Chapter 21

1909 Kata
Pasar tradisional pagi ini begitu ramai. Ibu-ibu membawa anaknya untuk berbelanja. Remaja gadis memenuhi toko pernak-pernik. Kain-kain berwarna-warni di pajang berdampingan. Penjual baju memasang harga diskon, hingga di serbu oleh beberapa ibu-ibu. Pun, dengan Aila dan Razita yang berbelanja kebutuhan dapur. Setelah membeli sayuran, mereka beralih ke toko daging. "Pria bernama Alardo, makannya sangat banyak," celetuk Razita. "Ya. Daging panggang untuk sarapan saja, di habiskan semua olehnya." "Kenapa dia tak pulang-pulang?" "Kau, tak tahu? Dia terluka parah, kata Nenek Meida." "Tapi, dia terlihat sehat." "Benar. Aku juga melihatnya seperti itu." "Aku takut, jika dia akan berbuat buruk pada Nona Key." "Aku juga. Tapi, untungnya ada Aland dan Nenek. Jadi, aku tidak terlalu takut." Sementara itu di sisi lain pasar tradisional, Solomon baru saja tiba. Dengan pakaian mirip dengan Raja Duis, namun, semuanya berwarna hitam. Solomon mengedarkan pandangan. Mencoba mencari mangsa yang tepat. Sembari, melipat tangan di d**a, ia berjalan santai. Menghirup udara yang panjang. "Aroma tubuh manusia... sangat menyegarkan sekali." Di detik selanjutnya, tak sengaja seorang anak kecil menabrak kakinya. Solomon menunduk, melihat anak laki-laki berambut pirang, yang jatuh terduduk. "Hmm.. apa aku harus memakan mu?" Mendengar itu, anak laki-laki berusia 6 tahun itu menangis. Membuat orang-orang di sekitar menghentikan aktivitasnya. Pun, dengan Aila dan Razita. Berjalan mendekat. Bersamaan dengan Ibu si anak. "Austin! Kau, baik-baik saja?" Ibu yang memiliki tubuh gemuk, memakai rok hitam mengembang itu, membantu sang anak bangun. "Kau, apakan anakku?!" pekiknya, semakin mengundang perhatian. "Hmm.. sepertinya kau cocok." Ibu yang usianya di pertengahan 30 itu mengernyitkan dahi. "Apa yang kau katakan?" Solomon membungkukkan badan. "Hei, larilah sejauh mungkin. Kalau, kau tak ingin mati di usia muda." "HEI! Bicaramu sangat keterlaluan sekali!" "DENGARKAN AKU KALIAN SEMUA MANUSIA MENJIJIKKAN! AKU BERI WAKTU 3 DETIK, UNTUK MELARIKAN DIRI! JIKA, KALIAN TIDAK INGIN MATI!" Mereka pun saling berbisik kemudian. Mengatakan, jika Solomon adalah orang tak waras. "Ada apa dengan orang itu?" bisik Aila pada Razita. "Entahlah. Mungkin, dia sudah hilang akal." Razita ikut berbisik. Lantas, yang terjadi di detik selanjutnya, membuat suara terkesiap dari semua orang terdengar. Solomon menerkam Ibu Austin. Menggigit lehernya secara membabi buta. Sedangkan, Austin hanya menangis memukul punggung Solomon. Apa daya, Ibu Austin sudah tewas. Dengan darah terus mengalir dari lehernya yang menganga karena gigitan Solomon. "Seseorang! Tolong hentikan dia! Atau, panggil polisi!" teriak Razita. Membuat Solomon menghentikan aksinya, menatap Razita, dengan mulut penuh darah. Razita melebarkan mata. Penuh ketakutan. Solomon berjalan sangat cepat ke arahnya. "Demi nama Tuhan, makhluk apa kau ini?" tanya Razita. Solomon mengendus aroma tubuh Razita, lalu menyeringai. "Aroma tubuh gadis itu tercium di tubuhmu. Apa, kau mengenalnya?" "Siapa yang kau maksud?" "Key.. Addison." Aila kembali terkesiap. Razita membeku. Gemetar seketika seluruh badan. "Kau.. dari dunia iblis?" Solomon kembali menyeringai. Menyentuh tangan Razita. Mendekatkannya pada mulut, dan sedikit menggigitnya. "Ough! Sakit! Apa yang kau lakukan?" "Lihatlah wanita yang tergeletak itu, kalau kau ingin tahu, kenapa aku menggigit mu." Aila dan Razita pun kembali menatap Ibu Austin, yang tiba-tiba tubuhnya bergerak seolah tersetrum. Jari-jarinya menekuk ke dalam. Tubuhnya menegang. Dengan gerakan kayang, Ibu Austin membuka mata yang berwarna hitam legam. Mengerang seperti hewan buas. Mulutnya penuh dengan lendir. Ia menyerang Austin, hingga tewas. Lantas, menyerang orang yang jaraknya paling dekat dengan dirinya. Semuanya berlari semburat ke berbagai arah. Laki-laki yang digigit oleh Ibu Austin pun, bersikap sama. Tak bergerak beberapa detik. Lantas, terbangun dengan kondisi yang sama. Mata hitam. Sifat brutal. Memburu semua orang yang di lihatnya. "Apa yang kau lakukan terhadapku, dan wanita itu?" "Aku menyebarkan Morves." "Apa itu?" "Pangeran Van—Ah, mungkin kau mengenalnya dengan nama Alardo. Tanyakan saja pada dia, apa itu Morves." "Tenang saja, kau tak akan cepat berubah seperti dia. Ini hanya gigitan kecil. Kau, mungkin bisa bertahan hingga tengah malam nanti. Sekarang, larilah." Aila menjatuhkan kantung belanjanya, menggandeng Razita. Dan, berlari sekencang mungkin. Menjauh dari pasar tradisional yang sudah kacau. Hampir sebagian orang sudah berubah menjadi mayat hidup yang beringas. Menggigit semua yang belum terinfeksi. Setelah di rasa aman, Razita menghentikan larinya. Menghempaskan tangan Aila, yang menggenggamnya. Aila berbalik. "Kenapa? Ada apa denganmu? Ayo cepat kita lari." Razita menggelengkan kepala. "Kau, pulang saja sendiri. Katakan, pada Nenek—kalau, Nona Key dalam bahaya." "Tidak! Kita harus pulang bersama, Razita! Aku tidak mau meninggalkanmu!" "Kau, tidak lihat luka di tanganku ini?! Aku akan berubah seperti mereka! Aku tidak akan mengenalimu, ataupun yang lain! Aku akan menggigit mu!" "Karena itu, kita cari cara untuk menyembuhkan mu! Pria bernama Alardo, yang ada di rumah pasti tahu!" gadis berambut hitam lurus, panjang sepunggung itu meyakinkan Razita. "Aku takut, Aila. Aku akan menyakiti kalian!" "Tidak masalah bagiku! Asal, aku tak meninggalkanmu di sini sendiri!" Lantas, tak lama kemudian, gerombolan mayat hidup yang beringas, nampak berlari dari kejauhan, ke arah mereka. "Razita! Ayo cepat! Mereka datang!" Razita menengok ke belakang. Napasnya memburu. Sangat ketakutan. Bola matanya bergerak gelisah. "Razita!" Aila kembali menggenggam tangan Razita. Menariknya untuk berlari. Menjauh dari gerombolan mayat hidup yang seolah lapar itu. ** Bel pintu berbunyi. "Pasti itu pengirim pizza, kan?" Key berdiri. Berlari dengan riang. Membuka pintu. Dan, membeku. Melihat Razita, yang sudah pucat pasi, dengan napas tersengal. Keringat bercucuran. "Razita.. Ada apa denganmu?" "Nona Key.. Aku.." Razita tampak ingin menangis. "Maaf, aku kehilangan kunci rumah. Jadi, aku harus mengetuk pintu.". "Bukankah, kau tadi pergi bersama Aila? Di mana dia?" "Aila.. dia.." Razita meneteskan air mata. Key memiringkan kepalanya. Menatap ke arah belakang Razita. "Oh, itu Aila." Aila berlari dengan sesekali menengok ke belakang. Para mayat hidup mengejarnya. "Oh, Tuhan. Makhluk apa yang mengejar Aila itu?" Razita segera berbalik badan. "AILA! CEPAT!" "Nona Key, cepat masuk! Jangan tutup pintunya dulu!" "Ada apa?" "Nanti saja aku jelaskan! Cepat masuk!" Key pun melangkah mundur. Razita mengulurkan tangannya pada Aila, yang jaraknya sudah dekat dengannya. SATU. DUA. TIGA. Dengan dramatis, Aila dan Razita berhasil masuk. Dan, menutup pintu. Para mayat hidup menabrak pintu. Erangan yang bersahutan, terdengar mengerikan. Aila dan Razita duduk bersimpuh. Punggungnya bersandar pada punggung. Mengatur napas. "Aila.. kau, tidak apa-apa, kan? Kau, tidak tergigit?" tanya Razita, menghadap Aila. "Aku tidak apa-apa." "Oh, syukurlah!" Razita memeluk Aila. Sementara, mereka yang duduk di sofa ruang tamu, mendekati mereka. "Aila, Razita.. Sebenarnya ada apa? Dan, makhluk apa yang ada di luar itu?" tanya Key. "Makhluk apa?" tanya Dena. "Tunggu sebentar. Biar aku memeriksanya," kata Alder. Kemudian berjalan menembus pintu. "Oh, aku baru tahu, jika Alder dapat melakukan itu." "Semua Pyx dapat melakukan itu," jelas Aland. Hanya sepersekian detik, Alder kembali masuk dengan wajah cemas. "Oh, oke! Ini gila! Jangan ada yang keluar dari rumah!" "Ada apa memang?" tanya Aland. "Kalian pernah melihat film tentang zombi?" "Zombi?" tanya Key. "Zombi adalah mayat hidup yang memiliki sifat agresif. Menularkan virus melalui gigitannya." Alardo mengernyitkan kening. "Maksud Alder, di luar ada Zombi?" tanya Dena. Alder mengangguk. "Kata Alder begitu." "Oh, Tuhanku. Kalian berdua tidak apa-apa?" Dena mendekati Aila dan Razita. "Razita di gigit," kata Aila. "Di gigit Zombi?" "Tidak." "Lantas?" Razita yang sejak tadi sudah menatap kesal pada Alardo, kini berdiri. Berjalan mendekati Alardo. "Ini semua gara-gara kau! Seandainya saja, kau sudah pulang ke duniamu! Orang-orang itu tak akan menjadi mayat hidup! Dan, aku tak akan di gigit oleh iblis busuk itu!" "Iblis? Kau, di gigit oleh iblis?" tanya Alardo. "Lihat ini! Lihat tanganku! Aku akan segera berubah seperti mereka. Aku.. Aku.. akan segera mati!" Lagi-lagi, air mata Razita menetes. Alardo memegang tangan Razita. Mengendusnya. "Solomon.." kata Alardo. "Siapa itu?" tanya Key. "Salah satu pengikut Ayah. Dia pemimpin kedua para Morten. Kita juga pernah di kejar olehnya. Saat di pondok Gumul. Juga, di hutan." "Tunggu, Morten dengan rambut mohawk itu?" tanya Alder. "Mohawk? Apa itu?" "Ah, yang rambutnya berdiri semua." "Ya. Dia." "Tak mungkin. Dia sudah lenyap. Key membuatnya menjadi abu." "Mungkin Ayahku, menghidupkannya kembali." "Oh, kekuatan Ayahmu tak main-main." "Jadi, Zombi itu berbahaya? Dia menyerang siapa saja?" "Ya. Dia menyerang makhluk, yang aromanya tak sama dengan dirinya," jelas Alardo. Key mendesah berat. "Bagaimana ini?" "Ada apa?" tanya Alder. "Nenek.." Dena terkesiap. Menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Sejak pagi, Nenek ada di gudang halaman belakang. Sedang memeriksa, rempah-rempah," kata Dena. Key berjalan ke arah pintu. Aila menghadangnya. "Jangan keluar, Nona Key! Mereka berbahaya!" "Nenekku juga dalam bahaya! Aku tidak bisa diam di sini!" Kali pertama, Key menunjukkan emosi marahnya. Membuat yang lain terkejut. "Nona Key.." "Minggir! Aku harus menolongnya! Dia satu-satunya keluargaku sekarang!" "Key, tenang dulu. Biar aku yang pergi menemui Nenek Meida," kata Alder. "Aku akan ikut dengan Alder," tambah Alardo. Kemudian berjalan mendekati Key. Memegang kedua bahu Key. "Aku akan menyelamatkan satu-satunya anggota keluargamu itu. Jangan khawatir." Alder menepuk bahu Alardo cukup keras. "Jangan melankolis. Ayo cepat pergi." Alder kembali menembus pintu. Sementara, Alardo merubah diri menjadi asap hitam. Juga, menembus pintu. "Dia.. benar-benar iblis rupanya," celetuk Aland. "Kau, pikir dia tengah melakukan permainan kostum?" cetus Dena. ** Meida baru saja mengunci gudang. Di sambut oleh gemuruh dari langit. Awan mendung berjalan membentuk barikade. "Sepertinya, akan terjadi badai," kata Meida. Gemuruh kembali terdengar. Tapi, kini tak dari langit. Melainkan dari arah belakang Meida. Meida segera mengernyitkan dahi. Dan, berbalik badan. Lantas, terbelalak. "Demi nama Tuhan!" Satu mayat hidup menerkam dirinya, hingga jatuh ke belakang. Beruntung, Alardo segera tiba. Ia menyingkirkan tubuh mayat hidup itu. Dan, melemparnya ke samping. Tapi, mayat hidup itu kembali bangun. Dan, kembali berlari mendekati Meida. Alardo mengarahkan tangannya pada mayat hidup itu. Menggerakkannya ke kanan. Hingga, terdengar patahan dari leher mayat hidup. Dan, di hentakkan tangannya. Membuat kepala mayat hidup itu terlepas dari tubuhnya. "Meida.. kau, baik-baik saja?" "Ya. Makhluk itu adalah zombi?" "Di tempatku kami memanggilnya mayat hidup." "Lantas, kenapa tiba-tiba ada mayat hidup di sini?" "Sepertinya, Ayah memerintahkan untuk menyebar virus Morves." "Oh, Tuhanku. Ini sangat buruk." "Meida.. bisa kau tengadahkan tanganmu." "Untuk apa?" "Lakukan saja." Meida menengadahkan tangannya. Sementara Alardo, memanjangkan kukunya. Menyayat tangannya, sehingga darah birunya mengucur pada tangan Meida. "Alardo! Apa yang kau lakukan?!" "Oleskan darahku ke tubuhmu. Dengan begitu, mereka tak akan mendekatimu." "Tapi, kenapa kau harus seperti itu? Kau, bisa mengawal ku kembali ke rumah." "Aku akan menghabisi para mayat hidup itu. Dan, itu membutuhkan waktu lama. Key—sudah mengkhawatirkan mu." "Alardo! Bisakah kau berhenti mengobrol?! Aku sudah hampir mati kelelahan!" teriak Alder, dari kejauhan. Memukuli semua mayat hidup. "Meida! Cepat balurkan darah itu. Dan, pergi dari sini." Alardo segera pergi, mendekati Alder. Sementara, Meida mengoleskan darah Alardo ke semua bagian tubuhnya. Lantas, berlari. "Kenapa kau bisa mati kelelahan? Kau, saja bukan manusia!" cetus Alardo. "Ah, aku lupa bagian itu. Tapi, kenapa mereka tidak mati-mati?" tanya Alder, sembari terus memukuli para mayat hidup. "Mereka tidak akan mati karena itu. Kau, ingat bagaimana melawan Morten ketika itu?" Alder menengok sejenak pada Alardo. "Jangan bilang-" "Ya. Patahkan leher mereka." "Sial. Aku sangat benci itu." Alder pun mengikuti metode Alardo. Mencekik leher mayat hidup. Mematahkannya ke kiri. "Kau, juga harus mencabutnya." "Sial! Apa, kau tidak punya pedang atau tombak? Tanganku sakit. Aku tidak sekuat dirimu." Alardo berdecak, sambil melepaskan kepala satu mayat hidup. "Kau, sangat lemah. Mundur saja. Biar aku yang menghabisi mereka." Sedangkan di sisi lain, Meida sudah tiba di gedung utama : Rumah. Segera membuka pintu. Dan, menutupnya. Key segera memeluk Meida, yang tubuhnya berwarna kebiruan. "Nek! Syukurlah, kau baik-baik saja." Meida menepuk ringan bahu Key. "Nenek baik-baik saja." Dena mengerutkan kening. "Nek.. kenapa bau mu amis sekali?" Key melepaskan pelukannya. Memperhatikan tubuh Meida. "Ini.. darah Alardo?" "Ya. Dengan mengoleskan darah Alardo ke tubuhku, aku bisa selamat." "Tapi, Alardo baik-baik saja, kan? Dia tak terluka." "Key.. dia seorang Pangeran iblis. Mustahil, jika dia terluka," celetuk Aland. "Kau, khawatir dengannya?" tanya Meida. Key mengangguk. "Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN