Meida baru saja membersihkan badannya. Melintas di ruang tamu, bersamaan Alardo dan Alder baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalian, baik-baik saja?"
"Tentu. Kami bukan manusia. Tidak mungkin di gigit oleh mereka," celetuk Alder.
"Syukurlah. Lalu, para mayat hidup itu? Apa mereka sudah lenyap?"
"Untuk sementara, yang ada di sekitar rumah—sudah tidak ada. Tapi, aku tidak tahu—seberapa banyak mereka."
"Kenapa Ayahmu melakukan ini semua? Apa, dia ingin memburu mu?"
Alardo mendesah panjang.
"Tujuan utamanya adalah Key."
"Key?"
"Key adalah immora. Dia manusia cenayang, yang dapat menghancurkan kaum kami dan Verden Morke."
"Jadi, nyawa Key terancam?" tanya Meida, dengan melebarkan mata.
Alardo mengangguk.
**
Bulan sabit yang sedikit tertutup awan, sudah terlihat dari jendela kamar Key. Semilir angin malam, yang terasa dingin membuat bulu kuduk Key berdiri.
Key terus mengedarkan pandangan pada halaman, yang ada di bawahnya. Sampai hari sudah malam pun, Alardo dan Alder belum juga kembali. Ia sedikit khawatir. Atau—mungkin sangat. Desahan singkat terus terdengar darinya.
"Kenapa kau belum tidur?"
Suara dari arah belakangnya, membuat Key melebarkan mata. Berbalik. Dan, melihat Alardo berdiri di dekat pintu. Masih dengan gayanya. Kedua tangan di sembunyikan di belakang punggung.
Key segera berlari mendekati Alardo. Saking terburu-burunya, ia tersandung oleh kakinya sendiri. Beruntung, Alardo dengan cepat memegang kedua bahunya.
"Hati-hati. Kenapa kau selalu ceroboh."
"Kau, tidak apa-apa? Tidak terluka?"
Alardo mendengus.
"Kau, menungguku?"
Key mengangguk.
"Kau, tidak apa-apa, kan?"
"Kalau aku bisa kembali kemari dengan senyuman, itu artinya?"
"Mmm.."
Alardo menyunggingkan senyum.
"Aku ini Pangeran Kegelapan. Aku tak mungkin terluka."
Key menggelengkan kepala.
"Kau, meragukan ku?"
Kini Key mengangguk.
"Waktu kita terbang, kau terluka, kan?"
"Ah, waktu itu. Itu karena aku membawamu. Tubuhmu sangat berat sekali."
"Ah, begitu."
Alardo kembali mendengus, sembari menyunggingkan senyum. Berjalan mendekati jendela Key.
"Kau, benar-benar sangat polos, Key."
"Huh?"
Key mengikuti langkah Alardo. Keduanya berdiri di depan jendela.
"Kau, selalu percaya dengan semua perkataan orang."
"Bukankah itu baik?"
"Terkadang juga buruk, Key. Tidak semua manusia itu berhati baik. Kau, harus belajar tentang itu."
"Bagaimana caranya?"
"Kau, hanya memerlukan insting mu. Jangan terburu-buru percaya dengan orang lain. Pun, jangan menunjukkan wajah bodoh mu. Seperti sekarang."
"Oh.. begitu.."
"Haha. Kenapa kau cemberut?"
"Kau, tidak boleh mengatakan aku bodoh. Kata Dena, itu kata yang tidak baik."
"Ah, maafkan aku."
"Baiklah."
Hening untuk beberapa saat. Tidak ada suara ngengat atau pun hewan malam saat ini. Tidak seperti biasanya. Alder yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Key, hanya mampu mendesah singkat. Lalu, berjalan pergi.
"Kau, harus sadar diri, Alder," gumamnya.
"Key.." panggil Alardo.
"Hm?"
"Kau, tak merindukan Ibu dan Ayahmu?"
"Kenapa kau tanya begitu?"
"Beberapa hari kemarin, aku melihat Alder sangat rindu pada pada orang tuanya. Dia berpisah baru beberapa tahun. Sedangkan, kau sejak kecil. Aku pikir, kau pasti rindu."
Key diam sejenak. Mendesah panjang.
"Setiap hari," katanya.
"Aku merindukan mereka setiap hari. Terkadang, dalam mimpiku mereka muncul. Kami— hidup bahagia dalam mimpiku. Hingga, terbesit di pikiranku—tak ingin bangun dari mimpi. Karena, itu lebih indah daripada kenyataan."
"Dengan adanya Meida, Dena, Aland, Alder, dan 2 asisten rumah tanggamu—apa itu tidak cukup membuatmu bahagia?"
Key menatap Alardo, yang juga menatapnya.
"Mereka menyayangimu tanpa syarat. Bahkan, siapa tadi yang terkena gigitan Solomon?"
"Razita."
"Kau, tak ingat ceritanya tadi? Dia sempat berpikir, tak ingin pulang kemari. Karena, takut mencelakai mu. Tidakkah itu membuatmu bahagia? Seseorang yang tidak memiliki hubungan darah denganmu, rela berkorban untukmu. Harusnya, kau bersyukur, Key. Masih banyak yang sayang padamu."
Key tersenyum kecil.
"Kau, benar juga."
"Ngomong-ngomong, di mana Razita?"
"Ada di kamarnya."
Di depan kamar Razita-Aila berdiri dengan jemari saling bertautan, bergerak gelisah.
"Aila.. makanlah dulu. Kau, bisa sakit nanti," kata Dena, yang baru saja datang.
"Aku tidak bisa meninggalkan Razita."
"Aku akan menjaganya, selama kau makan. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja."
Bola mata Aila bergerak ke kanan dan kiri.
"Sebentar, aku ingin bicara dengannya."
Dena mengangguk. Aila mendekati pintu. Lantas, mengetuknya.
"Razita.. kau, tidak lapar? Aku bisa membawakan mu makanan."
"Oh, tidak. Kau, saja."
"Tidak haus."
"Tidak."
"Razita.. kau, jangan menyerah. Kau, pasti bisa melewati ini semua. Aku.. tak akan pernah meninggalkanmu."
"Oh.. terima kasih."
Razita menatap dirinya pada cermin meja rias. Wajahnya yang sudah mulai pucat. Urat hijau-biru di wajahnya terlihat. Razita menangis dengan sebelah matanya, yang sudah berwarna hitam.
"Maafkan aku, Aila. Aku tidak bisa bertahan," gumamnya, dalam tangis.
**
"Key.. apa kau ingin melihat orang tuamu?" tanya Alardo.
"Apa, kau bisa mempertemukan ku dengan mereka?"
"Tidak bisa. Karena, mereka sudah pergi ke atas. Tapi, aku bisa menciptakan bayangan mereka. Sama persis seperti aslinya."
"Tidak apa-apa. Asal aku bisa bertemu dengan mereka. Tapi, apa aku bisa memeluk mereka?"
Alardo menggeleng.
"Ah, baiklah."
"Tutup matamu."
Key menutup matanya. Alardo menempelkan telapak tangan kanannya pada mata Key.
"Sekarang, buka matamu."
Key perlahan membuka matanya. Sebuah cahaya muncul. Bersamaan dengan sosok kedua orang tuanya, yang berdiri dan tersenyum melihat Key.
"Ayah.. Ibu.."
"Key, bagaimana kabarmu?" tanya Rossa—sang ibu.
"Seperti yang kau lihat, Bu. Aku sangat baik. Aku sekarang memiliki banyak teman. Ada Alder. Dia penolongku, saat aku mengalami kecelakaan. Tapi, sayang.. nyawanya tak terselamatkan. Ada juga Aland—dia pengajar pribadiku. Cukup baik. Tapi, dia penakut. Juga, ada Dena. Dia cerewet. Tapi, cantik. Lalu, ada Aila dan Razita."
"Ah, juga.. ada Alardo. Dia—laki-laki yang sangat misterius. Kadang baik. Kadang jahat. Kadang aneh. Tapi, aku suka ada di dekatnya."
"Putriku—sudah dewasa, rupanya. Semakin pintar bicara," kata Stuart—Ayahnya.
"Hehe. Itu berkat semuanya. Jika, mereka semua tak ada—mungkin, aku sudah bersama kalian sekarang."
"Hidup di dunia—sangat berat, kan, Key?" tanya Rossa.
Key mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi, pesan Ibu—kau, jangan pernah menyerah. Kau, harus kuat. Pikirkan, orang-orang, yang sudah berkorban untukmu. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka. Kau, boleh menangis. Berteriak. Merutuk siapapun. Tapi—jangan ada kata menyerah pada dirimu. Sungguh, Key. Manusia itu—memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dalam dirinya. Hanya saja, seringkali mereka tak menyadari itu."
"Aku selalu berusaha untuk kuat. Aku selalu berusaha untuk tak mengingat kalian. Tapi, saat kembali teringat kalian—dan, bertemu kalian seperti ini, rasanya tubuhku lemah. Aku ingin di peluk oleh kalian. Tidak bisakah, aku pergi ke tempat kalian?"
Alardo yang mendengarnya, melihat Key dengan iba.
"Suatu saat nanti, Key. Akan ada waktunya, kau datang ke tempat ini. Tapi, tidak sekarang. Jalanmu masih panjang. Kau-"
Tiba-tiba suara Rossa terdengar lirih. Dan, menghilang. Di susul oleh Stuart.
"Ibu? Ayah?"
Key mengedarkan pandangan. Mencari kedua orang tuanya, di antara gelap.
"Elena.. Elena.."
Terdengar suara Rossa memanggil seseorang bernama Elena.
"Bu? Di mana kau?"
"Elena! Ibu di sini! Kemarilah!"
Saat Key berbalik badan—terlihat Rossa yang memakai gaun sangat ketat di bagian d**a hingga pinggang. Dan, mengembang kaku di bagian bawah. Berwarna hijau lumut. Dari kain yang licin. Rambutnya tergulung ke atas.
Key mengerutkan dahi.
"Bu?"
"Ya, Elena. Kemari. Ibu sudah menunggumu."
"Elena? Siapa itu?"
"Kau, tentu saja."
"Kau, sudah lupa dengan nama sendiri, Elena?"
Kini suara Alardo yang terdengar. Key menghadap ke kiri. Melihat Alardo dengan rambut panjang hitam, di ikat menjadi satu. Pakaiannya sama, saat ia dan Alardo pertama kali bertemu.
"Alardo?"
"Alardo? Siapa itu?"
"Kau, tentu saja."
"Kepalamu habis terbentur sesuatu, Elena? Aku Arthur—bukan Alardo."
"A-apa maksudnya semua ini?"
"Elena! Lari! Dia mengejar mu!"
Rossa menjerit. Menangis. Di belakangnya, ada sebuah asap hitam melesat. Dan, berubah menjadi Raja Duis. Menggigit leher Rossa.
"Tidak! Ibu!"
Key mendorong tangan Alardo. Mundur selangkah. Dengan napas terengah-engah.
"Key? Kau, baik-baik saja?"
"Apa itu tadi?"
"Ada apa?"
"Ibuku—memanggilku dengan nama Elena."
"Elena?"
"Ya. Dan, kau juga ada. Tapi, namamu Arthur. Bukan Alardo."
Alardo mengernyitkan dahi.
"Aku tak mengerti apa maksudmu."
"Lalu, tadi ada Ayahmu. Dia—membunuh Ibuku."
"Aneh sekali. Seharusnya, kau hanya melihat orang tuamu. Bukan yang lain."
"Kenapa?"
"Karena, aku yang menciptakan mereka di alam bawah sadar mu. Mereka tidak nyata."
"Alardo! Razita mulai berubah!" kata Alder.
**
Razita menabrakkan dirinya pada pintu, secara terus menerus. Mengerang seperti hewan buas. Aila menangis, di depan kamar Razita.
"Razita.. kendalikan dirimu. Aku mohon."
"Nenek.. Kau, tidak bisa menyembuhkannya? Aku mohon."
"Ini virus, Aila. Bukan kerasukan. Aku tidak bisa melakukan apapun."
Pintu terus terdorong. Razita berusaha mendobraknya. Karena, mencium aroma tubuh manusia.
Di detik selanjutnya, Alder, Alardo dan Key tiba. Aila yang melihat Alardo, segera mendekatinya. Berlutut.
"Kaum mu adalah pencipta virus ini. Jadi, kau pasti bisa menyembuhkan Razita. Aku mohon padamu. Jangan biarkan Razita menderita."
"Hanya ada satu cara, agar Razita bisa kembali seperti semula."
"Sungguh? Bagaimana caranya?" tanya Key.
"Menghabisi inangnya. Semua. Tanpa terkecuali."
"Inangnya? Apa Solomon?" tanya Key.
"Dia juga salah satunya. Raja Iblis dan seluruh kaum Morten. Dengan begitu, virus itu akan menghilang. Mereka yang menjadi mayat hidup, akan kembali normal."
"Termasuk—menghabisi mu?" tanya Key.
Alardo mengangguk. Sementara, Aila berdiri.
"Kalau begitu, izinkan kami untuk membunuhmu."
"TIDAK."
Key berjalan maju.
"Kau, tidak bisa melenyapkan Alardo!"
"Nona.. Razita harus di selamatkan."
"Aku tahu! Pasti ada cara lain."
"Tidak ada cara lain, Key," kata Alardo.
"Tapi, aku tidak setuju! Jika, harus melenyapkan mu!"
"Nona.. apa, kau akan membiarkan Razita yang setia padamu—mati begitu saja?"
Key diam.
"Tapi, jangan Alardo. Jangan bunuh dia."
"Kenapa? Kenapa kita tidak bisa menghabisinya? Apa, karena Nona menyukainya? Dan, lebih mengorbankan nyawa Razita."
Bola mata Key membeku. Mulutnya tak dapat bicara.
BRAK!
Pintu kamar Razita roboh. Semuanya melangkah mundur. Tubuh Razita jatuh di atas pintu. Sekejap berdiri.
"Semuanya berada di belakangku!" perintah Alardo.
Hidung Razita berkerut-kerut. Mengendus di sekitar. Kedua matanya berubah menjadi hitam. Jari-jarinya menekuk ke dalam.
"Kalian melangkah mundur dengan perlahan. Tapi, jangan sampai bersuara," bisik Alardo, pada mereka yang bersembunyi di belakang punggungnya.
Paling belakang sendiri adalah Dena. Ia mundur dengan sangat hati-hati. Dan, berhasil menjauh. Kedua, adalah Meida. Ia mengendap-endap. Berhasil menjauh juga. Ketiga adalah Alder, yang berjalan santai. Namun, tetap tanpa suara. Meski, ia tak akan menjadi target, tapi ia tak akan membahayakan yang lain.
Keempat Aila. Ia menahan isak tangis. Menilik Razita, dari punggung Key. Melangkah mundur dengan langkah gemetar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tangis Aila tiba-tiba pecah. Ia melangkah maju.
"Razita! Sadarlah! Ini aku! Aila!"
Razita yang mencium aroma tubuh Aila, segera mengerang. Berlari ke arah Aila. Alardo segera menarik tubuh Aila ke belakang. Hingga, ia jatuh dengan posisi duduk. Melihat Alardo mematahkan leher Razita, dan melepaskan kepalanya.
Aila terbelalak. Menjerit tidak karuan. Key berlutut. Lantas, menutup mata Aila, yang terus menangis depresi.
**
Verden Morke
"Princeps noctis! ( Penguasa malam)"
"Princeps naturae! ( Penguasa alam)"
"Invisibilium ( Yang tak pernah terlihat)"
"Difficile tactus ( Sulit terjamah)"
"Nigrum lepus in conspectu Domini adducere mihi ( Datangkanlah kelinci hitam di hadapanku)"
"Appare, iris sacra super aethera devota ( Munculah, lingkaran cahaya sakral di atas langit terkutuk)"
Setelah Raja Duis mengucapkan mantera itu, munculah bulan purnama di langit. Seketika, asap putih tebal muncul di berbagai arah. Semakin meninggi. Menebal. Kemudian, menipis. Desa penyihir pun terlihat.
"Siapa yang berani membangunkan desa penyihir sebelum waktunya!"
Suara Belle memekik, di pintu gerbang depan desa penyihir. Tak lama setelah itu, Raja Duis terlihat. Belle terbelalak. Membungkukkan setengah badannya.
"Tuanku, Raja Duis. Apa yang membawamu kemari?"
"Belle—penyihir tercantik ku. Apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
"Ada hal penting apa, sampai kau membuat bulan purnama muncul?" lanjut Belle.
"Kau, memiliki sesuatu yang sangat berharga, kan?"
"Oh, di desa ini banyak benda berharga, Tuanku. Lebih tepatnya, apa yang kau cari?"
"Ramalan immora."