Mata Alardo tak dapat teralihkan dari guci emas, yang ada di ranjang.
"Jadi, kau yang bernama Alardo?" tanya Meida.
"Oh.. ya.." jawab Alardo asal-asalan.
"Bisa kita bicara di luar?"
Alardo tak menjawab. Terus menatap guci emas itu. Hingga, Meida menepuk bahunya.
"Kita keluar dari sini, hm?"
Alardo mendesah berat.
**
Keduanya ada di halaman rumah. Berdiri berhadapan.
"Jadi, umurmu juga ratusan tahun?" tanya Alardo.
"Oh, tidak. Aku hanya manusia biasa. Kakek mu yang berusia ratusan tahun."
"Iya. Aku tahu. Seperti diriku."
"Kau?"
"Ya."
"Memang, berapa usiamu?"
"Entahlah. Mungkin sudah ratusan tahun."
"Mmm.. aku rasa tidak."
"Huh?"
"Aku pernah melihatmu waktu bayi. Dulu, usiaku 17 tahun."
"Tapi, itu sudah lama sekali. Kenapa kau tidak menua? Nenek saja, juga menua."
"Ya. Karena, nenekmu sudah meninggal. Ramuan itu, tidak berfungsi lagi."
"Ramuan abadi yang kau maksud?"
"Ya. Aku juga meminumnya."
"Jadi, sebenarnya berapa usiamu sekarang?"
"Mmm.. mungkin sudah 100 tahun?"
"Wow. Bukankah, usia manusia tidak mencapai angka itu?"
"Ya. Kau, benar."
"Jadi, selamanya kau tidak akan menua?"
"Kata Aislee, jika aku sudah menemukan lelaki yang bisa menerima keadaanku—ramuan itu tak akan berfungsi lagi. Terlebih, jika pasanganku manusia."
"Apa, kau tidak akan lenyap?"
"Tidak. Aku hanya akan menua layaknya manusia pada umumnya."
"Lalu.. apa yang di katakan Ibu tadi? Soal dunia immortal?"
Meida mendesah singkat.
"Dia pernah bercerita padaku soal itu. Dunia immortal menjadi satu dengan dunia manusia. Hanya saja, pintu ke dunia immortal terkunci. Dan, satu-satunya yang bisa membukanya adalah-"
"Ayahku?"
"Ya. Kau, benar."
"Tapi, tak ada alasan dia untuk membuka pintu dunia itu."
"Ya. Aku juga tidak tahu apa alasannya. Tapi, kata Ibumu tadi, suatu saat pintu itu akan terbuka."
**
Dena dan Aland mendongak. Menatap Key, yang melambai ke arahnya.
"CEPAT MASUK KE DALAM RUMAH!" teriak Key.
"NONA KEY? APA YANG KAU KATAKAN? AKU TAK DENGAR."
Dena ikut berteriak.
Di sekitar terdengar berisik. Seperti suara motor, atau mesin pesawat di atas langit.
"Tidak biasanya, ada pesawat terbang lewat di sini," kata Dena.
Aland menajamkan telinganya.
"Tapi, aku rasa.. ini bukan suara mesin pesawat."
"Huh? Lantas, suara apa?"
Sementara, Key semakin gugup. Ia berbalik. Mendekati Meida dan Alardo.
"Nek.. kita harus segera melepaskannya."
"Melepaskan siapa?"
"Iblis yang ada di kamar sudut! Cepat, kita tidak memiliki banyak waktu."
Meida mengernyit.
"Key.. bagaimana kau tahu?"
"Penjelasannya nanti saja. Banyak makhluk yang datang kemari!"
"Alardo, cepat pergi selamatkan Dena dan Aland."
Tanpa banyak bicara, Alardo segera berlari sangat cepat. Hingga, bayangannya tak terlihat.
"Nek! Apa lagi yang kau tunggu? Cepat buka pintu kamar itu!"
"Tapi, Key.. apa kau tahu konsekuensinya?"
"Ya. Tubuhku akan di ambil alih olehnya. Itu tidak masalah. Aku akan menyelamatkan kalian, yang selalu menyelamatkanku."
Meida mendesah panjang. Berjalan keluar. Berbelok ke kiri. Lalu, menghentikan langkah. Menatap pintu itu, dengan jemari yang bergerak gelisah.
Sedangkan, Alardo yang sudah berada bersama Dena dan Aland, memerintahkan keduanya untuk segera masuk.
"Kenapa? Apa—mayat hidup akan datang lagi?" tanya Dena.
"Bukan akan. Tapi, sudah."
Alardo menatap segerombolan mayat hidup, yang berlari dengan beringas ke arah mereka.
"CEPAT LARI!"
Aland menggenggam tangan Dena, dan berlari sekencang mungkin.
"VANDEMOOOOON!" pekik Alardo.
Ia menyebut namanya sendiri, untuk memanggil pasukan Morten, yang menjadi pengikutnya.
Dalam sekejap, angin panas berhembus. Puluhan pasukan Alardo tiba.
"Lindungi rumah ini! Dan, hancurkan semua yang menyerang!"
Pertempuran pun terjadi. Kaum Morten melawan para mayat hidup. Dalam sekejap, hamparan rumput hijau berganti warna merah. Kepala menggelinding di mana-mana.
Sedangkan, Aland dan Dena, yang jaraknya sudah dekat dengan pintu, di serang oleh beberapa mayat hidup. Aland mempercepat larinya. Membuka pintu. Dan,
Kyaaaa!
Satu mayat hidup menarik punggung Dena. Aland segera berbalik. Menarik punggung mayat hidup. Dan, memukulnya bertubi-tubi. Namun, mayat hidup yang lain ikut menyerangnya. Hingga, Aland kewalahan.
"Dena! Cepat masuk!"
Dena yang napasnya memburu, tak dapat berkutik. Dia terlalu gugup. Sementara, Aland sudah hampir kelelahan. Para mayat hidup terus berdatangan.
"Dena! Sadarkan dirimu! Cepat masuk ke dalam rumah!"
Dena terkesiap. Menangis. Langkahnya ragu.
"Aku akan selamat! Kau, jangan khawatir!"
Dena memejamkan mata singkat.
"Maafkan aku, Aland!"
Dena segera masuk ke dalam rumah. Dan, menutup pintu.
Di sisi lain rumah, tepatnya di lantai atas—Meida baru saja membuka segel. Juga, memutar kunci pada lubang.
"Semoga keputusan ini yang terbaik," gumamnya.
Meida menarik pintu ke arahnya. Segera, asap hitam melesat keluar. Key memejamkan mata. Melepaskan gelang durvos nya.
Asap hitam itu masuk ke dalam tubuh Key, yang kini kepalanya mendongak ke atas. Menggeram. Dua bola matanya memutih. Lantas, ia terdiam di detik selanjutnya.
Meida melangkah ke arah Key, dengan hati-hati.
"Key?"
Key menatap Meida.
"Meida.."
Meida tertegun.
"Aislee?"
"Tetaplah di dalam rumah, Meida. Jika, kau ingin selamat. Aku dan anak ini akan menyelamatkanmu."
"Tapi-"
"Aku tak akan membiarkannya terluka, Meida. Aku paham betul tentang itu. Jangan khawatir."
Key memutar badannya. Turun ke lantai bawah. Dan, segera menuju pintu. Di mana Dena menangis.
"Nona Key? Kau, mau kemana? Jangan keluar. Di luar berbahaya."
Key menghentikan langkah. Menengok ke arah Dena, yang kini ketakutan melihat mata Key.
"Nona Key.."
"Mundur. Jika, kau ingin selamat."
Dena menelan ludah berat. Mundur beberapa langkah. Sedangkan, Key membuka pintu. Lalu, segera menutupnya. Saat, ia telah ada di luar.
Para mayat hidup segera berlari ke arahnya. Key membuka jemari tangannya. Munculah sebuah pedang kayu. Ia segera melayangkan pedang pada leher para mayat hidup.
Membutuhkan waktu sepersekian menit, untuk menghabisi para mayat hidup dengan tarian pedangnya. Dan, menyelamatkan Aland, yang sudah terpojok. Dengan keringat membasahi wajah dan tubuhnya.
"Key.."
"Cepat masuk. Mereka akan terus datang."
Aland segera berlari. Lantas, masuk ke dalam rumah. Dena menyambutnya dengan pelukan.
"Oh, syukurlah. Kau, masih selamat."
"Aku sudah janji padamu. Tidak akan terjadi apa-apa denganku."
Dena melepaskan pelukannya. Mengamati tubuh Aland. Lalu, terbelalak melihat luka gigitan di lengan Aland.
"Aland.. lenganmu."
**
Alder berada di taman rumahnya. Melihat Ibunya tengah menyirami tanaman.
"Entahlah, Bu. Apa yang harus aku lakukan. Dulu, aku pikir akan ada kesempatan untuk menjadi kekasihnya. Meski, kita berbeda dunia. Tapi, semenjak ada laki-laki itu—rasanya, semakin sulit untuk mendapatkannya."
"Akhir-akhir ini.. banyak kejadian aneh fi sekitarku."
"Bu? Kau dapat mendengar ku?"
Alder semakin mempercepat langkahnya. Mendekat pada Nyonya Balder.
"Mimpi yang seperti nyata.."
"Ah, Ibu bicara dengan bunga rupanya."
"Dan, sekarang—masih dini hari langit sudah cerah."
"Dini hari? Maksud Ibu, ini belum pagi?"
"Ya. Benar kata Ibumu. Seharusnya, langit masih gelap sekarang."
Alder dan Nyonya Balder menengok ke belakang. Dan, berbalik.
"Solomon?"
"Siapa kau?" tanya Nyonya Balder.
"Oh, aku adalah teman anakmu, Nyonya yang cantik."
"Kau, teman Alder?"
"Iya. Dia berhutang banyak kepadaku. Untuk itu, aku datang kemari."
"Hutang? Hutang apa?"
"Bu! Jangan dengarkan dia! Cepat lari!"
Alder mencoba menyentuh tangan Ibunya. Namun, hanya bisa menembusnya.
"Kenapa? Kenapa tak bisa?!"
"Itu karena Ibumu bukan Immora. Kau, Pyx bodoh!"
Nyonya Balder mengernyit.
"Ada—Alder di sini?"
"Yap. Ada di sebelah mu."
"Oh, sungguh? Kau, juga bisa melihatnya seperti Nona Key?"
"Mmm.. Ya. Aku juga sahabat dari gadis itu."
"Bu! Cepat lari! Panggil Ayah!"
Solomon tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Oh, tidak. Anakmu konyol sekali."
Nyonya Balder tersenyum.
"Ya. Memang, Alder suka membuat lelucon."
"Tapi, darimana kau berasal? Apa, kau sedang tak sehat? Wajahmu pucat sekali."
Solomon mengusap pipinya.
"Ah, aku dari Verden Morke."
"Verden Morke? Di mana itu? Baru kali ini aku mendengar nama kota itu."
"Kau, belum pernah ke sana? Ingin jalan-jalan ke sana?"
"Morten berengsek! Pergi kau! Jangan sakiti Ibuku!"
Solomon menyeringai.
"Oh, tidak. Aku lebih suka di rumah sekarang."
"Bu, aku mohon! Dengarkan aku kali ini saja!"
"Ah, iya. Katamu tadi, Alder memiliki hutang. Memangnya, hutang apa?"
Solomon menyunggingkan senyum.
"Hutang nyawa."
Nyonya Balder terdiam sejenak. Semakin membuat Solomon mentertawakan nya.
"Haha. Kau, sedang bercanda rupanya."
"Tidak. Aku serius. Aku sudah pernah mati sekali. Dan, Tuanku Raja Duis menghidupkan ku lagi."
Kerutan di kening Nyonya Balder terbentuk seketika.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
"Singkat cerita. Aku— di bunuh oleh gadis itu. Tapi, aku tak bisa balas dendam padanya. Karena di bagian Raja Duis. Kebetulan, anakmu ada di sana ketika itu. Akhirnya, aku putuskan untuk membalas dendam kepada anakmu saja."
Dua bola mata Nyonya Balder bergetar.
"Kau.. bukan manusia? Kau, yang menyebabkan langit menjadi terang sekarang?"
"Yeah. Berkat Raja Duis. Dia, yang membuka pintu dunia Immortal. Sehingga, kami para iblis, Pyx terkutuk, penyihir jahat, dan yang lain."
"Ah, sebagai informasi—mereka semua sedang mendatangi rumah gadis itu untuk membantainya."
Alder terkejut. Terbelalak.
"Jadi, putuskan Pyx busuk! Kau, ingin menyelamatkan Ibumu—atau, gadis itu."
Bola mata Alder bergerak tak tentu arah. Bimbang dengan hal itu.
"Alder... pergi saja. Selamatkan Nona Key. Usia Ibu sudah tak lagi muda. Mati sekarang pun tak apa-apa. Mungkin saja, aku bisa bertemu denganmu."
Alder semakin bimbang saat mendengarkan hal itu. Napasnya semakin cepat.
"Pikirkan, Pyx. Aku beri kau waktu 5 detik."
Alder menunduk sejenak. Lalu, menatap Solomon dengan picingan tajam. Mencekik lehernya sekuat mungkin.
"Di sana ada Alardo yang lebih kuat dariku! Dia tak akan membuat Key terluka! Jadi, kau jangan mengecoh ku."
Solomon terkekeh, dengan leher tercekik.
"Kau, pikir aku akan mengecoh mu dengan hal bodoh begitu? Tidak, Pyx."
Alder mengernyitkan dahi.
"Apa yang kau rencanakan, Morten berengsek!"
Solomon menyunggingkan senyum.
Di detik selanjutnya, sekumpulan mayat hidup berlari dari kejauhan. Mendekati Nyonya Balder. Alder segera terbelalak.
"Tidak. Ibu.. lari! LARI!"
Entah mendengar suara Alder, atau memang tahu jika makhluk itu berbahaya—Nyonya Balder menjatuhkan tempat penyiram tanaman. Dan, segera berlari. Namun, sayang langkahnya tidak lebih cepat dari mayat hidup.
Nyonya Balder jatuh menerjang tanah. Membiarkan para mayat hidup bertumpuk di badannya.
"Sayang! Ada apa?!"
Tuan Balder keluar di saat yang tidak tepat. Dan, juga terserang mayat hidup. Jeritan putus asa dari Alder, yang berlari sia-sia, untuk menyelamatkan mereka, menggema di udara yang sudah terasa hampa.
Solomon tertawa riang.
"Oh, tontonan yang sangat bagus sekali."
**
Key terus berjalan dengan mengayunkan pedangnya. Menebas kepala mayat hidup, yang tak habis-habis. Hingga, ia bertemu dengan Alardo, yang juga tengah bertempur. Halaman yang sangat luas itu, hampir tertutup oleh tubuh dari para mayat hidup.
"Alardo.. Ayahmu, akan segera datang. Kau, bersiaplah," kata Key. Atau—lebih tepatnya Aislee.
"Ya. Aku tahu," jawab Alardo, tanpa menengok.
Tapi, kemudian ia melihat Key.
"Kenapa kau ada di sini? Bahaya!"
Namun, saat Alardo menyadari mata putih Key—ia membeku sejenak.
"Kau, bukan Key."
"Kau—Ibu?"
"Ya. Ini aku, Alardo."
"Tapi, bagaiman bisa?"
"Tubuh gadis ini sangat istimewa. Sudah sejak lama, sebelum ia lahir—sudah di takdirkan untuk terhubung denganku."
"Tenang saja. Aku tak akan membiarkan gadis ini terluka."
"Aku tahu, mungkin ini tidak tepat untuk di katakan sekarang. Tapi—aku merindukanmu, Bu. Sangat."
Aislee terdiam. Tak lama kemudian, terdengar kepakan sayap burung yang sangat kencang. Menandakan, jika sayapnya sangatlah besar. Hingga, langit menjadi gelap sementara. Kumpulan Morten bersayap hitam, memenuhi langit. Sisanya, muncul di bawah seperti geng. Bersama dengan Raja Duis, di barisan paling depan.
Penyihir dengan sapu terbangnya, juga turut menjadi pasukan Raja Duis. Bukan, dari desa penyihir. Melainkan, dari dunia immortal. Penyihir yang buruk rupa. Dan, sangat jahat.
"MUNDUR!" perintah Alardo pada pasukannya.
Membuat puluhan pasukannya, berbaris di sebelah kanan dan kiri Alardo. Sisanya, ada di belakang. Alardo dan Key di garda depan.
"Well, lihatlah—siapa ini? Anakku yang sudah lama tak pulang. Ternyata, sedang b******a di sini."
"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau membuka pintu dunia immortal?!"
"Kenapa katamu? Tentu saja, untuk menghancurkan dunia manusia. Atau, lebih tepatnya—mengambil alih dunia manusia."
"Kau, tetap saja tak berubah, Hevan," kata Aislee.
Raja Duis mengernyitkan dahi.
"Tunggu.. Kau—Aislee?"