menghancurkan dunia manusia? Kalian, benar-benar menjijikkan!" "Kami hanya akan lewat. Jadi, cepat kalian menyingkir." "Tidak semudah itu. Ini adalah giliran kami untuk membalas dendam." Key melangkah maju. "Dengar, aku berbeda dengan dia," tunjuk nya ke arah Alardo. "Aku adalah manusia. Dan, aku terjebak di verden morke ini. Sekarang, aku ingin kembali ke rumah." "Bagaimana bisa kami mempercayaimu? Kaum mu sudah banyak membohongi kami! Anak dan istri kami harus mati di tangan kalian!" "Maafkan untuk itu. Tapi, aku harus benar-benar pergi. Aku sudah mulai mengantuk. Tubuhku rasanya lemas sekali." Alardo terbelalak. Melihat darah menetes dari ke tanah, dari punggung Key. "Key.. kau, baik-baik saja?" Key menengok pada Alardo. "Aku kedinginan." Wajah Key pucat. Di detik selanjutnya, dia jatuh pingsan. Alardo segera menghampirinya. Mengangkat setengah tubuh Key. Dan, meletakkan di pangkuannya. "Key.. bangunlah! Kau, baik-baik saja?" "Jangan berakting di sini! Cepat bangunkan dia!" "Dia benar-benar pingsan! Kau, tak lihat darahnya?!" Kurcaci itu melihat tetesan darah yang berwarna merah di tanah. "Darahnya berwarna merah. Sedangkan, darah kaum ku berwarna biru! Bantu gadis ini!" "Untuk apa kami membantu kalian?! Tidak ada untungnya buat kami!" "Tetua," panggil salah satu kurcaci tak berjenggot, pada kurcaci berjenggot putih panjang itu. "Kita bantu saja dia. Asal ada syaratnya." "Kita mengajukan syarat apa? Kaumnya sering membohongi kita." "Kau, tak lihat situasinya?" "Apa maksudmu?" "Dia—adalah Vandemon : Pangeran kegelapan. Untuk apa, dia kemari membawa seorang manusia. Dan, meminta bantuan pada kita." "Maksudmu—gadis itu adalah seseorang yang istimewa untuknya?" "Ya." "Tapi, bisa saja dia berpura-pura menjadi manusia. Untuk mengelabui kita." "Darah tidak dapat di manipulasi, Tetua. Dia sungguh manusia. Darahnya berwarna merah. Selain itu, aroma keduanya berbeda." Tetua kurcaci itu kembali memandang Alardo dan Key. "Kau, benar juga. Lalu, syarat apa yang kita ajukan?" Kurcaci tak berjenggot itu berbisik pada Tetuanya. "Kalian sudah selesai berdiskusi? Ayolah, dia sudah kehilangan banyak darah! Dia akan mati!" Tetua itu memicing tajam pada Alardo. Mengeratkan genggamannya pada gagang garpu tanaman, yang sejak tadi di bawanya. ** Pakaian Key terpaksa harus di robek, untuk mengobati luka di punggungnya. Beberapa kurcaci perempuan, menjahit luka yang agak panjang dan dalam di punggung Key. Lalu, mengganti pakaian Key, dengan kain hitam yang cukup untuk menutup buah dadanya. Juga, sebagian tubuhnya. "Lukamu, tak ingin di obati juga?" tanya salah satu kurcaci perempuan pada Alardo, yang duduk dengan sedikit membungkuk. Karena, rendahnya atap rumah kurcaci. "Tidak usah. Tidak terlalu sakit." "Kau, hanya mementingkan gadis itu. Lukamu sendiri cukup parah. Pakaianmu robek di bagian belakang," sahut kurcaci yang lain. Tanpa menjawab lagi, Alardo membiarkan para kurcaci menjahit lukanya. "Ini sangat menarik sekali," kata salah satu kurcaci dengan bibir merah padam. "Apanya?" tanya Alardo. "Lukamu—Dan, luka gadis itu sama persis. Panjangnya. Kedalaman lukanya. Letaknya, pun juga sama." Alardo mengernyitkan dahi. Menatap Key yang masih tak sadarkan diri. "Tak mungkin," gumamnya. "Aku akan menutup lukamu dengan daun madiera vine yang sudah di tumbuk. Agar jahitannya kering." "Oh, terima kasih. Kalian belajar dari mana cara menjahit luka itu?" tanya Alardo. "Setiap minggu, aku dan beberapa kurcaci yang lain pergi ke dunia manusia. Untuk mempelajari peradaban kehidupan mereka." "Wow, itu menarik sekali. Tapi, ngomong-ngomong—apa aku bisa meminjam pisau kalian sebentar." Kurcaci berbibir merah itu memberikan pisau kecil pada Alardo. Alardo menggeser tempat duduknya. Mendekati Key. Mendesah panjang kemudian. "Aku hanya ingin memastikan," kata Alardo. Kemudian, menyayat sedikit jari telunjuk kirinya. Darah biru kental muncul di permukaan kulit. Alardo segera memeriksa jari telunjuk sebelah kiri, milik Key. Terdapat luka yang sama seperti lila yang dibuat pada jemarinya. Alardo kembali mendesah panjang dan berat. ** Malam menjelang. Key baru saja membuka matanya. "Kau, sudah sadar?" tanya Alardo. "Kita masih berada di desa kurcaci?" "Iya. Kau, sudah merasa baikan? Mereka memberimu ramuan tadi." "Iya. Tapi, punggungku rasanya sakit sekali." "Setelah kembali ke dunia manusia, kau tak akan merasakan sakit itu lagi." "Ini pertama kalinya." "Apa?" "Aku merasakan sakit." "Kau, tidak pernah terluka sebelumnya?" "Sering. Tapi, tak pernah tahu bagaimana rasa sakit itu." "Sungguh aneh sekali." "Entahlah. Aku tidak mau memikirkannya. Kepalaku masih terasa pusing." "Tapi, apa kau masih kuat berjalan? Kita harus segera pergi?" "Kenapa?" "Karena, kaum morten akan segera menuju kemari," sahut Tetua kurcaci. Tiba-tiba masuk. "Mereka tahu aku di sini?" tanya Key. "Aroma tubuhmu terlalu menyengat. Mereka dapat mengendusnya." "Aroma tubuhku?" "Ya. Aroma tubuh manusia itu sangat wangi. Berbeda dengan kaum morten yang berbau seperti mayat busuk!" "Aku tahu, kau sudah menyelamatkan kami. Tapi—bicaramu sudah keterlaluan!" seru Alardo. "Cobalah berada di posisi kami! Melihat orang yang kau cintai tubuhnya tercabik-cabik tepat di depanmu. Dan, semua itu di lakukan oleh kaum mu! Apa kau masih bisa berbaik hati?" Alardo tak menjawab. "Key, ayo cepat bangun. Kita harus segera pergi dari sini." Alardo keluar dari rumah kurcaci. Di susul oleh Key. Alardo mencabut beberapa helai rambutnya. Juga menarik kalung emas dengan liontin berbentuk tanduk, yang sudah di pakainya ratusan tahun. "Ini untuk syarat yang kau ajukan tadi," kata Alardo, menyerahkan beberapa helai rambut dan kalungnya pada Tetua kurcaci. "Aku ingin kau melindungi kami dari kaum mu. Lalu, untuk apa ini?" "Bakar sehelai rambutku. Maka, puluhan pengikut ku akan segera datang. Kemudian, tunjukkan pada mereka kalung itu. Selanjutnya, mereka akan tahu. Apa yang harus mereka lakukan." Tetua kurcaci itu lama terdiam. Lalu, "Baiklah. Kali ini, aku percaya padamu." "Aku tidak seperti Raja Duis. Kalian tenang saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN