Chapter 29

1978 Kata
"Meida.. Kenapa kau menjadi tua seperti ini?" tanya Key, menghampiri Meida. Menyentuh pipinya. "Kau, benar-benar Elena?" "Ya, Meida. Ada apa denganmu? Baru beberapa hari yang lalu kita bertemu. Sekarang, kau sudah menjadi tua." Meida mengernyitkan dahi. Merasa bingung. "Elena.. kita terakhir kali bertemu sudah 100 tahun yang lalu." Kini ganti Key—atau, bisa di panggil Elena untuk sementara waktu, mengernyitkan dahi. "Tidak. Beberapa hari setelah kematian orang tuaku dan Alfred—kita bertemu. Lalu, kau membuka pintu ke dunia iblis. Aku, Veronica, Arthur dan Aaron pergi ke sana. Kami bertemu dengan Hevan. Dan.." Elena tampak berpikir. "Dan.. apa yang terjadi setelahnya?" "Dan, kalian tak pernah kembali. Sampai sekarang." "Kau, ini bicara apa, Meida? Lihat mereka ada di sini." Elena memperhatikan satu persatu semua yang ada di kamarnya. Mulai dari Alardo, Dena, Aland. Dan— "Alfred?" Ia melihat Alder. "Kau.. masih hidup?" Alder mendesah singkat. "Key.. aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan. Yang pasti, aku bukan Alfred. Aku Alder." "Alder? Kau, kembaran Alfred? Lalu, pakaian apa yang kau kenakan itu? Lucu sekali." "Kalian juga.. Kenapa berpakaian seperti itu? Di mana gaun mu, Veronica?" "Nona Key.." "Sejak tadi, kalian memanggilku dengan nama Key.. Siapa dia? Aku Elena. Bukan Key." "Elena.. bisa kita bicara berdua?" tanya Alardo. "Oh, baiklah, Arthur." Elena dan Alardo keluar dari rumah. Berjalan-jalan di halaman, yang masih di penuhi oleh tubuh-tubuh dari mayat hidup. Langit kembali gelap. Masih dini hari. "Astaga! Apa yang terjadi di sini? Sedang terjadi p*********n?" "Aku yang membunuhnya." "Apa?" "Mereka adalah mayat hidup. Seperti manusia—ah, memang mereka manusia. Namun, sudah tak berakal. Dan, agresif." "Mereka berbahaya?" "Mereka akan menggigit mu sampai mati." "Oh, itu mengerikan." "Ya, begitulah." "Ngomong-ngomong, Arthur—wajahmu kenapa pucat sekali? Kau, sakit?" Alardo berhenti kemudian. Menghadap Elena. "Elena.. itu namamu, kan?" Elena mengangguk. "Dengar.. Namaku Alardo. Sekarang, tahun 2021. Dan, kau sudah mati." Elena terdiam sejenak. Lalu, mendengus. "Bicaramu keterlaluan, Arthur." "Namaku Alardo. Dan, aku bukan manusia." Elena menyunggingkan senyum. "Kalau kau bukan manusia. Lantas, apa dirimu? Hantu? Iblis?" "Yang kedua." Elena yang sebelumnya terkekeh, kini membeku. "Arthur.. jika ini hanya sebuah lelucon—ini benar-benar tidak lucu." Alardo berubah menjadi asap hitam kemudian. Berpindah tempat. Tepat, di belakang Elena. "Sekarang, kau masih tak percaya, Elena?" Elena berbalik. "Arthur.." "Namaku Alardo." "Arthur.. kau, sudah mati? Benarkah?" "Tidak. Tapi, kau yang sudah mati." "Apa?" Elena mendengus. "Kalau aku sudah mati—tak mungkin aku berada di sini sekarang." "Ngomong-ngomong, bagaimana kita bisa selamat dari Hevan? Terakhir yang aku ingat adalah, kita terkapar." "Elena.. Kau, masuk ke dalam tubuh gadis yang bernama Key sekarang. Mungkin saja, Key adalah reinkarnasi mu." Elena memejamkan mata. Berkacak pinggang. Mengusap dahinya. "Baiklah. Ini memang tak masuk akal bagiku. Usia Meida. Pakaian kalian. Dan, tempat ini, sangat tidak masuk akal. Tapi, apa mungkin ini bukan tubuhku? Aku hanya meminjamnya?" "Ya. Ini adalah tubuh Key Addison. Dia seorang immora." "Immora? Apa itu?" "Manusia cenayang. Dia bisa melihat roh, kerasukan, bahkan bisa menghancurkan dunia iblis." Elena terkejut. "Gadis ini—bisa menghancurkan dunia iblis? Dia bisa menghabisi Hevan?" "Ya. Itulah yang tertulis di ramalan immora." Bola mata Elena bergerak ke kanan dan kiri. "Jadi.. sekarang, apa yang harus kita lakukan?" "Kita harus pergi ke Verden Morke. Dan, menyelamatkan Belle terlebih dulu." "Verden Morke?" "Ya. Sebutan untuk dunia iblis." Elena mengangguk berulang. "Baiklah. Ayo pergi." "Tunggu. Kau, tak ingin keluar dari tubuh Key?" "Aku ingin balas dendam terlebih dulu pada Hevan. Setelahnya, aku akan keluar dari tubuh gadis ini." "Tidak semudah itu, Nona. Rintangannya sungguh sangat besar." "Yeah. Aku tahu. Aku sudah menemukan banyak keanehan di Verden Morke itu. Pohon yang bisa bicara. Dunia penyihir. Bola bulu yang menggemaskan. Orang-orang kerdil." "Juga, Morten. Itu yang paling berbahaya." "Morten? Apa itu sebutan untuk kaum Hevan?" "Kau, benar." "Hanya Key yang bisa mengalahkan mereka. Kau, bisa percayakan itu pada Key. Di sini, kami semua juga memiliki dendam kepada Raja Duis—maksudku, Hevan itu." Elena mendesah panjang. "Baiklah, kalau begitu. Aku akan keluar dari tubuh gadis ini. Tapi, sebelumnya—aku ingin bicara pada Alfred dan Meida dulu." "Silakan, Nona." Elena melangkah satu kali. Kemudian, berhenti. Menatap Alardo. "Kau, sungguh sangat mirip dengan Arthur." "Dia.. juga seorang Morten?" "Tidak. Dia hanya manusia biasa, yang sangat aku cintai." Alardo tersenyum kecil. "Aku berharap, di atas nanti—kau, akan bertemu dengannya." "Aku harap, juga begitu." Elena berjalan pergi kemudian. ** Alder sedang duduk di bangku halaman, di sisi lain rumah Key. Pandangannya kosong. Menyandarkan kepala pada tembok di belakangnya. Mendesah sangat berat. Setiap mengingat kejadian, yang memilukan hatinya tadi—ia terus memejamkan mata dengan erat. "Hai.." Alder membuka mata perlahan. Elena berdiri di depannya. "Oh, Key.." "Elena. Aku masih Elena." "Ah.. ada apa?" "Aku ingin bicara sebentar denganmu. Dan, maaf jika harus meminta ini. Tapi—bolehkah aku memanggilmu Alfred?" Alder diam untuk sepersekian detik. "Baiklah. Duduk saja di sini." Elena mengangguk. Duduk di sebelah kiri Alder. "Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu, Alfred. Tapi, aku hanya akan mengatakan beberapa yang penting saja." Elena mendesah panjang. "Malam itu—kejadiannya sungguh sangat tiba-tiba dan cepat, Alfred. Kau, meregang nyawa tepat di depanku. Rasanya aku hancur. Kalut. Kecewa pada diriku sendiri. Tak bisa menyelamatkanmu." "Kau, terlalu bodoh, Alfred. Seharusnya, kau tak perlu mencari anting itu. Seharusnya, kau tak begitu mudahnya percaya dengan seseorang." "Mungkin karena Alfred terlalu baik. Dan, suka padamu. Itulah sebabnya, dia rela mati untukmu." Elena menengok. Menatap Alder. "Kenapa kau rela menghancurkan diri sendiri hanya demi cinta, yang rasanya tidak bisa abadi itu? Kau, masih sangat muda dan tampan, Alfred. Banyak sekali gadis, yang ingin menjadi kekasihmu." "Mungkin memang banyak. Tapi, hanya satu yang menarik perhatianku. Adalah kau." Mereka saling pandang untuk sesaat. "Maafkan aku, Alfred. Sungguh—aku sangat menyesal. Jika saja, kau memakai gelang durvos ini—kau tak akan kehilangan nyawamu. Orang tua dan saudaramu sangat terpukul atas kepergian mu." "Aku memiliki saudara? Mmm.. maksudku, Alfred." "Ya. Arthur dan Aaron." "Sekalipun, kalian sering bertengkar. Tapi, tangis mereka yang paling kencang, saat di pemakaman mu." "Oh, seandainya saja aku tahu wajah mereka. Aku akan mencarinya di dunia sekarang." "Mereka ada di sini sekarang." "Oh, benarkah? Siapa?" "Laki-laki bernama Alardo itu adalah Arthur. Dan, Aaron adalah-" "Aland?" "Apa itu laki-laki, yang di sebelah Veronica tadi?" "Ya. Kau, benar." "Ah, iya dia. Bahkan, di tahun ini—dia juga bertemu dengan Veronica. Sungguh sangat beruntung sekali." "Jika aku dan yang lain mirip dengan orang-orang di sekitarmu—berarti kau juga mirip dengan Key." "Oh, kau benar juga. Tunggu sebentar, apa kau ada cermin?" "Kau, bisa memeriksanya di kamar Key." Elena segera berlari masuk ke dalam rumah. Pergi ke lantai 2. Dan, mencari cermin, yang di temukan di sebelah pintu. Elena berdiri. Dengan menatap tubuh Key pada cermin. "Benar.. gadis ini—sangat mirip denganku." "Lebih tepatnya, dia adalah reinkarnasi mu, Elena." Meida tiba-tiba muncul di dekat pintu. "Jadi, aku benar-benar sudah mati?" Meida mendesah singkat. "Aku sangat menyesal, Elena." Elena mendengus. "Sedihnya, aku tak menyadari—jika, aku sudah mati." "Tapi, bagaimana bisa kau masuk ke dalam tubuh Key? Dia masih memakai gelang durvos. Tak seharusnya, roh lain bisa masuk ke dalam tubuhnya." Elena menatap tangan kirinya. "Aku juga tidak tahu. Kenapa aku bisa berada di sini. Setelah 100 tahun lamanya, hal itu terjadi—rasanya, seperti kemarin. Dan, aku tiba-tiba ada di sini. Bertemu denganmu, yang sudah tua." "Tapi, Meida— bagaimana kau masih bisa bertahan hidup sampai sekarang?" "Aku meminum ramuan abadi dari desa penyihir, Elena. Itu yang membuat umurku panjang." "Ada hal seperti itu?" "Ya." "Oh, beruntungnya dirimu." "Aku menyesal sudah meminum itu, Elena. Banyak kematian orang terdekatku, yang harus aku lihat. Dan, itu sangat menyakitkan." "Ya. Memang, menyakitkan melihat orang-orang yang kita sayangi, lenyap begitu saja." "Gadis ini—apa, dia benar-benar bisa membunuh Hevan?" "Ya. Begitulah yang di tuliskan oleh Aislee—istri Hevan." "Istri Hevan? Apa kita bisa mempercayainya?" "Dia juga korban, Elena. Hevan menghabisinya tanpa ampun. Membunuh Ibunya. Dan, menjauhkannya dari anaknya." "Oh, malang sekali anak itu." "Dan, sekarang—anak itu yang akan menjadi pemimpin perang ini, Elena. Ia kan berperang melawan kaum dan Ayahnya." Elena mengernyit. "Tunggu sebentar. Tak mungkin, yang kau maksud-" "Ya, Elena.. Laki-laki yang mirip dengan Arthur—dialah Pangeran Kegelapan." Elena terkesiap. "Takdir macam apa ini?" "Entahlah, Elena. Aku sendiri, sudah lelah dengan semua ini. Dan, ingin segera mengakhirinya." "Aku akan segera keluar dari tubuh gadis ini. Agar kalian, dapat segera berperang." Elena tiba-tiba berjalan mendekati Meida. Memeluknya dengan erat. "Maaf, dulu sempat menyalahkan mu atas semuanya, Meida." "Tidak apa-apa, Elena. Saat itu, pikiranmu sedang kalut. Aku tak bisa menyalahkan mu." "Kau, Veronica dan aku—akan terus berteman selamanya." "Tunggu aku di atas sana, Elena. Aku akan segera datang. Waktu ku sudah tidak banyak." Elena melepaskan pelukannya. Menggenggam kedua tangan Meida. "Selamat tinggal, Meida." "Beristirahatlah, Elena." Tubuh Key sedikit tersentak. Ia melemas dalam sekejap. Membungkukkan badan. "Key?" "Oh, Nenek. Kau, baik-baik saja?" "Oh, Key. Akhirnya, kau kembali juga. Nenek takut, jiwamu akan tersesat. Dan, tak bisa kembali ke sini." "Aku memang sedikit tersesat tadi.Tapi, akhirnya aku menemukan sebuah cahaya, yang menjadi penuntun untukku pulang." "Cahaya?" Key meluruskan punggungnya. "Ya. Ibu dan Ayah." ** Pagi lain pun datang. Tak ada kata istirahat untuk mereka, yang kini sudah berkumpul di ruang tengah. Duduk di sofa. "Key.. sejak kapan kau tahu, jika kamar itu ada sesosok iblis?" tanya Meida. "Sudah lama, Nek. Seringkali, rasanya tubuh terseret untuk mendekat pada pintu itu. Rasanya, ingin aku buka. Tapi, aku terlalu takut." "Apa kau—juga bisa melihat masa depan, Key?" "Yeah. Sesekali, aku dapat melihatnya." "Lantas, kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?" "Maka, kalian akan bertanya. Apa yang akan terjadi esok. Bagaimana kehidupan selanjutnya. Aku tidak suka mengatakan itu. Biarlah masa depan, terus menjadi sebuah misteri." "Ada benarnya juga," sahut Alardo. "Sekali kita mengetahui tentang masa depan, yang mungkin menarik—maka, kita akan menjadi serakah. Dan, terus menerus penasaran akan hal itu." "Ngomong-ngomong, di mana Aila?" tanya Key. "Ah, benar juga. Kita melupakannya. Sejak kematian Razita, dia tak terlihat sama sekali," tambah Alder. Key terkesiap kemudian. "Tak mungkin.. apa hari ini?" "Apa maksudmu, Key?" tanya Meida. Key mengabaikannya. Segera berdiri. Dan, di ikuti oleh yang lain. Meninggalkan Aland, yang sejak tadi menundukkan kepala. Dena ada di sampingnya. "Aland—kau, baik-baik saja?" "Tubuhku rasanya aneh, Dena. Seolah, ribuan jarum menusuk semua tubuhku. Aku juga kedinginan." "Virus itu kemungkinan sudah menyebar di tubuhmu." "Apa yang harus aku lakukan, Dena. Aku takut." "Kita pergi ke kamarmu dulu. Aku akan menemanimu." Aland mengangguk. ** Key dan yang lain, tiba di saat yang tepat. Berhasil menggagalkan Aila, yang ingin gantung diri. Aila bersimpuh di lantai. Menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak sanggup lagi. Aku terus membayangkan, betapa malangnya Razita. Kenapa kita tak membunuh dia saja? Agar Razita selamat. Kenapa kau harus melindunginya." "Karena kita semua akan mati, Aila! Tidak ada gunanya menghabisi Alardo! Aku sudah melihatnya, Aila." Aila berhenti menangis. Menatap Key, yang berjongkok dengan satu kaki di depannya. "Aku melihat, Alardo mengorbankan nyawanya untuk Razita. Berharap, Razita akan kembali normal. Tapi, tidak. Razita tetap seperti itu. Karena, para iblis yang lain masih hidup. Mereka menyerang kita. Menghabisi kita tanpa ampun. Jika, tak ada Alardo—kita tidak akan selamat." "Justru, aku harus menyelamatkanmu. Kau, yang masih ada harapan. Kau, yang masih bertahan hidup. Aku harus melindungi kalian semua." Aila memejamkan mata dengan erat. "Maafkan aku, Nona Key. Aku sudah berpikiran buruk tentangmu." "Tidak apa-apa, Aila. Itu semua karena kau tidak tahu. Aku tidak akan menyalahkan mu." "Cita-citamu, ingin menjadi seorang designer gaun, kan?" "Bagaimana kau bisa tahu?" "Setelah ini semua berakhir—Kau, akan menjadi designer ternama, Aila. Kau, akan sukses. Jadi, kematian seseorang adalah bukan akhir dari kita yang masih hidup." ** Selepas Key berganti baju, dengan kaus putih polos, celana jeans ketat—Alardo masuk ke dalam kamar. "Kau, yakin akan melakukan ini, Key?" "Kau, sudah baca ramalan itu, kan?" "Ya. Tapi-" "Kita harus segera mengakhirinya, Alardo. Jika, tidak—dunia manusia akan hancur."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN