Beberapa Jam Sebelumnya
Alfred kembali lagi ke hutan kematian. Seorang diri. Ia tak bisa mengabaikan kekhawatiran Elena tadi. Karena, kehilangan anting mutiara, yang sangat berharga baginya.
Bermodalkan obor—ia menyisir tanah, yang di tumbuhi rumput hijau.
"Kau, sedang mencari apa? Malam-malam begini?"
Suara Raja Duis mengejutkan Alfred. Seketika, ia berbalik. Mengarahkan obor ke depan.
"Siapa kau?" tanya Alfred.
"Ah, aku Hevan. Aku sedang mencari jamur."
"Di malam hari? Tanpa penerangan?"
"Oh, obor ku mati di sana. Di saat yang sama, aku melihat cahaya api mu dari kejauhan."
"Ah, begitu. Kau, ingin aku temani mencari jamur?"
Raja Duis menyunggingkan senyum.
"Kau, menawarkan bantuan pada orang yang tak di kenal? Apa kau tidak takut? Mungkin saja, aku orang jahat."
"Tidak. Dari tampang mu, kau terlihat seperti pemuda yang baik."
Raja Duis terkekeh.
"Zaman sekarang, banyak yang berwajah baik. Tapi, sebenarnya busuk di dalam."
"Yeah. Aku harap, kau bukan salah satunya."
Raja Duis tersenyum kecil.
"Kau, belum menjawab pertanyaan ku tadi. Apa yang sedang kau cari?"
"Ah, anting teman ku jatuh di sini tadi."
"Anting?"
Raja Duis mengulurkan tangan. Membuka telapak nya.
"Apa anting ini yang kau cari?"
Alfred mendekat pada Raja Duis. Mengerutkan dua matanya.
"Ah! Benar! Ini anting temanku."
Raja Duis memberikannya pada Alfred.
"Terima kasih, kawan."
"Hmm.. Wajahmu terlihat bahagia sekali. Apa itu milik kekasihmu?"
"Mmm.. Bukan. Hanya seorang teman."
"Sepertinya, kau ragu untuk memanggilnya teman. Kau, suka padanya?"
Alfred mendengus, sembari menyunggingkan senyum.
"Yeah. Mungkin, itu yang aku rasakan."
"Wah, aku jadi penasaran. Secantik apa gadis itu. Sampai membuat pemuda tampan sepertimu, malam-malam masuk ke hutan mengerikan begini."
Alfred tersenyum. Sekejap melebarkan mata. Memiliki ide.
"Kau, mau ikut denganku ke rumahnya?"
"Aku? Tidak apa-apa aku ikut?"
"Tentu. Aku kenalkan dia padamu."
"Oh, baiklah."
**
"Senang bertemu denganmu, puella decora. Perkenalkan—namaku adalah Hevan."
"Oh, hai, Hevan. Terima kasih, kau sudah menemukan antingku."
Elena mengulurkan tangan. Alih-alih bersalaman—Raja Duis justru mencium punggung tangan Elena. Membuat si pemilik tangan sedikit terkejut. Pun, dengan Hevan, yang juga sedikit meringis kesakitan. Saat menyentuh tangan Elena.
Elena yang mengetahuinya, segera mengerutkan kening. Lantas, terbelalak. Saat sadar akan sesuatu.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di hutan kematian tadi," jelas Alfred.
"Oh, begitu. Lalu, sekarang kau akan ke mana? Cepat pulang saja. Hari sudah malam."
"Oh, tidak sopan rasanya, Elena. Aku mengajak Hevan kemari, dan sekarang aku harus tiba-tiba pulang? Aku akan mengajaknya jalan-jalan sebentar."
"Tapi, ini sudah hampir larut, Alfred. Lagi pula, kau besok ada janji denganku, kan?"
Alfred sedikit memiringkan kepala. Dahinya berkerut.
"Janji? Janji apa?"
Elena mulai menunjukkan gelagat bingung.
"Benar yang di katakan gadis mu, Alfred. Sebaiknya, aku pulang saja. Sudah larut."
"Oh, tidak. Aku-"
Elena mendekat pada Alfred. Mencubit pinggangnya. Membuat Alfred mendesis sakit.
"Iya, Hevan. Lebih baik, kau pulang saja. Terima kasih sekali lagi, sudah menemukan antingku."
"Sama-sama. Aku pergi dulu."
"Tunggu. Aku akan mengantarmu."
Elena segera menahan tangan Alfred.
"Alfred, ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar."
"Elena.."
Raja Duis menyunggingkan senyum.
"Tidak usah mengantarku, Alfred. Aku sudah biasa sendiri. Selamat malam."
"Oh, selamat malam, Hevan."
Raja Duis berbalik. Dan, berjalan pergi. Sementara, Alfred mendesah kesal. Menatap Elena.
"Baiklah, ada apa denganmu?"
"Tunggu sebentar," kata Elena, sambil menatap Hevan.
Setelah Hevan hilang dari pandangan—Elena segera menghadap Alfred.
"Alfred.. lebih baik, kau menginap di sini saja."
Kerutan di dahi Alfred muncul kembali
"Kau, sudah tak waras, Elena? Kenapa aku harus menginap di sini."
"Aku memiliki perasaan tak enak dengan teman barumu itu."
"Hevan? Ada apa dengan dia? Dia pemuda yang baik."
"Iya. Kelihatannya begitu. Tapi, dia tidak sebaik itu, Hevan."
"Kau ini bicara apa? Apa kau mengenalnya? Pernah bertemu dengannya?"
"Tidak. Tapi, kita semua pernah melihatnya."
"Apa? Di mana?"
"Tadi. Di hutan kematian."
"Huh? Kapan? Aku, tidak pernah bertemu dengannya saat bersama kalian tadi."
Elena mendesah panjang.
"Kau, ingat sosok hitam yang berputar-putar di atas kita tadi?"
"Burung besar itu?"
"Ya. Tapi, itu bukan burung besar, Alfred. Itu—adalah Hevan."
Alfred melebarkan mata. Lalu, tertawa.
"Baiklah, Elena. Kau, sudah keterlaluan. Kau, pikir Hevan itu apa? Iblis?"
Elena diam. Menatap Alfred yang masih tertawa dengan lamat-lamat. Kemudian, tawanya berangsur menghilang.
"Sungguh? Dia memang iblis?" tanya Hevan.
"Iya. Hevan—teman barumu itu, dia memang iblis."
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
Veronica dan Meida datang ke rumah Elena, dengan perasaan kalut. Kebetulan, Elena sendiri yang membuka pintunya. Mengajak keduanya masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana kalian tahu rumahku?" tanya Elena, begitu mereka ada di dalam kamar.
"Itu bukan sesuatu yang penting, Elena. Aku dan Veronica kemari, karena ingin menyampaikan satu hal penting."
"Ada apa? Wajah kalian kelihatan tegang sekali."
"Elena.. aku harap, kau akan percaya dengan kata-kataku," tutur Meida.
"Kau, ingat sosok hitam yang melayang-layang di atas kita tadi? Saat di hutan kematian?" lanjut Meida.
"Iya. Lantas?"
"Itu bukan burung, Elena. Melainkan, sosok iblis yang masuk ke dunia kita."
Elena sejenak terdiam. Lalu, tertawa.
"Kau, ini bicara apa, Meida? Konyol sekali."
"Yang di katakan Meida benar, Elena."
Elena berkacak pinggang.
"Baiklah. Anggap saja, dia memang iblis. Tapi, untuk apa dia ada di dekat kita?"
"Dia mengincar mu, Elena. Dia suka padamu."
Elena mengernyitkan dahi.
"Iblis? Mencintaiku, eh?"
"Bukan suka dalam artian cinta, Elena. Melainkan, suka karena bertemu mangsanya."
Elena mematung. Tak berekspresi.
"Dia—ingin memakan ku?"
"Iya, Elena."
Elena mendengus.
"Baiklah, kalian sudah berhasil membuatku takut. Sekarang, kalian pulang saja."
"Elena, percaya pada kami," kata Veronica.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan sesuatu yang tak masuk akal seperti itu?"
"Tapi-"
"Sudah, Veronica," potong Meida.
"Elena.. aku tahu, kau mungkin sulit untuk percaya. Tapi, pakailah ini."
Meida memberikan gelang kayu berbentuk manik-manik pada Elena.
"Apa ini?"
"Gelang Durvos. Aku membuatnya, dari kayu hutan kematian. Pakailah, Elena. Jika nanti, kau bertemu dengan seorang pemuda, yang kalau dia menyentuhmu dan merasa kesakitan. Dia adalah iblis. Karena, gelang durvos ini bisa menangkal iblis dan sebangsanya."
Setelah keduanya pergi, Elena makan malam. Dengan gelang durvos, yang di letakkan pada meja.
Elena terus menatapnya.
"Kenapa kau seperti tidak bersemangat? Tidak suka dengan makanannya?" tanya Gabriella.
"Oh, tidak, Bu. Masakannya enak. Hehe."
Di detik selanjutnya, ketukan kencang pada pintu terdengar. Gabriella segera berdiri. Dan, membuka pintu.
"Elena—Alfred ingin bertemu denganmu."
"Alfred? Ada apa malam-malam begini, ia datang kemari."
"Ibu juga tak tahu. Temui saja dulu."
Elena berdiri. Sejenak menatap gelang durvos. Mendesah singkat. Mengambilnya. Dan, memakainya.
**
"Sekarang, kita masuk saja ke dalam rumah dulu. Jika, kau tidak ingin menginap—kau, pulang bersama beberapa pengawal ku saja."
"Ayo cepat kita masuk."
Elena menggandeng tangan Alfred. Melangkah satu kali. Kemudian, terkesiap. Raja Duis ada di depannya.
"He-Hevan, bukannya kau sudah pergi tadi?" tanya Elena.
Hevan menyeringai.
"Aku berubah pikiran, Elena. Aku rasa, aku ingin tinggal di sini beberapa saat."
"Ta-tapi, ini sudah larut malam. Lebih baik, kau pulang saja."
"Tapi, aku sedikit lapar, Elena. Aku ingin makan sesuatu. Apa kau punya sesuatu yang bisa di makan?"
"Tidak. Aku tidak punya. Kau, pergi saja. Minggir."
Raja Duis terkekeh.
"Kau, sudah tahu sepertinya, Elena."
"Tahu apa?"
"Siapa aku sebenarnya."
Raja Duis menatap Elena dengan tajam. Alfred segera menarik tangan Elena agar mundur. Dan, bersembunyi di balik punggungnya.
"Kau, benar-benar seorang iblis, Hevan?"
"Mmm.."
Raja Duis berjalan pelan di sekitar.
"Kalau memang aku iblis. Apa yang akan kau lakukan?"
Alfred sedikit terkejut.
"Kau, sudah merencanakan ini semua. Kau, berpura-pura padaku ingin mencari jamur. Padahal, kau mengintai ku. Anting mutiara milik Elena, bisa kau temukan dengan mudah—karena, kau ada di sekitar kami. Saat kami berada di hutan kematian tadi."
"Haha. Benar Alfred. Aku sudah mengincar kalian sejak itu."
Alfred mengatupkan gigi kesal.
"Untuk apa, kau mengincar kami?!"
"Bukannya, aku tadi sudah bilang? Aku sangat lapar. Ingin makan sesuatu."
"Cari saja di tempat lain."
"Tidak. Aku sudah menemukan makananku. Dia ada di belakangmu, Alfred."
Alfred terbelalak. Menengok sejenak pada Elena, yang ketakutan. Mengeratkan genggamannya pada tangan Alfred.
"Kau—memakan manusia."
"Ya. Sekarang, kau bisa menyingkir? Aku sudah tak memiliki banyak waktu."
"Kau, pikir aku akan menyerahkan Elena. Oh, bodoh sekali."
"Bukan aku yang bodoh. Tapi, kau Alfred."
"Kenapa kau harus melindungi dan mencintai gadis, yang tak memiliki perasaan apa-apa denganmu?"
Elena terkejut mendengar itu.
"Tutup mulutmu."
"Dia menyukai laki-laki lain. Laki-laki yang menggandengnya saat di hutan kematian tadi. Bukan begitu, Elena?"
Elena hanya diam. Dengan napas memburu.
"Aku bilang, tutup mulutmu!"
"KARENA ITU MENYINGKIR LAH! AKU SUDAH SANGAT LAPAR SEKALI!"
Raja Duis menggeram. Melompat ke arah Alfred. Hingga, ia jatuh ke belakang. Menerjang tanah. Elena menjerit. Melangkah mundur.
"Aku akan menyantap makanan pembuka ku dulu. Gadis itu—sebagai pencuci mulutku."
"ELENA! CEPAT LARI! CARI BANTUAN!"
Elena mulai menangis.
"Tapi, Alfred."
"Aku tidak mampu menahannya, Elena! Aku mohon! Jangan sia-siakan pengorbananku!"
Raja Duis menggigit leher Alfred, yang kini menjerit kesakitan.
"CEPAT PERGI, ELENA!"
Elena yang bernapas cepat, segera berbalik. Dan, berlari sekencang mungkin. Beberapa penjaga rumah, yang mengetahui itu, bersiaga. Insting mereka kuat. Tahu betul, ada bahaya yang mengintai majikan mereka.
"Tolong aku. Tolong aku. Alfred.. dia.."
"Berdiri di belakangku, Nona," kata salah satu pengawal, yang memegang tombak.
Satu penjaga lain membawa pistol, yang memiliki moncong panjang. Berwarna perak. Dengan pegangan berwarna cokelat mengkilap. Bentuk pendek. Agak melengkung ke bawah. Mengarahkannya ke depan, ketika Raja Duis terlihat.
"BERHENTI!"
"Oh, ada lagi rintangannya."
"Siapa kau? Beraninya, masuk kemari!" kata penjaga, yang membawa pistol.
"Aku sudah lelah memperkenalkan diri. Cepat minggir."
"Kau, cepat pergi dari sini. Aku akan menghitung sampai 3. Jika, kau tak segera pergi—aku akan melepaskan tembakan."
1
Raja Duis melangkah satu kali.
2
Raja Duis kembali melangkah
3
Raja Duis semakin mendekat. Penjaga itu melepaskan tembakan. Tepat sasaran pada perut Raja Duis, yang kini menunduk. Melihat perutnya. Lantas, tertawa lantang.
"Kau, pikir aku akan mati dengan pistol itu?"
"Demi nama Tuhan. Makhluk apa kau ini?"
"Akan aku tunjukkan padamu."
Raja Duis berlari kencang ke arah penjaga. Membuat Elena, lagi-lagi melangkah mundur.
Raja Duis mencekik leher para penjaga. Mematahkannya. Dan, mencabut kepalanya. Membuat teriakan Elena melengking.
Setelahnya, Raja Duis mendekati Elena, yang menunduk takut. Raja Duis mengendus aroma Elena.
"Kenapa bau mu bisa seenak ini?"
"Aku mohon, ampuni aku."
Suara Elena bergetar. Takut dan menangis.
"Kau, sudah membuat kesalahan, Elena. Seharusnya, kau tak muncul di hadapanku. Lihat, sekarang 3 orang mati karena mu."
Elena memejamkan mata singkat.
"Hmm.. aku tidak akan memakan mu, tapi, dengan satu syarat. Jadilah, pasanganku. Kau, akan hidup abadi. Bergelimangan harta. Aku akan berusaha mencintaimu seperti Alfred. Bagaimana?"
Elena hanya diam.
"Ah, kau tidak mau rupanya. Baiklah."
Raja Duis mencekik leher Elena. Lalu, melepaskannya lagi. Dengan mengibas-ibaskan tangannya.
"Kenapa tubuhmu panas sekali. Tanganku rasanya terbakar!"
Raja Duis melihat telapak nya, di mana kulitnya sedikit menghitam.
"Memang terbakar."
Raja Duis menatap kesal pada Elena.
"Apa yang kau kenakan?! Kenapa tanganku bisa terbakar!"
Elena melebarkan mata.
"Gelang Durvos. Gelang itu menyelamatkanku," kata Elena dalam hati.
"Kau, pasti memakai jimat, kan?!"
Elena tak menjawab. Terus menundukkan kepala.
"Elena! Ada apa ini? Ibu mendengar tembakan."
Gabriella terkejut. Saat melihat kedua penjaganya tewas. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Astaga! Apa yang terjadi?!"
"Elena, kau baik-baik saja? Siapa pemuda ini?!" tanya George—sang Ayah.
Elena segera terbelalak. Menatap kedua orang tuanya.
"Ayah.. Ibu! Cepat pergi dari sini!"
"Apa? Kenapa? Kau, yang seharusnya pergi!" kata Gabriella.
George mengeluarkan pistol, dari lingkar pinggang. Mengarahkan pistol pada Raja Duis.
"Oh, lagi-lagi benda itu."
"Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat pergi dari rumahku!" seru George.
"Baiklah. Karena, aku gagal memakan anak gadis kalian. Sekarang, kalian saja yang menjadi santapanku."
"Tidak. Jangan lakukan itu!"
Elena menjerit tak karuan.
**
Zaman Sekarang
Key baru saja siuman. Dia ada di ranjangnya saat ini. Alardo dan yang lain ada di kamarnya.
Key yang baru saja mengingat kejadian sebelumnya—segera, bangkit dari ranjangnya.
"Key.. tenang dulu. Jangan cemas. Semuanya selamat. Dan, Raja Duis telah pergi," jelas Meida.
Key mengamati satu persatu mereka yang ada di sana. Napasnya tiba-tiba memburu. Air mata menetes begitu saja. Turun dari ranjang. Mendekati Dena, yang ada di belakang Meida. Memeluknya kemudian.
"Aku sangat merindukan mu, Veronica. Aku sangat merindukan mu."
Dena mengernyitkan dahi. Melepaskan pelukan Key.
"Veronica? Nona Key, aku Dena. Bukan Veronica."
Bola mata Key bergetar. Menatap Dena.
"Elena?" panggil Meida.
Key berbalik, menghadap Meida kemudian.
"Kau—Meida?"