Masa Dulu
Suara sepatu kuda berhenti di depan kastil dengan tembok bata abu. Kusir laki-laki, yang memakai pakaian zaman kerajaan Inggris dulu, dengan sepatu boot—turun dari kereta kuda, dan membuka pintu di badan kereta yang berbentuk mangkuk. Berwarna hitam cemerlang, serta mengkilap.
Kereta kencana itu sangat mewah. Terdapat ukiran emas di atas badan kereta. 4 roda emas yang besar. 2 kuda penarik pilihan dari peternakan terbaik.
Adalah milik salah satu bangsawan di Birmingham zaman dulu. Seorang gadis turun dari kereta. Berambut ikal, yang di gulung sedemikian rupa. Dengan memakai gaun lengan panjang. Sangat ketat di bagian atas. Dan, mengembang kaku di bagian bawah.
Ialah Key—yang dulu di panggil Elena. Dari keluarga yang cukup terpandang, di urutan kedua, setelah keluarga kerajaan. Berjalan dengan anggun, memasuki kastil.
Atap kastil sangatlah tinggi. Barang-barang sangat mewah, terlihat di mana pun mata melihat. Guci-guci emas di sepanjang meja kecil, tertata dengan rapi. Lampu gantung di tengah-tengah atap ruang keluarga, yang berhiaskan berlian.
"Nona Elena.. kau, sudah kembali," sapa salah satu asisten rumah tangganya.
"Di mana Ibu?"
"Sedang di taman belakang. Tengah kedatangan tamu."
"Siapa?"
"Ah, keluarga Linford datang kemari."
"Bersama dengan anak-anaknya?"
"Iya, Nona."
Seketika, Elena merapikan gaunnya. Menata sedikit rambutnya, meski tidak berantakan.
"Olivia, bagaimana penampilanku?"
"Selalu sempurna, Nona."
Elena tersenyum lebar.
"Nona.. Tapi, Nyonya memerintahkan kau untuk segera istirahat."
"Ini lebih penting dari istirahat, Olivia."
Elena mengangkat gaunnya sedikit. Mempertontonkan sepatu dengan hak 5 senti, berwarna emas. Lantas, berjalan cepat.
"Nona—bisakah, kau berjalan sedikit anggun?"
Kalimat Olivia di abaikan oleh Elena.
Begitu sampai di taman belakang, Elena kembali merapikan gaunnya. Berdeham. Dan, berjalan dengan anggun. Terdapat meja panjang, dengan kain penutup putih di sana. 3 pemuda tampan duduk berdampingan, di tengah-tengah. Saling mengobrol. Seperti Ayah dan Ibu mereka.
"Selamat sore."
Elena memberi hormat, dengan menyilangkan kaki kanannya ke belakang. Sedikit mengangkat gaunnya.
"Oh, Elena kau sudah datang?" sapa Ibunya.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Oh, cukup menyenangkan. Tapi, ada sedikit masalah dengan keretanya."
"Ada apa?"
"Satu roda belakang tiba-tiba terlepas tadi."
"Oh, sungguh? Kau, tidak apa-apa?"
"Iya. Aku baik-baik saja. Hehe."
"Akan aku berhentikan kusir itu!" tegas Ayah Elena.
"Oh, tidak perlu, Ayah. Itu hanya kecelakaan, yang tak terduga."
"Elena.. tidak hanya wajahmu yang cantik. Tapi, hatimu juga," kata Nyonya Linford.
"Anda juga sangat cantik."
"Oh, aku tersanjung."
"Kau, bergabung saja dengan para pemuda, yang suka bergosip itu," kata Nyonya Linford.
"Kalimat itu, yang sejak tadi aku tunggu," gumam Elena.
"Apa?"
"Oh, tidak. Nikmati jamuan kami. Saya kesana dulu."
Setelah memberi hormat, Elena segera berjalan ke arah 3 pemuda tersebut.
"Hei, Elena. Kau, semakin cantik saja," kata Alfred Linford.
Dia adalah Alder zaman dulu. Dari sambutannya pada Elena, sudah menunjukkan jika memang mereka sangat akrab.
"Oh, tentu saja. Aku memang cantik sejak lahir."
Aaron mendengus.
"Bisakah, rasa percaya dirimu itu sedikit di turunkan? Itu akan menjadi masalah untuk dirimu sendiri," sahut Aaron.
Adalah Aland zaman dulu.
"Cih, bilang saja. Kalau, kekasihmu kalah cantik denganku."
Aaron melebarkan mata. Berdiri. Memutari meja. Berhenti di samping Elena.
"Bisakah, kau diam? Jangan bahas dia jika ada orang tuaku di sini!" bisik Aaron.
"Ah, maaf. Mereka masih belum tahu?"
"Veronica bukan berasal dari keluarga bangsawan seperti kita. Jadi, apa menurutmu saat aku membicarakannya di depan orang tuaku—mereka akan menerimanya?"
"Oh, aku rasa itu ide yang buruk."
"Karena itu, jaga bicaramu."
"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya, seru," tanya Arthur.
Alardo zaman dulu. Bukan kaum Morten. Atau pun pangeran kegelapan. Melainkan manusia. Kakak dari Aaron dan Alfred.
Alfred putra kedua. Terakhir, Aaron.
"Ah, tidak juga," jawab Aaron.
"Elena.. kau, belum menyapaku," kata Arthur.
"Oh, selamat sore, Arthur. Bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik sekali. Kau, baru pulang dari jalan-jalan?"
"Yeah. Aku bosan sekali di rumah. Tidak ada saudara. Atau, teman."
Elena lebih mendekat pada meja. Duduk di seberang Arthur.
"Kau, sering saja kemari. Temani aku di sini."
"Memangnya, kau kekasih Arthur? Sampai dia harus mengunjungimu kemari?" celetuk Alfred.
"Apa aku harus menjadi kekasih Arthur dulu? Kalau, ingin dia berkunjung kemari?"
"Haha. Nanti, kalau aku ada waktu luang—aku akan sempatkan kemari."
Elena mengangguk dan tersenyum. Lantas, menjulurkan lidah pada Alfred. Mengejeknya.
Arthur, Alfred dan Aaron memiliki nama belakang yang sama. Linford. Di mana itu adalah nama keluarga besar Ayahnya. Yang berarti, mereka adalah saudara kandung.
"Ah, aku bosan sekali di sini," kata Aaron. Duduk di sebelah Elena.
"Kita main saja ke kota. Bagaimana?" gagas Elena.
"Emm.. sepertinya menyenangkan," kata Arthur.
"Baiklah. Aku ikut," tambah Alfred.
Kini Elena menatap Aaron.
"Apa—aku boleh mengajak Veronica."
"Baiklah. Kita memakai keretaku saja."
"1 kereta? Tidak akan muat. Kekasih Aaron duduk di sebelah mana?" cetus Alfred.
"Hei, aku memiliki banyak kereta. Jangan khawatir. Alfred akan membawa kereta sendiri. Dan, menjemput—siapa nama kekasihmu tadi?"
"Veronica."
"Ya. Dia akan 1 kereta dengan Veronica. Sementara, kita bertiga juga 1 kereta. Kita akan bertemu di gerbang kota nanti. Bagaimana?"
"Baiklah."
**
Masa Kini
Setelah kematian Razita, malam pun di lewati dengan penuh keheningan. Meida, Dena, dan Aland mengubur jasad Razita, di halaman belakang rumah. Bersama makam-makam milik mendiang asisten rumah tangga Key yang lain.
Setelah berdoa. Meida berjalan pergi. Meninggalkan Dena dan Aland, yang masih menatap gundukan tanah basah itu.
"Aku yang tidak mengenalnya terlalu lama, merasa kehilangan. Apalagi, kau dan Aila. Maaf, Dena. Aku tidak bisa menghiburmu."
Dena tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa."
"Apa, kau ingin berjalan-jalan sebentar?" tanya Aland.
Dena mengangguk.
Keduanya pun berjalan di sekitar halaman depan.
"Razita—tulang punggung keluarganya. Dia pekerja keras. Sekalipun tahu kondisi Nona Key—ia tidak mundur sama sekali. Impiannya, hanya ingin membelikan rumah orang tuanya."
"Bukankah, itu impian semua orang?"
"Ya. Aku juga termasuk."
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"
"Mmm.. sejak Nona Key beranjak remaja. Saat itu, usiaku sama dengannya."
"Sebenarnya, aku adalah murid Nenek Meida. Karena itu juga, aku berada di sini."
"Tapi, Key egois. Dia lebih memilih iblis itu. Di banding Razita."
"Sebenarnya, dia tidak seperti. Mungkin saja, ada alasan lain."
Aland menghentikan langkah. Menghadap Dena, yang juga berhenti.
"Ada apa?" tanya Dena.
"Dari dulu, aku sangat ingin menanyakan ini padamu."
"Apa?"
"Apa, kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Huh?"
"Wajahmu—seperti tak asing bagiku.
**
Verden Morke
"Ramalan immora."
Belle tergelak.
"Aku.. tak mengerti apa yang kau bicarakan. Hehe."
Raja Duis mencekik leher Belle.
"Serahkan saja ramalan itu—atau, aku akan menghancurkan dirimu dan desamu."
Dengan terpaksa, Belle pun mengajak Raja Duis ke peternakan naga. Berdiri di salah satu naga berwarna merah.
"Mora! ( Keluarkan)" kata Belle.
Leher naga itu menggeliat untuk sesaat. Lalu, keluarga gumpalan cokelat dari mulutnya.
"Oh, menjijikkan sekali," kata Raja Duis.
Gumpalan cokelat berlendir itu, ada di tangan Belle.
Belle ragu untuk sesaat.
"Jadi, kau akan memberikannya atau tidak?" tanya Raja Duis.
Belle mendesah singkat.
"Exvola ( menjadi awal)"
Gumpalan cokelat tadi bergerak. Menjadi kering. Dan, berbentuk seperti kertas. Raja Duis, segera mengambilnya. Melihat sebuah gambar bergerak, seperti sebuah video di ponsel. Menunjukkan siapa Immora. Dan, bagaimana cara immora berperang melawan kaum Morten."
"Hmm.. menarik sekali. Ternyata, kaum penyihir juga membantunya."
Bibir Belle gemetar takut.
"Ka-kalau, kau menyuruh kami mundur—ka-kami akan melakukannya, Tuanku."
"Oh, sungguh? Kau, akan berpihak padaku?"
"Tentu saja. Lihat di akhir ramalan. Immora itu akan kalah olehmu! Jadi, untuk apa aku membantu yang kalah. Bukan begitu?"
Raja Duis menyeringai.
"Lantas, kenapa kau menyembunyikan tongkat sihir di belakang punggungmu?"
Sejak tadi, tangan kiri Belle menekuk ke belakang. Membawa tongkat cokelat kayu mengkilap, dengan bentuk meliuk seperti akar pohon.
Bola mata Belle bergerak gelisah.
"Oh, haha. Hanya untuk berjaga-jaga saja."
Belle menunjukkan tongkatnya.
"Aku suka sikapmu. Dan, aku percaya padamu. Jika kau mengkhianati ku, maka—kaum penyihir akan lenyap!"
Belle berlutut dengan satu kaki.
"Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Tuanku."
"Baiklah. Sekarang, ada satu hal yang harus kau lakukan."
**
"Ah, benarkah?" tanya Dena.
"Tapi, aku tak pernah kemana-mana. Apa mungkin kita bertemu di pasar tradisional? Aku sering kesitu."
"Entahlah. Aku sendiri juga tak tahu. Yang pasti, aku pernah melihatmu."
Kokokan ayam yang aneh terdengar kemudian. Langit segera berubah warna menjadi jingga semburat oranye.
"Kokokan ayamnya sangat aneh, ya? Seperti, suara orang menjerit," tanya Dena.
"Kalian, memelihara ayam?"
"Tidak."
Dena mengernyitkan dahi, menyadari itu.
"Lantas, ayam siapa yang berkokok? Dan, kenapa hari sudah pagi?"
Sementara itu, Alardo yang berada di kamar Key segera menuju jendela. Menyibak tirai. Melihat dan mendengar hal serupa.
"Apa mungkin.."
"Alardo? Ada apa? Oh, sudah pagi rupanya. Kita terjaga sepanjang malam."
"Tidak, Key. Seharusnya, ini belum pagi."
Key mengernyit.
"Tapi, langitnya seperti langit pagi."
"Ya, aku tahu. Tapi, lihat jam dinding di atas ranjang mu. Pukul berapa sekarang?"
"02.00 dini hari."
"Karena itu, harusnya langit masih gelap."
"ALARDO!"
Meida tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamar Key, dengan napas terengah-engah.
"Hari ini—adalah waktunya, kan? Seperti yang di katakan Ibumu?"
"Aku rasa begitu."
"Dalam nama Tuhan. Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Sekarang, pastikan semua orang sudah berada di dalam rumah. Aku akan membuat perisai untuk rumah ini."
Key yang mendekati jendela, melongok ke bawah.
"Kenapa harus ada di dalam rumah? Apa yang terjadi jika kita berada di luar rumah?" tanya Key, sembari terus menatap halaman rumahnya.
"Serangan mayat hidup akan segera datang."
Key terbelalak. Karena, ia melihat Dena dan Aland, tengah berada di luar rumah.
**
Saat Aislee Terluka
Alardo baru saja kembali menyusul Meida dari hutan kematian.
"Astaga, apa yang terjadi? Apa, Raja kegelapan datang kemari?"
Meida menatap Aislee, yang sedang terkapar di ranjangnya dengan wajah pucat. Dan, napas yang melemah.
"Meida.. jadikan aku iblis. Kau, tahu, kan caranya?" kata Aislee, dengan lemas.
"Tapi, kau tak akan bisa hidup di dunia manapun, Aislee. Kau—akan menjadi iblis yang kehilangan jati diri."
"Aku tahu. Kurung saja, aku di rumah anakmu nanti."
"Anakku? Bahkan, aku belum menikah, Aislee!"
Meida ketika itu memang masih sangat muda.
"Dengarkan aku, Meida. 2 tahun lagi, kau akan bertemu lelaki, yang akan membuatmu jatuh cinta. Kalian akan menikah. Dan, memiliki beberapa anak. Namun, ada satu anakmu yang akan memiliki putri luar biasa. Cucumu itu—akan menjadi immora."
"Apa itu immora?"
"Jika kau ingin tahu, datanglah ke desa penyihir, Meida. Temui Belle. Dia—akan memberimu ramalan immora. Aku, yang membuatnya."
"Tunggu, Aislee.. kenapa kau bisa tahu semuanya?"
"Aku.. adalah salah satu immora itu, Meida. Dan, aku bisa melihat masa depan."
"Aislee.. ini sulit untuk di percaya."
Tiba-tiba Aislee mengerang kesakitan.
"Meida! Aku tak memiliki banyak waktu."
Meida mendesah singkat. Dan, berlari ke luar kamar. Mengambil guci emas, dengan ukiran gambar anak kecil bersayap. Di letakkan di sebelah Aislee.
"Kau, mundurlah," perintah Meida pada Alardo, yang berdiri kebingungan.
"Wahai, kau makhluk yang abadi di semesta."
"Engkau yang tak berbentuk. Pun, tak tersentuh."
"Berikan jiwa malang ini, sedikit napas kehidupan dari api neraka."
"Berikan nyawa abadi pada makhluk lemah ini."
"Aku akan memberikan tubuhnya, sebagai ganti."
Angin berhembus kencang. Aislee menjerit, memekik kesakitan. Terjadi patahan di setiap tulangnya. Ia meringkuk. Semakin meringkuk. Dan— tubuhnya menegang. Menggeram seketika. Seolah menjadi beringas.
"Erit fumus aeternitatis! ( Jadilah, asap keabadian!)" pekik Meida.
Sekali lagi, Aislee menjerit. Memekakkan telinga. Kemudian, berubah menjadi asap. Dan, tersedot masuk ke dalam guci.
Sementara Alardo, terus terbelalak melihat itu semua.
"Ibu.."