Chapter 20

1036 Kata
"Oh, begitu?" "Yap. Tapi, kau berpikir seolah-olah itu mimpi." "Mmm.. Mungkin saja." Di detik selanjutnya, Key berjalan ke arah jendela. Nyonya Balder mengikuti. Angin sepoi, segera menyapa rambut pendeknya. Key menunjuk ke arah halaman. "Di situ, Alder sering berdiri. Melambaikan tangannya." "Ah.. dia sering mengunjungimu rupanya." "Setiap hari. Dia selalu datang dengan senyuman." "Yeah. Begitulah Alder. Sangat murah senyum." "Awalnya, aku tidak tahu. Jika, Alder sudah tiada. Aku kira, dia masih hidup. Sampai, pada akhirnya kami terjebak di dunia penyihir—dan, Belle mengatakan, kalau Alder bukanlah manusia." "Dunia penyihir? Mereka yang terbang menggunakan sapu?" "Iya." Nyonya Balder tersenyum. "Imajinasi mu sangat tinggi sekali, Nona Key." Key menengok pada Nyonya Balder. "Itu nyata. Kami memang terjebak di dunia penyihir." Nyonya Balder merapatkan bibirnya. "Baiklah, ini saatnya aku pergi. Terima kasih, sudah sudi mengobrol denganku, Nona Key." "Terima kasih, untuk bunganya, Nyonya Balder." "Sama-sama." Nyonya Balder berjalan selangkah, kemudian berhenti. "Ah, iya. Nona Key, apa kau menyukai Alder?" "Tentu. Aku sangat menyukainya." "Bukan sebagai teman. Tapi, sebagai laki-laki." "Memang, Alder laki-laki, kan?" Nyonya Balder terkekeh. "Pernah dengar kata cinta?" Key mengangguk. "Tahu bagaimana rasanya?" Key menggeleng. "Cinta itu adalah hatimu akan berdebar gugup saat kau menatapnya. Ada rasa khawatir, saat dia tak ada di pandanganmu. Ada perasaan ingin bertemu, saat kau lama tak jumpa dengannya. Seperti itulah, cinta." Nyonya Balder pun kembali pulang. Segera pergi ke dapurnya. Untuk memastikan, apa kata-kata Key benar. Namun, dapur sangat bersih. Tidak ada bekas piring. Atau pun alat masak yang kotor. Nyonya Balder mendesah singkat. "Hanya mimpi." "Apanya yang hanya mimpi? Dari mana kau sepagi ini?" tanya Tuan Balder, berjalan dari arah belakang Nyonya Balder. "Oh, aku baru saja dari rumah keluarga Addison." "Kau, semakin akrab dengan gadis itu? Baguslah, kau juga perlu teman berbincang." "Tapi, apa ada yang berkunjung kemarin?" tanya Tuan Balder. "Tidak. Kenapa?" "Dapurmu berantakan sekali. Sepertinya, kau habis membuat kue muffin juga. Kau, sudah memakannya semua?" Nyonya Balder terdiam. Bola matanya membeku. "Benar katanya—itu semua bukan mimpi." ** Raja Duis berada di pasar tradisional Verden Morke, yang selalu terlihat sepi. Tidak ada penjual, maupun pembeli. Ia mengedarkan pandangan. Lalu, berjalan masuk ke dalam hutan, yang tak jauh dari pasar tradisional. Kembali, mengedarkan pandangan, saat sudah agak jauh masuk ke dalam hutan. Langkahnya terhenti, saat dia melihat abu dari tubuh Solomon. Ia mendekati. Berjongkok. Lantas, mengendusnya. "Dasar bodoh." Raja Duis segera menyentuh abu Solomon. Matanya menjadi merah. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Lantas, abu-abu Solomon bergerak. Berkumpul menjadi satu. Suara bergemeratak dari tubuh Solomon terdengar. Ia kembali hidup lagi. Raja Duis segera berdiri. "Tuanku, Raja Duis." Solomon berlutut dengan satu kaki. "Dasar bodoh! Kenapa kau bisa kalah dengan gadis lemah seperti itu?!" "Maafkan aku, Tuanku. Tapi, gadis itu—punya kekuatan yang sangat besar. Sepertinya, karena wanita itu." "Wanita siapa?" "Dia yang selalu menjadi saingan mu." "Apa? Kau, yakin? Wanita itu sudah lenyap." "Aku sangat yakin." "Ah, jadi seperti itu." "Lalu, apa yang harus aku lakukan? Haruskah, aku menghabisinya sekarang?" "Tidak menyenangkan, jika dia akan langsung mati. Kita hancurkan saja tempatnya." "Maksudmu rumahnya?" "Tidak. Tapi, dunianya." "Bagaiman caranya?" "Sebarkan virus Morves ( Virus yang mampu merubah manusia menjadi mayat hidup, serta menyerang manusia lain) di dunia manusia." "Akan aku laksanakan titah mu, Tuanku." Solomon segera menjadi asap hitam.Dan, melesat melewati Raja Duis. ** "Pesan makanan melalui ponsel?" tanya Key. Aland mengangguk. "Hei, jangan bilang-" "Memangnya, ponsel dapat mengeluarkan makanan?" Aland mendengus, sembari menyunggingkan senyum. "Kau, tidak tahu juga." "Nona Key, memang tak pernah mengetahui kemajuan teknologi," jelas Dena. "Jadi, wajar saja kalau dia tidak tahu," lanjut Dena. "Ponsel itu apa?" tanya Alardo. "Ada yang lebih primitif dari Key," celetuk Alder. "Ah, kau kembali sombong setelah aku membantumu?" Alder yang semula menumpukan kaki kanan di atas kaki kiri, kini menurunkannya. Merapatkan kaki. "Maaf." "Cepat jelaskan. Apa itu ponsel?" "Aland.. keluarkan ponselmu," pinta Alder. Aland menarik keluar ponsel dari dalam sakunya. Meletakkannya pada meja, yang ada di tengah-tengah mereka. Alardo maju. Memperhatikan ponsel layar sentuh milik Aland. Dengan kerutan di kening, ia mengambil ponsel tersebut. Membolak-balik nya. Tak lama, ponsel tiba-tiba berbunyi. Dena yang duduk di seberang Alardo, sengaja menelepon ponsel Aland. Mereka tertawa melihat Alardo, yang berjengit kaget. Lantas, meletakkan kembali ponsel pada meja. "Ke-kenapa tiba-tiba berbunyi?" "Itu namanya ada telepon masuk." "Telepon?" Aland yang duduk di sebelah Alardo, mengambil ponselnya. Bergeser lebih dekat pada Alardo. Mengetuk layar ponsel 2 kali. Alardo tercengang saat melihat layar menyala. "Ah, aku pernah melihat benda. Itu yang selalu menempel pada telinga manusia." "Yap, itu mereka sedang melakukan panggilan telepon. Di mana, kau bisa berkomunikasi dengan seseorang, meskipun jaraknya jauh." "Oh, seperti telepati?" "Mmm.. semacam itu. Tapi, kau harus menyimpan nomor orang tersebut." "Nomor? Nomor apa?" "Mmm.. sebagai penghubung agar kau dapat berbicara dengan orang yang jauh di sana." "Ah, masih lebih hebat telepati ku. Kau, hanya perlu memikirkan siapa yang ingin di ajak bicara. Lalu, katakan dalam otakmu yang di bicarakan." "Hei, jangan membual. Bisa kau lakukan itu sekarang?" Alder lagi-lagi memancing emosi. Alardo menatapnya. Sepersekian detik kemudian, Alder terbelalak. "Maafkan, aku, Tuanku," kata Alder, sembari sedikit membungkuk. "Kenapa kau minta maaf? tanya Key, yang duduk di sebelahnya. "Dia-" "Aku mengatakan padanya, agar tetap diam. Jika tidak, akan aku cincang tubuhnya. Dan, aku berikan pada singa. Atau kalau tidak, akan aku lempar dia ke dunia Belle." "Ah, kau benar-benar bisa telepati rupanya." "Tentu. Itu sangat mudah. Dan, sederhana. Tak perlu membawa benda kecil seperti itu kemana-mana." "Kau, hebat Alardo," puji Key. Alardo tersipu. Aland mendengus. "Sekarang, kita pesan makanan saja," kata Aland. Key segera berdiri. Mengitari meja. Duduk di sebelah Aland. "Cepat lakukan. Aku penasaran," kata Key, menatap ponsel. Pun, dengan Alardo. Semakin membuat Aland mendengus heran. Kemudian, ia masuk ke salah satu aplikasi jasa makanan online. Dan, segera terpampang berbagai jenis masakan dari beberapa rumah makan di Birmingham. "Wow.. Kita bisa memesan itu semua?" tanya Key. "Yap. Hanya dengan sentuhan jari. Dan, menunggu beberapa menit—pesanan akan datang." "Wow," gumam Alardo. "Sekarang, kau ingin makan apa?" "Mmm.. Pizza yang kemarin! Bisa kita memakannya lagi?" "Tentu. Kau, juga mau Alardo?" Alardo mengangguk berulang. Dan, Aland segera memesan pizza. "Tinggal tunggu pizza-mu datang." 30 menit kemudian, ada yang membunyikan bel. Key bergegas berdiri. "Pasti itu pengirim pizza, kan?" Key berlari dengan riang. Membuka pintu. Namun, segera membeku. "Razita, ada apa denganmu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN