"Oh, Apa kabar Nyonya dan Tuan Balder," sapa Dena, berdiri dari kursinya.
Sementara Alder dan Alardo masih memandang sepasang suami-istri itu.
"Oh, kau—"
"Ah, saya Dena Nyonya Balder. Asisten rumah tangga Nona Key Addison. Kita pernah bertemu sekali. Saat pemakaman Alder—Mmm, maksud saya Akando."
"Ah, iya. Aku ingat. Kalian di sini untuk makan siang?"
Dena mengangguk. Khawatir dengan sikap Key, yang sejak tadi tak menyapa orang tua Alder. Sesekali, ia menatap Key.
"Perkenalkan, nama saya Aland Barnaby. Saya pengajar pribadi Nona Key."
Aland berdiri. Mengulurkan tangan. Di sambut oleh keduanya, secara bergantian.
"Dena.. Ajak mereka duduk. Aku mohon," kata Alder, yang tentu saja tak di dengar oleh Dena.
"Kalau begitu, nikmati makan siang kalian," kata Nyonya Balder.
Saat mereka akan melangkah pergi, Key berdiri.
"Apa—ka-kalian bisa bergabung dengan kami? A-aku, ingin membalas budi."
Nyonya Balder menengok pada Key. Kemudian tersenyum.
"Baiklah. Aku juga ingin mengobrol banyak denganmu, Nona Key."
Aland segera menarik 2 kursi di meja lain. Lalu, mengajak Dena berpindah kursi. Dan, membiarkan Alder duduk bersama dengan orang tua mereka.
"Kursi satu ini kosong, Nona Dena. Kau, bisa duduk di sini," kata Nyonya Balder. Menunjuk kursi di samping kanannya. Di mana Alder duduk.
"Oh-"
Saat Dena akan berdiri, segera di cegah oleh Aland.
"Saya ingin dekat dengan Dena," kata Aland. Dengan terkekeh malu.
"Ah, kalian berpacaran?"
Dena melebarkan mata. Melihat Nyonya Balder dan Aland secara bergantian.
"Mmm.. Iya."
Mata Dena semakin melebar, ketika mendengar jawaban dari Aland.
"Oh, selamat. Sudah berapa lama?"
"Baru hari ini. Hehe."
"Ah, pantas saja. Selalu ingin bersama, eh?"
Aland mengangguk gugup. Lalu, melirik Dena. Dan, meringis.
Tak lama kemudian, pelayan datang untuk mencatat pesanan Tuan dan Nyonya Balder.
"Ada apa denganmu?!" bisik Dena.
"Maaf, aku terpaksa."
Aland ikut berbisik.
"Karena apa?!"
"Alder—duduk di samping Ibunya."
Ekspresi Dena sekejap berubah. Menjadi iba.
Setelah mencatat pesanan keluarga Balder, pelayan pun pergi. Sedangkan, Alder mengistirahatkan dagunya pada tangan kanan, yang bertumpu pada meja. Menatap Sang Ibu.
"Bu.. bagaimana kabarnya?" tanya Alder, dengan senyuman manis.
Key yang mendengar itu, segera menelan ludah gugup. Dan, dengan bibirnya yang gemetar, ia berkata,
"Nyo-Nyonya Balder? Bagaimana kabarmu?"
"Oh, aku baik-baik saja. Terima kasih, sudah bertanya."
Key tersenyum kikuk.
"Bagaimana denganmu, Nona Key? Kau, sehat?"
"I-iya."
Nyonya Bader mengangguk berulang.
"Ibu, masih sering menonton Slice of Life, setiap malam tahun baru?"
"Ma-masih sering menonton Slice Of Life setiap malam tahun baru?"
"Huh? Siapa? Aku?" tanya Nyonya Balder.
Key mengangguk. Sementara, Nyonya Balder menyunggingkan senyum.
"Bagaimana kau tahu? Aku selalu menonton itu?"
"Oh.. bukankah, itu tontonan semua orang saat tahun baru di TV?"
"Ah, begitu."
Kini Nyonya Balder yang tersenyum kikuk.
"Nona Key.."
"Ya?"
"Kau.. masih ada perasaan canggung dengan kami?" tanya Nyonya Balder.
Key menundukkan kepala sejenak. Lalu, kembali menatap Nyonya Balder.
"Bukan canggung. Tapi.."
Key menggigit bibir bawahnya. Terlihat gelisah. Perasaan yang tak pernah di tunjukkan selama bertahun-tahun.
"Aku merasa bersalah. Aku takut."
"Bersalah? Karena apa?"
"Karena ku—Alder—maksudku, Akando harus kehilangan nyawa. Maafkan aku, Nyonya dan Tuan Balder. Jika saja, aku bisa menebus kesalahan itu. Dengan cara apapun, akan aku lakukan."
"Sungguh?"
"Huh?"
"Kau, bisa menebus kesalahan itu? Dengan cara apa pun?"
"Iya."
"Baiklah."
"Hiduplah seperti tak ada beban."
"Huh?"
"Ya. Hiduplah seperti tak ada beban. Sejak kecil, kau selalu mengurung diri, karena merasa semua yang terjadi, adalah kesalahanmu. Itu semua bukan kesalahanmu. Kematian orang tuamu. Kematian Alder. Segalanya, sudah di tentukan Tuhan. Kita sebagai manusia, hanya bisa menerima semua takdir itu."
"Boleh bersedih. Tapi, tidak boleh larut dalam kesedihan. Kau, paham maksudku, Nona Key?"
Key hanya diam.
"Tersenyumlah. Tersenyum bahagia. Agar mendiang Ayah dan Ibumu—juga, Alder bisa tersenyum juga di sana. Perjuangan mereka untuk menjagamu, tidak akan sia-sia. Nikmatilah hidupmu, Nona Key."
"Yeah.. Itulah Ibuku," kata Alder.
"Ya. Ibuku," gumam Alardo.
**
1 jam sudah di habiskan oleh mereka di kedai pizza.
"Terima kasih, atas jamuan makan siangnya," kata Nyonya Balder. Begitu keluar dari kedai.
"Sama-sama," jawab Key.
Nyonya Balder menatap Key lamat-lamat.
"Ada yang ingin kau katakan?"
"Mmm.. bisa kita bicara? Hanya berdua saja?"
Setelah anggukan dari Key— kini, keduanya berjalan agak menjauh dari semuanya.
"Nona Key.. maaf, jika aku harus menanyakan ini."
"Tidak apa-apa. Tanyakan saja."
"Rumor itu—apa benar? Kalau, kau bisa melihat makhluk tak kasat mata."
"Pyx maksudmu?"
"Pyx? Apa itu?"
"Ah, itu adalah sebutan dari Roh-"
Key terdiam sejenak.
"Sebutan dari Roh yang baik."
"Ah, begitu. Apa mungkin—Alder ada di sekitar sini?"
"Huh?"
Nyonya Balder tersenyum.
"Panggilan Alder—adalah panggilan sayang untuknya dariku. Jika, kau tahu nama panggilan itu, pastinya itu dari dia. Karena, aku tahu. Kau, tak pernah bertemu dengannya sekalipun."
"Oh.."
"Lalu, tentang film itu. Film itu tidak pernah tayang di TV. Alder membelikan kaset CD untukku. Kado di tahun baru."
"Oh.. aku baru tahu. Dia tak memberitahuku soal itu."
"Berarti benar. Dia ada di sini."
Key mengangguk. Sembari menunjuk ke sebelah kanan Nyonya Balder. Di mana Alder tengah berdiri, dengan mata berkaca-kaca.
Nyonya Balder menengok ke arah kanan. Berhadapan dengan Alder, yang tak bisa di lihatnya. Di detik selanjutnya, ia mendesah berat.
"Alder.. kau—benar ada di sini?"
"Ya, Bu."
Nyonya Balder tak mendengarnya.
"Dia menjawab Iya," kata Key.
"Alder.. Kau, baik-baik saja, kan?"
"Ya, Bu. Aku hanya sangat merindukanmu."
"Ibu.. sangat merindukanmu, Alder. Kau, tak pernah menemui Ibu di dalam mimpi. Datanglah, sesekali ke dalam mimpi Ibu. Biarkan, Ibu memelukmu."
Alder diam. Menggigit bibir bawahnya. Menahan tangis.
"Key.. katakan padanya, kalau aku sudah pergi."
Key mendesah panjang.
"Nyonya Balder. Alder sudah pergi dari sini."
"Ah, benarkah?"
Nyonya Balder menyeka air matanya. Lantas, tersenyum.
"Terima kasih, Nona Key. Setidaknya, aku tahu—jika, ia masih ada di sekitarku."
"Dia selalu ada bersamamu, Nyonya Balder."
Nyonya Balder menarik dahinya ke atas.
"Dia.. selalu ada di hatimu, kan?"
Nyonya Balder tersenyum.
"Ternyata.. kau, juga bisa menghangatkan hati orang lain. Sekali lagi, terima kasih, Nona Key."
"Sama-sama, Nyonya Balder."
**
Alder tengah berada di halaman rumah Key. Memandangi bintang-bintang di langit.
"Kau, masih memikirkan Ibumu?" tanya Alardo, yang tiba-tiba datang, dari arah belakang Alder.
"Ya. Aku ingin dia bisa melihatku."
"Itu, yang kau inginkan?"
Alder menengok pada Alardo, yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Kau—bisa melakukannya?"
"Itu sangat mudah bagiku."