Chapter 19

1907 Kata
"Meida.. apa bisa—makhluk yang masih ada di dunia ini, melakukan reinkarnasi?" tanya Alardo, menghampiri Meida, yang ada di dapur. "Tentu saja, tidak. Kenapa memang?" "Hari ini—aku melihat Ibuku." Meida yang tengah memasukkan rempah-rempah, seperti kayu manis, bunga lawang, jahe dan kawan-kawannya, menengok pada Alardo. "Aislee? Kau, melihatnya?" "Ya. Aku melihatnya." "Tidak mungkin." "Yeah, aku tahu itu tidak mungkin. Tapi, bukan hanya mirip. Caranya tersenyum, gaya bicara, sifat—semuanya sama." "Kau, mengenalnya?" "Tidak. Tapi, mungkin kau pernah bertemu dengannya." Kening Meida berkerut. "Siapa memang?" "Nyonya Balder. Ibu dari Alder." Meida terhenyak. Bola matanya bergerak tak jelas arah. "Aku tak pernah menyadari itu. Setelah, di pikir kembali, memang wajahnya mirip dengan Aislee." "Tapi, bagaimana itu bisa terjadi?" "Aku pernah dengar, jika kita terlahir di dunia ini memiliki 7 kembaran," kata Meida. "Mungkin, Nyonya Balder adalah salah satu kembaran Aislee." "Benar-benar tidak masuk akal." "Dunia ini, memang banyak mengandung misteri, Alardo. Seperti sifat manusia." Meida menyalakan blender. Memegang tutup atas. "Kau, sedang membuat apa itu?" "Ah, ini minuman dari rempah-rempah. Agar kekuatanmu cepat pulih." "Jangan bilang, itu untuk aku? Ough, terlihat sangat menjijikkan. Cokelat kental begitu." "Memang, sedikit pahit. Tapi, khasiatnya sangat bagus." Meida menuangkannya di gelas kaca. Memberikannya pada Alardo. "Minum sampai habis." Alardo mengerutkan dahi dan mulutnya. "Aku tidak akan minum sesuatu yang menjijikkan seperti itu!" "Minum—atau, aku usir dari sini. Dan, kau tak akan bertemu dengan Key lagi." Alardo segera mengulurkan tangan. Menerima gelas itu, dan sejenak menatap isinya, dengan ekspresi jijik. "Jangan di lihat saja. Tapi, di minum." "Oh, sial. Aku membencimu sejak dulu, Meida." "Ya. Aku tahu itu." Alardo segera meneguk ramuan itu. Matanya melebar, saat merasakan ramuan itu. "Langsung telan!" Alardo menelan ramuan menjijikkan itu dengan tegukan berat. "Rasanya, seperti Loka! Sangat menjijikkan!" "Ah, permen kotoran naga itu?" "Ya. Sekarang, ada 4 hal yang aku benci. Ayahku. Loka. Kau. Dan, ramuan mu!" "Sekarang, kau bisa mengolok-oloknya. Tapi, setelah kau bangun tidur nanti— kau, akan takjub dengan kondisi badanmu." "Oh, yeah. Aku harap, itu bekerja." "Tapi, ngomong-ngomong di mana semuanya? Kenapa sangat terlihat sepi?" "Ini sudah hampir tengah malam. Mereka pasti sudah tidur." "Ah.." "Alardo.." "Hmm?" "Alasanmu—melakukan ini semua, apa karena Key?" "Kau—menyukainya?" lanjut Meida. Alardo segera berdeham. Mengalihkan pandangan. "Meida, kau juga harus cepat tidur. Aku, akan keluar sebentar. Mencari udara segar." "Jangan melayang di udara! Ingat, ini bukan duniamu." "Ah, hampir saja aku melakukan itu. Meida berdecak. "Kau sangat bodoh." ** Alardo berjalan-jalan di halaman rumah Key, dan tak sengaja melihat Alder, yang tengah menatap langit. "Kau, masih memikirkan Ibu?" Alder menengok sejenak. "Kau, rupanya." "Ya. Aku sangat merindukannya." "Kalau begitu, temui saja dia. Pergi ke rumahmu." "Percuma. Jika, dia tak bisa melihatku." "Setidaknya, kau masih bisa melihatnya." "Ibuku—sudah meninggalkanku sejak kecil. Karena, kesalahan yang aku lakukan. Saat itu, aku terus berpikir—tidak apa, jika aku harus menemuinya dari kejauhan.. asal, aku bisa melihatnya, semua sudah cukup." "Kau, benar juga. Tapi, aku tak hanya merindukan wajahnya. Aku juga merindukan pelukannya, masakannya, mengobrol dengannya." "Kau, sangat menyayangi Ibumu, rupanya." "Tentu. Karena itu, aku ingin—dia bisa melihatku. Walaupun, hanya sebentar saja." "Sungguh? Itu yang kau inginkan?" Alder menengok lagi pada Alardo, yang kini berdiri di sampingnya. "Kau, bisa melakukannya?" "Tentu. Itu sangat mudah." Senyum Alder mengembang. "Tapi, Ibumu akan menganggap itu semua hanya mimpi. Tidak masalah?" "Bukan masalah bagiku. Asal Ibu bisa melihatku lagi." "Baiklah." Alardo meniupkan udara tepat di wajah Alder, yang kini mengerjap berulang. Dan, memejamkan mata. Di detik selanjutnya, saat ia membuka mata—ia sudah berada di dalam rumahnya. Melihat Sang Ibu, tengah memandang potretnya, yang menggantung di tembok ruang keluarga. Alder menghembuskan napas gugup. Berjalan mendekat. Dan, "Bu.. aku datang." Nyonya Balder, perlahan menengok. Matanya sudah berkaca-kaca. Alder, yang menahan tangis, berusaha untuk tersenyum. "Aku sangat merindukanmu, Bu." "Alder.. ini benar kau?" Alder mengangguk. "Ya, Bu. Ini aku. Ini sungguh aku." Kedua tangan Nyonya Balder bergerak, dengan gemetar. Menyentuh pipi Alder. Memastikan, jika Alder bisa di sentuh. Nyonya Balder kemudian terkesiap. "Oh, astaga! Ini sungguh kau, Alder!" Nyonya Balder, segera memeluk erat anak semata wayangnya itu. "Alder.. Ibu, juga sangat merindukanmu. Terima kasih, sudah datang. Terima kasih." ** Alder tengah berbaring di ranjang. Sementara, Nyonya Balder ada di hadapannya. Turut berbaring. Menatap Alder. Dan, membelai lembut rambutnya. "Anakku, memang sangat tampan." Alder terkekeh. "Key, juga sering mengatakan itu." "Key? Ah, Nona Key Addison?" "Ya. Dia cantik, kan ,Bu?" "Juga, baik. Hanya saja, nasibnya buruk. Kasihan." Alder membuka mata. "Kenapa? Tidur lagi saja." "Nenek.. sudah melahirkan seorang bidadari, rupanya." Nyonya Balder tertawa ringan. "Apa maksudmu?" "Kau, sangat cantik. Juga, sangat baik. Tapi, kebaikanmu itu—membuat hatiku sakit, Bu." Nyonya Balder mendesah berat. "Dalam hidup—semua tingkah laku kita akan ada balasannya, Alder. Kau, bersikap baik dengan seseorang—maka, orang lain, juga akan bersikap baik padamu. Begitu pula, sebaliknya." "Seperti hukum timbal balik?" "Ya, kau benar." Alder tersenyum kemudian. "Bu, tiba-tiba aku ingin makan masakan Ibu." "Oh, sungguh? Katakan saja, kau ingin makan apa? Ibu, akan memasaknya untukmu sekarang juga." "Mmm.. aku ingin menu sarapan lengkap. Roast Meats. Juga, kue muffin." "Haha. Kau, yakin bisa menghabiskan itu semua?" "Tentu. Sudah lama, aku tak makan masakan Ibu." "Baiklah. Tunggu di sini, Ibu akan memasaknya untukmu." "Tidak. Aku ikut. Aku tak mau jauh dari Ibu." Nyonya Balder terkekeh. Setelahnya, Nyonya Balder memasak semua permintaan Alder. Dapur yang tak pernah bersuara sejak kepergian Alder itu, kini terlihat ramai. Meski, hanya ada Alder dan Nyonya Balder saja. Sepersekian jam yang tak terasa pun terlewati. Kue muffin sudah di angkat dari oven. Menu sarapan lengkap : bacon, telur, sosis, kacang, hash brown, dan juga puding hitam pun sudah tersedia. Tak lupa, Roast Meats : daging panggang yang di masak dalam oven selama 2 jam. Semuanya, sudah tersaji di atas meja makan. Alder ternganga melihat semuanya. "Aromanya, sangat lezat lagi. Apalagi, rasanya." "Habiskan semuanya." Pertama, Alder mengambil satu kue muffin. Menggigitnya. Lantas, matanya melebar. "Ini sangat enak! Rasa ini, yang aku rindukan sejak dulu." "Hehe. Dulu, kau sangat suka dengan kue muffin buatan Ibu. Sampai, satu loyang pun kau habiskan sendiri." "Benar. Ayah sampai marah padaku, karena tidak kebagian kue Muffin." Selanjutnya, Alder mencoba daging panggang, dan menu sarapan lengkap. "Pelan-pelang saja makannya. Semua untukmu." Usai menghabiskan semua makanan yang di buat oleh Nyonya Balder, kini keduanya berjalan santai di taman rumahnya. Di mana di sisi kanan dan kirinya terdapat barisan bunga yang berwarna-warni. Jalanan berkeramik, berada di tengah-tengah. Langit yang tadinya gelap, kini berubah cerah. Sangat. Burung-burung gereja beterbangan. Kupu-kupu hinggap dari satu bunga ke bunga lain. Alder melingkarkan tangannya, di lengan Nyonya Balder. "Alder.. kau ingin berfoto dengan Ibu?" "Ibu membawa kamera?" "Tidak. Ibu, membawa ponsel." "Oh, baiklah. Ini akan menyenangkan." Nyonya Balder tiba-tiba saja menggenggam ponsel, yang entah dari kapan dia membawanya. Kemudian mengarahkan kamera depan pada dirinya dan Alder. Di mana, di belakangnya terlihat setengah dari rumahnya. "Ah, kau sangat tampan sekali," cetus Nyonya Balder, yang membuat Alder tersipu. Lantas, mereka melanjutkan berjalan-jalan. "Bu.. kau, ingat saat aku mencabut bunga mawar pink kesayanganmu?" "Oh, iya. Ibu sangat marah waktu itu." "Haha. Iya. Ibu sampai tidak mau masak. Dan, tidak keluar kamar seharian." "Memang, kau apakan bunganya waktu itu?" "Ah, aku berikan pada seseorang." "Nona Key?" "Oh, bagaimana Ibu tahu?" "Kau, sudah memperhatikannya sejak dulu." "Oh, Ibu juga tahu itu." "Tentu saja. Kau, selalu mengendap-endap keluar rumah. Hanya untuk melihat Key di rumahnya. Meski, hanya melihat dari kejauhan, kau sudah sangat bahagia." "Hehe. Aku jadi malu." "Kau—sangat menyukainya?" "Entahlah. Sulit untuk menjelaskannya, Bu. Ada perasaan yang tidak asing dalam hatiku, saat melihatnya." "Karena itu, kau menolongnya, saat ia mengalami kecelakaan itu?" Alder mengangguk. "Yang ada dalam pikiranku ketika itu, adalah hanya menyelamatkannya." "Jika—ibu mengalami hal yang sama, apa kau juga akan menolong Ibu?" "Tentu saja! Sekalipun, aku akan terluka—Ibu tetap akan aku selamatkan." "Alder.. tidak bisakah kau tak berbuat baik?" "Huh?" Nyonya Balder menghentikan langkahnya. "Kau—terlalu baik, Alder. Lihat dirimu sekarang, kau merugi sendiri. Ibu kesepian karena mu." "Bu.." Nyonya Balder tersenyum kecut. "Itu—kalimat yang sering melintas di kepala Ibu. Seandainya, saja kau tak mengenal Nona Key. Seandainya, saja kau tak menolongnya waktu itu—kau, tak akan terpisah dengan Ibu." Alder mendesah panjang. "Maaf, Bu. Aku tak tahu, kalau kau juga menderita selama ini." Nyonya Balder tersenyum. "Meskipun, ada terbesit dalam benak Ibu, hal-hal seperti itu—tapi, Ibu bangga padamu, Alder. Kau, berani menolong orang lain, meski kau terluka." "Apa—itu alasanmu belum pergi ke atas? Karena, takut meninggalkan Nona Key?" Alder menggelengkan kepala. "Karena, aku masih ingin satu dunia dengan Ibu. Aku tidak ingin melupakan Ibu." Bola mata Nyonya Balder bergetar. "Aku takut, jika pergi ke atas—aku akan melakukan reinkarnasi. Kemudian, aku melupakan kehidupanku sebelumnya. Aku takut." Nyonya Balder mendesah panjang. Memeluk Alder. Menepuk punggungnya berulang kali. "Semua makhluk hidup, pasti juga merasakan kematian dan reinkarnasi, Alder. Entah itu cepat. Maupun, lambat. Kau, tidak perlu khawatir, jika tak bisa mengingat Ibu. Karena, Ibu akan selalu mengingatmu, sampai kapan pun." Di detik selanjutnya, Nyonya Balder melepaskan pelukan. "Ibu, sangat bersyukur. Bisa bertemu denganmu seperti ini. Meskipun, hanya lewat mimpi. Sedikit mengobati rasa rindu Ibu. Jika, setelah ini kau ingin pergi ke atas—tidak apa-apa. Ibu.. sudah mengikhlaskannya." "Bu.." Nyonya Balder kembali mendesah berat. "Alder... Kau, tahu, kan? Ibu sangat menyayangimu." Alder mengangguk. Meneteskan air mata. "Aku juga sangat menyayangimu, Bu." "Sekarang pergilah. Tidak apa-apa." "Bu.." Alder semakin terisak. "Terima kasih, sudah muncul dalam mimpi Ibu. Sampai kapan pun, kau tak akan terganti, Alder." Pandangan Alder menjadi kabur. Ibunya semakin tak terlihat. Dan, ia membuka mata, saat mendengar bel pintu rumah berbunyi. Alder mengedarkan pandangan. Dia berada di ruang keluarga rumah Key. Dena berlari ke pintu depan. Membuka pintu. "Selamat pagi, Nona Dena.." "Oh, selamat pagi Nyonya Balder. Ada apa sepagi ini datang kemari?" "Ah, aku ingin bertemu dengan Nona Key. Dia, sudah bangun?" "Oh, iya. Silakan masuk." Alder melihat Ibunya masuk ke dalam rumah, dengan membawa buket mawar pink di tangan. "Bu.." kata Alder. Nyonya Balder mengedarkan pandangan. "Silakan duduk dulu." "Oh, maaf.. apa aku boleh ke kamar Nona Key?" "Ya?" "Hanya sebentar saja." "Oh, baiklah." Dena kemudian membawa Nyonya Balder ke lantai atas. "Nona Key—ada Nyonya Balder di sini." Key yang saat itu tengah belajar bersama Aland pun, menatap Nyonya Balder. Kemudian, Aland berjalan keluar. "Ini bunga untukmu." Nyonya Balder memberikan buket mawar pink, setelah masuk ke dalam kamar. "Mawar pink?" "Iya. Kenapa? Kau, tidak suka?" "Tidak. Dulu selalu ada yang melempar batu, yang selalu ada mawar pink, yang di ikat pada batu itu." "Di lemparkan melalui jendelamu?" Key mengangguk. "Itu pasti Alder." "Alder?" "Ya. Alder selalu mencuri bungaku. Tadi malam, aku baru tahu—jika, bunga itu di berikan pada Nona Key." "Alder mengunjungimu?" Nyonya Balder mengangguk. "Alder.. datang dalam mimpiku." "Oh, sungguh?" "Itu semua berkatmu, Nona Key." "Aku?" Nyonya Balder menganggukkan kepala. "Kau, ingat, kan? Kemarin aku bicara pada Alder, untuk mengunjungi ku dalam mimpi. Dan, ternyata ia benar-benar muncul dalam mimpiku. Tapi, ada sesuatu yang aneh." "Aneh?" Nyonya Balder menunjukkan foto pada ponselnya. "Kau, lihat foto ini?" Key memperhatikan foto, di mana Nyonya Balder tengah berpose di taman rumahnya, dengan sisi belakang yang terlihat bangunan rumah sebagian. "Ada apa dengan foto ini?" "Semalam.. dalam mimpiku, aku mengajak Alder berfoto. Saat bangun, aku memeriksa ponselku. Dan, benar saja—ini adalah foto yang aku ambil bersama Alder semalam." Key menatap Nyonya Balder kemudian. "Mungkin saja, semalam bukan mimpi." "Huh?" "Mungkin.. semalam Alder benar-benar mengunjungimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN