"Kau, masih hidup rupanya. Aku kira, kau sudah hancur lebur. Ternyata, ramalan itu benar," kata Raja Duis.
"Oh, maaf, Hevan. Jika tak sesuai dengan ekspetasi mu. Tapi, kau harusnya tahu. Aku tak mudah di kalahkan."
"Well, setidaknya kau sudah tak memiliki cangkang. Kau, harus meminjam tubuh Immora itu."
"Oh, tidak masalah bagiku. Kekuatanku tidak akan pernah sirna."
Raja Duis menggeram.
"Jadi, kau ingin berperang denganku sekarang?"
"Tidak di sini, Hevan. Ini bukan dunia kita. Lagi pula, aku hanya ingin menyapa. Bukan untuk berperang."
"Lalu, apa kau akan kembali ke Verden Morke?"
"Tidak juga."
"Ah, wanita selalu membingungkan!"
"Aku tidak ingin ada perang, Hevan. Perbaiki dunia manusia segera. Hilangkan virus Morves. Dan, kembalilah ke dunia mu sendiri. Nikmati kehidupanmu di sana."
"Kalau aku tidak mau?"
"Terpaksa, aku harus melenyapkan mu!"
Raja Duis menyeringai.
"Aku juga ingin membuat kesepakatan denganmu, Aislee."
"Aku tak akan mengganggu dunia ini, kalau Vandemon ikut pulang denganku. Bagaimana?"
Aislee diam. Dia tahu betul, apa yang akan di lakukan Raja Duis pada Alardo.
"Jangan khawatir. Aku tak akan menyiksanya."
Aislee mendengus.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan Morten, yang tega membunuh Ayah dan istrinya sendiri?"
"Oh, itu pengecualian. Karena, mereka pembangkang. Jika, Vandemon menurut padaku—aku tak akan menyakitinya."
"Dan, kau tahu.. aku tak akan pernah menurut padamu!" tegas Alardo.
Raja Duis terkekeh.
"Ibu dan anak sama saja."
"Lalu, bagaimana dengan ini?"
Raja Duis menengok ke belakang. Seolah memberi isyarat. Salah satu Morten, membawa maju Belle, yang di ikat oleh akar pohon beracun.
"Bukankah—ini sahabat kalian?"
Alardo terbelalak.
"Belle.."
Belle hanya menundukkan kepala. Berdiri di samping Raja Duis, yang kini mendekatinya. Menjambak rambutnya. Memaksanya untuk melihat ke arah depan.
Aislee mengatupkan gigi. Menahan amarah yang luar biasa.
"LEPASKAN BELLE!"
"Kau, juga mengenalnya Aislee?"
"HEVAN! Hentikan permainanmu! Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Kau, sudah memiliki semuanya di Verden Morke! Kami tidak akan pernah mengganggumu!"
"Justru itu yang membuatku terganggu, Aislee. Air yang tenang saja, terkadang berbahaya untuk kita. Benar, kan?"
"Lalu, menurutmu—apa yang akan aku lakukan pada air itu?"
"Kau, menghilangkannya?"
"Yap. Betul, Aislee."
"Kau, ingin aku dan Alardo menghilang?"
"Sebenarnya, bukan kau. Karena, aku tak tahu jika kau masih hidup."
"Gadis itu. Aku ingin gadis itu lenyap dari dunia. Dengan begitu, rasa khawatirku akan menghilang."
Tak lama kemudian, terdengar suara Solomon menjerit girang. Bersamaan, Alder jatuh berguling di tanah.
"Solomon, kau, bersenang-senang?"
"Tuanku.."
Solomon memberi hormat. Sedikit membungkukkan badannya. Sedangkan, Alardo membantu Alder berdiri.
"Alder—kau, baik-baik saja?"
"Tubuhku, rasanya sakit semua."
"Aku akan menyembuhkan mu nanti."
Alardo membantu Alder untuk mendekat pada Aislee.
"Kau, sudah banyak berubah, Vandemon! Dan, aku tak suka itu!"
Di detik selanjutnya, Aland Dena, dan Meida di seret paksa oleh 2 Morten, yang berhasil masuk ke dalam rumah.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan mereka!" pekik Alardo.
"Oh, Vandemon. Kenapa kau marah? Mereka bukan siapa-siapa mu!"
Alardo bernapas cepat. Menahan amarah.
"Kau, sudah keterlaluan, Hevan!"
Aislee berlari ke arah Meida dan yang lain. Menebas leher 2 Morten itu dengan gerakan sangat cepat. Lalu, membakar tubuh 2 Morten itu.
"Kalian, mendekat lah pada Alardo."
"Kau, ingin menjadi yang ketiga, Hevan? Cepat lepaskan Belle! Dan, pergi dari sini!"
"Tuanku.. makhluk itu yang menghabisi ku waktu itu," bisik Solomon.
"Ah, Aislee yang membunuhmu?"
Solomon mengangguk gugup.
"Kalau begitu, dia harus melenyapkan mu sekali lagi."
Solomon menatap Raja Duis dengan terbelalak.
"Apa?"
Raja Duis menendang Solomon sekencang mungkin. Hingga, ia terpental tepat di depan Aislee, yang menunduk melihatnya.
Solomon melebarkan mata. Segera berdiri.
"Kau, pengikut setia, Hevan? Dan, dia ingin kau lenyap? Oh, bodohnya kau."
Bola mata Solomon bergerak cepat. Napasnya memburu.
"Jadi, apa ada kata terakhir?"
"Tu-tunggu.. Aku akan setia padamu. Aku akan menjadi anjing yang setia untukmu."
"Oh, benarkah?"
"Tentu. Aku akan melakukan apa pun untukmu."
"Mmm.. Kalau begitu, habisi Tuan mu."
"Huh?"
"Kenapa? Kau tidak berani?"
"Tidak. Aku akan menghabisinya segera."
Solon berbalik badan. Netra nya berubah merah. Raja Duis menyunggingkan senyum.
"Kau, ingin melawanku?"
Solomon berteriak. Berlari ke arah Raja Duis, yang masih berdiri santai. Dan—
Kepala Solomon terlepas dari badannya. Karena, Raja Duis mencabutnya dengan paksa. Kali ini, ia tak menolong Solomon lagi. Justru, membakar tubuh Solomon.
"Oh, anak malang. Pasti Ibumu sangat marah padaku nanti."
Alardo mengernyitkan dahi. Raja Duis menatapnya.
"Ya, Alardo. Dia saudaramu sebenarnya."
"Kau, sudah tak waras!"
"Haha. Ayolah, kita ini kaum Morten. Yang tak pernah mengenal belas kasihan. Yang kejam! Dan, berdarah dingin!"
"Hanya kau, Hevan! Kau, Morten terburuk. Paling menjijikkan!" seru Alardo.
Membuat Raja Duis terbelalak marah.
"Kau, memanggilku apa? Hevan? Beraninya, kau! Aku ada Raja mu!"
"Ini bukan duniamu, Hevan!"
Sekali lagi, kalimat dari Alardo membuat darah Raja Duis mendidih. Ia maju selangkah, namun, Aislee dengan cepat berjalan ke arah Raja Duis. Berhenti di depannya. Mengacungkan pedang.
"Jangan macam-macam dengan anakku, Hevan. Kau, tahu pedang ini, kan? Sekali lehermu terpotong—tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu."
Raja Duis tertawa sarkas. Mendesah panjang kemudian.
"Well, jika melihat kalian seperti ini—aku jadi teringat masa lalu. Kalian, yang berwajah sama. Namun, dengan nama dan hidup yang berbeda."
Raja Duis memperhatikan satu persatu barisan paling depan. Alardo, Alder, Aland, Dena, Meida. Juga, Key yang saat ini masih menjadi Aislee.
"Apa maksudmu?!"
"Setelah di pikir kembali, sebenarnya ini semua gara-gara kalian, yang lancang masuk ke rumah orang tanpa permisi."
"Jangan berbelit! Jelaskan apa yang kau maksud?"
"Ah, bukan kau. Tapi, gadis ini."
"Apa?"
"Kau, penasaran, Aislee? Takdir apa yang terjadi sebenarnya? Datanglah, ke Verden Morke. Maka, aku akan menjelaskan semuanya."
"Kalau begitu, lepaskan Belle terlebih dahulu."
"Datang ke Verden Morke. Jika, kau ingin dia selamat."
"AYO PERGI!"
Pasukan Raja Duis sebagian berubah menjadi asap hitam. Dan, melesat pergi. Sebagian mengembangkan sayap hitamnya. Dan, terbang.
"Belle! Jangan khawatir! Aku akan menyelamatkan mu dengan segera!"
Belle menengok dengan wajah memelas. Lalu, terbang bersama Morten yang membawanya. Pun, dengan Raja Duis yang berubah menjadi asap hitam.
Alardo segera menghampiri Key.
"Apa, kau akan pergi ke Verden Morke?"
"Aku harus pergi Alardo. Belle—dalam bahaya."
"Biar aku saja yang menyelamatkannya."
"Kau, tidak akan bisa, Alardo. Ayahmu terlalu kuat."
Aislee berbalik.
"Kau, sudah melihat ramalan Immora itu?"
Alardo mengangguk.
"Ramalan itu, aku yang membuatnya. Aku tahu, bagaimana akhir dari perang ini, Alardo."
"Tapi, kau bisa lenyap. Selamanya."
"Asal dunia ini baik-baik saja. Dan—gadis ini masih bisa selamat, aku akan lakukan apa pun, Alardo."
"Aku.. benar-benar menyesal. Sudah meninggalkanmu dulu. Maafkan Ibu."
"Tidak. Aku yang salah. Aku sudah membunuh nenek."
"Kau, tidak tahu. Kau, tak sengaja melakukan itu. Ibu, tidak marah padamu. Tenang saja."
Mata Alardo berkaca-kaca. Aislee tersenyum.
"Kau.. tampan, Alardo. Kau, juga lelaki sejati. Ibu, bangga. Kau, tumbuh dengan baik."
"Jangan mengatakan sesuatu, yang membuatku menangis."
"Hehe. Maafkan Ibu."
"Alardo.. kau, sangat mencintai gadis ini?"
"Huh?"
"Kau, menyukainya, kan?"
Alardo hanya diam.
"Ibu tahu itu. Kau, selalu menjaganya. Kemana pun dia pergi. Tapi, Alardo. Ini semua tidak akan berhasil. Kau—dan, gadis ini.. tidak di takdirkan bersama."
"Aku tahu itu."
Alardo tampak kecewa.
"Pergunakan waktumu sebaik mungkin dengan dia. Mungkin saja, itu menjadi saat-saat yang terakhir."
Alardo mendesah panjang.
"Sudah saatnya, aku pergi."
"Kau, akan kemana?"
"Aku tetap di rumah ini. Lebih tepatnya, ada selalu di dekat gadis ini. Sampai, perang terjadi."
"Setelah aku keluar dari tubuh gadis ini, pakaikan gelang durvos secepatnya. Jika tidak, semua makhluk akan saling berebut untuk masuk ke dalam tubuhnya."
"Baiklah."
"Sampai jumpa lagi, Alardo. Ibu mencintaimu."
"Aku juga," gumam Alardo.
Kemudian, Key jatuh pingsan ke dalam pelukan Alardo. Gelang durvos, kembali melingkar di tangan Key.