"Ini Loka-mu."
Belle memberikan sekantung jerami berisi Loka, sesuai permintaan Alder. Tak seperti sebelumnya, kini Alder merasa jijik melihat, mendengar, bahkan menyentuh semua yang berkaitan dengan sebutan Loka. Bahkan, menerima kantung jerami dari Belle saja, ia menjauhkan kepala. Hanya jari telunjuk dan ibu jari saja, yang menyentuh kantung jerami.
"Kau, masih sangat terlihat pucat. Lebih baik, kau tinggal di sini saja," bujuk Belle.
"Lalu, kau akan memberiku Loka setiap hari? Oh, tidak. Terima kasih."
"Haha. Di sini juga banyak makanan enak. Ada babi guling. Sup iga sapi. Lalu-"
"Sudah hentikan. Aku makin mual rasanya. Terima kasih, untuk Loka nya."
"Sama-sama, tampan."
"Belle.. terima kasih untuk jamuan mu," kata Alardo.
"Dengan senang hati, Tuanku."
Belle membungkukkan badan. Dengan kaki kanan menyilang ke belakang.
"Terima kasih juga, untuk gaunnya," tambah Key.
"Oh, Key sayangku."
Belle menghampiri Key. Memeluknya. Menepuk bahunya dengan lembut.
"Jangan sia-siakan Tuan Alardo. Dia sangat menyukaimu," bisik Belle.
Key memilih diam. Bingung harus menjawab apa. Di detik selanjutnya, dari arah belakang Belle—asap putih mulai datang. Sebagian desa sudah tak terlihat.
"Sudah waktunya aku pergi. Bye."
Belle menggerakkan jemarinya dengan centil. Mencium singkat pipi Alder. Secara tiba-tiba tentunya. Membuat Alder marah.
"Belle!"
"Anggap saja, hadiah untukku."
Alder mendesis kesal.
"Kita hanya perlu berdiri di sini saja?" tanya Key pada Alardo.
"Ya. Gerbang selamat datang desa penyihir adalah batasnya."
Sedetik kemudian Belle dan desanya sudah tak terlihat. Di sekitar kembali gelap. Hutan kembali muncul.
"Di sini masih gelap? Padahal, kita lama di desa tadi," kata Alder.
"Perbedaan waktunya cukup besar. Bisa saja, kita di desa itu menghabiskan waktu berhari-hari. Nyatanya, di Verden Morke hanya beberapa jam saja."
"Ah, nama duniamu ini Verden Morke."
"Ya. Morke adalah nama gua Raja Duis."
"Ayo kita cepat pergi. Perasaanku mulai tidak enak," kata Key.
"Wah, Key.. di sini kau seperti orang lain saja," cetus Alder.
"Memang, gadis seperti apa Key?" tanya Alardo.
Lalu, kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan.
"Yang pasti, sejak awal aku kenal dengannya—dia adalah gadis yang dingin. Kalau bicara tidak ada rasa malu. Dan, tak pernah merasakan yang namanya sakit."
"Jadi, dia tak pernah terluka?"
"Sering. Karena, para Pyx atau terkadang kaum mu menyerang dia."
"Tapi, ajaibnya—dia tak pernah merasakan sakit. Atau pun memiliki emosi. Makanya, aku terkejut. Saat dia menangis di peternakan naga tadi."
"Hei, orang yang kalian bicarakan ada di sini," ucap Key.
Melirik keduanya secara bergantian.
"Hehe. Aku lupa," kata Alder.
"Tapi, memang kau gadis yang sangat unik, Key. Juga, sangat polos."
Key mendesah singkat.
"Waktu kecil—aku juga gadis periang. Sama seperti yang lain. Suka bermain. Suka tertawa riang. Berlarian. Tapi, semenjak kejadian di rumah nenek itu—kehidupanku berubah. Apalagi, saat orang tuaku meninggal."
"Kau.. membawa permen Loka-ku?"
Pohon di belakang Alder tiba-tiba bicara. Membuat Alder dan Key berjengit kaget.
"Astaga! Bisakah, kau tidak mengejutkanku?!" cetus Alder.
"Aku tidak berniat mengejutkanmu."
"Jadi, kita sudah sampai di sini," kata Alder.
"Pasar tradisional sudah dekat," lanjutnya.
"Mana permen Loka-ku?"
Alder meletakkan kantung jerami itu, di bawah pohon.
"Seperti yang kau minta!"
"Kau, Pyx yang baik. Menepati janjimu."
"Tentu saja. Aku memang tampan dan baik."
"Oh, Tuanku Alardo. Suatu kehormatan bisa melihatmu lagi," kata pohon itu.
"Kau, sehat-sehat saja?" tanya Alardo.
"Aku sudah semakin tua, Tuanku. Kau, masih saja tetap tampan seperti dulu."
"Yeah. Morten memang bisa abadi."
"Keren sekali. Pohon dapat bicara," ungkap Key.
"Key.. tunggu, kejadian di rumah nenekmu?" tanya Alardo.
"Kau, ingat itu?" lanjut Alardo.
"Tentu saja. Ketika, nenek melakukan ritual—aku yang tak tahu, tiba-tiba membuka pintunya. Lalu, seorang iblis melesat dan aku.. jatuh.. pingsan."
Key menghentikan langkah. Diam sejenak. Menyadari sesuatu. Lalu, menggeser langkah. Menghadap Alardo.
"Ternyata kau."
"Apa?"
"Kau.. iblis yang di panggil oleh nenekku."
Alardo mendesah panjang.
"Kau, sudah ingat rupanya."
**
Bertahun-tahun Yang Lalu
"KEY!" pekik sang Nenek.
Key yang saat itu masih kecil, hanya terbelalak. Dan, membiarkan Alardo menembus dirinya. Lantas, membuatnya jatuh pingsan.
Namun, saat Key terbangun—ia mendapati dirinya tengah berbaring di kamarnya. Ia berjalan menyusuri rumah, hingga ke taman. Mencari ibu dan ayahnya. Tapi, tidak ada siapa pun. Sepi.
Key yang ketika itu memakai gaun putih, berdiri mematung, di halaman rumahnya. Melihat Alardo berdiri di kejauhan. Tiba-tiba, mata biru Key meneteskan air mata.
Alardo menghampirinya.
"Kau—Key Addison, kan?"
"Paman siapa? Di mana ayah dan ibuku?"
"Entahlah. Mungkin, ada di suatu tempat. Tapi, bukan di sini."
"Lalu, kenapa kau ada di rumahku?"
"Rumahmu?"
"Iya. Ini rumahku."
Alardo menyunggingkan senyum.
"Kau.. ingin ikut denganku sebentar?"
"Kemana?"
"Ke tempat yang mungkin kau suka."
Alardo meniupkan angin dingin pada Key, yang kini mengerjap berulang. Lalu, kembali kehilangan kesadaran.
Key ada di kamar Alardo. Berbincang. Lalu, mandi dengan menyebutkan mantera pada lemari. Kemudian, makan malam bersama. Bermain monopoli. Berkunjung ke Negara Jepang, Kanada. Dan, ke gua Morke. Bertemu dengan Raja Duis. Di kejar oleh Solomon. Hingga, tiba di desa kurcaci. Menuju ke pondok Gumul. Yang terakhir adalah desa penyihir.
**
"Semua yang aku alami ini—pernah aku alami sebelumnya?" tanya Key.
"Kita mengulangnya lagi, Key."
Bola mata Key bergerak ke kanan dan kiri. Mengingat apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
"Kalau begitu, sebentar lagi akan terjadi sesuatu," kata Key.
"Bukan sebentar lagi. Tapi, sekarang."
Alardo mendorong ke samping. Sebuah asap hitam melesat ke arah yang seharusnya Key sasarannya. Namun, justru Alardo yang kini terpental cukup jauh. Jatuh menerjang tanah.
"Well, selalu saja. Kau berusaha menyelamatkan gadis itu."
Raja Duis berjalan di sekitar Alardo, yang masih terbaring di tanah. Dengan meringis kesakitan.
"Itu sudah menjadi takdirku. Kau, tidak dapat menyangkalnya."
"Memang. Tapi, aku tidak suka dengan itu. Kau, pasti tahu. Aku mampu merubah takdir orang."
"Kau, bahkan bukan Tuhan!"
Alardo berdiri.
"Tentu. Aku bukan Tuhan. Tapi, aku mampu melenyapkan mu."
"Seperti kau melenyapkan ibuku?"
"Karena dia membangkang. Tidak menuruti perintahku."
Alardo mendengus.
"Bukan karena kau takut Ibu akan menguasai kerajaanmu? Semua kaum Morten tahu. Jika, kekuatan Ibu lebih besar darimu."
Wajah Raja Duis semakin beringas, mendengar itu.
"Tutup mulutmu!"
"Tidak. Aku ingin terus bicara denganmu!"
Alardo kemudian menatap Alder, yang ada di jauh di belakang Raja Duis. Mengisyaratkan dengan matanya—agar segera membawa Key pergi dari sini.
"Kenapa kau sangat terobsesi dengan gadis itu? Selagi, dia tak ada di Verden Morke—semua akan baik-baik saja."
"Kau pikir semudah itu? Bagaimana, denganmu? Apa kau bisa melepaskannya begitu saja? Apa setelah dia kembali ke dunia manusia, kau tak akan menemuinya lagi?"
"Tentu saja—"
Alardo melihat Key yang juga menatapnya. Ada perasaan berkecamuk di dalam dirinya.
"Tidak bisa, kan? Kaulah yang menyebabkan semua ini."
"Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia? Dengan begitu, dunia kita tak akan lenyap."
Raja Duis mendengus.
"Hidup berdampingan dengan kaum lemah seperti mereka? Aku tak akan sudi!"
Alder menggandeng tangan Key. Mengajaknya pergi dari situ. Namun, sayang—insting Raja Duis sangat kuat. Ia menengok. Dan, akan mengeluarkan kekuatannya. Tapi, gerakan Alardo satu detik lebih cepat. Ia berlari secepat kilat. Membawa Raja Duis menjauh. Selanjutnya, terjadi pertempuran di antara Ayah dan anak itu. Dua asap hitam muncul dan menghilang terus menerus. Sesekali, kilatan merah mereka menumbangkan pohon.
Sedangkan, Alder terus mengajak Key berlari menjauh dari hutan. Tapi, di tengah jalan, Solomon menghadang mereka.
"Kita bertemu lagi, Immora," kata Solomon.
"Key.. aku akan menghalanginya. Di depan sana ada pasar tradisional. Kau, akan menemukan lingkaran lilin. Segera nyalakan lilinnya. Dan, berdiri di tengah-tengah. Nenekmu akan membuka pintu kemudian."
"Kau, pikir aku akan menurut?"
"Huh?"
"Aku—tidak akan membiarkanmu berkorban untukku lagi."
"Kau, sangat keras kepala, Key."
"Kepalaku memang keras, Alder."
Alder terkekeh.
"Bukan seperti itu maksudku."
"Lantas?"
"Ah, banyak sekali yang harus aku jelaskan padamu."
"Karena itu, kita harus keluar bersama-sama dari sini."
Solomon mendengus kesal.
"Sudah selesai berbincang nya? Aku sudah mulai bosan."
Key yang sebelumnya berdiri di belakang Alder, kini dengan berani ia melangkah ke depan.
"Aku jadi penasaran—kenapa kalian sangat takut kepadaku?"
"Hah? Takut? Pada makhluk lemah seperti mu?"
"Lalu, kenapa kalian memburuku dengan membawa banyak pasukan? Dan, ingin menghabisi nyawaku. Apa, benar? Aku bisa menghancurkan dunia ini?"
Solomon mengatupkan gigi dengan kesal. Tangannya mengepal. Api segera menghiasi kepalan tangannya. Alder terbelalak.
"Key.. dia berbahaya. Kau, tahu cara melawannya?"
"Tidak. Tapi, aku akan mencoba."
Di detik selanjutnya, Key teringat gelang Durvos.
"Apa ini bisa membantuku? Nenek.. beri aku kekuatan," kata Key dalam hati.
Key melepaskan gelang Durvos. Seketika, bola matanya berwarna putih semua. Ia mendongak. Menggeram. Alder mundur selangkah.
"Key.."
Angin berhembus kencang. Membuat ikatan rambut Key terlepas. Dan, terurai. Gelang Durvos tiba-tiba berubah menjadi pedang kayu. Solomon mulai ketakutan. Mundur selangkah demi selangkah.
"Ego sum dea tenebrarum ( Aku adalah dewi kegelapan)"
"Ego sum Dominus verden morke ( Aku adalah penguasa Verden Morke)"
Key menatap Solomon.
"Kau! Kaum Morten rendahan! Beraninya, menghalangi jalanku!"
Suaraku Key berubah. Terdengar seperti ada dua orang yang berbicara.
"Kau.. Kau.."
"Ya! Aku adalah penguasa di sini! Dan, jika kau tak menyingkir—kau, akan lenyap!"
Solomon berlutut. Menundukkan kepala.
"Maafkan aku. Aku sudah lancang. Silakan lewat."
"Tapi.. bukankah kau yang sudah membuat luka di punggung Alardo? Dosa mu.. tak terampuni."
"Ampuni aku! Aku hanya mengikuti perintah Raja Duis."
"Apapun alasannya—kau, tak berhak menyakiti satu-satunya pewaris tahta di Verden Morke. Kau, harus lenyap."
Key segera mengayunkan pedang kayunya. Larinya sungguh cepat ke arah Solomon. Dan, segera menebas leher Solomon, yang kini kepalanya menggelinding di tanah. Tubuhnya masih dalam posisi berlutut. Kering menjadi abu. Lalu, hancur. Pun, dengan kepalanya.
Key menoleh pada Alder. Masih dengan mata putihnya. Lalu, pedang kayunya berubah kembali menjadi gelang Durvos. Tubuh Key lemas. Dan, tersungkur di tanah.
Alder segera menggendongnya. Dan, berlari semampunya.
Hanya dalam waktu sepersekian menit, keduanya tiba di pasar tradisional. Alder membaringkan Key di dalam lingkaran. Kemudian, menyalakan lilin satu persatu.
Sementara, di dunia manusia—Meida mulai merasakan kehadiran Key di dalam lingkaran.
"Alder berhasil."
"Dia bertemu dengan Key?" tanya Dena.
"Key.. sudah ada di dalam lingkaran."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Aland.
"Lihat, lilin-lilin yang semula mati itu. Satu persatu mulai menyala."
Aland pun memperhatikan lilin-lilin itu, yang memang kondisinya sama seperti yang di katakan oleh Meida.
"Dena, kau kembali ke rumah bersama Aland. Pastikan yang masuk ke dalam tubuh Key adalah benar jiwanya."
Menuruti kata-kata Meida, keduanya bergegas pergi
Meida menarik napas dalam-dalam. Mendongak. Memejamkan mata.
"O dea tenebrarum (Wahai, dewi kegelapan)"
"Deam magnam. In omni virtute tua ( Dewi agung. Dengan segala kekuasaan mu)"
"Da robur in angulo obscuro, in hac terra ( Berikan kekuatan, pada sudut tergelap di muka bumi ini)"
"Adiuva, animae quae superbia vulnerantur ( Bantulah, jiwa-jiwa yang luka karena keangkuhan)"
"Imple vacuas animas tua potestate ( Isilah jiwa-jiwa kosong dengan kekuasaan mu)"
"Intactus e conspectu egredere ( Keluarkan mereka, dari tempat yang tak terjamah dan tak terlihat)"
"Nigrum sanguinem pro ( Darah hitam sebagai gantinya)"
Alder selesai menyalakan lilin terakhir. Udara terasa pekat. Alder mulai merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Seperti ketika dia masuk ke Verden Morke.
Ia kembali meringkuk. Jemarinya seolah bergerak patah. Ia mengerang kesakitan. Dan,
"ALDER!"
Meida segera mendekati Alder.
"Kau, sudah membawanya kembali, kan?"
Alder yang baru saja berdiri. Segera mengangguk.
"Tapi.."
"Tapi, apa?"
**
Dena dan Aland baru saja tiba di rumah. Segera berlari ke lantai atas. Pergi ke kamar Key, yang sudah bangun. Dan, duduk di kasur. Dena menghentikan langkah tepat di depan itu. Dengan napas tersengal.
"Nona Key? Itu, kau?"
Key diam cukup lama. Hingga akhirnya, ia mengangguk. Dena mendesah lega. Berlari ke arah Key.
"Aku rindu padamu, Dena."
"Oh, syukurlah. Kau, sudah kembali, Nona."
Dena segera memeluk Key. Kemudian, melepaskannya.
"Aland juga masih di sini rupanya."
"Aku menunggumu bangun. Dan, ingin minta maaf."
"Minta maaf soal apa?"
"Karena, membuatmu seperti ini. Seandainya, ketika itu aku tak meninggalkanmu— kau, tak akan berakhir begini. Maafkan aku."
"Semuanya sudah terjadi, Aland. Tak ada yang perlu di sesali."
Aland mendesah panjang.
"Nona Key, tubuhmu tidak terasa sakit, kan? Kau, sungguh baik-baik saja?"
Sekali lagi, Key mengangguk. Dena kembali memeluknya.
"Jika ada sesuatu buruk terjadi kepadamu—aku tak akan berhenti menyalahkan diriku sendiri."
Sementara itu, Aland menatap sudut kamar Key, di mana ada sosok hitam tengah berdiri di situ.
"Dena."
"Hm?"
Dena melepaskan pelukannya. Mendongak. Menatap Aland.
"Apa—hanya aku yang dapat melihatnya?"
Aland menunjuk ke arah sudut. Dena segera berdiri. Dan, turut melihatnya.
"Astaga! Makhluk apa itu?!"
"Entahlah. Yang jelas dia bukan manusia."
Dena segera menarik tangan Key. Mengajaknya turun dari ranjang. Dan, melangkah mundur.
"Aland.. cepat telepon Nenek."
"Tidak usah. Aku sudah di sini."
Meida baru saja tiba bersama dengan Alder.
"Di mana dia?" tanya Meida.
Dena dan Aland kompak menunjuk ke arah sudut. Meida menengok ke kiri. Berjalan mendekat. Dengan langkah ragu.
"Pangeran—kegelapan?" panggil Meida.
Sosok itu segera berjalan ke depan. Hingga, wajahnya terlihat oleh semua orang.
"Meida.. lama tak bertemu," sapa Alardo.
"Alardo?" kata Key.
"Kenapa kau ikut kemari?" lanjutnya.
"Aku tak sengaja terseret kemari."
Meida mengangguk berulang.
"Alder sudah menceritakannya padaku."
**
Alardo masih saja bergumul dengan Raja Duis. Keduanya tak henti-henti saling menyerang. Hingga, Alardo memuntahkan darah biru dari mulutnya.
"Kau, lemah sekali, Vandemon."
"Beruntunglah, kekuatanku tak sirna. Jadi, aku tak perlu menurunkan tahta ku pada Morten lemah sepertimu."
"Jadi, menurutmu—Kau, yang terkuat? Heh?"
"Tentu saja. Siapa lagi di Verden Morke yang terkuat kalau bukan aku!"
Alardo mendengus.
"Lantas, kenapa kau takut pada gadis, yang bahkan tak memiliki kekuatan itu?"
Raja Duis yang sebelumnya tertawa sombong—kini, wajahnya berganti kesal.
"Karena, gadis itu dapat menghancurkan Verden Morke? Aku rasa tidak. Pasti ada alasan lain, kenapa kau ingin melenyapkannya. Bukan begitu, Hevan?"
Raja Duis melotot pada Alardo.
"Beraninya, kau memanggil namaku?! Aku adalah Raja mu! Aku penguasa terkuat di Verden Morke."
"Kalau begitu, bunuh aku sekarang."
Raja Duis diam.
"Kenapa? Kau, tak bisa? Karena, di dalam tubuhku ada bagian dari dirimu. Karena, jika aku mati—kau, juga akan mati!"
"DIAAAAAAM!"
Raja Duis segera mengeluarkan bola api dari tangannya. Melemparkannya ke arah Alardo dengan kencang. Sembari mengerang marah.
Alardo pun terpental jauh. Dan, berakhir dalam lingkaran Key dan Alder.
**
"Lalu, apa kau bisa kembali ke duniamu?" tanya Meida.
"Hal mudah tentunya. Setidaknya, jika aku tak terluka."
Alardo tiba-tiba saja jatuh pingsan.