Chapter 8

2027 Kata
Raungan terdengar bersahutan, di atas langit desa kurcaci—sepeninggal Alardo dan Key. Asap hitam satu persatu turun. Para kaum morten berdiri di depan patung selamat datang desa kurcaci. Morten dengan rambut mohawk mengendus-endus dengan hidung mancungnya. "Mereka ada di sini," katanya, sembari menyeringai. Kemudian, berjalan dengan langkah angkuh. Morten lainnya mengikuti dari belakang. "PANGERAN VANDEMOOOON!! KELUARLAH! AKU DATANG ATAS PERINTAH RAJA DUIS!" pekiknya. Tetua kurcaci keluar dari rumahnya. "Siapa yang berani berteriak malam-malam di desaku!" Solomon—nama Morten itu menyeringai. Membuat gerakan mencekik dengan tangannya, di arahkan pada Tetua, yang kini tubuhnya melayang. Dengan leher mendongak. "Berani sekali kau membentak ku! Dasar k***********n!" "VANDEMON! CEPAT KELUAR! KALAU TIDAK, KURCACI INI AKAN MATI DI TANGANKU!" "Dia tak ada di sini! Dia sudah pergi!" Kurcaci perempuan yang bibirnya merah delima, turut keluar. Dengan tangan yang saling bersahutan. Bergerak gelisah. "Jangan membohongiku!" "Sungguh! Dia tadi ada di sini. Bersama gadis manusia itu. Keduanya terluka. Kami mengobatinya. Lalu, mereka pergi ke utara." Solomon memicingkan matanya. Sementara Tetua kurcaci itu hampir kehabisan napasnya. "Periksa seluruh rumah," perintah Solomon. 3 Morten pun segera menghilang. Dan, muncul di depan rumah salah satu kurcaci. Menendang pintu. Mengendus-endus. Lalu, berpindah ke rumah yang lain. Dengan gerakan cepat. Memeriksa rumah kurcaci yang berjumlah puluhan, dapat selesai dalam waktu 1 menit saja. 3 Morten itu kembali pada Solomon. "Tidak ada Pangeran Vandemon. Atau pun immora itu." "Benar, kan? Mereka sudah pergi," kata kurcaci perempuan, yang juga istri dari Tetua kurcaci. Solomon menggeram kesal. Menurunkan tangannya. Hingga, Tetua kurcaci jatuh menerjang tanah. Tubuhnya lemas. Sang istri membantu. "Kau, baik-baik saja?" tanya sang istri. "Hei, kau kurcaci perempuan." Solomon datang mendekati keduanya. "Samantha! Namaku Samantha!" "Oh, apakah itu tidak terlalu untuk makhluk rendahan sepertimu?" Samantha menahan amarah. Napasnya menggebu. "Apa immora itu mengatakan padamu? Mereka akan pergi kemana?" Samantha diam. Menurunkan pandangan. Solomon mendengus. "Kau—berpihak pada immora itu? Kau, tahu? Immora itu berbahaya bagi dunia kita." "Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi, dia juga tidak layak mati " "Ah, jadi rumor itu benar. Jika, para kurcaci itu sangat ramah. Dan, memiliki hati yang lembut." Samantha kembali diam. Membantu Tetua untuk duduk. "Cepat katakan. Kemana mereka akan pergi?!" "Aku tidak tahu!" "Sungguh? Kau, tidak tahu?" Solomon berjongkok. Sedikit berjinjit. Mendekat pada Samantha. "Kau, lihat kumpulan morten itu?" tunjuk Solomon, pada puluhan Morten yang berbaris, tak jauh dari tempat mereka. "Mereka belum makan malam. Mereka pasti sangat lapar." Samantha melotot ke arah Solomon. Mata yang di kelilingi kerutan tebal itu memerah. "Jadi, putuskan. Kau akan memberitahuku. Atau—mengorbankan yang lain untuk menjadi makan malam mereka." Bola mata Samantha bergerak tak tentu arah. Napasnya semakin menggebu. "Samantha—kita sudah berjanji pada mereka. Jangan ingkari itu," kata Tetua. "Ayo, Samantha. Aku tidak punya banyak waktu. Aku hitung mundur dari 5." 5 4 3 2 1 "Well, kau sudah memutuskan, rupanya." "Pasar tradisional!" Kurcaci lain bernama Greisy, tiba-tiba muncul dari arah belakang Samantha. Solomon menyeringai. "Wah, kau baru saja menyelematkan para saudaramu. Siapa namamu?" "Gre-Gre-Greisy." "Kau, akan di kenang sebagai pahlawan, Greisy. Terima kasih." Greisy—kurcaci muda itu mengangguk gugup. Sementara, Samantha menatapnya dengan amarah. "Maaf, Samantha. Ini demi kebaikan kita bersama," kata Greisy, setelah berjalan mendekat pada Samantha. Samantha berdiri. Pun, dengan Oliph—nama Tetua itu. "Apa kau lupa?! Kaum Morten itu sangat pandai bersilat lidah! Bagaimana, kalau nantinya dia akan tetap menghabisi kita?!" "Tidak. Jangan khawatir. Mereka tidak melakukan hal itu. Tadi saja, dia mengucapkan terima kasih, kan?" Greisy tersenyum. Saat Solomon tiba-tiba menarik dirinya. Dan, mencabik-cabik nya. Samantha hanya bisa terbelalak. Tubuhnya membeku seketika. "Dengar kaum Morten ku tercinta. Sebelum, kita memulai perjalanan kembali. Alangkah baiknya, kita mengisi perut kita yang kosong. Silakan makan sepuasnya," kata Solomon, dengan darah hijau lumut di bibirnya. Oliph menarik Samantha masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Mulai terdengar jeritan-jeritan di luar sana. "Samantha! Samantha!" Oliph menggoyangkan tubuh Samantha, agar dia sadar. "Di mana rambut Vandemon kau simpan? Kita harus segera membakarnya." "Oh.. Itu—Di—Mmmm.." "Samantha! Fokus! Cepat katakan! Sebelum, banyak kurcaci yang mati!" "Di bawah karpet. Aku meletakkannya di bawah karpet." "Kau, tunggu di sini. Jangan keluar. Aku akan mengambil rambut itu." Oliph berlari dengan kaki pendeknya. Mendekati karpet beludru, yang hanya beberapa langkah saja dari pintu. "Ini dia," kata Oliph, sambil melihat sehelai rambut Alardo. "Tunggu sebentar. Sepertinya, aku masih menyimpan korek api, yang aku ambil dari dunia manusia minggu lalu." Oliph membuka lemari kayu di belakangnya. Dan, menemukan korek api gas. "Semoga saja ini berhasil." Saat Oliph menyalakan korek api— pintu rumahnya di dobrak, hingga hancur. Samantha yang terkejut, tak dapat berbuat apa-apa. Salah satu Morten menerkamnya. Lalu, memangsanya. "SAMANTHA!" pekik Oliph, bersamaan dengan sehelai rambut Alardo yang terbakar. Dua mata Oliph gemetar. Melihat istrinya harus menjadi makan malam kaum Morten. Satu Morten lain masuk ke dalam rumah. Menyeringai menatap Oliph, yang tengah ketakutan. Oliph merogoh kantungnya. Mengeluarkan kalung milik Alardo. Mengarahkannya ke depan. "Apa itu? Jimat mu? Apa tubuhku akan hancur jika menyentuh itu?" ejeknya. Tiba-tiba, asap hitam melesat masuk. Menembus Morten itu. Hingga, tubuhnya hancur tak berbentuk. Morten dengan rambut hitam lurus sebahu. Berhidung seperti paruh elang, mendekati Oliph. Melihat kalung yang di bawanya. "Tuan Alardo yang memberikannya padamu?" tanya Morten itu. Oliph mengangguk. "Aku adalah Alcott. Pengikut setia Tuan Alardo. Kau, tidak perlu takut. Kami akan menghabisi para Morten itu. Dan, menyelamatkan kalian." Oliph mengangguk. Di saat yang sama, Morten yang memangsa Samantha meraung hebat. Dan, sisa darah hijau di mulutnya. Alcott menengok dengan santai. Berjalan super cepat. Mencekik leher Morten itu. Hingga, lehernya remuk. Dan, kepalanya terlepas dari tubuhnya. Api keluar dari tangan Alcott. Membakar habis tubuh Morten itu. Kemudian, keluar. Oliph bergegas mendekati Samantha, yang lehernya hampir putus. Oliph memeluk Samantha dengan tangisan hebat. ** Sisa 10 Morten pengikut Raja Duis, yang berhasil melarikan diri. Termasuk, Solomon. "Dengar! Kita tidak akan kembali, sebelum menemukan immora itu! Kalian paham?!" Sementara itu, Alardo dan Key masih berjalan melewati hutan. "Kenapa kita tidak terbang saja seperti tadi?" tanya Key. "Kita akan cepat tertangkap, jika terlihat di langit." "Kalau begitu, kita lakukan teleportasi saja." "Karena, luka ini—tenagaku hampir terkuras habis. Aku harus menyimpan sisa tenaga. Kalau-kalau, pengikut Ayahku, menemukan kita." Key hanya mendesah singkat. "Aku sudah rindu dengan Aland dan Dena." "Siapa mereka?" "Dena—adalah asisten rumah tanggaku." "Aland? Dia kekasihmu?" "Aland adalah penyelamat hidupku." "Ah, dia seseorang yang istimewa untukmu?" "Bisa di katakan begitu." "Aku mulai lelah. Bisa kita istirahat sejenak?" tanya Key, dengan terengah-engah. "Kita baru berjalan beberapa kilo saja. Kau, sudah tidak kuat?" "Punggungku rasanya sakit sekali. Badanku mulai lemas lagi." "Karena, luka itu?" "Aku tidak tahu." "Baiklah. Kita istirahat sebentar. Di sekitar sini, seingat ku ada pondok kecil." Alardo menggandeng tangan Key. Menyandarkannya pada salah satu pohon. "Istirahat di sini dulu. Aku akan mencari pondok itu. Kalau ada apa-apa, teriak saja." Key mengangguk. Bibirnya kembali pucat. Keringat dingin muncul di atas pori-pori nya. Kali pertama, Key merasakan sakit. Karena itu, ia sulit untuk menahan sakit. Key perlahan bersimpuh. Menengok ke kiri dan kanan. Meraba-raba di sekitar. Mungkin saja, ia menemukan sesuatu untuk di jadikan bantal. Dan, benar saja. Ia menemukan sebuah bola besar yang sangat empuk. Di tariknya mendekat. Lantas, merebahkan kepala di atasnya. "Oh, ini nyaman sekali." Di detik selanjutnya, kepala Key bergerak-gerak dengan sendirinya. Bola besar empuk tadi seolah bergerak. Namun, nyatanya bukan seolah. Tapi, memang bergerak. "Hei, menyingkir!" teriak bola besar itu, dengan suara lantang. Key terbelalak. Lalu, bangun. Melihat bola besar itu memiliki satu mata yang besar. Satu mulut. Tanpa hidup. Telinganya runcing. Seperti tokoh dalam Monster inc, hanya saja ini berbulu lebat. Sangat. "Oh, maafkan aku. Aku kira kau hanya sekedar bola." "Kau, tak punya mata?!" "Oh, sekali lagi maaf. Di sekitar gelap, jadi aku tidak tahu." "Aku sudah menemukan pondoknya," kata Alardo, yang datang di saat tepat. "Pondok itu milik kaum Gumul," lanjut Alardo. "Tuanku—Pangeran Vandemon," ucap bola bernyawa tadi. "Oh, kau sudah bertemu satu di sini rupanya." "Jadi, gadis lancang ini adalah temanku, Tuanku?" "Ya. Apa dia menjadikanmu alas untuk kepalanya?" "Dia sangat kurang ajar, Tuanku." "Hei, aku sudah bilang maaf. Aku tidak tahu." Gumul itu mengabaikan Key. "Lantas, ada apa kau datang ke hutan kumuh ini, Tuanku?" "Aku hendak pergi ke pasar tradisional. Tapi, temanku sedang terluka. Aku membutuhkan tempat untuk istirahat. Boleh, aku istirahat di pondok mu?" "Suatu kehormatan bagi kaum yang tak pernah terjamah oleh siapa pun, Tuanku. Mari aku pimpin jalannya." Selain wajahnya yang lucu—Cara berjalan Gumul itu juga unik. Melompat-lompat seperti kelinci. Setelah berjalan beberapa meter—mereka tiba di sebuah pondok kayu, yang atapnya di lilit oleh tanaman merambat. "Maaf, jika istanaku berantakan, Tuanku," kata Gumul, yang ternyata berwarna abu. Mendorong pintu masuk. "Tidak apa-apa. Ini sudah lebih dari cukup." Alardo dan Key pun berjalan masuk. Lagi-lagi, Key mematung. Bola matanya berbinar. Melihat bola bulu yang lainnya. Hanya saja, berbeda warna. Ada yang hitam. Merah muda. Merah. Ungu. Bahkan, hijau. "Wow.. mereka menggemaskan." "Awas saja, jangan di sentuh. Mereka temperamental." "Apa itu?" Alardo mendengus. "Sangat mudah marah." "Silakan istirahat di mana pun kau inginkan, Tuanku. Maaf, jika aku tak mempunyai alas untuk tidur. Karena, hanya ini yang tersisa, setelah peperangan itu." "Tidak masalah. Terima kasih." "Dengan senang hati, Tuanku." Alardo mengajak Key duduk di sudut. Key menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakang. Menghembuskan napas panjang. "Masih terasa sakit?" "Iya. Sangat." "Setibanya, di pasar tradisional nanti—aku akan menyembuhkan lukamu." "Kau, bisa menyembuhkan luka?" "Tentu saja." "Lantas, kenapa kau tidak sembuhkan lukamu?" "Itu kelemahan ku. Aku tak bisa mengobati lukaku sendiri. Tapi, lukaku akan menghilang dalam waktu beberapa jam. Kau, jangan khawatir. Setelah pulih, aku akan kuat seperti sebelumnya." "Well, baiklah. Setidaknya, aku masih bisa istirahat." Alardo kemudian menatap para Gumul, yang sedang bercengkerama itu. Lalu, mendesah singkat. "Kaum Gumul dulu adalah yang terkaya di hutan ini," kata Alardo tiba-tiba. Membuat Key menengok ke arahnya. "Peradaban mereka sangat maju. Karena, mereka belajar dari dunia manusia. Dulu, mereka hidup dengan keluarga masing-masing. Hingga A—Raja Duis datang dan menghancurkan semuanya. Ia benci, jika ada yang membawa kehidupan manusia masuk ke dalam sini." "Ah, karena itu dia benci saat melihatku?" "Bayangkan saja, kau di hadapkan dengan seseorang yang mampu menghancurkan dunia tempat tinggal mu." "Oh, aku paham." "Karena itu, kaum Gumul sekarang hanya tersisa 10 saja. Mereka yang kau lihat sekarang." "Mereka harus kehilangan harta benda. Rumahnya luluh lantak. Perkebunannya hancur. Keluarganya meninggal. Bayangkan, betapa terpuruknya mereka." Key tersenyum getir. "Aku tahu, perasaan itu." "Orang tuamu sudah lama meninggal, kan?" "Bagaimana kau tahu?" "Sejujurnya, hidupmu dan hidupku saling menyambung, Key. Karena itu, saat aku terluka. Kau, juga akan terluka. Saat aku menangis. Kau, juga akan menangis. Begitu pula sebaliknya." "Oh, ikatan batin kita melebihi dua orang anak kembar." Alardo terkekeh. "Seperti itulah, kiranya." BRAK! Pintu hancur seketika. Para Gumul berlari ke sudut. Solomon tiba-tiba masuk, dengan wajah beringas. Mengedarkan pandangan. Lalu, melihat Alardo dan Key, yang ada di balik punggung Alardo. "Tuanku—Pangeran Vandemon." Solomon memberi hormat, dengan membungkukkan setengah badannya. "Beraninya, kau mengejar ku sampai kemari." "Maaf, Tuanku. Aku tidak mengejar mu. Tapi, aku mengejar immora itu. Raja Duis menginginkannya." "Tidak. Dia milikku. Siapa pun, tidak bisa memilikinya. Sekarang, kau dan pengikut mu harus pergi dari sini." "Maaf, jika aku harus membangkang, Tuanku. Karena, ini adalah perintah dari Raja di Verden Morke ini." Solomono menengok ke belakang. Kemudian, menggerakkan kepalanya. Mengisyaratkan untuk melawan Alardo. "Key, dengar. Jika hal buruk terjadi padaku. Maka, kau harus berlari sekencang mungkin." "Kau pasti bisa mengalahkan mereka. Kekuatanmu, jauh lebih besar dari mereka." "Aku sedang terluka, Key. Aku tidak sekuat itu sekarang." Satu persatu kaum Morten berubah menjadi asap hitam. Melesat ke arah Alardo. Di tangkis oleh Alardo dengan kilatan petir merah, yang keluar dari tangannya. Alardo juga berubah menjadi asap hitam sesekali. Menangkap salah satu Morten. "KEY! TUTUP MATAMU!" Key segera menutup matanya. Alardo menarik kepala Morten ke atas, hingga terputus. Lalu, membakarnya hingga menjadi debu. "Well, salam kenal immora," kata Solomon. Berjalan mendekati Key. "Kau, ingin membunuhku?" "Haha. Aku tidak pantas untuk membunuhmu. Yang berhak hanyalah Raja Duis." "Ah, makhluk jelek bertanduk itu?" Solomon melotot kepada Key. "Lancang sekali, kau mengatakan hal itu!" "Tapi, memang kenyataannya." Solomon mendengus. "Sedikit melukaimu, sepertinya tidak apa-apa." Solomon meraung kemudian. Hendak berlari, namun seseorang memukulnya hingga terpental ke belakang. Key terbelalak. "Alder?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN