Zaman Dulu
Elena dan kedua laki-laki sudah tiba di gerbang kota. Tak lama kemudian, kereta kencana Aaron tiba. Dan, berhenti tepat di sebelah kereta kencana milik Elena.
Aaron dan Veronica turun. Sekalipun, Veronica bukan dari keluarga bangsawan—tapi, ia pandai merawat diri. Senyumnya manis. Rambutnya hitam legamnya. Sepunggung. Hanya separuh saja yang di kuncir. Sisanya, di biarkan tergerai. Baju kuning yang di kenakan nya tidak lusuh, seperti kebanyakan keluarga rendahan lainnya.
"Perkenalkan, ini adalah Veronica," kata Aaron, dengan bangga. Merangkul bahu kekasihnya.
"Aku sudah pernah bertemu," kata Arthur.
"Salam kenal, Veronica. Aku adalah Alfred. Kakak kedua Aaron."
Veronica tersenyum.
"Aku adalah Elena."
"Oh, tentu saja aku tahu tentangmu, Nona Elena. Kau, bangsawan tercantik di kota ini."
Elena tersipu malu.
"Kau, pandai merayu, Veronica. Aku suka denganmu. Kau, harus jadi temanku."
"Oh, suatu kehormatan bagiku. Dapat berkawan denganmu, Nona."
"Hei, panggil Elena saja. Teman tidak pernah berbicara formal pada teman lainnya."
"Tapi.. itu cukup sulit. Hehe."
"Sulit apanya? Tidak. Sekarang, coba panggil Elena."
Veronica melirik Aaron sejenak. Aaron mengangguk. Kemudian, gadis 17 tahun itu mendesah panjang.
"Baiklah—Elena."
Elena melebarkan senyumnya.
"Dengar, kalian berdua!" katanya pada kusir.
"Kita akan kembali saat langit sudah berubah menjadi semburat oranye. Kalian mengerti?"
Dua kusir itu mengangguk. Kemudian, ia menarik tangan Veronica. Melingkarkan tangannya, pada lengan Veronica. Lantas, berjalan meninggalkan para lelaki.
Adalah Dena. Di kehidupan dulu, dia bersahabat dengan Key. Dan, berpacaran dengan Aland.
"Kau, tinggal di daerah sini?" tanya Elena.
"Iya. Di desa bawah. Mungkin, kau tadi melewatinya."
"Mmm.. jadi, kau sering kemari? Ada apa saja di sini?"
"Banyak. Kau, ingin membeli apa?"
"Mmm.. tidak. Aku ingin pergi ke tukang ramal."
"Huh? Untuk apa?"
"Olivia selalu bercerita, jika sering ke tukang ramal. Jadi, aku penasaran saja."
"Dia temanmu juga?"
"Bukan. Dia asisten rumah tangga. Tapi, aku akrab dengannya. Kita sudah seperti teman."
"Itu berarti, dia temanmu."
"Oh, kau benar juga. Hehe."
"Temanku membuka toko ramalan di dekati sini. Kau, mau ke sana?"
Elena mengangguk dengan semangat.
"Hei, kalian ini mau ke mana? Jalannya jangan terlalu cepat! Nikmati saja waktunya!" seru Alfred.
Elena menengok sejenak. Lalu, menjulurkan lidah.
"Gadis itu benar-benar!"
Alfred mendesis kesal. Sementara Arthur tersenyum lebar.
"Kau, menganggapnya lucu?" tanya Aaron.
"Tidak kah begitu?" tanya Arthur.
"Wah.. kau, benar-benar di buta kan oleh cinta."
Alfred menengok ke arah Aaron seketika.
"Siapa mencintai siapa?"
"Arthur. Suka pada Elena. Kau, tidak tahu?"
"Hei, sudah hentikan. Ayo cepat jalan."
Arthur dan Aaron mempercepat langkahnya. Sedangkan, Alfred mematung. Dengan mulut sedikit terbuka. Lalu, mendesah kecewa.
**
Mereka sudah masuk ke dalam tenda tukang ramal, yang ternyata masih seumuran mereka.
"Aku kira, tukang ramal itu sudah tua," bisik Elena.
"Mana mungkin, aku berteman dengan nenek-nenek."
Veronica ikut berbisik. Si tukang ramal berdeham. Tengah mengocok kartu tarotnya. Rambutnya di kepang menjadi satu. Dengan memakai bandana lebar di dahinya. Baju putih dengan lengan dan bagian d**a yang berkerut. Ketat di bagian perut. Memakai rok hitam panjang, yang tidak mengembang.
Para laki-laki yang berdiri di belakang dua gadis, yang tengah duduk itu melipat tangan di d**a.
"Apa kita pergi saja dari sini?" tanya Aaron.
"Tidak. Aku ingin tahu, sehebat apa tukang ramal itu."
"Eh? Kau, juga tertarik dengan hal seperti ini? Jelas-jelas, dia penipu," cetus Alfred.
"Namaku Meida," kata tukang ramal dengan lantang.
"Oh?"
"Namaku Meida—Tuan Alfred. Bukan penipu."
Alfred terbelalak.
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Apa aku juga harus memberitahu warna pakaian dalam mu?"
Alfred berdeham kesal.
"Tidak. Terima kasih."
Meida nyengir. Meletakkan kartu tarot yang bertumpuk di atas meja.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Nona Elena?"
Veronica menyenggol Elena, yang kini duduk dengan punggung menegang. Memajukan setengah badannya. Mengajak Meida, mendekat padanya.
"Apakah di antara dua laki-laki di belakangku—kecuali Aaron, ada yang menyukaiku?" bisik Elena.
Meida menyunggingkan senyum. Kembali menjauh dari Elena. Membeber kartu.
"Pilih salah satu," kata Meida.
"Pilih dengan hati-hati, Elena," pinta Veronica.
Elena mengangguk. Menatap kartu tarot dengan lamat-lamat. Dan, memilih satu di barisan paling kiri. Nomor 2 dari belakang.
Meida mengambil kartu pilihan Elena.
"Hmm.. cukup menarik."
Meida meletakkan kartu di atas meja, dengan posisi terbuka. Kartu dengan gambar seorang laki-laki berdiri di atas kastil. Tangan kanannya memegang bola mini. Pandangannya tampak melihat ke bawah. Di sebelah kiri adalah samudera. Di sebelah kanan adalah tanah. Lelaki itu memakai jubah oranye. Dan, topi merah.
"Apa—artinya?" tanya Elena.
"Ingin aku bicara lantang—atau, berbisik?"
"Oh, berbisik saja."
Meida memanggil Elena mendekat, dengan isyarat jemarinya yang di tekuk ke dalam secara berulang. Dengan posisi telapak ada di atas.
Elena mendekat pada Meida.
"Kau—tak hanya menyukai satu orang laki-laki, kan? Kau, menyukai keduanya. Namun, kau bimbang. Ingin memilih yang mana."
Elena melebarkan mata.
"Tepat sekali. Sebenarnya, aku juga tak ingin seperti ini. Tapi, hatiku bimbang. Aku sendiri, tak tahu jawabannya. Siapa, yang benar-benar aku sukai."
"Jika, kau ingin tahu tentang hal itu, maka—kau harus tanyakan hatimu. Siapa yang paling kau rindukan saat tak lama jumpa. Siapa yang paling membuatmu khawatir, jika tak mendengar kabarnya. Dan, genggam tangan mereka. Kalau, hatimu berdebar, ketika melakukan itu—dialah orang yang benar-benar kau sukai."
Elena mendesah singkat. Duduk dengan punggung sedikit menekuk.
"Sekarang, pilih kartu lagi," pinta Meida.
Kali ini, Elena asal memilih. Ia menunjuk kartu paling tengah. Segera Meida mengambilnya. Lantas, terbelalak. Diam untuk beberapa saat.
"Ada apa, Meida? Kartunya sangat buruk?" tanya Veronica.
Meida mendesah berat. Dan, meletakkan kartu di atas meja. Gambar penunggang kuda, yang memakai baju besi hitam. Namun, hanya berbentuk kerangka. Veronica terkesiap.
"Kartu kematian," kata Veronica.
Ketiga laki-laki, dan Elena mengernyitkan dahi.
"Apa maksudnya, aku akan mati?" tanya Elena.
"Omong kosong, apa itu?!" pekik Alfred.
"Aku tidak bicara apa-apa! Kartunya yang menunjukkan itu!" jelas Meida.
"Tunggu.. jangan bertengkar. Siapa namamu tadi? Meida? Maksudnya bagaimana? Aku akan segera mati? Huh?"
"Kartu ini adalah simbol kematian yang tak dapat terhindarkan. Entah, kapan itu terjadi. Namun, yang pasti—kematian mu sudah dekat."
"Cepat minta maaf pada Elena! Kau, tak sepatutnya menakuti dia seperti itu! Kau, hanya tukang ramal rendahan, yang ingin meraup untuk dari kami para bangsawan!" kata Arthur.
Meida mendengus.
"Silakan saja, kalau kalian tak percaya. Aku, tidak akan memaksanya. Sekarang, kalian semua silakan pergi. Dan, tak pergi membayarnya!"
"Me-Meida, Maafkan mereka. Jangan di ambil hati."
"Sekalipun, aku k***********n—aku tidak akan main-main dengan sebuah ramalan."
"Ya, aku tahu. Karena itu, Meida—apa, tidak ada cara lain agar bisa mematahkan takdir itu? Huh?"
Meida berpikir sejenak.
"Ada satu cara."
"Apa itu?"
"Pergi ke hutan kematian. Dan, bakar satu benda yang sangat berharga bagimu."
"Hutan kematian? Di mana itu? Kau, bisa mengantarnya?"
**
Ketiga lelaki dan tiga gadis itu sudah tiba di hutan kematian, yang tampilannya cukup mengerikan. Udara dingin menyapa. Di selimuti awan rendah. Tidak ada suara burung yang berkicau. Matahari pun tak dapat menembus rimbunnya daun-daun pohon.
"Tempat ini mengerikan sekali," ujar Veronica.
"Bulu kudukku juga merinding seketika," tambah Elena.
"Sekarang, berikan benda kesayanganmu padaku."
"Oh, iya."
Elena melepas anting mutiaranya tanpa ragu. Saat akan memberikannya pada Meida—Arthur maju. Dan, menyeret tangan Elena agar berdiri di belakangnya. Seketika itu, mata Elena terbelalak. Karena, jantungnya berdegup kencang.
"Aku sudah tahu jawabannya," kata Elena dalam hati.
"Tunggu sebentar. Kau, yakin ini akan berhasil? Kau, tidak akan membawa kabur anting mutiara Elena, kan?"
Meida mendesah kesal.
"Aku akan membakarnya di hadapan kalian."
"Anting mutiara itu, pemberian dari Ibunya. Jadi, aku harap kau tidak akan melakukan hal buruk."
"Aku tegaskan sekali lagi. Pertama, aku hanya ingin membantu mematahkan takdirnya saja. Kedua, kita tidak punya banyak waktu. Makhluk mengerikan di hutan kematian, akan segera datang."
"Wow.. makhluk mengerikan? Seperti apa rupanya? Apa dia memiliki taring? Oh, ataukah sayap?" sindir Alfred.
Meida menyunggingkan senyum. Berjalan mendekati Alfred. Berdiri tepat di depan Alfred. Memajukan lehernya. Menatap bola mata biru Alfred dalam-dalam. Niat hati ingin mengutuk Alfred, namun, saat melihat lebih dalam lagi pada mata Alfred—Meida tercengang. Bola mata Meida membeku. Mundur selangkah.
"Ka-kau! Beraninya, kau mendekatiku! Dasar k***********n!"
Kini bola mata Meida bergetar.
"Takdirmu—lebih buruk dari gadis itu."
Alfred mengangkat alis kirinya.
"Dan, kau pikir aku akan percaya?"
"Aku tidak menginginkan kau percaya. Tapi, kau harus siap menghadapinya."
"Memang, apa yang akan terjadi padaku? Huh? Apa? Jika, takdir terburuk Elena adalah meninggal. Lantas, aku apa? Meninggal, lalu reinkarnasi menjadi hantu? Huh?"
Meida terkejut dengan kata-kata Alfred, yang benar adanya. Itulah, yang Meida lihat di bola mata Alfred. Ia akan terbunuh. Dan, terlahir kembali di masa depan. Lantas, kembali meninggal di usia muda.
Di detik selanjutnya, Arthur menarik lengan Meida, hingga tubuhnya berbalik menghadap Arthur. Lagi-lagi, ia di kejutkan oleh takdir yang di miliki Arthur.
Meida menghempaskan tangan Arthur. Dan, berjalan mundur.
"Takdirmu lebih mengerikan dari semuanya. Bagaimana bisa?"
Arthur mendesah singkat.
"Baiklah. Kau, semakin menjengkelkan. Dan, berhasil menakut-nakuti kami. Sekarang, bisa kau selesaikan permasalahan ini? Kami tidak bisa berlama-lama di sini."
WUS!
Ada sesosok hitam melesat di antara pohon-pohon. Aaron mendongak untuk melihatnya.
"Kawan-kawan, ada yang melihat itu? Sepertinya, ada burung besar yang mengintai kita," kata Aaron.
Membuat yang lain ikut mendongak. Dan, melihat sosok hitam, yang terbang cepat sesekali.
"Burung apa itu? Nampaknya, besar sekali," cetus Veronica.
Bola mata Meida bergerak cepat. Napasnya memburu.
"Itu bukan burung," kata Meida.
Mereka kompak menatapnya.
"Kalau bukan burung, lantas, apa?"
"Sesuatu yang mengerikan tentunya."
"Masa bodoh, itu burung atau bukan! Yang jelas, kita harus segera pergi dari sini! Kalau, salah dari kami tidak kembali ke rumah—tubuhmu, akan di cincang habis oleh algojo kami," kata Arthur.
"Kau, benar. Sebaiknya, sekarang kita pergi dari sini terlebih dulu," kata Meida.
Aaron menggandeng tangan Veronica. Lalu, berjalan. Di susul oleh Meida. Sementara Arthur, menggenggam tangan Elena. Membuat Alfred memalingkan wajah. Dan, berjalan pergi.
"Ayo cepat, Elena."
Saat berjalan, Elena tersandung. Membuat anting mutiaranya terjatuh. Tanpa di sadari nya.
Setelah mereka pergi, asap hitam yang bermain di atas tadi turun. Membentuk sesosok seperti manusia. Namun, memiliki tanduk. Wajah pucat. Dan, mata merah. Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
Sosok itu, menatap ke bawah. Menemukan sesuatu yang berkilau. Ia membungkuk untuk mengambilnya. Satu anting mutiara milik Elena. Sosok itu mengendus aromanya, dengan seringaian.
"Aromanya segar sekali. Rasanya, ingin aku makan saja."
**
Mereka sudah tiba di gerbang kota. Dengan napas tersengal
"Oh, hampir saja tadi," celetuk Elena. Sembari tertawa kecil.
Arthur menengoknya.
"Kau, masih bisa tertawa?"
Elena tersenyum kikuk.
"Hehe. Maaf. Rasanya menyenangkan tadi."
"Kita hampir mati, dan bagimu itu menyenangkan? Kau, benar-benar gadis aneh, Elena," cetus Alfred.
"Veronica.. beritahu pada mereka—untuk sementara waktu ini, jangan keluar saat malam hari. Dan, letakkan bawang putih juga salib pada jendela-jendela rumah. Kau, mengerti? Huh?"
Veronica mengangguk.
"Tapi, Meida—sosok hitam tadi, sebenarnya apa?"
Meida menelan ludah gugup.
"Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberitahumu. Sekarang, ada hal yang harus aku lakukan."
Meida berlari pergi kemudian.
"MEIDA! TUNGGU!" kata Elena. Ikut berlari kecil.
"Elena, biarkan saja," kata Veronica.
"Tapi, aku belum membayarnya."
"Kapan-kapan saja."
"Tapi-"
"Elena, cepat pakai kembali anting mu. Langit mulai gelap. Orang tua kita akan segera mencari nanti," jelas Arthur.
"Oh, baiklah."
Elena membuka telapak tangan kirinya, yang sejak tadi menggenggam.
"Aduh! Kenapa antingku tinggal 1?"
"Apa mungkin terjatuh saat di hutan tadi?" tanya Aaron.
"Entahlah. Aku tidak yakin."
Alfred mendesah kesal. Mendekati Elena.
"Besok saja kita cari. Sekarang, kita pulang dulu," katanya, sambil menatap anting Elena.
**
Sebuah gantungan besi, berbentuk setengah melingkar pada pintu, di ketuk-ketukkan pada pintu, oleh Alfred.
Tak lama kemudian, pintu kayu itu terbuka.
"Oh, Alfred? Kenapa malam-malam datang ke rumah?"
"Oh, maaf, Nyonya Gabriella. Aku ingin bertemu dengan Elena. Apa dia sudah tidur?"
Gabriella adalah nama Rossa : Ibu Key.
"Belum. Ia duduk di dekat perapian. Kau, mau masuk?"
"Oh, tidak. Aku ingin bicara dengannya di luar. Hehe."
"Alfred, gerak-gerik mu sungguh mencurigakan. Apa kau akan menyatakan cintamu pada Elena?"
Alfred terkejut.
"Bagaimana aku bisa tahu, kalau kau suka padanya?"
Alfred mengangguk.
"Semua orang tahu itu, Alfred."
"Ah.. Hehe. Semua orang, kecuali Elena."
"Yeah. Dia memang agak lamban. Tunggu sebentar. Aku panggil Elena."
**
Alfred dan Elena ada di halaman rumah.
"Ada apa kau malam-malam seperti ini datang?" tanya Elena.
Alfred membuka telapak nya. Sesuatu yang berkilau, nampak kemudian. Elena terbelalak.
"Antingku! Kau, menemukannya di mana?"
"Di hutan itu."
"Kau, pergi ke sana sendiri?"
"Yeah."
"Bagaimana kau bisa menemukannya?"
"Oh, tidak. Bukan aku yang menemukannya. Ada seorang pemuda yang tak sengaja menemukannya."
Alfred menengok ke belakang.
"Hei, kemarilah."
Seorang pemuda berjalan dengan santai. Dengan kedua tangan ada di belakang punggung.
"Senang bertemu denganmu, puella decora. Perkenalkan, namaku Hevan Duisternis."